
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Aku pun ingin masalah ini ada solusinya, Whisky Woods! Tidak ada yang suka ada di posisi seperti ini!" seru Jel tertahan. Jika saja dia tidak sadar diri dimana dia berada, dia akan meninggikan suaranya, seperti stress yang mencapai pucuk kepalanya saat itu.
"Aku juga ingin berbaikan dengan Haz! Aku juga ingin Alkaf tidak egois! Haz sudah melakukan segalanya untukku. Aku hanya melakukan beberapa hal kecil untuknya. Tapi, semua orang, Whisky Woods. Semua orang tidak pernah memberikan kesempatan kepadaku. Aku sangat marah! Aku marah sampai rasanya ingin memukul seseorang dan berteriak keras!"
Whisk mendengarkan segala keluh kesah yang dilontarkan oleh Jel. Dia cukup paham akan perasaan Jel. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya. Hal terbaik yang bisa dilakukannya adalah diam atau berbicara seperlunya. Bila perlu, hanya mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Jel sampai tuntas.
"Aku ingin menjadi berguna. Haz memanjakan diriku, itu memang benar. Tapi, aku juga bisa mengurus diriku sendiri. Aku bukan anak kecil. Haz juga membatasi dirinya saat memanjakan diriku. Itu sebabnya aku suka berada di dekatnya. Tidak ada beban yang harus kupikirkan, karena Haz menyelesaikan masalah sendiri dengan baik. Aku tidak mengerti mengapa Alkaf cemburu sampai seperti itu. Padahal ketika aku ada masalah, dan aku memerlukan seseorang untuk diandalkan, dia tidak pernah ada. Walau aku sudah bercerita kepadanya, dia tak pernah ada!"
Jel terlihat seperti orang yang memiliki gangguan pernafasan―dia memang memiliki gangguan pernafasan saat kecil, dia menderita asma―setelah celotehan panjangnya.
Whisk yakin itu belum selesai dan dia siap mendengarkan. Pria itu pendengar yang cukup baik, walau terkadang dia tak ingin ikut campur dalam masalah orang lain. Melihat Jel yang kacau, empatinya tiba-tiba saja muncul. Dia tak bisa menolak hal itu, sehingga di sanalah dia saat itu, mendengarkan celotehan panjang sahabat dari orang yang disukainya.
"Aku tidak pernah menuntut untuk ini atau itu. Aku hanya ingin sebuah kebebasan. Bukan bebas tanpa syarat. Melainkan bebas dalam artian aku bisa melakukan apa yang kusuka, bisa mendapatkan dukungan untuk melakukan apa yang kusuka. Aku serasa menjadi boneka seseorang jika aku berada di posisi ini terus-menerus. Aku benar-benar muak. Di satu sisi, aku tentu saja tidak bisa mengatakan kata 'putus' dengan mudah kepada Alkaf. Di sisi lain, Alkaf mengikatku bagai kuda di dalam kandang. Aku mencintai kebebasan, itu benar. Kebebasan yang ku maksud, kamu juga pasti akan memikirkannya ketika kamu jadi memiliki hubungan dengan Hazelia nantinya. Aku berharap kamu tidak egois dan bisa mengikuti serta membimbing Haz, bukan menuntutnya."
Whisk mengangguk. Dia paham arah pembicaraan Jel. Meskipun ada masalah, dia harus bisa menjadi orang yang lapang dada.
Haz, walau dia mungkin sedikit keterlaluan, tapi yang dilakukannya adalah untuk kebaikan. Mengingat dirinya juga sudah berusaha untuk hidup sampai saat itu. Dia sudah melewati banyak hal, melewati banyak kesusahan saat dia kecil.
"Haz ...." Wajah Jel terlihat semakin murung.
Whisk tahu sebentar lagi Jel akan menceritakan sebuah kisah dari orang yang disukai .... Bukan, dicintainya. Dia memasang telinganya baik-baik, tidak akan melewatkan apa yang akan dikatakan oleh Jel.
