
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
[NOTE : MEREKA MEMAKAI BAHASA INGGRIS KETIKA BERBINCANG!]
Haz tidak membalas perkataan Whisk kali ini. Cukup Hazelia Lify! Jika kamu terjatuh lebih dalam lagi, seseorang terpaksa harus mengangkatmu dari dasar sungai terdalam! batin Haz menyudahi semua argumennya.
"Jika kamu tidak sanggup menceritakannya, maka aku yang akan menjadi pencerita di sini, Hazelnut!" bentak Alkaf. Dia beserta Jel dan Andrian masuk ke dalam kamar pasien, mendapati Haz duduk membelakangi Whisk dan pintu.
James dan Milla sendiri tidak tampak. Mereka sedang menyelesaikan masalah yang dibuat oleh James tadi.
"Jangan kamu potong bicaraku!"
Mulut Haz yang semula terbuka, terkatup rapat kembali. Dia tahu ini saat yang tepat untuk meluruskan semuanya, semua masalah yang dibuatnya dan sifatnya yang berubah-ubah. Cukup kamu menyakiti tiga orang yang baru saja kamu kenal karena masa lalumu yang kurang berkenan di hatimu ya, Hazelia Lify, pikirnya. Dia menghela napas panjang. Berusaha menegarkan hatinya agar tidak menangis ketika Alkaf memulai cerita kisah hidupnya yang menyedihkan itu. Dia sama sekali tak ingin mengingat, apalagi soal dia merobek surat adopsi tepat di depan wajah dan dua pasang mata orang yang mengadopsinya.
"Jika kamu ingin mendengar, Whisky Woods," kata Alkaf terkesan mengancam, menatap tajam ke arah Whisk dengan tatapan membunuh. "Jadilah anak baik dan jangan menyela ceritaku."
Glek! Semua orang menelan ludah mendengar ancaman Alkaf, termasuk Whisk sendiri. Pria bersurai kemerahan tersenyum gugup dan mengangguk berulang kali pada Alkaf.
"Bagus!" puji Alkaf. "Kita mulai kisah menyebalkan ini ...."
Sekitar dua puluh dua tahun silam, saat Hazelia Lify berusia empat tahun ...
Pukul sepuluh lewat sepuluh menit, di dalam sebuah kamar tidur yang luas di sebuah panti asuhan ibukota provinsi Kalimantan Barat ...
Si kecil Hazelia Lify terduduk mematung di tepi ranjangnya di kala anak-anak panti asuhan tersebut sudah mengalami bunga tidur yang sangat manis. Suasana sangat hening hingga yang terdengar hanya detak jantungnya sendiri, suara nalasnya yang masuk keluar hidung, dan beberapa dengkuran pelan anak-anak yang sudah tertidur, serta jarum jam yang tak henti berdetak nyaring. Tik ... Tok ....
Tap ... Tap ... Tap ....
Kret!
Suara tapak kaki di lorong panti terdengar jelas di telinga Haz kecil yang cerdas. Gadis kecil itu tahu Bunda Shinta—seseorang yang mendirikan panti asuhan dan menjadi orang tua asuh semua anak yang dibuang ke tempatnya—tengah melakukan patroli malam, memeriksa apakah semua anak di kamar yang mereka tempati sudah tidur atau belum. Pintu pun dibuka dan menyisakan wajah seorang wanita berusia awal tiga puluh tahun dengan lentera minyak di tangannya—itu masih tahun 2000, listrik masih jarang ditemukan meski sudah ada PLTA. Dia adalah Bunda Shinta, tebakan Haz kecil tidak salah sama sekali.
"Hazelia?" Bunda Shinta memanggilnya dan mendekat ke arahnya.
Haz kecil hanya bisa menatap nanar ke arah Bunda Shinta, lalu tak lama kemudian mengabaikan wanita yang duduk di sebelahnya. Haz kecil menerawang jauh ke dalam kegelapan. Sebagai seorang anak berusia empat tahun yang cerdas dan berpikir layaknya orang dewasa, merupakan beban berat baginya. Anugerah seperti itu sangat sulit diterima olehnya.
Bunda Shinta menghela napas panjang. Dia tahu tidak seharusnya membebani anak kecil dengan hal seperti itu. Wanita itu merasa bersalah pada Haz kecil. Dia menepuk pundak Haz kecil untuk menenangkan dirinya.
Haz kecil menepis tangan Bunda Shinta, lalu bergegas masuk ke dalam selimut dan memejamkan matanya erat. Gadis itu sama sekali tidak ingin mendengarkan penjelasan apa pun dari Bunda Shinta. Aku tidak ingin percaya pada semua yang dikatakan oleh Bunda kepadaku! seru Haz kecil dalam hati sedih.
"Hazelia," Bunda Shinta menepuk tubuh mungil itu pelan, berusaha menghiburnya. "Kamu marah pada Bunda ya, Sayang? Maafkan Bunda ya ... berbohong pada kamu ... Bunda tidak bermaksud begitu .... Begini, Bunda paham sekali Hazelia itu anak yang cerdas dan bijaksana, juga dewasa. Tidak pantas di umur seperti ini mendapat anugerah sebesar itu, sebab itulah Hazelia menjadi sensitif, bukankah begitu?"
