Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
142 : Laporan Hasil Analisis


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Lima menit yang lalu ....


"Kring! Kring!" Ponsel Whisk berbunyi nyaring dan sebuah telepon dari nomor tak dikenal masuk.


Whisk mengangkatnya.


"Kode: Salah satu istilah hukum dalam pengadilan yang paling terkenal. Di Korea pada tahun 2000-an ada sebuah kasus pembunuhan berantai dimana salah satu kru Kepolisian mengalami penculikan ketika mengunjungi rumah seorang tersangka. Untuk menyelamatkan dirinya sendiri juga korban pembunuhan selanjutnya, dia memberikan kode kepada kru Kepolisian lainnya dengan menggunakan istilah tersebut."


Otak Whisk langsung berputar, mencari berkas-berkas yang dimaksud oleh Waikit.


"In Dubio Pro Reo. Kru Kepolisian itu adalah murid dari seorang Polisi yang kini sudah pensiun. Analisis profil adalah keahliannya. Dia juga menjadi Polisi yang menghubungkan media dengan Kepolisian. Analisis profil Gurunya sungguh hebat."


「In Dubio Pro Reo : jika ada keragu-raguan mengenai sesuatu hal, haruslah diputuskan hal-hal yang menguntungkan terdakwa.」


"Bingo. Aku sudah mendapatkan hasilnya. Semoga kalian bisa mengambilnya sesegera mungkin. Jika ada hal lain yang bisa kulakukan, cepat beritahu aku sebelum masa liburanku habis."


Whisk menganggukkan kepalanya, hingga sadar bahwa Waikit tidak bisa melihatnya. Dia tengah memikirkan sesuatu.


"Baiklah. Terima kasih atas informasinya, Wraith."


Telepon ditutup oleh Waikit.


Kembali ke keadaan Haz dan Jel, serta Whisk yang baru saja masuk ke dalam mobil ....


"Kita tidak bisa pergi dari sini dan membahayakan Jel," kata Haz.


"Aku tidak apa-apa. Aku tahu Alkaf. Aku bisa menanganinya. Aku tahu Haz, kamu terluka karenanya. Sebagai pacarnya, aku minta maaf."


Jel terlihat meyakinkan saat berlagak baik-baik saja. Haz pun tahu dia sedang dilema.


"Kamu tidak perlu minta maaf. Aku pun tahu Alkaf itu emosian. Aku yang kurang bisa memahami sifat seseorang."


Sesungguhnya, jika harus disalahkan, Haz akan memilih untuk menyalahkan dirinya sendiri. Dia merasa bahwa dia kurang baik terhadap orang lain dalam segala hal.


"Tidak ... tidak. Kamu tidak salah. Aku tahu kamu, Haz. Tidak apa-apa. Aku akan ikut dengan kalian. Kita ini teman. Aku tidak akan membuang temanku sendiri!" seru Jel, meyakinkan Haz kalau dia bisa menangani segala hal buruk yang akan terjadi.


Jel sudah terbiasa menangani hal-hal pribadinya seorang diri. Dia memang bisa diandalkan. Namun Haz tahu, wanita itu kerap terluka ketika dia berusaha menopang diri sendiri dan orang lain. Haz tak ingin itu terjadi lagi pada dirinya.


"Percaya aku kali ini saja, ya?" bujuk Jel.


Haz tidak memiliki pilihan lain. Jel itu orang yang sangat keras kepala. Whisk pun memahami situasi para wanita itu.


Haz menatap ke arah Whisk. Dia tidak tahu harus memutuskan apa.


"Percayalah kepadanya," kata Whisk.


Haz pun mengangguk.


"Ingat! Jika Alkaf bermacam-macam, minta bantuan. Akan ku gulung dia pakai tisu toilet, ku guling-gulingkan dari atas gunung sampai bawah gunung." Haz masih sempat bercanda untuk mencairkan suasana.


Jel tertawa dan menyengir lebar. "Tentu, aku tidak akan menolak tawaran itu," balasnya.


"Jadi, bisa kita pergi sekarang?" tanya Whisk.


"Ayo kita pergi sekarang!" seru Haz dengan semangat.


Mobil melaju dari parkiran Cafe.


Sudah hampir pukul dua dini hari. Mereka bertiga baru saja sampai tujuan.


