Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
39 : Berani Ganggu Aku? Lihat Orang-Orang Itu!


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Sementara itu, di kamar pasien yang ditempati oleh Whisky Woods ...


Jel membuka pintu dan masuk ke dalam kamar pasien. Semua orang menatapnya. "Hazelia Lify sedang sakit perut. Dia mungkin akan kembali dalam waktu yang lama." begitu yang dikatakan olehnya. Tentu saja semua orang hanya mengangguk paham. Salah seorang dari mereka tentu saja berpikiran bahwa itu merupakan sebuah kebenaran. Wanita itu tahu siapa, karena Haz sudah memberitahukan kepadanya siapa salah satu tikus yang menyempil ke dalam kerumunan mereka, berpura-pura polos, dan berpura-pura tidak terlibat dalam aksi si kembar Vinzeliulaika. Ternyata sudah direncanakan dan dikemas begitu sempurna oleh kak Rika dan kak Riko, batinnya dengan kesal.


Jel baru saja mengetahui bahwa si kembar Rika dan Riko bisa selicik itu. Apalagi sampai mengobarkan adiknya sendiri untuk .... Ah! Menyebalkan! Ternyata Richard Vinzeliuka juga merupakan korban dari skenario drama yang dibuat oleh kakaknya. Dengan memanfaatkan perasaan Ric kepada Haz, dan juga sifatnya yang merupakan seorang playboy, mereka berhasil membuat sebuah skenerio drama misteri yang sangat sempurna, hingga pada awalnya Hazelia Lify pun tidak bisa menyadari apa pun.


Licik sekali si kembar Vinzeliulaika! Jel tidak akan memaafkan mereka berdua. Dia memang tidak menyukai Ric, tapi, berbuat demikian kepada adik mereka sendiri ... bukankah mereka lebih pantas disebut setan daripada manusia?


"Kita akan melanjutkan ceritanya. Sebagian dari kalian tentu saja masih ingin mendengar bukan?" tanya Alkaf. Dia sebenarnya berusaha untuk menahan orang-orang di dalam sana, hingga Hazelia Lify pulang dan memberikan sebuah kabar baik.


Brrr ...


Suara gemuruh mulai terdengar jelas di telinga mereka. Sepertinya, sebentar lagi akan ada hujan lebat yang turun membasahi ibukota negara. Alkaf dan Jel mulai was-was dan menatap satu sama lain. Whisk juga entah mengapa merasakan perasaan yang buruk soal Hazelia Lify, seolah dia tahu bahwa Hazelia Lify tengah melakukan hal yang sangat berbahaya di luar sana. Hazelia Lify, cepatlah kembali! seru mereka bertiga di dalam hati.


Alkaf melanjutkan kembali cerita tentang masa kecil seorang Hazelia Lify.


Pukul 06.10 PM WIB, di dalam restoran di atas kapal mewah yang akan berlabuh di dermaga ibukota negara ...


Adi menurunkan Haz kecil sesuai janjinya ketika mereka sampai di depan restoran.


Sungguh mewah bagian dalam restoran di atas kapal tersebut, seolah seperti Haz kecil tengah berada di restoran bintang lima. Kapal ini sudah berimbang dengan kapal TITANIC sepertinya. Namun dua pertiga lebih kecil dari kapal tersebut. Bisa dimaklumi karena yang Haz kecil tumpangi adalah sebuah kapal pesiar juga. Jika kapal TITANIC mampu menampung sekitar seribu lima ratus orang dengan barang-barang angkutannya, maka kapal pesiar yang ditumpangi oleh Haz kecil bisa menampung sekitar empat ratus hingga lima ratus jiwa dengan barang-barang angkutannya.


Haz kecil melangkah masuk ke dalam restoran. Dia melihat Tuan dan Nyonya Li duduk di sebuah meja yang dipenuhi oleh orang dewasa. Jelas sekali di sana tidak ada ruang untuknya. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Di sudut ruangan, terdapat sebuah meja yang agak rendah, di sana terlihatlah anak-anak sedang berkumpul. Tapi, mereka ada kumpulan anak-anak orang kaya, terlihat dari cara berpakaian dan gaya mereka, sehingga bagi Haz kecil, itu adalah ide yang buruk untuk bergabung bersama mereka.


Haz kecil mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan lain. Di sana juga terdapat sebuah meja yang lebih rendah dengan kumpulan anak-anak, tapi, dari gaya berpakaian mereka sepertinya mereka sangatlah sederhana. Haz kecil memutuskan untuk bergabung dengan mereka saja.


"Hai!" sapa Haz kecil kepada anak-anak yang tengah duduk dan bermain.


Semua anak-anak yang tengah bermain langsung mengalihkan pandangan ke arah Haz kecil, mereka berbalik menyapa, "Hai!"


Satu anak laki-laki turun dari kursinya, lalu mendorong tubuh Haz kecil hingga dia berdiri tepat di hadapan sebuah kursi kosong. Anak itu tertawa padanya dan berkata, "Mau ikut?"


Haz kecil langsung mengangguk dan duduk di atas kursi. "Namaku Hazelia. Nama kalian siapa?" tanyanya.


"Aku Budi."


"Namaku Katherina."


"Namaku Lia."


"Aku ...."


Ternyata nama anak yang mendorongnya dan menyuruhnya duduk di atas kursi adalah Farel. Gaya pakaiannya terlihat berbeda dengan mereka, namun dia memilih untuk duduk di antara mereka.


"Kalian main apa? Aku boleh ikut?" tanya Haz kecil.


