
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Sesaat sebelumnya...
Whisk melakukan apa yang dilakukan oleh Haz tadi. Dia melompati balkon-balkon kamar apartemen orang lain seraya meminta maaf dalam hati kepada pemiliknya. Maafkan aku atas ketidaksopananku seperti ini, batinnya.
Whisk sampai di balkon kamar apartemen Haz. Suasana di balik pintu balkon yang sudah rusak sangat berantakan. Pria tersebut menaikkan satu alisnya merasa bahwa Thomas Bara, pembunuh bayaran yang dikatakan Haz, masih ada di dalam. Mungkin menunggu wanita itu kembali.
Whisk masuk ke dalam kamar Haz perlahan-lahan, jika saja Bara benar-benar masih di dalam sana, maka hal yang harus dilakukan olehnya adalah mengamati benda-benda apa saja yang ada di dalam kamar Haz dan pergi dari sana secepatnya. Namun sepertinya keadaan tidak membiarkan dirinya lolos semudah itu. Di depan sana terlihat Bara yang sedang mendengus marah layaknya seekor banteng marah yang melihat seulas kain berwarna merah di hadapannya.
Oh no... Sepertinya kehadiran sosokku akan membuatnya membalas dendam kepadaku karena telah menjebloskan dirinya ke dalam penjara, batin Whisk jengkel.
Whisk sudah pernah melalui ini beberapa kali. Tak heran dia masih saja bisa bersikap tenang padahal musuh yang ada di hadapannya adalah musuh yang tidak main-main ganasnya.
"Whisky Woods ...," Bara menggeram ketika menatap Whisk. Pria bongsor itu memendam rasa benci yang sangat besar pada Whisk.
"Sudah lama sekali semenjak kita bertemu, Thomas Bara," ucap Whisk tenang. Dia mengawasi gerak-gerik Bara jika saja dia akan mengeluarkan senjata tajam atau pun senjata api.
"Ya, sudah lama sekali, Whisky Woods," kata Bara. Pria itu menatap tajam ke arah Whisk, berhati-hati, karena tahu bahwa dia adalah lawan yang tangguh.
"Jadi, apa yang kau lakukan di tempat pacarku?" tanya Whisk. Dia mengamati benda-benda yang ada di kamar Haz sesaat, lalu mengalihkan kembali pandangannya ke arah Bara. "Kau membuat kamar pacarku berantakan, kembalikan benda yang akan kau bawa ke orang yang membayarmu, Thomas Bara," lanjutnya jengkel.
Apa pun itu, jika berhubungan dengan Hazelia Lify, Whisk akan langsung meresponnya.
"Tidak ada benda yang harus kucuri dari sini, kecuali orang yang tinggal di dalamnya," kata Bara. Dia menyeringai.
"Lalu, apa yang kalian lakukan kepada Raphaela?" tanya Whisk.
"Wanita itu hanya boneka pemancing keluarnya seorang Hazelia Lify. Bukankah Hazelia Lify adalah orang yang sangat perhatian dengan orang-orang di sekitarnya? Membuat wanita itu sebagai umpan akan memancingnya keluar dari persembunyiannya bukankah begitu?" Bara terkekeh ketika mengucapkannya. Ucapannya membuat Whisk semakin jengkel dan ingin cepat-cepat memasukkan kembali pria tersebut ke dalam jeruji besi. Kali ini untuk selamanya.
"Sebelum kau dan Tuanmu memancing Hazelia Lify keluar, kalian harus melangkahi mayatku dulu."
"Dengan senang hati, Tuan Detektif," Bara terkekeh senang, lalu melempar tinjunya ke arah Whisk.
Aku berharap aku bisa menang darinya seperti dua tahun yang lalu. Thomas Bara adalah orang yang berbahaya. Aku harus cepat menyelesaikan masalah ini dan segera pergi ke parkiran untuk menyelamatkan Rael. Haz tidak perlu memikirkan soal itu lagi jika aku berhasil, pikir Whisk.
Buk!
Buk!
Dua pukulan keras dari Bara berhasil membuat Whisk terdorong beberapa langkah ke belakang. Pria bersurai kemerahan menyeimbangkan kembali posisinya. Fokus, Whisky Woods! serunya dalam hati.
Whisk berhasil menghindari dari pukulan Bara yang hampir mengenai ulu hatinya. Itu nyaris saja, pikirnya jengkel.
Whisk menangkis pukulan Bara yang akan mengenai wajahnya. Posisinya tidak begitu menguntungkan sekarang. Dia tengah berada di antara Bara di depan dan dinding di belakang. Ruang geraknya terbatas. Jika saja pria itu ingin membebaskan diri melalui sisi kanan maupun kiri, paling tidak Bara memiliki sedikit celah untuk mengalahkannya.
Whisk mendadak terdiam, mematung. Matanya terpejam erat. Dia ingat akan suatu hal yang sudah lama terpendam dalam dirinya. Alasan mengapa dia memilih untuk masuk ke dalam Akademi Kepolisian dan menjadi seorang detektif: Whitney Carmilla Walker, Milla—cinta pertama Whisk, senior polisi hebat yang akhirnya terpaksa menikah dengan seorang mafia, pemimpin organisasi The Phantom, James Stetson. Biarpun begitu, dia tak pernah membenci wanita itu, bahkan dia dan James berteman baik.
Whisk mengingat Milla yang mengajarkan kepadanya tentang bela diri yang akan membebaskannya dari serangan-serangan ganas.
