
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Sebenarnya, aku tidak tahu-menahu tentang kalian. Tapi, kalian lah yang benar-benar memberitahuku semua itu. Gelagat kalian," aku Haz.
Yudel tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Haz. Baginya, Haz sudah seperti 'Makhluk yang Maha Tahu'. Dia tak memiliki julukan yang lebih sederhana dari itu. Dan, dia merasa sangat ngeri dengan kemampuan analisis wanita berambut panjang gelombang yang sangat tinggi. Baginya, tak ada manusia yang bisa melakukan hal itu. Haz adalah orang pertama.
"Kamu harus banyak menonton film misteri untuk mengasah otak, Tuan Yudel," kata Haz pada akhirnya. "Soal nama asli mu, Tuan Waikit yang memberitahuku."
Yudel hampir saja terlonjak kaget jika Haz tak segera memberitahu dirinya bahwa Waikit lah yang telah menyebutkan nama asli mereka.
"Jika kamu berkata bahwa aku adalah seorang Sherlock Holmes saja, maka aku harus bilang kesimpulan yang kamu berikan itu salah."
Yudel meneguk saliva dengan kasar. Dia dilema, tidak ingin mendengar lanjutan pernyataan yang didengar oleh Haz, tapi di saat bersamaan, dia sangat penasaran dengan wanita berambut panjang gelombang.
"Jika kamu tahu serial seorang Dokter Psikologi yang suka menarget dan memakan target yang telah ditentukannya, Hannibal Lecter, tepatnya, kamu akan menyadari bahwa aku juga adalah replika dari dirinya."
Yudel hendak membuka mulutnya dan menyanggah pernyataan Haz, jika saja wanita itu tidak cepat-cepat berkata, "Tentu saja, aku masih waras dan tidak memakan manusia. Aku bukanlah seorang kanibal. Kamu bisa tenang sekarang, bukankah begitu?"
Haz tersenyum manis dan membuat bulu kuduk Yudel meremang seketika.
Haz, dia bagai mimpi buruk yang tidak ingin diterima oleh semua orang. Namun orang-orang tak bisa berbuat apa pun untuk menghentikannya. Dia sudah tahu terlalu banyak, bahkan jikalau pun dia berkata bahwa dirinya hanyalah mendengar dan menyimpulkan apa yang dikatakan oleh orang lain. Orang-orang menganggap pernyataannya tidak rasional dan tidak masuk akal. Padahal pernyataan itu sangatlah rasional, hanya saja mereka lah yang menolak untuk menerima kenyataan itu. Seperti yang dialami oleh Yudel.
"Tentu saja aku tidak bisa tenang, Nona Resplendent Nephila. Kamu sudah tahu terlalu banyak. Bahkan mungkin kamu juga tahu misi ku sekarang," kata Yudel.
Sebenarnya, itu pernyataan yang bodoh. Tentu saja Haz tahu misi Yudel. Maksudnya, karena Waikit adalah seorang Dokter dan Ahli Laboratorium Bayaran, dan James Stetson menyewanya untuk membantu wanita itu, sudah jelas Yudel di sana untuk melindungi Waikit.
Haz hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menepuk pelan jidatnya sembari berkata, "Ya ampun, Tuan Yudel ... aku tentu saja tahu misi mu. Menurutmu, jika aku tidak mengenal James Stetson, bisakah kamu ada di hadapanku sekarang? Bisakah kamu ada di hadapanku dan bercengkrama dengan seorang Hazelia Lify?"
Yudel terdiam. Benar juga. Oh astaga, Yudel ... kamu hanya mempermalukan dirimu sendiri. Kamu benar-benar harus memikirkan sesuatu sebelum mengatakannya. Pria itu merutuki dirinya sendiri di dalam hati.
"Abaikan saja. Aku sangat penasaran, mengapa ada orang seperti kamu?" tanya Haz, yang sukses membuat raut wajah Yudel berubah menjadi kebingungan.
Yudel bahkan sampai tak bisa memikirkan maksud Haz. Dia tidak menyadari bahwa maksud 'orang seperti kamu' ditujukan untum dirinya yang berorientasi pada masa lalu. Karena menurut Haz, orang akan cenderung akan melepas dan berusaha melupakan masa lalunya, terutama jika hal itu sangatlah tidak mengenakkan baginya.
