
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
[NOTE : MEREKA MEMAKAI BAHASA INGGRIS KETIKA BERBINCANG!]
"Abaikan Hazelia, dia sedang bernostalgia tentang masa-masa bersama Lazul. Karena memang hanya Lazul yang mengerti dirinya kala itu. Dia sangat berharap bisa bertemu dengan pria itu lagi," kata Alkaf mengalihkan pandangan semua orang, "kita bisa meneruskan ceritanya."
Pagi menjelang siang hari itu,
Pukul 11.15 AM,
Di ruang tamu panti asuhan ...
"Ka ... Ka Hasel benal-benal akan pelgi jau?—Kak ... kak Hazel benar-benar akan pergi jauh?" tanya seorang anak yang berumur sama dengan Haz kecil. Dia meraih jemari tangan gadis kecil itu, lalu melanjutkan, "Jangan pelgi ... nanti tida bisa main sama-sama—Jangan pergi ... nanti tidak bisa main sama-sama."
"Novita," panggil Bunda Shinta dengan lembut seraya memegang bahu anak tersebut, "kak Hazelia pasti akan berkunjung lagi untuk melihat kita. Benar kan, Hazelia?"
Huh! Orang dewasa pandai sekali bohongnya! Bunda Shinta tidak ingin aku kembali untuk apa bicara manis? pikir Haz kecil. Dia tidak menjawab pertanyaan Bunda Shinta, melainkan memeluk gadis kecil sebayanya yang bernama Novita itu. Dia berbisik di telinga Novita, "Aku akan kembali untuk main sama-sama. Tunggu ya!"
Novita dengan wajah polosnya, menatap dengan mata berkaca-kaca ke arah Haz kecil, "Janji?" dia mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Haz kecil, dibalas oleh gadis kecil itu dengan mengaitkan kelingkingnya.
"Janji."
Nyonya Li menarik paksa Haz kecil. Dia terang-terangan tidak menyukai gadis itu sama sekali. "Kita tidak memiliki waktu untuk bermanis-manisan! Kapal kita akan berangkat sebentar lagi!" serunya. Bahkan Tuan Li sendiri sampai menekan kepalanya menatap kelakuan istrinya terhadap anak kecil. Sepertinya mereka memiliki dendam kesumat pada Haz kecil.
"Kalau begitu, kami pamit. Sampai jumpa." Tuan Li sepertinya lebih ramah dibandingkan Nyonya Li. Dia lebih paham tata krama dan cara menghargai orang lain, meski itu seorang anak kecil.
"Sampai jumpa!" teriak Haz kecil.
"Sampai jumpa Hazelia!" balas mereka semua berteriak balik kepadanya.
Suasana perpisahan yang mengharukan, sekaligus meriah.
Tuan Li menggiring Haz kecil masuk ke dalam jok belakang mobil TOYOTA GREAT COROLLA—mobil orang kaya pada tahun 1990-an.
Dari kaca jendela mobil, Haz kecil menatap panti asuhan yang jaraknya semakin jauh dari pandangan. Hingga pucuk rumah panti pun menghilang sama sekali dari pandangannya. Digantikan jalan beraspal dan perumahan-perumahan yang semakin lama semakin asing. Dia tahu mereka akan pergi ke pelabuhan untuk menaiki kapal di sana.
Haz kecil duduk tenang dalam mobil, tidak seperti kebanyakan anak kecil yang rewel ketika disuruh berlama-lama duduk di dalam benda dengan mesin berderu tersebut. Dia membaca lanjutan novel DUNIA SOPHIE karya JOSTEIN GAARDER yang sudah terbaca seperempat, seolah dia sudah terbiasa menaiki sebuah mobil.
Perjalanan dari panti asuhan ke pelabuhan di Ibukota Provinsi Kalimantan Barat hanya memakan waktu sekitar lima belas menit. Dan selama perjalanan, Haz kecil menyibukkan dirinya membaca novel, membuat Tuan Li tertegun dengan sifat tenangnya.
Sebenarnya, Haz kecil tidak akan dibawa tinggal bersama Tuan dan Nyonya Li. Dia akan tinggal sendiri bersama seorang babysitter yang disewa Tuan Li untuknya. Dunia itu keras dan kejam. Alasan mengapa Tuan Li tidak bisa membawa Haz kecil untuk tinggal bersamanya adalah karena Nyonya Li tidak menyukainya. Jadi, Tuan Li memutuskan untuk membawanya ke kampung halaman orang tuanya di Sumatera Utara, Kota PematangSiantar.