"Seni bela diri ini terdiri atas tujuh seni terlarang. Kebetulan sekali, aku mempelajarinya dari seorang Master berkebangsaan Chinese," kata Milla. "Sekarang, aku akan mewariskan ilmu ini kepadamu, Whisky Woods. James adalah orang pertama dan kamu, junior yang sudah kuangkat sebagai adik sendiri, akan mendapatkannya juga," lanjutnya. Milla tersenyum manis. Itu pertama kalinya Whisk merasakan yang namanya patah hati, pupus sudah harapannya untuk hidup selamanya dengan Milla, seniornya yang hebat. Tapi, Tuhan cukup adil kepada pria itu, Ia mempertemukan dirinya dengan seorang wanita yang bahkan bisa membuatnya jatuh cinta sedalam itu, melebihi rasa yang pernah dimilikinya kepada Milla.
"Aku langsung bisa saat mempelajari teknik bela diri terlarang ini. Setiap orang memiliki bakat mereka masing-masing, Whisky Woods. Sama seperti aku yang buta. Ia cukup baik dan memberiku anugerah seperti ini." Kata-kata Milla terlintas di pikiran Whisk seperti sebuah tape recorder. "Tujuh teknik bela diri terlarang ini adalah ...-"
Whisk membuka matanya, kepalan tangan Bara sudah berada persis di depan matanya. Namun seperti pria bersurai kemerahan memiliki kekuatan yang melanggar hukum fisika, tinju Bara hanya mengenai udara kosong.
Bara menggeram marah karena dia tak berhasil memukul Whisk. Sebaliknya, Whisk yang berhasil menjatuhkan Bara. Dia menendang kaki Bara hingga pria itu kehilangan keseimbangannya. Saat Bara terjatuh, Whisk segera melumpuhkannya dengan cara melempar tinju ke wajahnya.
Bara tak hanya diam. Dia segera membalikkan keadaan, melumpuhkan Whisk dan mengeluarkan senjata tajam berupa pisau lipat—Boker Manufactury. Dia mulai mengiris-iris tubuh Whisk seperti mengiris bawang bombai.
Beruntung sekali Whisk hanya teriris di beberapa bagian. Meski begitu, dia tetap harus menahan rasa sakit dan darah yang merembes keluar. Dia segera menendang perut Bara. Dia bangkit, berlari menuju pintu masuk-keluar apartemen Haz yang sudah rusak. Yang ada di pikirannya sekarang adalah menjauh dari Bara dan menyelamatkan Rael.
Sesampainya di parkiran, ada satu mobil yang terparkir di sana. Whisk bisa melihat seorang wanita yang tengah terikat tangannya dan dilakban mulutnya berada di dalam sana dan sepertinya menyeru kepadanya, terduduk di bangku pengemudi dari kaca bukan reben mobil. Dia segera berlari menuju mobil tersebut.
Whisk membuka pintu mobil yang kebetulan sekali tidak terkunci. Dia segera membuka lakban yang menutupi mulut wanita itu. "Whisky Woods, bukan?" Suara lembut yang terkesan tinggi terdengar oleh Whisk. Dia ingat apa yang dikatakan Andrian tadi. Itu adalah Rael. "Tidak ada waktu untuk menjelaskan! Pria bongsor itu tepat ada di sana!" pekiknya kepada Whisk.
Whisk mengalihkan pandangannya ke arah Bara yang menggerung seperti seekor serigala buas dan siap menerkam mangsanya kapan saja. Dia segera melepaskan tali yang mengikat tangan Rael. "Dengar Rael, apa pun yang terjadi, jangan pernah berhenti melajukan mobilmu dan meninggalkan tempat ini segera! Aku harus kembali ke tempat Hazelia Lify. Jangan pedulikan kami dan pergilah ke tempat yang kamu rasa aman." Selesai berkata demikian, Whisk membanting pintu mobil dan berlari sekencang-kencangnya dari sana untuk mengalihkan perhatian Bara.
Bara tentu saja lebih memilih mengejar Whisk daripada mobil Rael.
Whisk memancing Bara sampai di atap. Dia menjatuhkan dirinya di atas balkon kamar orang. Lalu, menjatuhkan dirinya lagi tepat di balkon kamarnya. Dia melakukannya dengan sangat cepat hingga Bara kehilangan jejaknya. Yang Bara lihat terakhir sebagai jejak adalah darah pria bersurai kemerahan yang berada di tengah-tengah ruang terbuka atap yang luas.
Whisk bisa mendengar Bara melolong marah—seperti seekor binatang buas yang kehilangan buruannya.
Whisk menghela napas lega. Aku harus bertahan sebentar lagi ... jangan sampai tidak memenuhi janji pada Hazelia, batinnya yang mulai kehilangan kesadarannya karena darahnya terus-menerus mengalir.
Whisk membuka pintu balkon kamarnya pelan-pelan dan menguncinya. Dia bisa melihat Haz tengah duduk mematung. Pria itu juga bisa mendengar Haz terisak. Bisa disimpulkan bahwa wanita itu tengah menangis.
Whisk mendekati Haz. Wanita itu bahkan tidak menyadari bahwa merangkak ke atas kasur dan sudah berada tepat di belakangnya. Haz tengah menangkup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
Di saat-saat sekarat seperti ini pun, ide jahil masih saja bisa muncul di kepala Whisk. Dia mendekatkan bibirnya dengan telinga Haz, lalu menyeru lembut. "Boo!"