Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
112 : Cerita Yudel


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Sementara Haz berusaha untuk mendekati Waikit dengan caranya sendiri, mungkin karena Whisk dan Yudel sama-sama adalah pria, mereka terlihat sambung-menyambung satu sama lain saja.


"Apakah Hazelia Lify itu pacarmu?" tanya Yudel secara tiba-tiba kepada Whisk.


Whisk langsung menatap Yudel dan menjawab, "Tidak. Dia tidak ingin hubungan yang terburu-buru."


"Terjebak hubungan pertemanan ya? Tapi, sebenarnya itu bagus. Kalian bisa coba saling mengerti satu sama lain," kata Yudel.


"Benarkah? Aku merasa tidak seperti itu. Haz, wanita itu sangatlah keras kepala. Jika dia tidak ingin, maka dia akan menolak sampai akhir," ujar Whisk.


"Wanita dominan yang cukup rumit ...," ucap Yudel.


Whisk tak lagi membalas ucapan Yudel. Dia menyibukkan dirinya dengan dunianya, fantasi yang berkeliaran di dalam pikirannya. Segalanya menjadi campur aduk di dalam sana, dari wajah Haz, terpisah menjadi kasus-kasus yang pernah dia tangani, lalu menjadi wajah Whitney Carmilla Walker yang belum sempat dia sampaikan rasa cintanya dulu, melihat Milla dan James Stetson menikah, dan berbagai hal lain di dalam kepalanya.


Whisk menghela napas panjang, tapi tak berusaha menarik perhatian orang lain.


Sekarang adalah saat yang tepat untuk melepaskan semuanya, batin Whisk.


"Sedang memikirkan masa lalu mu, Whisky Woods?" tanya Yudel.


"Tidak hanya masa lalu. Tapi, segala hal yang sudah terjadi," jawab Whisk.


"Jangan terlalu memikirkan masa lalu, Whisky Woods," kata Yudel.


Whisk hanya tersenyum tipis. Dia tidak membalas perkataan Yudel. Dia pun tahu kalau memikirkan masa lalu hanya akan membuatnya terperangkap. Namun sebagai manusia biasa, dia tentu saja harus melihat masa lalu sesekali.


Yudel menggelengkan kepalanya. Tidak ada cara untuk membuat Whisk tertarik. Suasana mereka sangat canggung. Tidak seperti Haz dan Waikit yang entah sudah membahas apa saja. Yudel dan Whisk sama sekali tidak membahas apa pun.


Tiba-tiba saja Whisk bertanya, "Apakah kamu bisa menceritakan masa lalu mu? Jika saja kamu berkenan menceritakannya."


Masa lalu ya? Apakah orang ini memiliki masalah dengan masa lalu? Bahkan bahasan yang ingin didengarnya saja tentang masa lalu, pikir Yudel.


Yudel tidak memiliki pilihan lain selain menceritakan masa lalunya kepada Whisk. Dia tidak memiliki topik pembicaraan untuk dibicarakan dengan pria bersurai kemerahan. Menurutnya, membicarakan masa lalu juga tidak begitu buruk.


"Tidak banyak yang bisa ku ceritakan mengenai masa laluku. Yang paling kuingat adalah orang tuaku bercerai saat aku masih berumur sekitar tujuh tahun. Hak asuh berpindah ke tangan Ibuku. Tapi, Ibuku menelantarkan diriku. Beliau mabuk-mabukan, tidak memiliki pekerjaan, dan depresi. Karena mengalami tekanan mental yang hebat, Ibuku sering memukul diriku. Menyiksa, mengurungku di kandang anjing bersama dengan anjing yang kami pelihara jika aku dianggap tidak bisa menyenangkannya, dan tidak memberiku makan. Setiap kali sakit mentalnya kambuh, aku selalu kabur dari rumah, menjadi anak liar di jalanan. Mencuri adalah keahlian yang kumiliki untuk bertahan hidup. Walau aku sering tertangkap basah."


Whisk mendengarkan dengan seksama tanpa menyela cerita Yudel.


Ternyata hidup orang itu tidak adil, batin Whisk.


Yudel menghela napas panjang setelah menghentikan ceritanya untuk sesaat. Dia kemudian melanjutkan ceritanya, "Suatu hari, aku akan mencuri lagi. Tapi, mungkin itu hari sial ku."


