
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Whisk is in danger? Oh ... come on Miss, don't mess up with me. He's powerful, how can he ends up in a hospital?—Whisk dalam bahaya? Oh, tolonglah Nona, jangan membuatku takut. Dia kuat, bagaimana dia bisa berakhir di rumah sakit?" Winston terdiam sejenak lagi. "Is that ambulance sirens? How can it be true? —Apakah itu suara sirene ambulan? Bagaimana bisa demikian?"
"It's definitely ambulance sirens. We're heading straight to the hospital now. And now, I ask you to stop asking about the truth, 'coz this is the truth! Why can telephone I you if Whisk isn't in danger? I'm not messing up with you now and I'll seriously kill you if something happens to Whisk because you don't give an attention!—Tentu saja benar-benar sirene ambulan! Kami tengah dalam perjalanan menuju ke rumah sakit sekarang. Dan sekarang, aku memintamu untuk berhenti bertanya tentang kebenaran, karena inilah kebenarannya! Bagaimana bisa aku meneleponmu jika Whisk tidak berada dalam bahaya? Aku tidak tengah bermain-main denganmu dan aku akan benar-benar membunuhmu jika sesuatu terjadi padanya karena kamu tidak memberikan perhatian!" seru Haz gemas.
"Sial! Denyut nadinya melemah! Pendarahan di bagian punggung dekat ginjal tidak mau berhenti!" teriak salah seorang perawat pria di dalam mobil ambulan. "Kita tidak bisa melakukan transfusi sebelum sampai di rumah sakit!" lanjutnya.
Glek! Haz menelan salivanya kasar. Sialan! Akan kucari Thomas Bara sampai ke ujung dunia jika perlu! batinnya.
"Astaga!" seru pria di seberang sana dalam Bahasa Indonesia dalam aksen Prancis yang kental. "Benar-benar Senior yang satu itu! Dia melakukan apa hingga bisa terluka parah seperti itu?"
"BERIKAN PERTOLONGAN PERTAMA UNTUKNYA!" teriak Haz. "Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan sekarang, Winston Le Fay, pastikan kamu akan membantunya atau benar-benar kupotong kepalamu!"
Klik!
Telefon langsung ditutup Haz.
Di Prancis...
Astaga ... pacar Senior Whisk sangat menyeramkan! seru Winston dalam hati.
"Menelepon siapa?" tanya seorang wanita dalam Bahasa Prancis.
Winston segera duduk manis dan rapi. "Pacar Senior Whisk, kak Milla—Whitney Carmilla Walker, cinta pertama Whisk—Whisk, dia tengah dalam kondisi kritis. Pacarnya yang tak kutahu-menahu namanya tengah menemaninya di dalam ambulan. Terdengar teriakan yang mengatakan pendarahan pasien tidak berhenti yang bisa kuasumsikan sebagai Whisk," jawab Winston.
"Apa!? Whisk? Pria yang memiliki sembilan nyawa itu terluka dan sedang kritis!?" seru Milla.
"Benar! Awalnya juga aku tidak percaya. Namun suasana di sana terlalu ricuh. Pacarnya benar-benar tidak berbohong, kak!"
Milla mengigit jarinya. Apa yang terjadi? Whisk bukan pria lemah. Kecuali jika dihadapkan dengan Thomas Bara atau penjahat kelas kakap lainnya .... Juga dia sekarang memiliki pacar!? Dasar adik tidak tahu diri! Tidak mengatakan kepada kakaknya telah memiliki pacar! rutuk wanita itu dalam hati.
Milla segera mengaktifkan ponselnya dan mencari kontak seseorang di sana. Ketika dia telah menemukannya—kontak James Stetson, suaminya yang merupakan pemimpin organisasi gelap bernama The Phantom—sesegera mungkin meneleponnya.
Tut...
Tet...
"Aku berada di perjalanan pulang, Milla. Apakah ada masalah?" Suara bass seorang pria terdengar jelas. Bukannya mengucapkan sapaan untuk istrinya, malah langsung menyerobot bertanya.
"Sesampainya kamu di rumah, kita akan langsung berangkat ke Indonesia," kata Milla.
"Whisky Woods, adikku yang satu itu tengah berada dalam keadaan kritis. Kata pacarnya, pendarahannya tidak bisa berhenti," jawab Milla. "Aku akan segera berkemas. Kamu juga cepat pulang. Jika saja kabar itu benar, maka kita harus segera menemukan penyebabnya," lanjutnya.
"Aku tak akan banyak bertanya. Sekitar lima sampai sepuluh menit lagi aku akan sampai di rumah. Aku tutup teleponnya dulu. Sampai jumpa di rumah, sayang."
