
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Kamu ingin memeriksa TKP?" Nich mengulangi pernyataan Haz dalam bentuk pertanyaan. Dahinya berkerut, menampakkan ekspresi kebingungan. Dia bingung antara ingin mengiyakan ataupun menolak permintaan Haz.
Sebagai seorang polisi, Nich tidak boleh membiarkan sembarang orang masuk ke TKP, termasuk juga dengan Haz. Wartawan saja tidak boleh. Meskipun wanita berambut panjang gelombang bisa menemukan fakta-fakta yang membantu dalam penyelidikan, tetap saja.
Whisk menghela napas panjang dan menggantung lencana yang didapatkannya dari Tim Keamanan di PBB. Lalu, dia menunjukkan berkas-berkas FBI. Terakhir, dia menunjukkan tanda pengenal Detektif Internasional miliknya.
"Apakah ini cukup untuk membiarkan rekan kerjaku masuk ke dalam TKP?" tanya Whisk tanpa melihat ke arah Nich. Dia masih merasa bahwa Nich adalah saingan cintanya, karena Nich memiliki perasaan terhadap Haz, tentu saja.
"Sebenarnya, itu lebih dari cukup. Silahkan kalau begitu. Aku akan mengambilkan kertas prosedur. Tolong diisi dan jangan mempersulit diriku." Entah sejak kapan Nich menggunakan bahasa informal 'aku-kamu' kepada Haz dan Whisk. Namun dua sejoli itu lebih suka dan terbiasa mendengarnya daripada bahasa formal 'saya-Anda' yang digunakan Nich sampai siang tadi, sebelum mereka bertemu dengan Wraiths dari Kuba.
"Tentu saja aku akan mengisinya dan tidak akan mempersulit dirimu," kata Whisk.
Haz turun dari mobil. Dia memandang ke arah Whisk dan bertanya, "Kamu tidak ikut?"
Whisk menggelengkan kepalanya kepada Haz dan menjawab, "Aku tidak ikut. Aku sedikit lelah. Silahkan melakukan apa yang kamu inginkan, Hazelia."
Wajah Haz langsung berubah menjadi masam. Dia mengalihkan pandangannya ke sembarang arah dan menghela napas kasar. Dia ingin Whisk ikut. Namun sepertinya dia tidak bisa memaksa pria bersurai kemerahan, pria itu terlihat benar-benar kelelahan.
"Apakah aku harus ikut, Haz?" tanya Whisk. Dia tidak ingin Haz kesal atau marah lagi. Dia paling tidak bisa dikacangi oleh wanita berambut panjang gelombang.
"Tidak apa-apa. Kamu istirahat saja." Apa yang dikatakan oleh Haz berbeda dengan apa yang diinginkannya. Dia tidak pandai berbohong sama sekali. Nada bicaranya seolah menuntut agar Whisk ikut bersamanya. Namun di saat bersamaan, dia juga tidak tega melihat Whisk yang kelelahan.
"Aku akan ikut," kata Whisk.
Sebelum Whisk membuka pintu mobil yang berada tepat di sebelahnya, Haz langsung mendesaknya, "Tidak apa-apa, kamu istirahat saja. Aku tidak mau bertanggung jawab jika terjadi apa-apa kepadamu."
"Tentu saja, Nona. Aku mengerti apa yang kamu inginkan. Aku akan menunggu di dalam mobil dan menguncinya sampai kamu kembali." Whisk berkata. Dia tidak ingin membuat Haz khawatir di sela-sela investigasinya bersama dengan Fabel. Jadi, dia mengatakan akan mengunci pintu mobil setelah mengisi kertas prosedur yang diberikan oleh Nich.
"Baiklah." Haz memamerkan senyuman manis kepada Whisk, membuat pria bersurai kemerahan juga ikut tersenyum kepadanya.
Adegan manis yang dilakukan oleh Haz dan Whisk langsung diinterupsi oleh Nich yang datang membawa kertas prosedur. Itu sengaja dilakukannya lantaran tidak begitu terima kalau Whisk menang darinya soal merebut perhatian Haz.
Pandangan Whisk langsung beralih. Pria itu mendelik kesal kepada Nich yang dianggapnya merusak momen dirinya dengan Haz. Namun dia tetap menerima kertas prosedur yang diberikan oleh Nich kepada Haz dan Haz yang memberikannya kepada pria bersurai kemerahan. Dioper.