Whisk tahu apa yang akan diceritakan oleh Yudel. Namun dia tetap diam, membiarkan Yudel bercerita.


Di luar dugaan Whisk yang menyangka bahwa Yudel mencuri di toko seorang Mafia. Paling parah, milik keluarga Shadow Economy. Ternyata Yudel mencuri di toko milik seorang mantan pembunuh bayaran.


"Sebagai seorang pembunuh bayaran, tentu saja dia sangat cekatan. Dia langsung mengejar dan melumpuhkan pencuri kecil ini. Tapi, dia juga lah yang mengubahku. Menjadi seperti ini? Bukan. Ini pilihanku. Dia kala itu sudah bertobat menjadi pembunuh bayaran, bahkan sangat rajin pergi ke Gereja di daerah tempat tinggal ku."


Yudel menghentikan lagi ceritanya, untuk mengingat masa lalunya yang kelam dan dianggapnya penuh kesialan. Melanjutkannya beberapa saat kemudian, "Selama bersama dengan pria berkode nama Evocation."


"Evocation?" Whisk terhenyak.


"Benar. Evocation dari Kuba. Melihat reaksi mu yang seperti itu, kamu pasti tahu tentangnya. Dia dikabarkan meninggal dunia, padahal dia masih hidup sampai beberapa saat yang lalu."


Whisk semakin penasaran dengan Yudel.


Yudel tersenyum tipis.


Flashback on ....


Yudel kecil memegangi perutnya yang bergejolak hebat. Sudah tiga hari yang lalu semenjak dia mencuri roti dari sebuah toko kelontong yang menjual roti. Dia hanya berhasil mengambil dua bungkus roti, yang artinya dia hanya makan sebungkus roti per hari. Terakhir kali dia makan adalah kemarin, di tengah hari.


Yudel kecil melirik ke sana sini. Dia tidak mungkin mencuri di toko yang sama lagi. Pemiliknya sudah menandai wajahnya. Dia pasti tidak memiliki kesempatan untuk mencuri di toko itu lagi.


Setelah berjalan ke sana-sini, masuk ke dalam gang-gang sempit, berkelahi dengan anak-anak yang membully dirinya, Yudel kecil akhirnya menemukan sebuah toko kecil. Dia melihat toko itu menjual roti. Matanya berbinar-binar.


Sebagai seorang anak dari keluarga broken home, Yudel kecil tidak pernah mendapatkan pendidikan moral dari keluarganya. Dia tidak tahu kalau mencuri itu tidak baik. Yang dia tahu hanyalah cara agar dia bisa mengisi perut kosongnya.


Yudel kecil melirik dan mengamati toko itu. Sepi pengunjung. Hanya ada beberapa orang tua yang masuk-keluar dari dalam sana. Dia makin yakin untuk mencuri dari toko itu. Apalagi setelah melihat bahwa penjaga toko adalah seorang pria berusia lanjut yang menurutnya tidak akan bisa mengejarnya.


Yudel kecil melihat pengunjung terakhir, seorang nenek tua renta yang memegang tongkat, pergi dari sana. Toko itu kembali sepi. Dia pun melancarkan aksinya setelah mengamati keadaan toko itu.


Yudel kecil mengendap-endap ke toko itu. Sial sekali dia tertangkap basah.


"Hei! Apa yang ingin kau lakukan?"


Yudel kecil yang kaget langsung menyambar dua bungkus roti dengan tangan mungilnya dan berlari keluar dari toko. Dia berharap dia tidak akan tertangkap oleh pemilik toko.


Sayang sekali, Yudel kecil tidak tahu bahwa pemilik toko adalah seorang mantan pembunuh bayaran, berkode nama Evocation. Meskipun terlihat sudah berusia lanjut, pria itu masih sehat-sehat saja. Bahkan dia bisa mengejar Yudel kecil.


Evocation menarik bahu Yudel kecil.


Yudel kecil yang ketakutan hanya bisa menangis dan meminta maaf.


"Maafkan aku. Aku tidak akan melakukannya lagi. Hiks ... hiks ... aku lapar. Tidak memiliki uang."