Mobil TOYOTA GREAT COROLLA milik Li's family terjebak macet di depan pelabuhan. Banyak sekali mobil yang mengantri di depan sana, panjang, meliuk-liuk seperti ular.
Haz kecil mengembuskan napas kasar, menatap jengkel ke arah mobil-mobil di depan sana yang membunyikan klakson mobil dengan kencang. Suara-suaranya memekakkan telinga. Dia sampai tidak fokus membaca novel. Hingga pada akhirnya, dia menyerah dan menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Ribut! pikirnya. Dia kesal sekali dengan tempat seperti ini, tempat yang dipenuhi keributan, yang sebenarnya tidak diperlukan.
Haz kecil menatap jauh ke luar jendela kaca mobil, melihat kapal-kapal yang mulai berlayar meninggalkan pelabuhan, perahu-perahu nelayan yang baru saja kembali dengan hasil tangkapan yang besar mereka, dan sampan-sampan kecil milik anak-anak nelayan yang mengapung tenang di atas air. Pemandangan alamiah yang sungguh menenangkan batin, di antara keributan klakson-klakson mobil yang saling bersahutan dan bergema di udara.
Tuan Li menatap Haz kecil yang tersenyum ke arah pemandangan di atas air. Dia menempelkan sebuah botol minuman dingin ke pipi gadis kecil itu.
Haz kecil kaget karena suhu dingin yang sangat terasa di pipinya. Lalu, dia mengalihkan pandangan ke arah Tuan Li.
"Untukmu," kata Tuan Li sambil menggoyang-goyangkan sebotol minuman dingin di hadapan Haz kecil.
"Terima kasih." Haz kecil menerimanya. Setidaknya, baginya minuman dingin itu bisa mendinginkan kepalanya dari ributnya klakson-klakson, walau hanya sebentar. Dia menegak isi botol minuman dingin itu. Dikiranya berisi jus yang biasa diminumnya, nyatanya bukan. Itu adalah sebotol minuman fermentasi susu, yang dikenal sebagai yoghurt.
Harga sebotol yoghurt di pasaran kala itu sangat mahal. Hanya beberapa orang yang dapat membelinya. Haz kecil termasuk beruntung bisa menikmati fermentasi susu asli yang dijual pada kala itu—mengingat di masa mendatang nanti, fermentasi susu saja harus dicampur menggunakan bahan kimia.
Raut wajah Haz kecil langsung berubah ketika meneguk yoghurt, dahinya mengerut, menahan sensasi asam yang memenuhi indera pengecapnya. Em ... Aneh! Orang kaya selalu minum yang seperti ini? pikirnya polos.
Kembali lagi ke keadaan di kamar pasien ...
"Hm .... Buahahahaha!" tawa mereka semua meledak seketika.
"Shttttt!" Suster yang berpatroli di lorong-lorong rumah sakit, membuka pintu kamar pasien yang mereka tempati dan menyuruh mereka mengecilkan suara. Sudah pukul sembilan malam saat itu, beberapa pasien yang ingin tidur akan terganggu dengan suara tawa mereka.
"Maaf," kata Alkaf pada suster tersebut. Pintu kamar ditutup kembali.
"Ternyata dia bisa sangat polos!" seru Milla berbisik. Dia tentunya tidak ingin diperingatkan dua kali oleh suster rumah sakit.
"Lihat wajah Nona Hazelia, sudah semerah itu," kata Andrian.
"Diam!" desis Haz tidak terima dengan olokan mereka semua.
"Aw~ Manis sekali ...." Bahkan sampai Jelkesya pun ikut-ikutan.
"Cukup! Aku memang menggemaskan. Aku tidak akan menyangkalnya." Haz tersenyum manis, tapi matanya mendelik tajam.
"Tidak perlu tersinggung. Aku akan melanjutkan ceritanya." Alkaf pandai mencairkan suasana.
Sekitar hampir lima jam menunggu,
Di pelabuhan Ibukota Provinsi Kalimantan Barat ...