"Haz itu orang yang sangat kuat. Saat dia duduk di bangku SMA dulu, Alkaf pernah mengusirnya dari 'rumah'. Saat itu, aku juga tidak bisa membantunya."
Whisk tentu saja kaget dengan pernyataan dari Jel. Apa maksud wanita itu dengan Alkaf pernah mengusir Haz dari 'rumah'?
Jel yang menyadari bahwa Whisk menginginkan sebuah alasan pun memberikannya.
"Itu semua lagi-lagi karena aku. Tapi, sampai sekarang pun aku bersyukur karena Haz tak pernah menyimpan dendam kepadaku. Karena Haz tidak sengaja menumpahkan kopi panas ke tanganku, Alkaf marah besar. Aku tahu Haz itu ceroboh dan aku tak begitu mempermasalahkannya. Tapi, aku merasa Alkaf sangatlah berlebihan. Itu bukan hanya sebuah perasaan, melainkan kenyataan. Alkaf sangat berlebihan. Dia menyuruh Haz angkat kaki dari rumah hanya karena masalah sepele seperti itu. Semenjak itu, Haz berkelana. Aku tidak tahu dia tinggal dimana atau tempat seperti apa. Yang kutahu hanyalah dia masih rajin datang ke sekolah, seperti tidak terjadi apa-apa. Bahkan ketika aku mengalami kesulitan pun, dia ... dia tetap bertanya, tetap peduli, dan tetap membantu. Aku kesal karena aku tidak bisa melakukan hal besar untuknya."
Jel terisak sambil bercerita. Dia sudah menahan tangisannya sedari tadi.
Whisk merasa bahwa Jel memerlukan sebuah pelukan. Tentu saja bukan darinya, melainkan dari sosok yang dirindukan oleh Jel, yaitu: Hazelia Lify sendiri.
Jel segera menghapus air matanya. Dengan bibir gemetar, dia berkata, "Selamat makan."
Whisk hanya bisa membalas perkataan Jel dengan kata-kata yang sama, "Selamat makan, Jelkesya."
Setiap sesuap sendok makan, Jel menghapus air matanya untuk memastikan tidak ada yang jatuh ke dalam makanannya. Entah sudah berapa lembar tisu yang dihabiskan untuk sekedar menghapus air mata.
Whisk mengaktifkan layar ponselnya dan langsung membuka layar chat dengan Haz. Dia mengetik sesuatu kemudian mengirimkannya ke Haz.
Whisk: Kamu yakin tidak ingin berbicara dengan Jelkesya?
Whisk menghela napas. Beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Siapa lagi kalau bukan dari
Haz: Perasaanku buruk.
Ketika membacanya, Whisk menghela napas. Dia pun menjadi tidak sedang dalam kondisi perasaan yang baik-baik saja. Dia membalas balasan pesan Haz.
Whisk: (Reply message) Kita semua dalam perasaan yang tidak baik-baik saja, Haz. Bagaimana jika kamu masuk dan berbincang sebentar dengan Jelkesya? Dia membutuhkan dirimu.
Haz: Dia membutuhkan aku? Hah! Jangan bercanda. Sepertinya dia juga sudah bercerita tentang aku yang pernah diusir oleh Alkaf hanya karena tak sengaja menyiram kopi ke tangannya ya.
Haz: Tolong sekali. Kopi itu tidaklah panas. Kopi itu bahkan sudah dingin. Alkaf, orang yang berpikiran pendek itu, suka sekali melemparkan kesalahan yang tidak ada ke orang lain.
Haz: Tapi, aku tidak pernah menyarankan kepada Jelkesya *uppsss aku mendadak menjadi formal* untuk meninggalkannya.
Whisk: Setidaknya dia menyesal.
Haz: Suruh dia menyimpan penyesalannya jangan untukku.
Whisk: Jangan seperti itu Haz ... aku tahu kamu marah sesaat.
Haz: Ya, aku memang marah sesaat. Tapi, aku bukan orang yang tak bisa menyimpan dendam. Aku masih manusia biasa, Whisky Woods.