Whisk membuka laci dashboard mobil dan mengambil sebuah pena di sana. Dia pun segera mengisi kertas prosedur dan menyerahkannya kepada Nich ketika sudah selesai diisi.
"Ingat untuk mengunci mobil selama aku tidak ada," kata Haz, memperingatkan Whisk akan janjinya.
Whisk hanya menganggukkan kepalanya. Dia menggunakan bahasa isyarat yang mengatakan, "Aku akan tidur sebentar. Jika kamu sudah selesai, jangan lupa mengetuk jendela atau menelepon."
Whisk yang ditinggal oleh Haz pun mengunci mobilnya. Dia memejamkan matanya. Tak lama kemudian, dia tertidur pulas di posisi duduknya yang paling nyaman.
Satu setengah jam setelahnya, dengan Whisky Woods yang masih tertidur di dalam mobilnya ....
Whisk dikagetkan oleh ketukan di jendela. Padahal dia sudah tidur selama satu setengah jam, lebih malah. Dia menyadari ketika melihat jam digital ponselnya. Dia langsung melihat, menembus ke luar jendela kaca mobil yang memamerkan wajah Haz. Dia membuka kunci mobil dan menurunkan jendela.
"Apakah kamu sudah selesai?" tanya Whisk sambil menguap lebar. Dia menatap ke arah Haz dan terkekeh pelan. "Maafkan ketidaksopanan ku, Nona. Aku masih kelelahan."
Haz tidak menjawab pertanyaan Whisk. Dia berjalan memutar dari arah depan mobil dan membuka pintu di sebelah kursi penumpang. Dia langsung menghempaskan tubuhnya dan menutup mobil rapat-rapat.
"Nyalakan AC-nya, Whisk. Di luar panas sekali."
Whisk juga tahu Haz kepanasan, terlihat dari air yang mengalir dari kening membasahi pipi wanita itu. Dia pun mengangguk. Dia menyalakan mesin mobil untuk menghidupkan AC. Juga, tak lupa mematikan semua lampu mobil.
"Bagaimana dengan pencarian yang kamu lakukan?" tanya Whisk seraya memberikan Haz selembar tisu basah.
Haz menyambar tisu basah itu dan mengelap wajahnya. Dia menjawab, "Dugaan awal benar, Cyan dan Zenneth memang diculik. Mungkin oleh orang yang kita hadapi di Rumah Sakit tadi."
"Lalu, petunjuk apa lagi yang kamu temukan?"
"Rem mobil baik-baik saja. Mobil itu tidak terbentur dengan keras ke batang pohon seperti kelihatannya. Orang itu sudah merusak mobilnya sebelum membenturkan lagi ke batang pohon di tepi jalan itu. Di jalan raya dan sepi seperti ini, tidak banyak CCTV yang terpasang. Akan sangat sulit menemukan mobil yang membawa Cyan dan Zenneth." Haz menjelaskan.
"Seharusnya pemerintah memasang CCTV di beberapa titik untuk mencegah hal seperti ini terjadi," keluh Whisk.
"Jangan harap itu akan dilakukan, Whisk. Orang-orang di negara ini juga sangat temperamental. Mereka tidak akan membiarkan privasi, aib, ataupun kedok mereka terbongkar hanya karena sebuah CCTV di jalan. Apalagi ingin melakukan 'kegiatan prostitusi bebas' di dalam mobil dan di tempat sepi. Orang yang kontra akan lebih banyak dari orang yang pro," kata Haz panjang lebar.
"Astaga, kegiatan ... pros- prostitusi bebas?" Whisk melirik ke arah Haz.
"Jangan pura-pura polos, Whisky Woods. Di negaramu, orang sering melakukannya, bukankah begitu?" Haz memojokkan Whisk.
"Bu- bukan begitu, Haz!"
"Lalu seperti apa?"
"Aku juga belum pernah melakukannya. Meskipun tidak sengaja melihatnya beberapa kali ketika pergi ke bar atau klub malam. Terkadang juga seperti yang kamu katakan, aku tidak sengaja melihat orang melakukannya di dalam mobil."
"Aku tidak percaya kalau kamu masih polos, Whisky Woods. Apalagi kamu sudah pernah ke klub malam. Aku yakin pasti ada wanita yang menggoda dirimu dan menciumi bibirmu dengan French Kiss yang sangat HOT."