Haz kecil hanya menjawabnya dengan gumaman kecil. "Hm ...."
"Bunda melakukan ini demi kebaikan Hazelia sendiri. Bunda ingin Hazelia tumbuh menjadi anak dengan banyak prestasi, apakah Hazelia bisa mengerti?"
Sekali lagi, Haz kecil hanya membalasnya dengan gumaman singkat.
Mungkin aku terlalu memaksanya ... Bunda Shinta berpikir demikian. Wanita itu menghela napas panjang sejenak, lalu melanjutkan kembali perkataannya, "Bunda tidak bermaksud membohongi Hazelia. Tapi, pikirkanlah dunia luar, Nak ... kamu tidak hanya akan bertemu dengan teman baru, juga kamu bisa bersekolah, dan kamu bisa bersenang-senang. Di tempat ini, Bunda tidak sanggup menyekolahkan kalian semua ... Kak Maudy juga mendapatkan beasiswa baru bisa bersekolah ... kamu paham kan?
Kali ini Haz kecil tidak membalas pertanyaan Bunda Shinta. Dia diam seribu bahasa. Dia tidak ingin mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu lagi. Perkataan-perkataan barusan juga sudah cukup membebani gadis kecil itu. Aku tidak ingin mendengar lagi, batinnya.
Alih-alih memahami perasaan Haz kecil, Bunda Shinta justru mendesaknya. "Hazeli-"
"Jangan bicara apa-apa lagi, Bun ... aku sudah paham dengan apa yang Bunda ingin. Tentu saja Bunda bisa pilih untuk jual aku kepada pasangan orang kaya itu demi uang yang akan diterima oleh Bunda sendiri. Aku harap Bunda tidak lakukan hal ini pada anak-anak lain seperti aku," Haz mengatakannya dengan jelas, semua yang terpendam di dalam hatinya. Memang dia masih kecil, tapi gayanya seolah sudah sangat dewasa. Jangan lihat dari tubuhnya yang kecil dan pendek, orang-orang tidak menyangka akan ada otak cerdas di dalamnya.
Bunda Shinta terlihat ingin menampar pipi Haz kecil, tapi mengingat dia menjanjikan Haz kecil terbebas dari cacat dan luka sedikit pun—sebenarnya, masalah Haz kecil yang memiliki pola pemikiran dewasa sudah menjadikan anak itu cacat mental. Anak kecil seharusnya berlaku polos, menggemaskan, dan mudah dipengaruhi—kepada orang yang akan mengadopsinya. Luka tampar saja akan menjadi penolakan besar dari pasangan itu, sehingga Haz kecil hanya diberi 'ciuman selamat malam' di pipinya.
Tentu saja Haz kecil tahu maksud Bunda Shinta yang seolah mengatakan, "Kau beruntung iblis kecil! Jika saja tidak ada yang menginginkan anak sepertimu, aku akan menamparmu dan membuangmu ke kolong jembatan!"
Sebenarnya, untuk apa aku lahir? Orang tuaku saja sudah tidak tahu ada dimana ... sekarang aku harus lakukan perintah orang yang aku sebut sebagai 'Bunda' di tempat ini? Tolong aku ... aku benci diriku yang seperti ini ....
Kembali lagi ke kamar pasien ...
"Bisakah kamu membayangkan sulitnya menjadi anak dengan pemikiran sudah dewasa seperti itu?" tanya Alkaf kepada orang-orang—termasuk James dan Milla yang baru saja masuk ke dalam kamar pasien.
Haz membasuh keringat dingin yang terus-menerus mengalir dari kening dan leher Ric. Dia mengabaikan pertanyaan Alkaf, karena tahu pertanyaan itu bukan ditujukan untuknya. Alih-alih mendengar kisah masa kecilnya yang tak ada arti baginya itu, dia memutuskan untuk memikirkan siapa yang menjadi 'Tuan' dari Thomas Bara dan mengapa dia mengaku-ngaku sebagai Rael, juga apa motifnya ingin mencelakai Ric juga menculik dirinya. Wanita itu bisa mendengar jawaban orang-orang.
Jel sendiri tidak menjawab, karena dulu saat ditanya, dia sudah menjawabnya. "Aku lebih memilih kabur dari panti asuhan itu daripada Bunda Iblis itu menjadikanku sebagai jaminan atas hasrat kekayaannya. Lagi pula setelah dia menjualmu dia ..." Wanita itu benar, seharusnya Haz kabur saja dari sana! Tapi, cara itu tidak dipakainya sama sekali. Dia merasa akan sia-sia saja kabur dari panti asuhan, Jikalau bertemu orang baik, baik pula kehidupan yang dijalaninya. Tapi, di luar sana ada seratus orang yang sama seperti Bunda Shinta, dan seribu orang yang jauh lebih jahat daripadanya. Orang baik? Hanya satu banding seribu! Jadi, jangan terlalu berharap.
Haz bisa mendengar satu per satu orang menjawab pertanyaan Alkaf. Hanya ada satu jawaban yang sama dengan yang dilakukannya dulu. Dan yang menjawabnya adalah ...