
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Tap! Tap! Tap!
Kali ini suara tapak kaki Thomas Bara terdengar jelas mengarah ke Hazelia Lify dan berhenti tepat di atas tempat persembunyian wanita itu.
Haz menahan napasnya dan berjalan perlahan-lahan ke samping untuk melarikan diri. Tapi, dia harus bersembunyi di tempat yang tepat agar tidak tertangkap oleh kamera cctv. Matanya menggerayangi setiap sudut langit-langit di tempatnya. Dia menemukan satu cctv yang berjarak enam meter darinya. "Hufff ...." Haz mengembuskan napas lega. Paling tidak, radius cctv yang digunakan oleh si kembar Vinzeliuka hanya berkisar antara 5 sampai 5,5 meter dan selebihnya tidak bisa ditangkap. Aku hanya beruntung, pikirnya.
Thomas Bara masih berada di atas atap, Haz tidak bisa berbuat apa-apa akan hal itu. Dia menggigit bibir bawahnya sambil memikirkan cara untuk segera pergi dari tempat itu. Besok pagi aku akan datang lagi. Malam ini sepertinya tidak bisa. Hujan akan segera turun dan aku harus bertanya kepada Zen tentang sistem pembuangan sampah di kota ini, pikirnya.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki Thomas Bara mulai terdengar kembali di telinga sensitif Hazelia Lify. Kali ini Thomas Bara mengelilingi semua sudut. Sayang sekali tidak ada jejak yang ditinggalkan oleh Haz.
Drrttt ... drrttt ....
Kring! Kring! Kring!
Suara ribut dering telepon dari dalam rumah si kembar Vinzeliulaika terdengar dan memekakkan telinga Hazelia Lify maupun Thomas Bara. Tidak hanya sekali. Semenit hampir dua menit berselang ketika telepon berdering dan akhirnya berhenti, untuk sepersekian detik tak sampai semenit kemudian telepon kembali berdering.
Thomas Bara mendengus di atas atap rumah si kembar Rika dan Riko. Dia terdengar tidak senang—belum menangkap Haz—ketika dia menyadari bahwa dia harus mengangkat telepon tersebut.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki Thomas Bara terdengar semakin menjauh.
Blam!
Terdengar suara pintu atau jendela yang ditutup dengan keras. Kelihatannya, Thomas Bara sangatlah kesal.
Haz menghela napas lega dan segera naik ke atas atap. Dia tidak ingin mengulur waktu lagi.
Ctarrr ...!! Ctarrr ...!!
Petir sudah menyambar. Jika dia mengulurkan semenit saja, dia tidak akan berhasil mencapai tempat Zenneth dan kembali ke dalam rumah sakit dalam waktu cepat.
Hazelia Lify berjalan layaknya seorang ninja. Setiap gerakannya tidak menimbulkan suara. Sejauh ini, jalannya mulus-mulus saja. Dia segera turun dari atap rumah si kembar Rika dan Riko. Besok aku akan kembali, tunggu aku ya barang buktiku yang sangat berharga! batinnya berseru di dalam hatinya.
Haz membalikkan tubuhnya saat dia berjalan dengan santai di jalanan luas yang amat sepi. Matanya terpaku pada seseorang di atas atap rumah si kembar Vinzeliuka. Ya, siapa lagi jika bukan Thomas Bara? Haz menyeringai penuh kemenangan dan melambaikan tangannya ke arah Thomas Bara. Hal itu dilakukannya untuk mengejek pria berbadan bongsor. Setelah itu, Haz menghilang seolah seperti memiliki kekuatan teleportasi tepat sebelum Thomas Bara berhasil memotret dirinya.
"Ahhh ...!!" pekik Thomas Bara dengan kesal dan penuh amarah, juga bercampur sedikit rasa takut di dalam hatinya. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihat dengan mata kepalanya sendiri. Apakah Hazelia Lify itu masih seorang manusia? pikirnya.
