Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
85 : Akhirnya Mengangkat


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


"Ctar!"


Suara gemuruh yang amat keras terdengar dari luar sana. Hujan turun, membersihkan segala kotoran di dunia.


Baik Haz, Whisk maupun orang-orang di sekitar mereka melihat bersamaan ke arah jendela kaca besar shopping mall. Sedikit mengejutkan. Di siang bolong seperti itu, langit yang bagai kanvas dicat dengan warna abu-abu dipenuhi kepulan-kepulan awan hitam kelabu. Pada akhirnya, semua orang kembali melakukan aktivitas mereka masing-masing, tidak memusingkan fenomena alam yang baru saja terjadi.


Bagi Haz dan Whisk, hujan hanya menyibak lebih banyak lagi misteri yang tadinya bersembunyi. Kasus yang sedang mereka tangani, misalnya. Semakin mereka berusaha mencari tahu siapa pelakunya, semakin terasa pula hal yang semu itu ingin menertawakan mereka.


Mustahil. Namun sejenak, Haz dan Whisk harus beristirahat dari jenuhnya kasus dengan pelaku yang sulit sekali ditemukan. Mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri dan menerka-nerka. Yang bisa mereka temukan ... tidak ada.


Terbesit di benak Haz tentang Iris yang merupakan pacar Ric.


Jika perempuan yang bernama Iris itu adalah pacar Ric, maka seharusnya dia juga bisa dijadikan tersangka atas hal yang terjadi pada Ric ... Entah bagaimana caranya, saat bertemu dengannya pun aku langsung merasa tidak nyaman. Aku akan mencari tahu. Pertama-tama ....


Saat Haz membuka layar kunci ponselnya yang baru saja diambilnya dari saku celana, sebuah panggilan telepon dari Jel lagi-lagi masuk. Saat itu berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Dia merasa sedikit lega—dengan kata lain, dia sudah siap mendengar apa yang akan dikatakan oleh Jel. Tidak selamanya dia bisa menghindari suatu hal. Ada kalanya memang harus dihadapi agar masalah bisa terselesaikan.


Buyar sudah rencana Haz untuk bertanya kepada si kembar Vinzeliulaika, barangkali mereka mengenal siapa itu Iris, atau apakah Ric, adik mereka pernah menceritakan kepada mereka tentangnya. Wanita berambut panjang gelombang harus menyelesaikan satu masalah terlebih dulu, yaitu: Masalahnya dengan Liulaika Jelkesya—sebenarnya dia tidak menganggap itu adalah sebuah masalah, tapi memang hal itulah berkembang menjadi sebuah masalah karena dia terus-menerus menghindar, membuat kesalahpahaman itu menjadi semakin rumit dan mau tak mau pun dia harus mencari solusinya.


"Ada apa?" tanya Whisk. Dia sedikit cemas ketika raut wajah Haz langsung berubah menjadi ketakutan bercampur sedikit kecurigaan dan rasa iba.


"Tidak ada apa-apa, hanya telepon dari Jel," jawab Haz. Dia menghela napas panjang dan memikirkan apa yang akan dikatakannya sebagai salam pembuka. Dia merasa canggung, sekaligus asing ....


"Apa perlu aku yang mengangkatnya untukmu? Atau jika kamu tidak ingin melihat teleponnya dulu, kamu bisa menonaktifkan android-mu. Pilihanmu hanya ada tiga: mengangkatnya; tidak mengangkatnya; atau, membiarkan orang lain yang mengangkatnya."


Apa yang dikatakan oleh Whisk adalah kebenaran yang tidak dapat dihindari. Haz harus memilih antara ketiga pilihan yang sama-sama akan menjerumuskannya dan membuatnya sakit kepala. Haz memilih untuk menggeser tombol berwarna hijau, mengangkat panggilan dari seorang Liulaika Jelkesya.


Saat mengangkatnya, tidak ada kata-kata yang dapat diucapkan dari bibirnya. Suaranya seperti terhenti dan terjepit di antara tulang-tulang lunak di pita suaranya. Alhasil dia pun menimbulkan suara yang terkesan halus—berbisik—sampai menghilang sama sekali. Entah Jel mendengarnya atau tidak, dia tidak ingin mengetahuinya. Yang jelas dia harus segera meluruskan semua kesalahpahaman yang tengah terjadi.