Haz kecil sudah menjalani berbagai tempat di pelabuhan. Dari warung-warung kecil; orang-orang yang berjualan ikan, daging, sayur-sayuran, dan buah-buahan di sepanjang tepi jalan; rumah-rumah penduduk; peternakan-peternakan kecil; toko-toko yang menjual makanan ringan; toko-toko suvenir. Hampir semuanya sudah dia lihat. Dan, dia baru menyadari bahwa dunia seluas itu—lebih luas dari hanya sekadar berkeliling-keliling di kota; bertemu dengan orang-orang yang sudah dikenalnya.
Haz kecil tidak banyak meminta dari Tuan dan Nyonya Li, karena sudah terbiasa dalam hidup serba hemat di panti asuhan. Jika menginginkan sesuatu, maka dia harus membantu Bunda Shinta, baik di rumah maupun menjual sayur hasil panen kebun kecil panti di pasar. Biasanya dia bersama Lazul yang melakukannya. Jika dia dan Lazul telat bangun, maka sebagai gantinya mereka harus membantu pekerjaan rumah—membersihkan setiap sudut rumah, memasak makanan untuk anak-anak, dan beberapa pekerjaan lainnya.
Ditanya oleh Tuan Li juga dia tidak tertarik membeli apa pun, kecuali saat melewati sebuah toko buku. Matanya berbinar-binar menatap ke arah novel JOSTEIN GAARDER yang berjudul EL DIAGNÓSTICO: Y OTROS RELATOS dan MISTERI SOLITER.
Tuan Li keluar dari mobilnya, masuk ke dalam toko buku. Dia seakan tahu apa yang diinginkan oleh Haz kecil. Dia membelikan buku MISTERI SOLITER dan THROUGH A GLASS, DARKLY karya JOSTEIN GAARDER untuk gadis kecil tersebut.
"Terima kasih." Tuan Li entah sudah berapa kali mendengar dua kata itu terucap dari bibir mungil Haz kecil.
Sedangkan Nyonya Li, dia tidak suka melihat suaminya memanjakan anak dari Jonathan Li, kakak iparnya sendiri. Setiap kali dia melihat Tuan Li memanjakan gadis kecil itu, dia pasti menggerutu, bergumam panjang dengan kalimat-kalimat yang Haz kecil sendiri tidak mau tahu apa artinya.
Tuan Li sendiri hampir tidak bisa membaca buku JOSTEIN GAARDER yang penuh filsafat-filsafat bijak, teka-teki dunia, aneh, namun nyata dan realistis. Tapi, melihat Haz kecil yang suka sekali dengan buku seperti itu, membuatnya yakin bahwa dia benar-benar putri tunggal Jonathan Li, seorang pria yang jenius dari kecil hingga dia sukses melakukan ekspor-impor luar negeri. Masa depan anak ini sangat gemilang, pikirnya.
Akhirnya sampai juga giliran mereka untuk naik ke atas kapal setelah menunggu hampir lima jam.
Haz kecil menatap kapal besar itu takjub. Dia tidak pernah melihatnya sedekat ini. Dia hanya pernah mendengarnya beberapa kali dari para orang kaya yang tengah berkelana di daerah tersebut untuk mencari berbagai sumber daya alam yang ada, mengeksploitasinya untuk memenuhi hasrat akan kekayaan mereka sendiri.
Haz kecil turun dari mobil ketika benda mati tersebut telah terparkir rapi di dalam kapal. Dia bisa melihat orang-orang asing yang melakukan berbagai jenis kegiatan di dalam kapal. Mulai dari satpam-satpam yang menggeledah seisi kapal barang kali menemukan hal yang tidak diinginkan; pasangan-pasangan muda yang sedang berpacaran dan bermesraan; keluarga-keluarga yang bermain dan tertawa riang; banyak hal lainnya lagi.
"Halo anak kecil," panggil seorang pria pada Haz kecil.
Gadis itu menoleh dan menemukan wajah sangar. Tapi, dia tidak takut sama sekali dan malah memasang tampang datar kepada pria itu. Dia bisa saja mencampakkan buku-buku di dekapannya jika saja pria itu berani bermacam-macam dengannya. Meski nantinya dia akan merasa menyesal nantinya, namun nyawa adalah yang paling utama.
"Dimana orang tuamu?" tanya pria itu. Dia sepertinya bukan ingin berlaku buruk kepada Haz kecil.