"Kalian mungkin tidak akan percaya dengan ceritaku, tapi begitulah cerita masa lalu dari seorang Hazelia Lify. Awalnya aku juga terkejut ketika dia menceritakannya. Namun, dia memiliki buktinya: Foto hitam-putih bersama dengan Adi Chandra Putra di atas kapal. Jika kalian ingin melihatnya, mungkin Hazelnut masih menyimpannya. Akan ku minta atas nama kalian," kata Alkaf. Dia melihat wajah orang-orang yang tidak percaya dengan apa yang diceritakannya, sehingga dia mengusulkan akan meminta Haz untuk memperlihatkan kepada orang-orang bahwa dia benar-benar mengenal Adi Chandra Putra.
"Adi Chandra Putra adalah seorang CEO hebat pendiri C's Company, sebuah perusahaan besar yang sudah meluas hingga ujung dunia! Dan, Hazelia Lify mengenalnya?" tanya James. Dia berdecak kagum.
"Dia mengenal banyak orang-orang hebat," jawab Alkaf. "Bahkan seorang Presiden sebuah negara pun bisa memintanya untuk bekerja sama dalam rangka membasmi virus baru yang sedang berkeliaran, meski sekarang dia sudah dipecat akibat berita tidak bertanggung jawab."
"Berita?" tanya Whisk. Kepalanya mendadak sangat sakit hingga dia mengerang keras. "Argh ...!!" Sebuah ingatan yang terlupakan tentang artikel yang dibacanya belasan hari yang lalu kembali muncul di dalam kepalanya.
Orang-orang di dalam kamar pasien mulai panik dan bertanya-tanya apa yang sudah terjadi kepada Whisk. Mengapa dia mengerang sekeras itu.
"Whisk? Whisky Woods? Apakah kamu baik-baik saja?"
"Whisk!"
Pandangan Whisk mulai kabur seolah dipenuhi oleh embun-embun yang membentuk butiran-butiran halus. Yang tersisa hanyalah warna putih keabu-abuan. Kepalanya yang amat sakit membuatnya mati rasa, seolah-olah rasa sakit itu ingin membunuhnya secara perlahan tapi pasti.
Tepat saat itu juga Haz masuk ke dalam kamar pasien dan menemukan orang-orang sedang mengerubungi Whisk dengan ekspresi wajah panik mereka. Dia menghela napas panjang dan membatin, Apa yang telah terjadi di tempat ini selama aku pergi ke rumah si kembar kak Rika dan kak Riko?
"Hazelia Lify? Kau sudah pulang? Cepat panggilkan dokter!" teriak Milla ketika melihat Haz masuk ke dalam kamar pasien Whisky Woods.
"BERHENTI RIBUT!" Haz berseru dingin dan menatap datar ke orang-orang yang tertegun dengan seruannya. Dia mengabaikan tatapan orang-orang dan segera mendekat ke arah Whisk.
"Dia tidak apa-apa. Wajar sekali bagi orang yang hilang ingatan mengalami sakit kepala yang luar biasa seperti ini," kata Haz pada akhirnya setelah menyadari keadaan Whisk. "Jika kalian ribut, itu hanya akan memperparah keadaan saja. Jadi, jangan mengeluarkan suara yang berlebihan." Wanita berambut panjang gelombang itu akhirnya duduk di tepi ranjang Whisky Woods sambil menggenggam tangan pria berambut kemerahan.
"Alors!—Astaga!—Aku sedikit kesal tidak bisa mendapat apa yang aku inginkan," keluh Haz sambil menahan rasa sakit di tangannya akibat ulah Whisk yang meremasnya dengan sangat kuat.
"Jadi, apa rencanamu?" tanya James.
"Untuk sementara waktu tidak ada," jawab Haz.
"Jadi, kamu akan membiarkan mereka melakukan hal sesuka hati mereka?" James kembali bertanya. Dia tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh seorang Hazelia Lify sama sekali. Namun dia tahu Haz sedang menyiapkan rencana yang bagus untuk melawan musuh-musuhnya.
"Ya. Tidak ada masalah dengan hal itu. Malah itu lebih bagus," kata Haz sembari tersenyum penuh arti.
Kena kamu, Abuelo! Kena! batin Haz berseru senang.
"Sudah larut. Kami harus segera kembali ke hotel sebelum ditutup. Benar-benar di negara ini, tidak adakah yang buka dua puluh empat jam?" James mengeluh.
"Tentu saja ada. Hotel bernama Rosarita Blue. Mereka buka dua puluh empat jam. Sepertinya besok Senor harus pindah ke hotel itu agar tak dibatasi jadwal pulang."