
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Rasanya ada yang kurang ...," gumam Haz.
Whisk juga merasakan hal yang sama.
Haz dan Whisk, yang pastinya akan dibantu oleh Nich, bisa mengungkapkan kejahatan percobaan pembunuhan Ric karena mereka mengantongi bukti yang kuat. Tapi, mereka tak bisa melipatkan kejahatan lainnya karena mereka tak memiliki bukti yang kuat―kecuali jika Iris Hassan dan Riyan Hassan mengakui perbuatan mereka.
Mana ada penjahat yang sebodoh itu: Akan mengakui kejahatan yang dibuatnya. Kecuali psikopat akut, mereka cenderung menganggap bahwa pembunuhan adalah 'piala' mereka. Mereka akan memamerkan 'piala' yang sudah mereka capai. Namun hal itu akan terjadi jika mereka sudah tertangkap, atau jika identitas mereka terekspos ke publik.
"Memang ada hal yang kurang. Aku tahu Keluarga Hassan kaya dan bisa melepaskan diri dari jeratan hukum. Tapi, untuk kasus berat ...."
"Aku sudah tahu!" seru Haz. "Lacak orang yang menjadi Panitera Pengadilan, Hakim, Jaksa, lalu Pengacara yang pernah digunakan oleh Iris dan Riyan."
"Baik, Nona. Tunggu sebentar!"
Whisk melacak informasi terkait Iris dan Riyan. Dia akhirnya menemukan dua kasus yang hampir sama yang pernah dilakukan oleh Riyan.
"Riyan Hassan pernah terjerat kasus Pembunuhan dan kasus Pencemaran Nama Baik. Yang pertama adalah tuntutan dari Kepolisian setempat. Dia menjadi tersangka atas pembunuhan yang dirias sedemikian rupa sebagai 'aksi gantung diri'. Yang kedua, Riyan pernah mencari masalah dengan Tuan Muda Han."
Mendengar kata 'Han', Haz kembali mengingat kejadian di atas kapal. Dia pernah ditampar oleh Tuan Besar Han. Dia terkekeh.
"Keluarga Han memang pantas mendapatkan hal itu."
Whisk menatap Haz. Dia lalu teringat kembali cerita Alkaf saat dia masih 'melupakan' segalanya.
"Oh, anak dari Tuan Han. Ayah dan anak tak jauh berbeda," celetuk Whisk.
"Kamu ingat apa yang diceritakan oleh Alkaf?" tanya Haz dengan tatapan tidak percaya.
"Tentu saja. Amnesia tak berlaku untukku." Whisk mengangkat bahunya dan tersenyum angkuh. Di mata Haz, dia terlihat sangat jelek ketika dia melakukannya.
"Kamu tidak cocok bersikap sombong, Whisk," ejek Haz.
"Daripada membahas wajah sombongku, lebih baik kita kembali pada topik. Pengacara yang disewa oleh mereka sama. Dia adalah Pengacara paling terkenal di Indonesia bahkan sampai saat ini."
Haz terlihat berpikir. Sepertinya, dia tahu siapa orang yang dimaksud oleh Whisk.
"Apakah Rias Remus?"
"Begitulah."
Melelahkan sekali ... kenapa banyak sekali orang-orang yang menciptakan keadaan rumit di dunia ini? tanya Haz dalam hati dengan kesal.
"Ada hal menarik yang kudapatkan dari Rias Remus."
"Apa?"
"Nama aslinya adalah Reya Undine Hassan."
Haz memijat keningnya perlahan. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan penjahat dari Keluarga Hassan.
Ternyata, mereka sudah mempersiapkan banyak pion untuk ini, batin Haz.
"Berkat bantuan dari Reya Undine Hassan, mereka berhasil lolos dari gugatan. Pasti ada hal yang tidak kita ketahui. Bagaimana caranya dia bisa meloloskan Riyan Hassan semudah itu?" tanya Whisk.
"Aku ingin tahu, tadi kamu bilang ada Kepolisian yang menggugat Riyan, Kepolisian bagian mana?" Haz bertanya balik.
Whisk membaca artikel dengan seksama. Dia menemukan satu hal yang sangat menarik.
"Ini menarik sekali, Haz. Kepolisian yang menggugat adalah Kepolisian tempat dimana Nicholas Qet Farnaz bekerja."
Nich : (Mengunggah foto).
Nich : (Mengunggah foto).
