Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
103 : Teman Imajinasi Untuk Investigasi (Bagian 2)


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


"Jadi, kenapa kamu pindah ke sana?" tanya Haz. "Bukannya pertama kali kamu ada di sini?" Dia menunjuk ke arah tempat duduk Cyan yang membelakangi pintu tadinya.


"Karena mendengar suara seperti benda padat yang jatuh. Kamu tahu kalau manusia jatuh? Atau, janganlah manusia, katakan saja daging mentah di atas piring. Saat membuka kulkas, mengambil sebuah piring yang di atasnya ada daging, tiba-tiba saja jatuh dan menimbulkan suara 'bug!' yang cukup keras." Cyan menjawab dan menjelaskan.


Hazelia sudah kembali, batin Whisk. Dia sibuk menganalisa perubahan yang terjadi pada Haz. Dia sama sekali tidak menyimak pembicaraan Haz dengan Cyan.


"Suara itu memang ditimbulkan oleh benda padat seperti daging. Yang aku ingin tahu adalah bagaimana caranya orang itu menyeret tubuh polisi itu pergi. Padahal durasi antara Cyan Vilmasyah yang ingin memeriksa dan jatuhnya benda itu tak sampai tiga puluh detik!" Qerza terdengar frustasi.


"Whisk, aku butuh bantuan mu." Haz menepuk pundak Whisk dan menarik pria itu keluar dari ruangan.


"Oke ... hah? Apa?" Whisk tidak fokus sama sekali dengan ucapan Haz.


"Cyan, coba kamu mengintip dari jendela. Aku ingin memastikan sekali lagi," kata Haz, yang langsung disambut anggukan kepala oleh Cyan.


"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Whisk saat mereka berada di luar ruangan.


"Aku akan berpura-pura menjadi polisi yang berjaga. Kamu adalah orang misterius yang akan menyerang dan menyeret diriku saat aku berpura-pura pingsan," jawab Haz.


Haz membuka pintu ruangan dan Cyan sudah berada di posisi semulanya, duduk membelakangi pintu.


"Bisa kita mulai?" tanya Qerza.


"Sabar dong, Sayang!" Haz berseru. Dia tidak begitu suka dengan sifat tidak sabaran dari kepribadian lainnya itu.


"Ok, aku ada kelereng di sini. Jika dengar suara kelereng jatuh, coba lakukan seperti apa yang kamu lakukan tadi, Cyan."


"Baiklah. Aku akan melakukannya seperti tadi."


Haz segera menutup pintu ruangan dan mengembuskan napas. Semoga saja berhasil dalam satu kali percobaan, batinnya.


"Akan berhasil dalam satu kali percobaan jika kalian bersungguh-sungguh melakukannya," kata Qerza.


Qerza tidak menjawab. Dia selalu mengalah jika Haz sudah kesal. Dia tidak ingin empunya itu menghapusnya dari daftar.


"Satu, dua, tiga."


Haz menjatuhkan kelereng dan dirinya sendiri secara bersamaan. Whisk segera menangkapnya ala bridal style, meskipun tidak sesuai dengan apa yang wanita berambut panjang gelombang inginkan, pria itu cekatan. Dia segera membawa Haz pergi dari sana setelah menangkapnya.


"Aw~ Tuan Woods manis sekali. Dia juga tampan jika dilihat dari dekat seperti ini," goda Ziesya.


"Tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu, Zie!" seru Haz. Namun, dia tak bisa berbohong. Wajahnya merona merah.


Whisk menyadari Haz merona langsung berinisiatif menurunkan wanita itu. Dia tidak ingin Haz salah paham atas perlakuannya.


"Turun saja," kata Whisk pelan.


Untung saja lorong saat itu sepi. Jika tidak, mereka akan malu memperlihatkan kemesraan di depan umum.


Haz melompat turun dari gendongan Whisk. Dia berdeham, sebisa mungkin menghilangkan rona merah dari wajahnya.


"Maafkan aku. Akan sakit jika membiarkanmu terjatuh dan menyeret dirimu di atas lantai. Makanya aku melakukan hal itu." Whisk menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Haz mengangguk pelan dan berkata, "Tidak masalah."


Haz segera kembali ke depan kamar pasien, disusul oleh Whisk di belakangnya. Wanita itu membuka pintu dan bertanya pada Cyan, "Bagaimana?"


"Aku baru ingat satu hal. Karena kalian melakukannya dengan sempurna? Itu sebuah pujian." Cyan menatap Haz dan Whisk bergantian.


"Apa yang kamu ingat?" tanya Haz.


"Asumsi pertama ku, dia melihat jaket yang dikenakan oleh pelaku. Asumsi kedua ku, dia melihat celana yang dikenakan pelaku. Asumsi ketiga ku, dia melihat sepatu yang digunakan pelaku. Asumsi keempat ku, dia melihat rambut pelaku, jika itu seorang wanita atau siluet bayangan pria memakai topi atau tudung hoodie. Asumsi kelima ku, dia tidak menemukan apa-apa dan berkata dia salah mengingat," kata Qerza panjang lebar.


"Akan lebih baik jika dia mengingat setidaknya satu hal daripada tidak ada sama sekali."