Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
72 : Satu Masalah Clear!


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


[Aku sekedar ingin memberitahukan kepada para readers tercinta bahwa novel ini juga bergenre romantis, jadi kalau banyak adegan romantis-nya tolong dimaklumi]


Pukul 05:00 A.M. WIB, 15 menit setelah Haz dan Whisk masuk ke dalam rumah sakit dan belum kembali sama sekali ....


Setelah penjelasan dari Zenneth berakhir, maka berakhir pula percakapan antara dirinya dengan Cyan. Dia tidak tahu apa yang harus dibicarakannya lagi bersama dengan Cyan. Dia bingung.


Seandainya saja mereka berdua lebih cepat kembali, aku tidak akan mengalami situasi seperti ini dengan Cyan Vilmasyah. Sekarang aku harus menghadapi situasi aneh ini. Lebih baik benar-benar sendirian daripada harus berdiam-diaman seperti ini, batin Zenneth. Tapi, aku tidak bisa menghakimi mereka. Mereka adalah orang-orang hebat yang sibuk. Tapi, semoga saja Hazelia tidak melakukan kesalahan. Meskipun dia hebat, dia sangat ceroboh. Dia harus diperhatikan lebih.


Akhirnya, Cyan membuka pembicaraan dengan Zenneth. "Aku sudah berpikir untuk beberapa saat. Bagaimana jika kita menyingkirkan Andrian terlebih dulu?" tanyanya.


Zenneth menatap Cyan untuk beberapa saat kemudian menggelengkan kepalanya. Dia juga memiliki bakat menjadi seorang detektif karena beberapa saat berada di bawah bimbingan Haz untuk memecahkan kasus-kasus ringan. "Aku tidak menyetujuinya," jawab wanita itu. Dia tahu alasan yang ingin disampaikan oleh Cyan, tapi dia lebih memilih mendengarkannya langsung dari mulut Cyan.


"Aku berpikir seperti ini karena Andrian juga diundang ke acara makan malam bersama dengan Rael, kekasihnya. Dia bisa saja sudah berada di restoran. Kalau begitu, dia memiliki alibi untuk lolos dari skripsi ini."


"Tunggu jangan potong aku dulu!" seru Cyan. Dia menjeda penjelasannya sejenak, kemudian melanjutkan, "Coba kamu pikir. Andrian adalah pacarnya Rael. Rael itu bukan satu orang, melainkan dua orang. Walau Rael yang mungkin dimaksud oleh Andrian adalah Riko, karena dia yang memiliki suara rendah. Dan, ingat satu kata ini Zenneth ... ingat satu kata ini: Bucin. Bahwa Andrian adalah orang yang bucin. Dia sangat menyukai Rael. Dia juga tahu Rael itu dua orang yang berbeda. Aku rasa tidak mungkin sama sekali bahwa Andrian adalah orang yang pantas dicurigai. Lagipula si kembar Vinzeliulaika selalu memantau pergerakan Andrian dan tidak pernah lepas."


Ada benarnya juga. Jika seperti itu penjelasannya, hal ini tidak dapat dipungkiri. Aku lupa bahwa Andrian adalah orang yang sangat bucin dengan Rael. Tapi, bisa saja itu dia, kan? pikir Zenneth.


"Baiklah, anggap saja seperti itu untuk sementara waktu. Kita masih berada di dalam posisi yang abu-abu. Tidak ada yang bisa dipercayai. Orang-orang yang tidak terlibat pun bisa terlibat di dalamnya. Hazelia dan Whisky Woods harus berhati-hati," kata Zenneth.


***


"Aku sudah tahu posisinya. Kita harus melakukan hal seperti apa? Aku sudah yakin posisinya." Haz berbisik kepada Whisk.


Whisk berhenti melangkah dan menatap Haz sesaat. Dia tersenyum manis. "Maafkan atas ketidaksopanan ku, Nona." Pria bersurai kemerahan berbisik balik kepada Haz. Dia mendekatkan wajahnya hingga terkesan seperti sedang mencium Haz. Namun sebenarnya tidak. "Kita tidak perlu tergesa-gesa. Kita hanya ingin mencari tahu kemana perginya pembunuh dan perawat palsu itu. Di lain dari kedua hal itu, kita bisa mengurusnya setelahnya."


"Oke."


Whisk dapat mendengar perkataan Haz. Dia pun segera menjauhkan wajahnya dari wajah Haz. Jujur saja, jantungnya berdebar-debar. Bisa sedekat itu dengan Haz adalah hal yang pastinya akan sangat jarang dilakukan.


