
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Zenneth berhasil dilarikan ke rumah sakit secepatnya. Nyawanya tidak dalam bahaya. Dan, Haz sangat bersyukur atas itu.
Sesaat sebelumnya, setelah ambulans sampai di perkarangan rumah sakit dan Zenneth segera dilarikan ke UGD ....
"Tenanglah, Hazelia ... aku yakin, Zenneth akan baik-baik saja." Whisk menepuk pelan dan mengelus pundak Haz untuk menenangkan wanita itu.
"Aku tidak bisa tenang, Whisk. Semua yang terjadi adalah salahku. Aku tidak memikirkan orang lain. Aku sangat egois!" Suara Haz serak, hampir terdengar seperti berbisik.
Whisk tahu Haz kecewa pada dirinya sendiri. Namun, dia tidak bisa selamanya menyalahkan dirinya sendiri.
"Haz, lihat aku!" Whisk memutar tubuh Haz sampai menghadap ke arahnya. Pria itu mengusap lembut air mata yang jatuh membasahi pipi Haz. Dia semakin yakin bahwa dia mencintai Haz, sepenuh jiwa dan raganya. Melihat Haz sedih seperti itu ... hatinya bagai tertusuk ribuan jarum berujung tajam.
"Kamu tidak bisa selalu menyalahkan dirimu sendiri, Haz. Kamu kuat, aku tahu itu. Jika kamu lemah seperti ini, kamu tidak akan pernah menemukan pelakunya."
Tangis Haz makin pecah. Sepertinya Whisk salah berkata-kata.
"Maaf, tidak seharusnya aku mengatakan hal seperti itu," kata Whisk, menyesali perkataannya.
"Aku memang lemah." Haz menggelengkan kepalanya. Dia bagai seseorang yang sangat putus asa dan kehilangan harapan.
"Kamu tidak lemah, Sayang." Whisk memeluk Haz, berharap bisa menyalurkan semangat.
"Aku tidak berguna."
"Tapi ... tap-"
Whisk meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Haz dan berkata, "Tidak ada kata tapi. Aku tahu kamu bisa. Kamu adalah Hazelia Lify. Kamu adalah anak dari Jonathan Li, seorang pengusaha hebat yang terkenal. Kamu adalah dirimu sendiri. Kamu berharga. Kamu hebat. Kamu kuat. Kamu tahu itu."
Air mata Haz berhenti mengalir.
Whisk benar. Tidak ada gunanya aku menangis. Jika aku merasa bersalah pada Tyas Reddish, merasa bersalah pada Zenneth, merasa bersalah pada semua orang, aku harus bisa memecahkan kasus ini! Aku harus bisa menemukan otak dan komplotannya! Aku pasti bisa melakukannya! Sadarlah Hazelia Lify! seru Haz di dalam hati. Dia menepuk pelan pipinya dan menatap ke arah Whisk. Sesaat kemudian, wanita berambut panjang gelombang tersenyum lembut.
Ah ... benar! Pria inilah yang selalu menyemangati diriku. Padahal aku pernah hampir mencelakainya.
"Sudah lebih tenang, Haz?" tanya Whisk sembari tersenyum hangat.
Haz mengangguk pelan dan membalas senyuman Whisk. Dia sangat bersyukur, pada akhirnya, dia menemukan orang yang berarti baginya.
Tak jauh dari sana, Nich menyaksikan semua adegan romantis ringan itu. Entah kenapa dirinya diliputi rasa cemburu. Jika ditanya kadarnya, entahlah ... mungkin sangat tinggi.
Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan UGD. Haz dan Whisk langsung menyambut dokter dengan wajah cemas. Terutama Haz, dia tidak akan bisa memaafkan dirinya jika Zenneth berada dalam keadaan kritis dan serius.
Dokter tersenyum tipis kepada Haz dan Whisk. Dia berkata, "Nona Zenneth tidak apa-apa. Untuk sementara waktu tidak sadarkan diri. Darahnya juga tak hilang banyak. Dia tidak berada di dalam kondisi yang kritis dan serius."
Mendengar perkataan dokter, Haz bisa bernapas lega.
Oh Tuhan! Terima kasih.