"Aduduh! Pinggangku encok!" Haz menjerit sambil memukul pinggangnya. Dia menatap kesal ke arah gedung tua yang bagai tempat terisolasi yang ada di hadapan mereka.


"Aku baru tahu kalau seorang Hazelia Lify bisa mengeluh hal memalukan seperti ini," kata Yudel dari seberang sana. Dia melirik ke arah Jel, yang melihat balik ke arahnya tanpa rasa takut.


Orang-orang yang berada di dekat wanita ini, unik dan aneh, batin Yudel.


Yudel belum tahu saja kalau anak Medan itu sedikit bar-bar. Jika dia tahu, dia mungkin tidak akan menganggap Jel itu aneh karena berani menatapnya tanpa rasa takut.


"Kamu tahu apa? Berkendara ke tempat ini butuh waktu lama!" protes Haz. Dia baru tahu kalau Waikit dan Yudel memilih tempat itu untuk liburan mereka. Sungguh tak menyenangkan dan tak profesional―mungkin profesional bagi orang-orang seperti mereka.


"Orang yang kalian cari ada di dalam. Dia sudah selesai dengan tugasnya," kata Yudel tanpa membalas ocehan Haz.


"Hah! Lihat orang ini ... sudah berani mengabaikanku." Haz meninju lengan Yudel dan membuat Sang Empu melotot padanya.


Haz memelototi Yudel balik, dengan galak tentu saja. Wanita berambut panjang gelombang paling tidak suka diintimidasi. Dia akan mengintimidasi balik.


"Ya, ya ... aku minta maaf, Nona," kata Yudel sambil memutar bola mata malas. Dia tahu kalau Haz hampir sama dengan wanita yang disukainya. Perasaan yang dirasakannya saat pertama kali berkenalan secara resmi dengan Haz hanyalah perasaan kagum.


Sementara Haz mengeluh panjang lebar tentang tempat yang dipilih Waikit dan Yudel sangatlah buruk, Jel memandangi sekeliling dan sesekali berhenti untuk sekedar mengamati lebih teliti atau membaca sesuatu. Wanita itu lebih tenang dibandingkan Haz yang banyak maunya.


"Waikit! Ya ampun! Apa yang kamu lakukan?!" tanya Haz setengah berteriak. Dia berkacak pinggang sambil melotot.


Waikit tertawa lepas. Dia baru tahu kalau Haz sangat memperhatikan kebersihan dan kerapian. Bisa dibilang ruangan yang ditempati pria itu sangat ... kotor dan tidak rapi. Namun semua adalah demi mendapatkan hasil yang maksimal. Juga untuk membantu Haz menemukan orang yang dicarinya.


"Ini." Waikit menyerahkan sebuah berkas kepada Haz.


"Itu bukan salinan. Itu copy-an asli." Waikit mengatakannya, seakan-akan tahu apa yang akan ditanyakan oleh Haz.


"Ini aku kembalikan untukmu. Aku tahu kau membutuhkan ini dan menyerahkan kepada Polisi sebagai barang bukti." Waikit mengembalikan botol kaca dan hoodie kepada Haz.


Haz menerima barang bukti. Sebelum itu, dia memberikan laporan kepada Whisk. Dia tidak ingin menjadi yang pertama dalam membaca laporan.


"Wanita ini?" Whisk bergumam saat melihat foto seseorang. Dia langsung cepat-cepat membalik laporan.


Pria ini mempunyai ciri-ciri yang sama dengan orang yang menusuk Zenneth. Apa mereka adalah satu komplotan? tanya Whisk dalam hati.


"Kamu ingat wanita yang satu apartemen denganmu?" tanya Whisk.


Haz menatap ke arah Whisk. Terkadang, otaknya bisa tidak bekerja.


"Yang dijemput oleh Tuan Muda Vinzeliuka."


Haz langsung menganggukkan kepala.


"Ini." Whisk menyerahkan hasil analisis kepada Haz. Dia menunjuk profil yang berisi foto Iris.


Haz langsung menatap ke arah Waikit.


"Seberapa akurat ini?" tanya Haz.


"Sembilan puluh sembilan persen pasti akurat," jawab Waikit. "Aku dibayar mahal untuk membantu. Aku tidak mungkin menyerahkan berkas palsu."


"Darimana kamu mendapatkan profil selengkap ini?" Haz bertanya lagi. Kali ini dia bertanya dengan penuh kecurigaan.