Haz dan Whisk melanjutkan perjalanan menuju ruang keamanan rumah sakit. Mereka membuka pintu ruang keamanan dan menemukan bahwa si kembar Vinzeliulaika juga berada di sana.


"Kalian?" Haz bertanya. Dia melotot ke arah si kembar Vinzeliulaika, tidak menyangka akan menemukan mereka di ruang keamanan rumah sakit.


Si kembar Vinzeliulaika langsung menghadap ke arah Haz dan Whisk. Mereka berdua juga sama kagetnya dengan Haz.


"Kamu!" seru Rika. "Untuk apa kamu ke sini?"


Apakah mereka bukan pelakunya? Apakah mereka juga sedang mencari pelakunya melalui cctv? Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa makin dijalani, makin rumit kasus ini jadinya? Haz mengeluh di dalam hati. Dia bertanya-tanya tentang apa yang sudah dilewatkannya selama dia menerka-nerka.


"Tyas Reddish dibunuh. Dia adalah orang yang tahu siapa yang meracuni adik kami," kata Rika. Dia melipat kedua tangannya di depan dada.


"Bagaimana kalian berdua tahu bahwa Tyas Reddish adalah orang yang mengetahui segala hal yang sudah terjadi?" tanya Haz.


"Karena kamu," kata Rika.


"Aku?" Haz memiringkan kepalanya. Dia baru saja mengerti setelah beberapa saat kemudian. "Tapi, kenapa kakak menyuruh Thomas Bara menyerang kami?"


"Kami curiga terhadap kalian," jawab Riko.


"Apa maksud kakak dengan mencurigai kami?" Haz terdengar seperti menginterogasi seorang tersangka kasus pembunuhan.


"Karena kamu adalah orang yang sering dicari dan dimata-matai oleh Ric—kami mengetahui ini dari Thomas Bara. Dia mengikuti Tyas Reddish dan menemukan bahwa Tyas sedang memata-matai dirimu. Otomatis kami langsung curiga denganmu," jawab Rika.


"Tapi, kecurigaan itu sirna ketika kami menemukan bahwa bukan kamu yang melakukannya. Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Kamu tidak mungkin ingin menjadi wali Ric setelah kamu melakukan hal ini kepadanya. Kecurigaan kami hilang saat itu. Dan, kami langsung menjalankan aksi kedua: Menunggumu hingga bergerak dengan Thomas Bara yang memata-matai dirimu." Riko melanjutkan cerita dari Rika yang belum selesai.


"Lalu, kami tahu bahwa kamu akan pergi ke tempat pembuangan. Kami menyuruh Thomas Bara untuk memberimu sebuah petunjuk—bahwa kami bukanlah pelakunya sama sekali. Kami bersih. Meskipun penyerangan terhadap Whisky Woods, orang yang ada di sebelah mu adalah ketidaksengajaan karena dendam yang dimiliki oleh Thomas terhadapnya. Kami minta maaf atas kekasarannya. Tapi, dia benar-benar aman di bawah kendali kami. Dia hanya kehilangan akal sehatnya saat melihat detektif hebat yang bisa menangkapnya." Rika bergantian bercerita lagi.


"Aku tidak masalah dengan hal itu. Aku hanya menyayangkan kepalaku yang tidak bisa mengingat apa pun tentang Hazelia Lify kemarin. Tapi, sekarang sudah tidak apa-apa," kata Whisk sambil mengangkat bahunya dan tersenyum singkat.


"Baguslah kalau begitu. Akan lebih mudah lagi jika kami bekerja sama dengan kalian. Kami juga sangat resah sekarang. Kami ingin pelakunya tertangkap," ujar Rika.


Riko hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan saudari kembarnya.


"Kalian juga pasti sudah menemukan beberapa bukti dan jejak yang ditinggalkan oleh pelaku. Aku berharap kita bisa bekerja sama untuk menangkap pelakunya. Aku siap meminjamkan bantuan jika kalian memerlukannya." Rika mengulurkan tangannya. Dia sangat serius dengan perkataannya. Riko pun melakukan hal yang sama seperti saudari kembarnya.


Haz tersenyum lega.


Setidaknya aku sudah tidak perlu mencurigai mereka berdua. Salahku berpikiran terlalu pendek. Mereka berdua adalah kakak yang sayang terhadap adiknya, batin Haz.


Haz menjabat tangan kedua kembaran itu. Begitu juga Whisk.


"Sepakat. Ayo bekerja sama!"