
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Sudah kubilang, Zenneth akan baik-baik saja. Dia juga tidak ingin membebani dirimu," kata Whisk.
Sebenarnya, apa yang dikatakan Whisk bukan hanya untuk menenangkan Haz saja. Pria itu tahu Zenneth akan baik-baik saja dikarenakan posisi wanita itu, yang terlihat seperti melindungi bagian vitalnya. Meskipun akibatnya adalah kehilangan banyak darah, tapi, yang dilakukan Zenneth sudah benar. Nyawanya tidak akan berada dalam bahaya.
"Sasaran utama dalam hal ini adalah Anda, Nona," kata Nich tiba-tiba ada di sebelah Haz dan Whisk.
Kedua insan yang didekati Nich langsung bersikap defensif dan menatap curiga ke arahnya. "Itu hanya kesimpulan saya. Kalau kalian masih mencurigai bahwa saya berkomplotan dengan orang jahat, kalian boleh memantau aktivitas saya selama ini."
Dia menyukai Hazelia Lify juga, mungkinkah kami bisa percaya pada ucapannya? Tidak, tidak boleh semudah itu, batin Whisk. Ada rasa cemburu yang menyelinap di dalam hatinya. Apalagi mengingat bahwa Nich menyukai wanita yang sama dengannya.
"Kenapa kamu tiba-tiba baik seperti ini?" tanya Haz.
Nich tertegun sesaat, lalu menyeringai. "Memangnya saya tidak boleh baik? Saya seorang polisi. Jika sudah jelas siapa pelaku dan siapa korban, maka pihak saya harus berada di korban, bukan pelaku."
Nich terlihat sangat tenang, walau dia menyukai Haz. Whisk harus mengakui bahwa dia tidak bisa bersikap tenang seperti Nich, pria bersurai kemerahan terlalu impulsif.
Nich melirik ke arah Whisk, lalu dia berkata pada Haz, "Bolehkah saya meminta nomor telepon Anda? Jika ada apa-apa, Anda bisa langsung menghubungi saya dan saya akan membawa rekan-rekan saya langsung ke TKP."
Whisk memelototi Nich. Jika seandainya tidak ada Haz di sini, aku bersumpah aku akan mematahkan lehermu, Nicholas Qet Farnaz! serunya di dalam hati.
Namun, respon Haz baik. "Tentu saja." Responnya yang seperti itu cukup untuk meruntuhkan ekspektasi Whisk, yang berharap bahwa Haz menolak permintaan Nich.
"Tidak baik seorang wanita yang lebih dulu mengirimkan pesan kepada seorang pria," kata Nich.
Haz tertawa ringan dan membalas, "Hal itu sudah basi." Dia tetap mengambil ponsel Nich dan mengetikkan nomornya ke dalam sana.
Whisk makin terbakar cemburu.
Ketika Haz sudah selesai mengetikkan nomornya dan mengembalikan ponsel ke empunya, ruang UGD terbuka dan Zenneth akan dipindahkan ke kamar pasien.
Whisk bernapas lega. Setidaknya dia tidak harus menarik paksa Haz untuk menjauh dari Nich. Entah kenapa dia tak begitu suka dengan si polisi. Mungkin karena mereka akan bersaing dalam merebut perhatian Haz.
"Saya akan menganjurkan kepada rekan saya untuk bertugas di kamar pasien Nona Zenneth," kata Nich, sebelum Haz beranjak dari hadapannya untuk menjaga Zenneth.
"Terima kasih. Itu akan sangat membantu." Haz tersenyum tipis kepada Nich, lalu berlalu dari hadapan pria itu.
Nich mengalihkan pandangannya ke arah Whisk dan tersenyum mengejek. Dia berkata tanpa suara, "Sepertinya kita sudah resmi menjadi saingan cinta. Berhati-hatilah, Detective Whisky Woods."
Jika saja Whisk tidak tahu dimana kakinya berpijak, dia ingin sekali membogem wajah Nich.
"Apakah kamu akan mempercayai perkataan Nicholas?" tanya Whisk, ketika mereka sudah berada cukup jauh dari Nich.
"Kita tidak punya pilihan lain, Whisk. Lagipula aku bisa melihat bahwa Nicholas tulus membantu kita."