Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
51. Hunt : Whisky Woods Ver. (Bagian 2)


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


[Whisky Woods]


Untuk kemudian Whisk baru menyadari bahwa dia meninggalkan ponselnya yang masih tersambung telepon dengan Haz di dalam mobil, sedangkan dia membawa headset wireless di telinga.


Betapa bodohnya manusia, pikir Whisk.


Whisk segera beranjak dari duduknya dan menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Saat itu juga dia berpapasan dengan pelayan pria yang tadi mencatat pesanannya.


"Loh, Anda mau kemana, Sir?" tanya pelayan pria itu bingung ketika melihat Whisk menuruni anak tangga dengan terburu-buru.


"Taruhkan saja pesanannya di meja saya," kata Whisk, "saya akan mengambil barang yang tertinggal di mobil saya sebentar."


"Baiklah, Sir."


Setelah Whisk mengambil ponselnya, dia melirik ke arah mobil. Sudah tidak terparkir di seberang sana. Namun, terparkir lebih jauh sedikit.


Hah! Dia ingin bermain kucing-kucingan denganku? Aku akan meladenimu, Nicholas Qet Farnaz, pikir Whisk sambil menyeringai dingin. Dia paling tak suka dengan penguntit.


Whisk kembali ke kafe itu dan pelan-pelan menikmati French Toast dan teh yang dipesannya.


Sudah hampir tiga puluh menit Whisk tidak mendengar suara dari Hazelia. Dia sendiri juga sama. Mematikan mic telepon, karena suasana di dalam kafe sangatlah ribut.


Dengan headset wireless yang masih terpasang di telinga, Whisk mendengar lagu klasik yang sudah dpindahkan dari flashdisk milik Haz.


Whisk memainkan pisau yang disediakan untuk memotong French Toast sambil terus mengawasi mobil yang sudah berpindah.


Sejauh ini belum ada yang keluar dari mobil tersebut. Mungkin dia tahu bahwa Whisk sedang mengawasinya, sehingga dia bimbang untuk keluar dan melihat keadaan pria bersurai kemerahan sekarang.


Whisk memasukkan potongan French Toast ke dalam mulutnya, menyenandungkan lagu di dalam kepalanya, dan mengawasi gerak-gerik semua orang. Tidak ada yang perlu dicurigai. Namun entah kenapa dia merasa ada seseorang yang mengawasinya. Terus-menerus.


Seberapa keras pun usaha Whisk mencari siapa yang menatapnya, dia tidak menemukan jawaban yang tepat. Jadi, dia memutuskan untuk mengabaikan perasaan anehnya.


Whisk terdiam sejenak ketika menyadari bahwa pelayan pria yang dia temui tadilah yang sering sekali pergi ke lantai dua, sehingga dia menjadi curiga pada pelayan tersebut. Dia berpura-pura menikmati camilan dan lagu. Namun matanya tetap waspada terhadap pelayan pria itu.


Ketika pelayan pria itu turun, Whisk melirik ke arahnya sesaat. Dan, pandangan mereka bertemu di satu titik yang sama. Itu membuat pria bersurai kemerahan yakin bahwa pelayan pria lah yang sedari tadi mengawasinya. Dia tak tahu untuk apa. Yang jelas dia tak begitu suka, tentunya.


"Hah!"


Akhirnya Whisk bisa mendengar helaan napas Haz. Dia juga ikut menghela napas, lega dengan Haz yang baik-baik saja.


"Bagaimana?" Whisk bertanya sambil memasukkan potongan French Toast ke dalam mulutnya dengan santai.


"Lihat di parkiran." Hanya itu yang dikatakan oleh Haz pada Whisk.


Whisk mendengarnya dari headset wireless yang terpasang di telinga sambil terus menatap ke arah Haz, terutama mulutnya.


"Kamu bodoh sekali." Tiga kata itu yang terucap dari bibir mungil Haz dan terdengar dari pantulan headset wireless. "Tidak perlu terburu-buru menemuiku. Kamu hanya akan dicurigai. Biar aku saja." Setelah itu, telepon dimatikan.


