
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
[NOTE : MEREKA MEMAKAI BAHASA INGGRIS KETIKA BERBINCANG!]
"Dan benar kata kakek. Kamu tidak pantas mendapatkan teknik terlarang lain selain tujuh tingkatan. Kamu terlalu temperamen, Senor. Kamu tidak pernah ingin berdamai dengan masa lalumu, bahkan setelah kamu membunuh orang-orang yang terlibat dalam tragedi itu. Tapi, tahukah kamu? Pria di sebelahmu—maksudku suamimu—Ayahnya, juga dirinya sendiri pernah terlibat dalam acara berantai keluarga Walker-mu," Haz melirik James yang tengah menodongkan pistol Wesson 44 Magnum ke arahnya. Dia bergeming.
Perawat yang baru saja keluar dari sebuah kamar pasien menjerit histeris. Alkaf dan Jel kaget karena James berani mengeluarkan senjata di dalam rumah sakit. Milla juga sama kagetnya, namun dia bukan kaget karena pistol yang dikeluarkan oleh James, melainkan perkataannya barusan.
"Kenapa? Tidak menembak? Bagimu, aku hanya seorang wanita aneh yang membuka semua rahasiamu kan? Mengapa berbohong ke istrimu sendiri?" Haz menyeringai sinis. "Kamu membuat seolah-olah kamu menyelamatkan dirinya, membuat seolah-olah kamu tidak terlibat dalam tragedi itu. Asumsi pertama Senor Milla tidaklah salah. Kamu memang terlibat di dalamnya."
Selesai mengucapkan hal tersebut, pelatuk pistol ditarik James. Peluru pun keluar dari dalam.
Anehnya, Haz seolah-olah tidak bisa ditembak menggunakan pistol. Di hadapan semua orang, dia seperti hanya sebuah proyek bayangan dengan peluru menembus dirinya—jika menonton film 'Scooby-Doo & The Haunted Island' kalian pasti tahu penjahat di sana menggunakan proyek kamera untuk membuat dirinya bisa menembus segala benda. Tapi, ini bukanlah film!
Tidak ada luka satu pun di tubuhnya. Haz menyingkirkan badannya. Semua orang dapat melihat peluru bersarang telak di kamar pasien Whisk dan Ric tempati.
Alkaf dan Jel menghela napas, lega juga bingung di saat bersamaan. Mereka tentu tahu Hazelia Lify bisa melakukan hal tersebut. Namun, memperlihatkan kepada orang-orang seperti ini, sedikit ....
Haz menguap lebar. "Aku tidak perlu membebani diriku dengan kekonyolan semacam ini. Aku kira seorang pemimpin organisasi gelap bisa memakai otaknya untuk tidak menarik perhatian orang-orang dan membuat seorang Monster memperlihatkan seolah dia bukan manusia. Oh ya, aku lupa, Monster memang bukan manusia!"
"Apa pun yang akan dijelaskan pria itu, dia tetap suamimu, Senor, itulah mengapa aku mengatakan kamu belum siap. Meski kamu bertanya bagaimana cara menjadi orang tua yang baik. Kamu tidak pernah melepas dendammu. Dia tidak ingin melakukannya karena perasaan bersalah. Ajaib sekali kalian bisa dipertemukan dalam sebuah ikatan kehidupan," Haz menggelengkan kepalanya. "Hari yang melelahkan, aku lebih baik menjaga dua orang yang tengah terbaring di atas hospital bed daripada menghabiskan waktu untuk dua orang lainnya yang bertampang seperti orang bodoh sekarang, yang satu tidak jujur dengan pasangannya, yang satu tidak pernah melepaskan dendamnya."
Sekali lagi, James menarik pelatuk dan peluru terlontar keluar.
Tapi, kali ini bukanlah bersarang di pintu kamar pasien, melainkan berada tepat di antara dua jari Haz yang mengapitnya. Wanita itu membuang peluru kosong ke atas lantai.
Ting!
Ting!
Ting!
Andrian yang baru saja datang, tercengang dengan pemandangan ngeri yang dilihatnya.
Haz diam kali ini. Dia tidak berkomentar apa pun dan langsung masuk ke dalam. Aku benci diriku sendiri, batinnya.