"Aku tidak punya Papa dan Mama," kata Haz kecil dengan polosnya.
"Eh?! Bagaimana bisa naik kapal?" tanya pria itu.
Haz kecil menatapnya dengan tatapan jengkel. Orang tua suka buat anak kecil kesal, ya? pikirnya. Gadis kecil itu mengabaikan pertanyaan pria yang baru dikenalnya dan bergegas mencari tempat yang tenang untuk membaca buku.
Sebelum itu, Haz kecil diberitahu Tuan Li agar tidak sembarangan berkeliaran. Katanya banyak orang jahat di sana. Tapi, menurut Haz kecil, Tuan dan Nyonya Li juga adalah orang jahat. Mereka kira dia adalah barang yang bisa diperjual-belikan seenaknya? Bahkan berani meninggalkan seorang anak kecil di tengah-tengah luasnya kapal yang mereka tumpangi. Beruntungnya, Haz kecil sempat mendengar bahwa kamar yang akan ditumpanginya berada di lantai satu dek kapal. Dia mendapatkan kamar nomor 23, sedangkan Tuan dan Nyonya Li mendapatkan kamar nomor 24.
Lama waktu perjalanan mereka ke Sumatera Utara benar-benar tidak singkat. Sebelum mereka pergi ke sana, mereka juga harus transit melalui pelabuhan di ibukota negara.
Untungnya, fasilitas di dalam kapal cukup lengkap dan mewah. Bahkan, ada tempat bersantai dan kolam berenang. Tentu saja semua itu sudah ditanggung ketika membeli tiket kapal. Harganya sama sekali tak murah. Pada tahun 1990-an, harga tiket kapal mewah dengan fasilitas lengkap di Indonesia saat itu adalah Rp. 50.000,-/orang dewasa dan Rp. 35.000,-/anak-anak. Harga yang sangat tinggi di tahun 1990-an.
Haz kecil mendatangi sebuah bar di dalam kapal itu. Semua orang menatapnya, menganga, dan berpikir, Untuk apa seorang anak kecil berada di tempat seperti ini?! Apakah orang tuanya tidak menjaganya dengan baik?
Nyatanya, Haz kecil hanya mencari ketenangan untuk melanjutkan novel karya JOSTEIN GAARDER-nya. Dia memanjat naik ke atas kursi bar. Pria yang sedari tadi mengikutinya menggelengkan kepala, pusing dengan perlakuan anak perempuan berusia empat tahun tersebut.
Bartender, ketika melihat pria itu duduk di samping Haz kecil seraya menatap ke gadis kecil itu, berbisik tanya kepadanya, "Ini anakmu?"
"Tidak!" sanggahnya, balas berbisik, "Aku tadi menemukan anak ini di tengah-tengah kapal seorang diri. Dia bilang tidak punya Ayah maupun Ibu! Aku tidak menyangka dia akan berjalan masuk ke dalam sini!"
Bartender menatap kembali ke arah Haz kecil. Dia tertegun melihat seorang anak berusia empat tahun, dengan wajah datar, tengah membaca sebuah buku bacaan berat karya seorang penulis asal Norwegia yang terkenal! Dia tahu JOSTEIN GAARDER adalah penulis yang menuliskan sebuah buku dari sudut pandang anak-anak. Namun, kata-kata di dalamnya ... ugh ... sangat sulit untuk dicerna. Tapi, dengan mudahnya gadis kecil itu membuka satu per satu, lembar demi lembar halaman buku. "Maaf," katanya, "tapi, apa anak kecil ini beru saja bergaya seperti wanita dewasa? Membaca buku seorang penulis asal Norwegia yang terkenal dengan usianya yang terlampau tidak bisa ditebak? Apakah aku tengah menjadi sebuah objek acara televisi dengan kamera tersembunyi?"
Kembali lagi ...
"Aku bisa membayangkan ekspresi wajahnya! Dia pasti sangat shock melihat anak kecil itu," kekeh Milla, "dia terlihat seperti orang bodoh yang tidak bisa membaca buku tersebut! Melihat seorang anak kecil membawa tiga jenis buku dengan nama pengarang yang sama .... Aku tidak bisa menahan tawaku, maaf. Hahahaha. Konyol sekali!"