Jantung Whisk berdebar-debar ketika mendengar Haz yang akan naik ke atas sana dan pergi menemuinya. Pikirannya sudah melayang hingga bahwa Haz akan bersikap manja kepadanya, yang jelas itu tidak mungkin terjadi.


Pasti hanyalah akting biasa. Jangan terlalu senang karena dia yang akan menemuimu, Whisky Woods. Kamu seperti tidak tahu sifat Hazelia Lify saja, pikir Whisk. Tetap saja dia berdebar-debar.


Lima menit kemudian, Whisk bisa melihat wig pirang yang tadi dilihatnya. Disusul wajah familier yang sangat dikenalnya, bedanya hanyalah adanya tambahan freckles yang dibuat memakai foundation dan BB cream.


Hampir sama seperti ketika Whisk memasuki kafe, Haz sekarang menjadi sorotan karena pakaian olahraganya yang cukup ketat. Meskipun tubuhnya tidaklah sebagus artis-artis, dia tetap pede saja.


Dia duduk di hadapan Whisk dan meletakkan tas olahraganya yang entah berisi apa di atas meja.


Lagi-lagi yang dilihat Whisk adalah pelayan pria itu. Saat itu juga dia ada di depan meja mereka, di hadapan mereka. Pria bersurai kemerahan menatap Haz yang memberikan isyarat kepadanya untuk tetap diam dan jangan memperlihatkan ekspresi geram apa pun.


Whisk menghela napas panjang dan berusaha untuk tenang. Dia akhirnya menyunggingkan sebuah senyuman manis. Tidak terlihat dipaksakan, tetapi memanglah dipaksakan.


Whisk menatap Haz yang sedang memesan. "Aku ingin creme brulee dan squash."


"Blue ocean atau red berrish?"


"Red berrish. Merah itu lebih passionate." Haz menatap Whisk dan mengedipkan sebelah matanya. Dia terlihat tenang ketika menggoda Whisk. Sebaliknya, malah pipi Whisk yang bersemu kemerahan.


Sial. Aku selalu saja termakan godaannya, tapi aku tidak bisa membuatnya termakan godaanku. Kecuali jika di beberapa waktu, pikir Whisk.


"Saya permisi kalau begitu."


Pelayan pria segera berlalu dari hadapan Whisk dan Haz yang tengah menatap satu sama lain dengan tatapan mesra. Dia tidak menyadari bahwa wanita yang sedang dilayaninya adalah Hazelia Lify.


"Ha-"


"Panggil aku honey, beib ... kamu lupa ya? Kita kan pacaran," bisik Haz. Tatapan matanya tajam seakan-akan menelanjangi jiwa Whisk. Namun senyuman manis masih tersungging dari wajah cantiknya. Racun manis yang mematikan.


"Honey," kata Whisk dengan terpaksa. Jiwanya sudah menjerit-jerit. Jika dia salah bicara satu kata saja, di rasa kepalanya yang akan melayang, lepas dari tubuhnya. "Kenapa baru datang?"


"Aku ada urusan tadi," kata Haz sambil mengeluarkan lip balm dari tas olahraganya. Whisk bisa melihat ada botol racun di dalam sana. Pria bersurai kemerahan langsung mengerti.


Haz melapisi bibir keringnya dengan lip balm, lalu berkata dalam suara yang kecil, tetapi bisa didengar oleh Whisk. "Sedikit sulit. Pelayan itu disogok. Mobil yang mengikutimu masih ada di sana. Setelah ini, aku akan berubah menjadi Hazelia Lify dan mengalihkan perhatiannya. Saat itu juga kamu harus pergi ke sewer. Ingat, kamu harus melakukannya dengan ekstra hati-hati. Jangan sampai ketahuan oleh yang lain. Maksudku kamu titip saja mobilmu yang sudah dipasang alat pelacak oleh Andrian itu ke hotel atau tempat lain."


Belum sempat Whisk mengatakan apa pun, pelayan pria itu datang kembali dan menaruh pesanan Haz di meja.


Sekali lagi, aku akan benar-benar memenggal kepala si sialan yang satu ini!