Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
48 : Kembalinya Si Spy


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


[Aku peringatkan ya, kalau ga suka lapak aku yang seperti labirin ini mending cepat-cepat angkat kaki ya. It's not that I don't appreciate it, but this is my stall! And I will not tolerate a riotous person—Bukan karena aku tidak menghargai, tapi ini adalah lapak aku! Dan aku tidak akan menoleransi orang yang berbuat rusuh. Terima kasih.]


"Bukan jawaban seperti ini, lalu jawaban seperti apa yang kamu maksudkan?" Whisk berbisik tanya kepada Haz. Sifat menyebalkan itu muncul lagi darinya.


"Yang lebih rasional. Apa susahnya dalam menjawab ya atau tidak?" Haz meradang sambil menatap Whisk tajam. Dia menggembungkan pipinya, tanda dia sedang kesal dengan pria bersurai kemerahan.


"Apakah ini bukan jawaban yang rasional?" Whisk mengangkat salah satu alisnya, berusaha menggoda Haz yang sekeras batu—menurut Whisky Woods.


"Apa yang kamu lakukan baru saja bukan jawaban yang rasional!" seru Haz. Pandangan matanya tak sengaja bertemu dan beradu dengan pandangan Whisk yang kosong. Wajahnya makin memerah. Alhasil dia pun segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Apa-apaan itu tadi? Mengapa aku merasa seperti ini? Sialkulah! pikir Haz malu.


"Tidak menarik jika aku hanya menjawab ya atau tidak bukan?" goda Whisk. Dia benar-benar membuat Haz tidak berdaya.


"Sebut saja itu sebuah ketidaksengajaan. Aku membencimu, Whisky Woods," ujar Haz.


Whisk tersenyum. Ah ... wanita yang aneh. Jelas sekali dia tertarik. Namun di saat bersamaan juga menolak. Apa yang harus kulakukan agar dia tertarik?


"Baiklah. Anggap saja aku menyebalkan—aku memang menyebalkan. Dan, coba angkat kakimu sebentar, Hazelia." Whisk memerintah Haz untuk mengangkat kakinya.


"Apa yang kamu dapatkan?" tanya Haz. Sekarang dialah yang bertindak menyebalkan.


"Bukti lain," jawab Whisk tanpa banyak basa-basi. "Ingin mengangkat kakimu sendiri atau ingin aku mengangkatnya untukmu?" Pertanyaan itu ... jelas sekali Whisk tidak akan berhenti menggoda Hazelia.


"Kamu bisa mengangkatnya untukku? Jangan bercanda!" seru Haz dengan nada mengejek. Dia terlihat yakin sekali bahwa Whisk tidak akan berani berbuat seperti yang dipikirkannya.


Namun sayangnya pikiran Haz salah. Whisk menunduk untuk menghindari kepalanya dari garis polisi dan keluar dari dalam apartemen Haz, mengangkat wanita itu ala bridal style, dan melihat tepat ke arah Haz berdiri tadinya. Ada jejak sendal yang dikenakan oleh Haz dan jejak sepatu yang tidak dikenali—jejak itu sudah ada di sana sejak semalam, terlihat sedikit pudar, tetapi sedikit lebih besar dibandingkan jejak kaki Hazelia. Pria bersurai kemerahan bisa mengenali jejak itu sebagai jejak seorang pria.


Entah kenapa, saat itu juga kepala Whisk langsung berdenyut, menampakkan seorang pria yang menggunakan pakaian serta topi serba hitam. Mereka bertemu di belakang apartemen Haz. Berkat kembalinya memori itu, pikiran Whisky Woods langsung tertuju pada seseorang yang sudah lama tidak diketahui keberadaannya. Tyas Reddish. Dia segera menurunkan Haz dan pergi ke arah belakang apartemen tempatnya dan Tyas bertemu untuk pertama kalinya di sana.


Keadaan di belakang apartemen tak banyak berubah. Namun sudah dibersihkan, sehingga tak ada lagi jejak yang tersisa di sana.


Whisk berdecak kesal. Ah benar-benar merepotkan! serunya dalam hati.


Haz yang curiga Whisk, yang baru saja kembali ingatannya, tahu sesuatu langsung menyusul pria bersurai kemerahan hingga ke belakang apartemen. Dia menemukan Whisk sedang menatap kosong ke satu titik seolah sedang mengingat sesuatu yang penting. Dia tidak bertanya, melainkan hanya memperhatikan dan menerka-nerka apa yang sedang diingat oleh Whisk.