Kembali lagi ke keadaan Haz...
Haz memegang lututnya cemas. Dia sekarang tengah berada di depan ruang UGD, duduk di kursi deret yang disediakan di sana. Wanita itu menangkup wajahnya seraya menghela napas panjang. Matanya sembab sehabis acara menangis panjangnya.
Haz mengigit kuku jemarinya. Kapan dokter akan segera keluar dari dalam sana dan memberitahukan keadaannya? tanya wanita itu panik dalam hatinya.
Sesaat sebelumnya...
"CEPAT PASANGKAN TABUNG OKSIGEN DARURAT! BALIKKAN TUBUHNYA DAN TEKAN PENDARAHAN! KITA HARUS BERTAHAN SAMPAI PASIEN MASUK RUMAH SAKIT!" teriak Senior yang ada di dalam ambulan.
Semua orang di dalam sana panik sekali, termasuk Haz sendiri. Dia sangat takut dengan keadaan Whisk sekarang. Meski harus diakuinya, pria itu selamat dari Thomas Bara karena memang ilmu bela dirinya yang hebat. Namun tidak memungkiri bahwa dia juga memiliki kelemahan.
Ini salahku, batin Haz. Jika saja aku dan kamu tidak pernah bertemu, dan kamu tidak pernah mengatakan bahwa kamu menyukaiku, keadaannya tidak mungkin begini. Sepertinya aku telah membuat satu per satu nyawa orang terancam .... Haz mengigit bibirnya, memikirkan satu demi satu kesalahan yang dirasa pernah dibuatnya.
Semuanya sibuk dengan pekerjaan mereka. Bahkan supir ambulan pun menancap gas melewati jalan raya yang lenggang dan dilalui sedikit mobil itu.
Haz juga bisa melihat mobil yang dikemudikan oleh Alkaf melaju di belakang sana. Terlihat dari kaca bukan reben mobil kedua insan yang tengah serius dan bahkan berdiam diri satu sama lain. Pikirannya kacau balau sekarang. Dia hanya berharap cepat sampai rumah sakit atau keajaiban yang datang—Whisk membuka matanya dan didiagnosa tidak apa-apa. Sesederhana itu.
Mobil ambulan memasuki pekarangan rumah sakit. Sesampainya di depan lobi, mobil tersebut langsung berhenti. Awak-awak yang berada di dalamnya segera berhamburan keluar bersama dengan tandu beroda khas rumah sakit dan Haz yang berusaha menenangkan dirinya.
Whisk segera dilarikan ke UGD di rumah sakit itu. Dan Haz sendiri harus menunggu laporan dokter yang bertugas untuk menyelamatkan nyawa Whisk.
Dan di sanalah Haz sekarang, duduk menunggu laporan dari pihak rumah sakit tentang keadaan Whisk. Memegang lututnya lemas dan berdiam diri, mengosongkan pikirannya, mengingat apa yang baru saja terjadi. Menurutnya, seharusnya Whisk tidak harus berakhir seperti itu.
"Haz ...?" Terdengar suara rendah Jel yang melembut. Tidak seperti biasanya dia akan begini.
Jel memeluk sahabatnya itu. Menguatkannya. "Jangan dipikirkan, itu bukan salahmu, Hazelia Lify," bisiknya.
Haz terdiam. Air matanya kembali tumpah. Wanita itu sungguh keras kepala. Jika dia sudah menyalahkan dirinya sendiri, dia bisa berlagak layaknya orang bodoh yang setiap hari menangis tersedu-sedu—seperti keadaannya sekarang.
"Haz ..., kita semua tahu ini bukan salahmu. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, ya? Jangan terlalu terlena seperti ini. Aku tahu, aku tahu berat bagimu untuk tidak memikirkannya. Kamu adalah orang satu-satunya yang bersamanya dan kamu tidak bisa mencegah terjadinya kejadian yang akan menimpanya. Aku tahu itu sangat berat bagimu. Kamu memikirkannya, kamu memikirkan jika saja kamu melarangnya melakukan hal bodoh, pastinya dia tidak akan berakhir seperti ini." Jel terdiam sejenak seraya mengelus kepala Haz yang bersandar di pundaknya, menghela nafas panjang, lalu melanjutkan perkataannya.
"Hazelia Lify, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri atas sesuatu yang tidak kamu ketahui datangnya atau tidak. Kamu bukan peramal, tidak bisa menafsirkan sesuatu semudah itu—meski aku tahu kamu memiliki analisis yang sangat tinggi. Kamu tidak akan bisa menebak masa depan, juga tidak bisa menebak kehendak-Nya. Apa pun yang terjadi sekarang, kita hanya bisa menganggapnya sebagai jalan terbaik."