
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Haz mengulurkan tangannya ke hadapan wanita yang terjatuh itu untuk membantunya berdiri.
Wanita itu membalas uluran tangan Haz dan bangkit dari jatuhnya. Entah disengaja atau tidak, awalnya, ketika dia membalas uluran tangan wanita berambut panjang gelombang, dia menariknya hingga Haz tersentak dan hampir jatuh menimpanya jika saja dia tidak memasang kuda-kuda dengan baik.
Haz tidak menyadari apa yang diperbuat oleh wanita itu kepadanya. Dia menganggap bahwa sepatu yang digunakannya lah yang licin. Dia sama sekali tidak berpikiran negatif tentang wanita yang ditolongnya itu.
Saat wanita itu membalas uluran tangannya, Haz bisa melihat ada goresan di kulit putihnya. Dia memelihara kucing ya? Goresan seperti itu pasti sangat perih dan menyakitkan, pikirnya.
"Sekali lagi maafkan aku ... aku tidak sengaja, Nona," kata Haz sembari menatap ke arah lantai malu-malu.
Setelah diperhatikan dengan seksama oleh Haz, rasanya dia mengenal wanita yang satu itu. Tapi, dia lupa bertemu dengannya dimana.
Rasanya aku mengenal perempuan cantik ini ... tapi, dimana ya? Mungkin hanya perasaanku saja. Karena sudah sampai di tempat ini, kamu juga harus bisa bersantai, Hazelia Lify. Jangan terlalu memikirkan kasus yang sedang kamu tangani. Berpikir macam-macam membuatmu mudah berprasangka buruk terhadap orang lain, batin Haz. Dia menasehati dirinya sendiri.
"Maafkan aku. Ini salahku. Aku tidak sengaja," kata wanita itu. "Terima kasih atas bantuannya."
"Oh ya. Aku juga salah, tidak fokus," ujar Haz. "Terima kasih kembali."
Wanita itu pun berlalu dari hadapan Haz setelah Haz menyelesaikan ucapannya. Dia tersenyum manis kepada Haz sebelumnya dan wanita berambut panjang gelombang tersenyum balik padanya.
Lagu Gravity yang dinyanyikan oleh John Mayer berganti menjadi sebuah lagu berjudul Iris oleh Goo Goo Dolls. Langsung terbesit di dalam ingatan Haz bahwa wanita yang tidak sengaja ditubruknya tadi adalah pacar Ric yang pernah dia lihat. Wanita itu tinggal satu apartemen dengannya, tetapi di lantai satu. Dia ingat bahwa namanya adalah Iris, sesuai dengan judul lagu yang terputar saat itu.
Haz berbalik dan memanggil wanita yang dikenali sebagai Iris itu.
"Nona, tunggu!"
Haz berhasil menepuk bahu Iris sebelum dia sempat menaiki eskalator dan turun ke bawah.
Iris yang kaget refleks mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang berada di dalam genggamannya menuju wajah Haz.
"Oh." Iris yang kaget langsung mengubah wajahnya menjadi wajah datar. Dia bertanya kepada Haz, "Ada apa, Nona?"
"Sepertinya saya mengenal Anda, kita pernah bertemu secara tidak sengaja, bukan?" tanya Haz frontal. Dia langsung bertanya kepada Iris apakah mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Saya tidak tahu apa maksud Anda, Nona. Tapi, mungkin Nona ini pernah melihat wajah saya. Untuk masalah kita pernah bertemu atau tidak, saya harus mengakui bahwa saya belum pernah bertemu dengan Nona sama sekali," jawab Iris.
"Namamu ... Iris, bukan?"
Wajah Iris tampak kaget ketika dia mendengar nama itu. Dia pun menjawab, "Benar. Saya Iris. Ada apa?"
Sesuai dugaan Haz, dia adalah Iris, orang yang dijemput oleh Ric saat Whisk baru di Indonesia selama beberapa hari dan mereka habis menjemput Alkaf dari bandar udara.
"Kita tetangga satu apartemen. Aku berada di lantai dua." Haz mengulurkan tangannya ke hadapan Iris. Dia tersenyum manis padanya.