"Halo?"


Whisk menunjuk ke salah satu telinganya, mengisyaratkan kepada Haz untuk memberikan salah satu headset bluetooth miliknya, barangkali yang menelepon bukan Jel, melainkan Alkaf yang ingin mencari masalah dengan wanita berambut panjang gelombang, lagi.


Bahkan suara keramaian shopping mall lebih terdengar dari ucapan salam yang dilontarkan Haz. Namun beruntung sekali bahwa ternyata yang menelepon benar-benar Jel dan dia mendengarkan ucapan salam yang dikatakan Haz.


Haz tidak menjawab. Dia hanya menunggu, sampai Jel mengatakan kalimat selanjutnya. Namun tidak ada kalimat lain yang terdengar setelahnya, sehingga mau tak mau dia harus menjawabnya.


"Ya." Haz menjawab pendek, terlalu malas beralasan yang macam-macam apalagi beralasan panjang lebar.


Haz tidak mau mengingat hal apa yang terjadi kemarin. Tidak ada hal yang membuatnya tenang atau bisa menghiburnya di kala dia sedang sedih dan tidak baik-baik saja. Hanya Whisk, orang yang berusaha menghiburnya dengan berlaku manis dan tulus.


"Apakah kamu ingin memaafkan ku?" tanya Jel dari seberang sana.


"Tentu saja," jawab Haz.


"Sungguh? Kamu tidak marah?"


"Jika bertanya aku marah atau tidak, tentu saja kamu sendiri juga tahu jawabannya, Liulaika Jelkesya. Tapi, ya sudahlah, yang sudah berlalu biarkan saja berlalu. Tidak perlu merasa bersalah. Tidak perlu dibahas. Kamu sudah minta maaf."


"Tapi, a-"


"Tidak ada tapi-tapian. Aku sudah memaafkan kamu. Aku memerlukan lebih banyak waktu untuk berpikir. Aku masih sibuk di sini. Aku harap kamu bisa mengerti keadaanku ini," potong Haz dengan cepat. Dia paling malas mendengar orang yang plin-plan dan banyak menggunakan kata "tapi". Semua hal yang berawalan dari kata tersebut tidak akan pernah berakhir bagus. Malah keadaan akan bertambah buruk karenanya.


"Baiklah. Aku mengerti. Aku harap perasaanmu cepat membaik. Setelah itu, teleponlah aku lagi. Aku tidak akan mengganggumu sekarang. Apa pun yang kamu lakukan di tempatmu, lanjutkanlah. Aku akan menutup telepon."


Selesai berkata-kata, Jel benar-benar langsung menutup telepon. Dia tidak lagi menganggu Haz.


Haz yang sedari menahan napasnya, bisa bernapas lega saat itu juga. Dia kira Jel tidak akan mengerti dan langsung mengeluarkan apa yang ada di dalam pikirannya seperti yang biasanya wanita itu lakukan.


"Haz, apakah kamu benar-benar memaafkannya?" tanya Whisk ketika panggilan berakhir.


Haz menatap Whisk dengan tatapan bingung, menjawab pertanyaan itu dan bertanya balik, "Tentu saja. Kenapa kamu bertanya hal konyol seperti itu kepadaku?"


"Tidak ada alasan khusus, aku hanya ingin tahu, barangkali kamu hanya mengatakannya atas dasar agar dia tidak bertanya macam-macam," kata Whisk.


Haz dan Whisk naik dari eskalator, menuju lantai 7, tempat yang akan dikunjungi oleh Whisk. Dengan adanya Zenneth bersama dengan mereka berdua, mungkin mereka akan berada seharian penuh di shopping mall. Sampai larut malam.


"Tentu saja itu alasan lain. Alasan utamanya adalah karena aku sudah memaafkannya. Aku tidak bisa berlama-lama marah dengan orang lain, itu bisa membuatku gila. Dan ... ada sesuatu yang harus aku lakukan lagi: menelepon kak Rika dan kak Riko. Aku ingin bertanya sesuatu kepada mereka."