"Ah ... benar-benar ...." Haz mengeluh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia mulai terlihat sedikit kesal bercengkrama dengan Yudel, tidak seperti Waikit yang bisa mencairkan suasana. "Pantas saja Amanda Yvel tidak balik suka kepadamu. Aku jadi paham akan perasaan Healer Romawi Dua yang satu itu." Dia malah membawa nama Amanda Yvel ke dalam percakapan antara dirinya dengan Yudel. Sembari menghela napas panjang, dia berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Hei! Kenapa kamu membawa nama Nona Yvel di sini?" Yudel tidak terima dengan pernyataan Haz. Dia pun menyanggah dan meninggikan suaranya.
Dugaan ku benar, Yudel bukanlah orang yang bisa diajak bercanda seperti Waikit. Dia terlalu sensitif untuk hal-hal seperti ini, batin Haz. Dia kecewa karena menyuruh Whisk mengganti tempat duduk dengannya. Padahal wanita itu dan Waikit sudah sangat seru membicarakan sesuatu.
Karena sudah seperti ini, maka aku lanjutkan saja. Akan kubuat dia sepanas mungkin, pikir Haz.
"Karena memang hal yang kurasakan dengan apa yang Healer Romawi Dua itu rasakan sama!" seru Haz sengit, tak ingin kalah dari Yudel. Padahal aslinya dia biasa saja. Batinnya memang kecewa, tapi secara naluri, dia merasa sangat biasa. Atau, lebih tepatnya, akan menikmati ekspresi dan gelagat Yudel yang semakin panas membara.
"Bagaimana bisa dua orang yang berbeda merasakan satu perasaan yang sama? Kamu sedang bercanda, Nona," kata Yudel. Dia juga sedang berusaha meredakan kekesalannya terhadap Hazelia Lify.
Harus diakui, Haz memang adalah pribadi yang sangat menyebalkan. Dia tak kalah menyebalkannya dari orang idiot, atau teman munafik yang ingin tahu masalah temannya tanpa membantunya, atau orang dengan pikiran yang sangat lambat. Dia sendiri pun mengakui hal itu. Namun itu hanya berlaku ketika dia sedang kesal dengan seseorang saja. Dia akan mengerjai orang itu habis-habisan.
Kebetulan sekali, Yudel sudah membuat seorang Hazelia Lify kesal. Maka dari itu, wanita tersebut akan membalaskan kekesalannya dengan cara membuat pria yang sedang bercengkrama dengannya itu kesal juga.
"Tentu saja bisa. Healer Romawi Dua merasa bahwa kamu sangatlah menyebalkan, begitu pun dengan diriku. Kamu memanglah menyebalkan, Tuan Yudel. Jika saja kamu tidak menyebalkan, apakah Nona Yvel bisa merasa kesal hingga menghindar darimu sampai saat ini? Jawabannya, kamu sendiri yang tahu. Kamu sangatlah menyebalkan. Tingkat menyebalkan mu sudah sampai lapisan ozon ke-tujuh."
Yudel tak bisa membalas perkataan Haz, meskipun saat itu dia sangatlah kesal dengan wanita berambut panjang gelombang.
"Sudah sadar sekarang?" Haz benar-benar melakukan apa yang ada di dalam pikirannya. Dia tidak bermain-main ketika memikirkan akan memanasi dan memojokkan Yudel. Namun dia melakukannya bukan semata-mata karena kesal, tapi juga karena Yudel harus menyadari bahwa dia kurang dalam berkomunikasi―dalam artian, Yudel hanya memikirkan tentang diri sendiri tanpa membiarkan orang lain menceritakan tentang diri mereka. Itulah sebabnya Amanda Yvel menganggapnya menyebalkan, sama juga dengan Haz saat itu.
"Kamu harus bisa mengerti orang lain."
Perkataan Haz membuat Yudel teringat dengan perkataan yang pernah dilontarkan oleh Amanda Yvel: "Kau hanya mementingkan dirimu sendiri. Coba lain kali mengerti sedikit tentang orang lain." Saat itu juga, dia langsung meringis sembari menatap ngeri ke arah Haz.
"Sudah kubilang, aku bukan cenayang! Aku hanya mencoba menarik kesimpulan dari situasi yang saat ini dialami."