"Tidak perlu berpura-pura tidak mendengar, Whisky Woods. Kamu sudah sadar sedari tadi," Haz menghela napas kasar. Dia memilih untuk duduk di sebelah hospital bed milik Ric. Keadaan pria itu sungguh parah akibat racun yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Aku tidak mau pulang ke Prancis," ujar Whisk pelan. "Aku memang tidak ingat dirimu. Aku memang mengalami Lost Memory. Bukan berarti aku akan membuang orang yang sudah hadir. Aku tidak mau pulang!"
"Kamu harus pulang!" bentak Haz kasar. "Buang semua itu! Buang saja pikiran konyolmu ingin tetap berada di sini. Kamu hanya menyia-nyiakan waktu dan dunia kerjamu! Untuk apa bertahan ... untuk apa kamu bertahan dengan seseorang jika saja kamu tidak mengingatnya!? Untuk apa?" Tidak terasa ada aliran yang membasahi pipi wanita itu. Hatinya sakit bagai diiris pisau. Pikirannya kacau balau, berharap Whisk segera pulang ke Prancis agar dia tidak melihatnya lagi. Dia ... sungguh ... sungguh ... dia sungguh telah memberikan hati kepada Whisky Woods. Tapi untuk apa!? Untuk apa jika pria itu saja tidak mengingatnya!? Dia merasa dia hanyalah sebuah figuran ... tidak pantas diingat oleh Whisk.
"Aku tidak tahu kebodohan apa yang telah kulakukan untukmu. Aku tidak mau tahu. Aku memang tidak bisa mengingat namamu, kejadian apa saja yang sudah kulalui bersamamu, tapi aku tidak akan menyerah! Hanya wajahmu saja yang kuingat! Di sini!" Whisk menepuk dadanya. Rasa sesak memenuhi paru-paru setiap tarikan napas. Dia sesak mendengar perkataan Haz. Dia memang tidak ingat, dia memang tidak ingat apa saja yang telah dilaluinya bersama Haz. Tapi, entah mengapa, yang tersisa darinya, dari hatinya, hanya wajah wanita itu. Wajah Haz saat tersenyum manis, ataupun merah padam, menahan amarah dan kekesalan. Tapi, itu semua cukup! Itu semua cukup untuk menjadi alasan dia tidak ingin pulang ke Prancis, tanah kelahirannya! Dia tidak ingin meninggalkan Hazelia Lify! Dia tidak ingin membuat dirinya sendiri terluka, berlagak layaknya orang bodoh seperti Fu Cha Fu Heng dari drama The Story of Yanxi Palace! Dia tidak ingin membuat kesalahan paling bodoh seumur hidupnya karena telah meninggalkan apa yang sudah berada di depan matanya! Tidak sama sekali! Cukup!
"Pulanglah ...," pinta Haz, kali ini dengan suara yang lebih halus, bahkan terdengar berbisik lembut di telinga Whisk.
Whisk menggeleng tegas. "Aku tidak akan pulang! Aku tidak ingin! Aku tidak mau! Aku ingin bersamamu! Aku tidak akan pernah berlagak seperti orang bodoh! Menyimpan kamu di dalam hati?! Membuat diri sendiri terluka?! Menyerah maksudmu? HAH! Apakah aku bodoh? Kupikir tidak. Apakah orang bodoh akan bersih keras seperti ini? Bisa jadi. Aku bisa menjadi bodoh karena mengingat wajahmu terus! Jika aku tidak bisa melihat wajahmu, aku akan benar-benar menjadi orang bodoh!" tegasnya.
"Tidak seharusnya kamu mengenalku," kata Haz. Suaranya tercekat hingga tidak bisa naik ke tenggorokan, tidak bisa mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Sesaat, dia terlihat seperti orang bodoh. Matanya sembab karena terus-menerus menangis.
"Apa kamu bilang? Aku tidak seharusnya mengenalmu?" Whisk meradang. Dia benar-benar tidak bisa membiarkan Haz pergi begitu saja. Alih-alih melepaskan seseorang yang dilupakannya, dia lebih memilih mengenal wanita itu sekali lagi. Dia tidak ingin melakukan kesalahan sekecil apa pun.
Whisk membayangkan jika suatu hari dia mengingat semua tentangnya dan Hazelia Lify, membayangkan ekspresi wajah tololnya bergegas terbang ke Indonesia hanya untuk melihat wanita yang dicintainya telah berada di pelukan orang lain. Tentu saja dia tidak ingin hal itu terjadi, atau lebih tepatnya, dia tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Selama masih bisa diperbaiki sekarang, maka perbaikilah, begitu yang ada dalam pikirannya.