Haz mendapatkan sebuah asumsi bahwa Whisk sedang membandingkan jejak yang tadi mereka lihat di depan pintu apartemennya dan Jelkesya dengan orang yang pernah ditemuinya beberapa saat lalu. Wanita itu tak tahu siapa, tapi dia memiliki perasaan bahwa Whisk dan orang misterius itu memiliki memori yang tak baik terhadap satu sama lain.


Oh ya, aku tidak boleh berlama-lama di tempat ini. Aku harus segera pergi ke tempat pembuangan sebelum para pekerjanya sempat menghancurkan barang bukti yang aku inginkan! pikir Haz.


Haz menatap Whisk yang juga menatap ke arahnya. Wajah pria bersurai kemerahan sedikit kaget.


Haz memicingkan matanya dan mendapati bahwa Whisk bukan menatapnya melainkan menembusnya. Dia tak tahu Whisk sedang menatap apa maupun siapa, yang jelas dia harus segera meninggalkan tempat itu dan pergi ke tempat pembuangan. Jika tidak, pupus sudah harapannya untuk menemukan barang bukti selanjutnya.


Ada yang tidak beres! seru Haz dalam hatinya menyadari mengapa Whisk mematung seperti itu menatapnya.


Haz bisa merasakan ada seseorang di dekatnya. Dia tidak begitu panik, apalagi saat mendengar suara pelatuk pistol ditarik. Tidak seperti Whisk yang sudah mengucurkan keringat dingin.


Bukannya takut, Hazelia Lify malah menyeringai seolah-olah itu adalah sebuah permainan yang menyenangkan. Yang seperti mengatakan kepada Whisky Woods: "Yey! Permainan baru!"


Dia gila! seru Whisk dalam hati seraya menggigit bibir bawahnya.


"Satu ...."


Haz menghitung tanpa suara. Namun Whisk tahu wanita itu tengah menghitung.


Aku mohon Hazelia, batin Whisk sambil berusaha menggelengkan kepalanya.


"Dua ...."


Hei! Ayolah! Jangan ketakutan begitu. Haz memasang wajah mencemooh. Dia sekarang bukan menyeringai, melainkan tersenyum lebar.


Kamu gila Hazelia!


Bukan aku jika tak gila, sayang.


Mereka berdua seolah-olah bisa membaca dan membalas ekspresi satu sama lain—Whisk yang panik jika Haz berbuat sesuatu yang dapat membuat nyawanya melayang, dan Haz yang bersikap seolah-olah itu seperti sebuah permainan yang seru.


"Ti ...."


Wajah Whisky Woods semakin panik lantaran Hazelia sudah menghitung angka ke-tiga.


"Ga!"


Haz menubruk orang yang ada di belakangnya dengan punggungnya. Wanita itu memang terlihat tak bertenaga, tetapi sebenarnya sangat kuat. Mungkin kekuatannya hampir setara dengan seorang pria dewasa—dia sering olahraga, tapi akhir-akhir ini kebanyakan bermalas-malasan.


Belum sempat orang misterius itu menyeimbangkan posisinya, Haz kembali menyerangnya dengan menggunakan siku kanannya. Menyikut wajah orang misterius tersebut. Menghilangkan keseimbangan pandangannya.


Saat orang misterius itu lengah karena serangan bertubi-tubi yang dilancarkan untuknya, Haz mengangkat dan membanting orang tersebut ke jalan beraspal yang keras.


Whisk bersumpah bisa mendengar adanya tulang yang patah.


Sementara itu, suara pria mengerang kesakitan terdengar jelas di telinga Haz dan Whisk, mungkin sampai ke tempat Nicholas dan Jelkesya.


Haz menendang pistol yang ada di tangan pria misterius itu hingga terlempar sampai di hadapan Whisky Woods.


Whisk hanya bisa melongo seperti orang bodoh di sana. Sebuah kejutan baginya hanya dalam tiga hitungan yang lumayan singkat, Haz bisa memikirkan cara untuk lolos dari maut. Aku menyerah memahaminya.


Haz berjongkok dan membuka topi serta masker yang dipakai pria tersebut.


Ya, dia adalah Tyas Reddish!


[Yuhu! Baru kali ini endingnya ga menggantung seperti ini. Wkwkwk. Sekali-sekali lah ... biar tidak terlalu penasaran ^^]