
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Di depan toko sepeda langganan Zenneth ....
Zenneth masuk ke dalam toko sepeda. Sementara itu, Haz dan Whisk menunggu di luar, di dalam mobil yang terparkir rapi di sisi jalan.
Haz menghela napas panjang berulang kali sambil berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia terlihat tidak senang sama sekali. Padahal dia yang mengusulkan aksi jalan-jalan ini kepada Whisk dan Zenneth. Malah wanita berambut panjang gelombang yang tidak senang.
Kamu harus menenangkan dirimu sendiri, Hazelia Lify. Apakah kamu kesal karena ucapan Zenneth yang seakan sok tahu tentang Liulaika Jelkesya? Sepertinya begitu ... aku kan sudah bilang kepadanya aku tidak marah terhadap Jel. Lagipula, untuk apa dia sering membahas dan menyindir Jel? Apakah Zenneth berusaha membuatku benci kepada? tanya Haz di dalam hati. Dia mulai berpikir yang macam-macam.
Whisk yang menyadari Haz sedang tidak senang pun langsung bertanya kepadanya, "Ada apa, Haz? Sepertinya kamu terlihat sangat resah. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Haz hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Whisk sama sekali. Dia bahkan tidak mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu.
Whisk pun ikut-ikutan menghela napas. Dia sama sekali tidak bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Haz sama sekali.
Apakah karena Zenneth membahas tentang Liulaika Jelkesya lagi? Jika memang benar begitu, Zenneth sudah keterlaluan. Dia sudah diperingatkan untuk tidak membahas hal itu lagi, tapi, dia malah membahasnya dan membuat suasana hati Hazelia makin memburuk. Zenneth ... Zenneth ... kelakuanmu yang seperti itu dapat membuat Haz menjaga jarak denganmu, kata Whisk di dalam hati, berasumsi bahwa wanita berambut panjang gelombang pasti diajak untuk membahas masalah Jel lagi oleh Zenneth.
Dan, asumsi Whisk tidak meleset sedikit pun.
Whisk menepuk bahu Haz pelan dan menyadarkan wanita itu dari lamunannya.
Haz yang kaget refleks menatap ke arah Whisk. Dia bertanya singkat kepada pria itu, "Ada apa?"
"Kamu terlihat tidak senang, Haz ...." Whisk menjawab. "Apakah Zenneth membahas tentang Jelly lagi?"
Ekspresi Haz mengatakan "ya", Whisk tahu. Namun dia memilih diam dan menunggu jawaban dari Haz. Jika Haz tidak menjawab, maka dia akan berhenti sampai di sana. Dia tidak ingin merusak suasana hati wanita itu.
"Ya." Haz menjawab pendek. Dia memandang ke depan sana, ke kejauhan, dari kaca jendela mobil yang dikemudikan oleh Whisk. Dia makin galau. Dilema.
"Baiklah. Aku tidak akan bertanya lebih lanjut," kata Whisk. Dia tentu ingin menjaga perasaan Haz. "Apakah kamu ingin susu vanilla? Aku memiliki satu di sini." Dia menawarkan susu vanilla kepada Haz yang tengah jengkel.
"Tentu saja aku akan menerimanya jika kamu ingin memberikannya," jawab Haz. Dia terdengar sedikit lebih baik dibandingkan sebelumnya.
"Kamu tidak perlu ambil pusing dengan apa yang diucapkan oleh Zenneth, Haz." Whisk menyodorkan susu vanilla yang diinginkan oleh Haz.
Haz segera menyambarnya dan meneguknya melalui sedotan. "Aku tahu aku tidak perlu ambil pusing dengan apa yang dikatakan oleh Zenneth. Tapi, aku hanya tidak suka jika dia membahas hal ini terus-menerus. Yang mengenal Jelkesya dari kecil adalah aku. Dia tidak perlu membahasnya hingga ... sudahlah. Aku muak," katanya, bercerita tentang ketidaksukaannya terhadap apa yang dilakukan oleh Zenneth.
