Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
108 : Dua Wraith Asal Kuba


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


"Sebenarnya kita akan kemana?" tanya Haz tidak sabaran. Dia dibuat bingung oleh Whisk yang berputar-putar di jalanan ibukota negara dan berhenti di tepi jalan. Lalu, melajukan mobil kembali tanpa arah, tanpa tujuan.


"Mencari seseorang," jawab Whisk.


Jawaban dari Whisk membuat Haz hanya bisa mendengus dan menghela napas panjang.


"Kamu harus bisa bersabar, Hazelia," kata Fabel.


Memang benar, jika dilihat-lihat Haz dan Qerza sama. Sama-sama tidak sabaran. Sedangkan Fabel dan Ziesya, mereka adalah pribadi yang sangat sabar. Bahkan dalam segala situasi.


"Kamu benar, aku harus bisa bersabar. Tapi, entah sampai kapan kita harus berputar-putar seperti ini." Haz membalas perkataan Fabel.


"Whisky Woods berputar-putar dengan maksud dan tujuan. Polanya sama sekali tidak berubah. Dia memang terlihat kebingungan. Tapi, sebenarnya sedang berusaha menarik perhatian seseorang," kata Fabel.


Haz tidak menjawab pernyataan Fabel. Namun, duduknya lebih tenang dari sebelumnya.


Yang benar saja, ketika Whisk melaju dan berhenti untuk kesekian kalinya, seorang pria mendekati mobil yang mereka tumpangi dan mengetuk jendela kaca mobil supir. Whisk membuka seperempat kacanya.


"Kode sandi. Silahkan jawab pertanyaan berikut. Jika kode sembilan memiliki jawaban delapan. Kode tiga memiliki jawaban empat. Dan, kode sepuluh memiliki jawaban tujuh. Bagaimana dengan kode dua puluh satu?" tanya seseorang menggunakan bahasa Inggris dengan aksen Karibia yang kental.


"Empat belas." Bukan Whisk yang menjawab, melainkan Haz.


"Kenapa empat belas?" tanya Whisk berbisik. "Bukankah jawabannya dua belas?"


"Berpikirlah, Whisky Woods. Spasi selalu dihitung. Ketika angka dua puluh satu (21) dituliskan menjadi huruf (dua puluh satu), maka spasi dihitung dua." Haz menjelaskan.


"Benar." Pria itu mengangguk bijak. "Ternyata Nona Hazelia Lify, bukan, Nona Resplendent Nephila lebih pintar dari dugaan saya."


"Tuan terlalu memuji. Masuklah. Bukankah Tuan ingin mengatakan sesuatu?" tanya Haz.


Hebat sekali, Resplendent Nephila, batin pria itu, mengagumi kecepatan berpikir Haz. Dia pasti bisa memecahkan teka-teki yang akan kuberikan selanjutnya.


"Pertanyaan aneh apa lagi yang akan Tuan berikan kepada kami?" tanya Haz. Dia benar-benar seperti menebak pikiran pria itu.


"Panggil saya Wraith," kata pria bernama kode Wraith itu.


"Wraith? Hantu? Kemurkaan?" tanya Haz sembari tersenyum canggung. "Kode nama yang bagus. Tak heran jika Tuan Wraith memberikan teka-teki. Itu untuk menyeleksi, bukankah begitu?"


"Nona tahu terlalu banyak. Apakah sudah mendapatkan bocoran informasi tentang saya?"


"Belum. Tapi, di luasnya dunia ini, saya hanya tahu kode nama Wraith dipakai beberapa orang. Lebih tepatnya enam orang. Dua tentara bayaran: Satu asal Inggris dan satu lagi asal Kuba; Tiga dokter: Satu asal Argentina, satu asal Kuba satu angkatan dengan tentara bayaran, lalu satu lagi asal Tiongkok. Yang asal Kuba itu juga merangkap sebagai ahli laboratorium; Yang terakhir adalah seorang detektif asal Italia."


"Lalu, siapakah saya?" tanya Wraith.


"Tuan Wraith yang satu ini ...," kata Haz ragu-ragu sembari membalikkan kepala menatap lekat ke arah Wraith. Sedetik kemudian, dia menganggukkan kepala dan menjawab, "Tuan adalah Wraith Tentara Bayaran asal Kuba."


"Kabar bahwa Nona Resplendent Nephila adalah peramal ternyata benar-benar terbukti," gumam Wraith.


"Saya bukan peramal, Tuan. Saya hanyalah seseorang yang memainkan trik psikologi kepada seseorang untuk mengetahui sesuatu." Haz membenarkan posisi duduknya dan tersenyum.


"Aku tidak mengerti satu hal," kata Haz melanjutkan perkataannya setelah merasa nyaman dengan posisi duduknya. "Mengapa yang datang adalah Tuan? Bukannya yang datang seharusnya 'teman'―dokter―Anda?"


"Pintar," puji Wraith.


Haz menepis pujian itu seperti menepis lalat. Dia sudah mendengar pujian seumur hidupnya. Tentu saja dia jadi tahu, mana pujian yang benar-benar ditujukan untuknya atau tujuan yang hanya sekedar bualan.


"Sebenarnya, kami datang bersama. Tapi, dia sulit sekali ku beritahu. Sekarang dia entah berjalan-jalan entah kemana." Wraith menjawab pertanyaan Haz.


"Tidak apa, sepertinya aku bisa menemukannya."