"Kami main warna-warna pelangi," jawab Farel.


Tentu saja Haz kecil tahu tentang permainan itu. Saat berada di panti asuhan, dia sering memainkannya dengan anak-anak lain. Dan dia adalah anak paling beruntung, karena dia hampir tidak pernah terkena hukuman ketika permainan tersebut sedang berlangsung.


"Me, ji, ku, hi, bi, ni, u, me, ...."


"Hukuman!"


Tapi, untungnya sebelum Budi dihukum, mereka harus menyudahi permainan mereka, karena service for children's dinner—jamuan untuk makan malam anak-anak—yang otomatis dilakukan oleh para pelayan sudah datang. Mereka menyusun piring-piring di depan setiap anak dan meletakkan nasi serta lauk-pauk untuk mereka. Makanannya terlihat seperti yang biasa dimakan oleh Haz kecil di panti asuhan.


Haz kecil mengalihkan pandangannya ke sudut lain. Service for children's dinner juga sedang menjamu anak-anak lain di meja sana. Makanan mereka berciri khas masakan ala keBarat-Baratan. Berbeda sekali dengan yang berada di atas meja mereka. Jelas sekali ini dikarenakan perbedaan kondisi ekonomi. Haz kecil hanya bisa memutar bola matanya malas.


Di zaman itu pun, kasta antara yang kaya dengan yang berkecukupan dijunjung tinggi, sehingga anak-anak pun terlibat di dalamnya.


"Selamat makan!" Semuanya terlihat baik-baik saja. Mereka bercengkrama sambil menikmati makanan yang disajikan oleh pelayan-pelayan service for children's dinner, sampai ....


Byur!


Farel disiram air oleh seorang anak perempuan yang tadi dilihat Haz kecil duduk di meja di sudut lain. "Aduh ... maaf." Anak itu mengadu, berpura-pura merasa bersalah telah menjatuhkan air ke Farel. "Kamu sih pilih duduk sama mereka."


Haz kecil langsung bangkit dan menghampiri anak perempuan tersebut tanpa berpikir panjang. Dia mendorong anak tersebut hingga terjatuh ke atas lantai. Dia tidak suka dengan perlakuan anak tersebut terhadap Farel.


Anak perempuan itu bangkit dengan penuh amarah dan balas mendorong tubuh Haz kecil hingga dia jatuh terduduk di atas lantai. "Miskin, ga usah banyak gaya!" serunya.


Haz kecil tersenyum manis, lalu bangkit. "Iya, aku anak miskin loh!" serunya membuat kericuhan di sana. Orang-orang yang mendengar ucapannya langsung berpaling melihat drama yang dibuat oleh gadis kecil itu.


"Aku anak miskin, terus kenapa? Kalau kamu ga suka, ya jangan ke sini dong!" seru Haz kecil dengan berani.


Dia kira siapa dia? Berani-beraninya mendorong seorang Hazelia hingga terjatuh ke atas tanah dan berbuat onar dengan gadis kecil tersebut.


Wes ... Wos ....


Suara bisikan orang-orang terdengar jelas di telinga Haz kecil. Tapi, dia tidak peduli dengan bisikan-bisikan tersebut. Dia menepisnya seperti menepis seekor lalat.


Dari tengah-tengah ruangan, terdengarlah suara Tuan Li yang bertanya pada seseorang, "Bukankah itu anakmu, Tuan Han? Mengapa anakmu mencari masalah dengan anak asuhku?"


Wajah Tuan Han langsung pucat pasi. Gadis bodoh! Dia sudah keterlaluan! Jika begini, Tuan Li tidak akan mau berkooperasi dengan perusahaanku! serunya dengan marah dalam hatinya. Dia segera bangkit dan berjalan ke arah anaknya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Tuan Han.


"Anak miskin ini mendorong aku!" jawab anak Tuan Han, berseru kepada Ayahnya.


"Wah! Aku anak miskin!" seru Haz kecil mengumumkan pada seisi ruangan. "Aku memang hidup di panti asuhan, terus kenapa? Anak kaya sepertimu manja sekali. Kena dorong dikit orang tua langsung datang. Princess? You won't deserve it, 'cox you're the real coward!—Ingin berlagak seperti Tuan Putri? Kamu tidak pantas, karena kamu adalah pengecut yang sebenarnya!"


Plak!


Sebuah tamparan langsung mendarat di pipi Haz kecil dari Tuan Han. Pria itu menatap marah kepada gadis kecil itu. Tapi, Haz kecil malah tersenyum.


"AKU BARU SAJA KENA PUKUL ORANG TUA YANG SAMA SAJA SEPERTI ANAKNYA. OH .,. INI HEBAT SEKALI!" seru Haz kecil dengan nada suara tinggi. "KARENA AKU TAK PUNYA ORANG TUA TERUS KALIAN BISA EJEK AKU? NO! AND I WON'T LET YOU TO SLAP ME TWICE!—TIDAK! DAN AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN KAMU UNTUK MENAMPARKU DUA KALI!"


Tuan Li datang menghampiri Haz kecil, namun dia kalah cepat dengan Adi.


"Jika kau ingin cari masalah Tuan, kau sudah mencari masalah dengan anak yang salah," kata Adi.


Wajah Tuan Han langsung pucat kembali. Dia tentu tahu siapa Adi Chandra Putra, seorang pengusaha hebat yang sudah mendunia. Dia menatap Haz kecil dengan tatapan takut. Mengapa gadis kecil ini banyak sekali back-up-nya?