Iris menatap tangan Haz dan berkata, "Tidak heran. Pantas saja Anda bilang pernah melihat saya beberapa kali." Dia menjabat tangan wanita berambut panjang gelombang dan membalas senyumannya.
"Salam kenal, Nona Hazelia."
"Baiklah, maaf mengganggu waktumu. Silahkan."
Haz mempersilahkan Iris untuk pergi dan meminta maaf kepada wanita itu karena telah menganggu dirinya.
Iris pun tersenyum tipis kepada Haz dan segera pergi dari hadapannya. Turun melalui eskalator dan menghilang di antara kerumunan orang-orang.
Perlahan, perasaan kuat yang membelunggu Haz hilang bersama dengan tak terlihatnya lagi Iris sejauh mata memandang. Tapi, wanita berambut panjang gelombang tidak curiga sama sekali. Dia malah menepis perasaan buruknya terhadap Iris.
Mungkin hanya perasaanku saja ... mungkin aku yang terlalu perasa. Ayo Hazelia Lify, kita bersenang-senang!
Di tempat Whisky Woods ....
Whisk adalah orang terakhir yang masuk ke dalam shopping mall. Haz dan Zenneth sudah menghilang, entah kemana, ketika dia memasuki shopping mall.
Ketika melihat ke arah segerombolan orang yang menunggu di depan pintu lift, Whisk langsung mengurungkan niatnya untuk memakai lift dan memilih untuk memakai eskalator.
Terlihat dari peta shopping mall—peta ini biasanya adalah guide tentang tempat-tempat yang ada di lantai selanjutnya atau lantai sebelumnya—bahwa jika Whisk ingin pergi ke Gramedia, dia harus ke lantai 7. Cukup jauh.
Saat naik melalui eskalator dan ingin pergi ke lantai 4, Whisk berpapasan dengan Iris di sana. Dia ingin naik ke atas dan wanita itu akan turun ke bawah. Dia juga langsung disergap perasaan yang aneh, seperti yang dialami oleh Haz ketika bertemu dengan Iris.
Wanita itu ... sepertinya aku pernah melihatnya ... tapi, dimana ya? tanya Whisk di dalam hati. Bingung.
Kasus Whisk pun hampir mirip dengan Haz. Dia tidak bisa mengingat Iris sama sekali. Maksudnya adalah dia ingat pernah bertemu dengan wanita itu, hanya saja terlalu cepat untuk melupakannya. Mungkin Iris adalah tipe orang yang sangat mudah untuk dilupakan.
Abaikan saja. Aku juga tidak mengenalinya. Tidak mungkin aku bertanya kepada orang yang tidak kukenal dengan mengatakan apakah kita pernah bertemu atau semacamnya. Aku itu seorang laki-laki dan dia itu seorang perempuan. Orang lain bisa salah paham jika aku melakukannya, pikir Whisk.
Akhirnya Whisk pun mengabaikan perasaan buruk yang menyergapnya tentang Iris dan menjejakkan kaki di lantai 4. Dia bisa melihat lusinan toko baju bermerk yang sangat bergengsi di seluruh belahan dunia.
Kesukaan para wanita. Aku bertanya-tanya, kenapa wanita suka sekali pergi ke tempat seperti ini dan menghabiskan waktu mereka berjam-jam lamanya untuk memilih baju-baju, kata Whisk di dalam hati.
Zenneth ... mungkin dia berada di salah satu toko di lantai ini. Sedangkan Haz ... aku tidak akan pernah tahu dia sudah sampai dimana. Yang jelas dia pasti tidak akan pergi ke bioskop. Dia adalah tipe orang yang menyimpan keinginannya untuk dilaksanakan di akhir-akhir. Mungkin dia akan mengajakku dan Zenneth untuk pergi menonton film di bioskop.
Saat itu juga, Whisk melihat Zenneth yang keluar dari salah satu toko di lantai itu. Dia pun langsung menghampiri wanita itu dan menepuk pelan bahunya.
"Hei!" seru Whisk kepada Zenneth.
"Oh astaga ... Whisky Woods, kamu mengagetkanku! Kukira kamu siapa dan hampir saja ku tampar pipi indah mu itu," kata Zenneth.
"Jahat sekali kamu, Nona," ujar Whisk sambil memasang tampang cemberut.
"Jadi apa mau mu, Whisky Woods?"