Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
92 : Straight To The Point, Please!


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


"Karena aku tidak bisa menebaknya, Hazelia Lify Sayang, maka aku harus bertanya langsung kepadamu. Tapi, kamu itu keras kepala sekali. Tidak ingin memberitahu apa yang ada di dalam pikiranmu kepadaku. Aku bukanlah seorang cenayang. Aku tidak bisa memberitahumu apa yang ada di dalam pikiranmu. Jika aku tahu, aku tidak mungkin bertanya sekarang. Maka dari itu, cepat beritahu aku." Whisk memasang tampang memelas kepada Haz, yang langsung disambut gelengan kepala oleh wanita berambut panjang gelombang.


"Enak saja kamu menyuruhku memberitahu. Aku kan menyuruhmu menebak. Bukan menyerah, lalu menanti jawaban. Tidak boleh begitu dong. Harus adil," kata Haz sambil menggembungkan pipinya dan melipat kedua tangannya di depan dada. Berpose manja dan ngambek.


Haz terlihat sangat lucu di mata Whisk saat itu. Pria itu tidak tahan, merasa sangat gemas, dan mengacak-acak surai panjang gelombang milik wanita di sebelahnya yang awalnya terikat rapi. Whisk terkekeh pelan ketika melakukannya.


Haz yang tidak suka langsung menepis tangan Whisk yang mengacak-acak rambutnya dan berseru, "Lihat rambutku! Rambutku jadi berantakan karena kamu!"


"Hahahaha." Whisk tertawa renyah, begitu menggoda. Sampai-sampai wajah Haz memerah, menahan rasa malu yang menderanya. Mereka terlihat serasi. Namun Haz tak ingin mengakuinya saat itu.


"Oh, ayolah Hazelia Lify ... apa yang ingin kamu katakan kepadaku?" tanya Whisk, untuk kesekian kalinya.


Haz kekeh, tidak ingin memberitahu jika Whisk tidak berhasil menebak langsung atau setidaknya menebak satu hal yang berkaitan dengan apa yang akan dikatakannya.


Seseorang yang akan melukai Haz di dalam lift? Tidak, ini lebih dari itu. Seseorang yang akan membunuh Haz tanpa disadari orang-orang di dalam lift, itu lebih tepatnya.


Dan, untungnya Haz tidak jadi memakai lift karena benda berbentuk seperti balok berukuran jumbo itu terisi penuh oleh orang-orang. Beruntung juga karena dia tidak menyukai tempat yang sempit dan sesak. Dua hal itu menyelamatkan nyawanya dari maut.


"Satu kata yang berkaitan dengan apa yang akan kamu katakan, ya? Beri aku waktu untuk berpikir apa yang ingin kamu katakan kepadaku," ujar Whisk.


Setelah itu, Whisk terlihat berpikir keras, dari sudut pandang Haz tentu saja. Wanita berambut panjang gelombang hanya bisa terkekeh pelan melihat Whisk yang kebingungan.


"Sepertinya aku tahu ... aku yakin satu kata ini berhubungan dengan apa yang akan kamu katakan kepadaku," kata Whisk pada akhirnya, berhenti dari acara pikir-berpikirnya.


"Menurutmu, apa itu?" tanya Haz.


"Pembunuh?" Sebenarnya Whisk ragu-ragu saat ingin mengatakannya, tapi, entah kenapa satu kata itu terlintas di dalam pikirannya. Dia merasa seperti ... ada hal yang menariknya dalam satu kata itu.


Haz menghela napas panjang. Pada akhirnya, tidak akan ada bangkai busuk yang tak pernah tercium, batinnya.


Haz menganggukkan kepalanya dan berkata, "Benar. Aku ingin membahas soal itu bersamamu. Maka dari itu, aku mencari dirimu. Sekalian juga aku ingin menghiburmu karena telah menyakiti hatimu."


"Aku tidak tersakiti. Sungguh!" seru Whisk dengan wajah yang sangat meyakinkan. Padahal dia saja menangis. Dasar Whisky Woods!


"Daripada itu, aku lebih ingin tahu soal 'pembunuh' yang kamu maksudkan. Jadi, bisa kita langsung straight to the point saja?"