Nich : (Mengunggah foto).
Nich : (Mengunggah foto).
Nich : (Mengunggah foto).
Nich : Sebagian berkas kasus saat Kepolisian menuduh Riyan Hassan atas pembunuhan.
Nich: Padahal bukti sudah jelas-jelas tertampang. Tapi, kami tidak tahu bagaimana caranya dia lolos dari pengadilan.
"Kepolisian pasti sangat membenci Riyan sekarang. Kita bisa menjadikan mereka sebagai pion untuk menangkapnya. Aku tahu usulanku kurang manusiawi. Maksudku, terkadang harus mengorbankan sesuatu untuk bisa mencapai sesuatu," kata Haz.
Haz mengetuk-ngetuk jemari di atas meja kaca. Dia sudah memikirkan konsekuensi atas semuanya.
"Bisakah kita tidak melakukan hal itu?" tanya Whisk.
"Kamu pernah melakukannya dan kamu menyesal." Haz mulai lagi. Dia menyelami dunia Whisk. Namun dia tahu yang tersisa di jiwa pria bersurai kemerahan hanyalah penyesalan dan rasa cinta terhadap orang-orang terdekatnya.
"Benar. Aku pernah melakukan hal itu. Dan, aku sangat menyesal. Aku berharap tidak ada lagi orang yang mengalami penyesalan seperti yang kurasakan." Whisk tersenyum dingin.
"Kamu berpikiran terlalu pendek tentang apa yang kukatakan, Whisky Woods," kata Haz. Dia terkekeh, yang semenit kemudian langsung lenyap.
Whisk terheran-heran dibuatnya.
Apa maksud Haz dengan aku berpikiran terlalu pendek? tanya Whisk dalam hati. Apakah pikirannya yang terlalu panjang?
"Ini bukan soal panjang atau pendeknya pikiran, Whisky Woods. Terkadang kita harus menciptakan batasan yang lebih jauh, menciptakan kemungkinan yang lebih banyak. Kamu menyesal atas sesuatu yang terjadi karena kamu tidak pernah mengekspektasikannya. Tapi, aku? Aku sudah pernah menantang maut―setiap orang pernah menantang maut. Dan, aku selamat dengan keadaan yang sangat baik-baik saja. Menurutmu, bagaimana pandanganku tentang hal itu?"
Whisk terdiam. Dia tidak bisa membalas penjelasan pernyataan yang diberikan oleh Haz.
"Jika kamu pernah menonton sebuah film Kerajaan, kamu pasti tahu apa yang ku maksud dengan pion. Apa gunanya. Bagaimana cara menyusun strategi perlahan untuk bisa 'menembak tiga burung dengan satu panah'."
Whisk tentu tahu apa yang dimaksud oleh Haz. "Lalu, apa rencanamu?" tanyanya.
Haz tersenyum manis. "Kamu akan tahu, Whisky Woods. Sekarang kita harus menyuruh mereka berkumpul terlebih dulu. Keluarga Hassan pasti sudah membuntuti kita dan segala aktivitas yang kita lakukan."
Pukul 08:00 A.M. di pagi hari ....
Haz dan Whisk tidak tidur semalaman suntuk. Mereka berdua langsung mandi dan keluar setelah melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
"Kita harus mencari tempat sarapan yang enak," celetuk Haz sambil meregangkan otot-ototnya.
"Kurasa, soal sarapan, harus kamu yang menentukan. Aku belum begitu tahu mana saja tempat sarapan yang enak," kata Whisk.
"Mobil itu, dia akan mengikuti kita," bisik Haz. Pandangannya tertuju pada satu mobil norak berwarna merah cerah. "Mobil itu sepertinya milik Rias Remus."
"Jangan dilihat!" seru Haz berbisik, memperingatkan Whisk agar tidak melirik ke arah mobil norak itu.
Whisk mengikuti arahan dari Haz. Dia berpura-pura tidak melihat mobil merah itu dan masuk ke dalam mobil.
"Kita akan pergi sarapan, lalu akan pergi mengunjungi Ric," kata Haz.
Whisk mengangguk mengerti.
Mobil Whisk sudah ditinggal selama beberapa jam tanpa pengawasan, apalagi ada mobil merah tak dikenal akan mengikuti mereka, mereka hanya mengantisipasi kemungkinan terburuk kalau-kalau mobil mereka dipasang alat perekam suara.