Akhirnya, suasana kembali menjadi hening. Whisk tidak ingin membuat perasaan Haz semakin buruk, sedangkan Haz sendiri meminum sekotak kecil susu vanilla yang diberikan oleh Whisk.
Aku jadi merasa bersalah pada Whisk ... padahal dia hanya mencoba membantuku menenangkan diri. Aku terlalu kasar kepadanya, batin Haz.
"Whisk, maafkan aku ... aku tidak bermaksud untuk membuatmu merasa tidak nyaman juga," kata Haz pelan.
Tepat saat itu juga pintu mobil dibuka oleh Zenneth. Haz dan Whisk langsung memasang topeng dengan tampang wajah biasa saja agar wanita itu tidak curiga bahwa mereka sedang merasa sedikit tidak nyaman dengan satu sama lain.
"Bagaimana dengan urusanmu?" tanya Whisk kepada Zenneth. Dia menatap wanita itu dari kaca depan mobil.
"Tidak ada sepeda bagus yang kuinginkan, yang bisa menggantikan sepeda lama Hazelia. Jadi, aku memutuskan untuk berhenti mencari dan menyuruh pemilik toko untuk menelepon jika ada sepeda baru," jawab Zenneth.
"Aku juga tidak terlalu memerlukan sepeda dalam waktu dekat. Aku bisa menunggu," kata Haz.
"Baiklah," ujar Zenneth. "Jadi, sekarang kita akan langsung pergi ke shopping mall?"
"Tentu saja."
Lima belas menit kemudian ....
Mobil yang dikemudikan oleh Whisk masuk ke dalam parkiran di salah satu shopping mall di ibukota. Mereka sampai di tempat itu berdasarkan arahan dari Haz.
Ini buruk sekali, pikir Whisk ketika mereka sedang mencari tempat parkir mobil yang kosong.
Bayangkan saja sudah mencapai lantai D pun mereka belum menemukan tempat kosong. Parkiran dari lantai A sampai C, mungkin D dipenuhi oleh mobil-mobil. Padahal ini masih masa pandemi. Tapi, tidak bisa dikatakan juga ... pemerintah juga sudah membuka akses masuk ke dalam shopping mall. Orang-orang tidak bisa menahan keinginan mereka untuk keluar dari rumahnya setelah ditahan selama beberapa minggu.
"Oh astaga!" keluh Whisk ketika mereka sudah mengitari lantai D dan tidak menemukan tempat parkir mobil yang kosong.
Mungkin sebentar lagi kepala Whisk akan meledak karena kesal.
Tidak bisakah setidaknya ada satu tempat yang kosong? Sudah sepuluh menit berlalu dan kami masih saja belum menemukannya, keluh Whisk di dalam hati.
"Sabar, Whisky Woods. Kita akan menemukannya sesegera mungkin. Aku rasa di lantai E," kata Haz. Dia terkekeh pelan melihat wajah cemberut Whisk yang tengah kesal karena tidak mendapatkan parkiran.
"Apakah kamu yakin?" tanya Whisk dengan nada jengkel.
"Kita tidak akan tahu jika kita tidak melihatnya, kan? Selain itu, kamu juga setuju untuk menemani kami pergi ke tempat ini. Bukannya kamu ingin pergi ke toko buku?" tanya Haz.
Apa yang dikatakan oleh Haz semuanya masuk akal. Whisk juga yang ingin menemani mereka pergi ke tempat ini. Pria itu juga ingin mengunjungi toko buku.
"Baiklah. Baiklah. Ayo kita lihat parkiran selanjutnya. Semoga saja seperti perkiraan mu, Haz. Jika tidak, aku tidak tahu lagi bisa bersabar atau tidak," kata Whisk.
Untungnya, saat mengitari parkiran di lantai E, akhirnya Haz, Whisk, dan Zenneth bisa melihat banyak tempat parkir mobil yang kosong. Ini seperti yang dikatakan oleh Haz.
"Akhirnya! Banyak tempat kosong juga. Perkiraan mu selalu benar ya, Haz. Aku terkesan"