
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Hanya perkiraan, tidak sepenuhnya benar," kata Haz.
Whisk memarkirkan mobilnya tepat di sebelah pintu masuk entah lantai berapa pun itu. Untungnya di sana ada spot kosong. Jika tidak, pria itu, Haz, dan Zenneth harus berjalan cukup jauh menuju pintu masuk ke dalam shopping mall.
"Kita cukup beruntung bisa menemukan tempat parkir yang kosong di dekat pintu masuk," ujar Whisk.
Zenneth menganggukkan kepala, mengiyakan perkataan Whisk. Sementara itu, Haz sudah keluar dari dalam mobil terlebih dulu.
Panas sekali di sini, batin Haz. Dia mengeluarkan ponselnya dan melihat suhu hari itu. Di layarnya tertera: 31°C. Pantas saja ... padahal masih masa pandemi, tapi keadaannya sama sekali tidak berubah karena orang-orang mengabaikan larangan pemerintah untuk keluar dari rumah dan bahkan dengan santainya berjalan-jalan di luar—kami mungkin termasuk salah satunya.
Haz mengeluarkan sebuah jam tangan dari sakunya dan memakaikannya di pergelangan tangannya. Jam tangan itu bukanlah jam tangan biasa. Zenneth juga memakainya dan memberikan satu kepada Whisk.
"Menarik. Dimana kamu membeli barang ini?" tanya Whisk.
"Tentu saja melalui pasar gelap. Hal seperti ini hanya dipakai oleh agen khusus, tidak akan dijual di pasar biasa," jawab Zenneth.
"Kamu melakukan tindakan ilegal," kata Whisk.
"Setidaknya, aku membeli ini tidak untuk mencelakai orang lain. Barang ini akan sangat berguna ketika kita terpisah satu sama lain," ujar Zenneth.
"Kita pasti akan terbagi menjadi dua atau tiga kelompok. Aku akan pergi ke tempat dimana biasanya para wanita berada. Sedangkan kalian mungkin akan pergi ke toko buku atau Haz berpisah dan akan mengelilingi setiap sudut tempat ini."
Penjelasan Zenneth sangat masuk akal. Haz pasti akan mengelilingi setiap sudut shopping mall untuk mencari-cari tahu sesuatu atau hanya sekedar melepas bosan.
"Dengan benda ini, aku bisa mencari kalian dengan mudah. Ini sudah kusetel dan tersambung hanya ke ponselku dan Haz."
"Aku mengerti," kata Whisk sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda dia sangat mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Zenneth.
"Baiklah, aku akan berpisah dari sini. Semoga hari kalian menyenangkan." Haz melambaikan tangannya dan menghilang di antara kerumunan orang-orang setelah masuk ke dalam shopping mall.
Hazelia Lify ... perempuan aneh, pikir Whisk.
"Aku pun akan masuk ke dalam sana, semoga harimu menyenangkan, Tuan Woods."
Zenneth melambaikan tangannya, meninggalkan Whisk seorang diri. Dia juga ikut-ikutan menghilang dari pandangan pria bersurai kemerahan di antara kerumunan orang-orang.
Akhirnya, Whisk pun masuk ke dalam shopping mall juga.
Di tempat Hazelia Lify ....
Haz mencari eskalator untuk naik ke lantai selanjutnya. Dia tahu sekarang dia berada di lantai tiga. Tempat parkir lantai A merupakan lantai B2, lantai paling dasar. Dia dan dua orang temannya memarkirkan mobil di lantai E, yang berarti satu bagian dengan lantai 3. Shopping mall sendiri terdiri atas sepuluh lantai, yang sudah termasuk B1 dan B2.
Haz memiliki rencana untuk mengitari setiap sudut shopping mall, kecuali bioskop yang ada di lantai akhir—lantai 8—dan masuk ke dalam J.co atau tempat lainnya.
Banyak juga orang-orang yang datang ke sini, batin Haz ketika melihat segerombolan orang yang terbagi-bagi menjadi kelompok-kelompok kecil.
Haz pun mengabaikan orang-orang dan mulai menjalankan aksinya.
Entah kenapa Haz memiliki perasaan yang bagus juga buruk ketika masuk ke dalam shopping mall.
Haz selesai mengitari lantai 3 dan beralih ke eskalator yang akan membawanya ke lantai selanjutnya.
Haz memasang headset bluetooth di telinganya dan mengeluarkan ponselnya. Dia memutar lagu yang dinyanyikan oleh Frank Sinatra, Killing Me Softly.
Haz buru-buru memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya dan mendaratkan kakinya di lantai 4. Dia tidak begitu tertarik dengan lantai yang satu itu karena dipenuhi oleh toko-toko baju dan butik-butik. Dia juga bisa melihat Zenneth menaiki eskalator.
Zenneth menatap Haz seolah berkata, "Ada apa? Apa yang membuatmu berhenti?"
Dan, seolah bisa membalas pertanyaan tersebut melalui hati, Haz pun menatapnya balik dengan datar yang seolah menjawab, "Tidak apa-apa. Abaikan aku."
Sedetik kemudian, Haz melambaikan tangan. Dia dan Zenneth seolah seperti soulmate, bisa berbicara dari hati ke hati.
Perasaan Haz semakin kuat ketika dia menginjakkan kakinya di eskalator yang akan membawanya ke lantai 5.
Ada apa denganku? Kenapa aku merasa aneh seperti ini? Ah ... benar-benar. Apa aku abaikan saja perasaan tidak nyaman ini? tanya Haz di dalam hati sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Lagu beralih. Yang terputar sekarang adalah lagu yang berjudul Gravity, milik John Mayer.
Sambil memperhatikan sana-sini, Haz menyenandungkan lagu itu di dalam kepalanya.
Gravity is working against me—Gravitasi bekerja melawanku
And gravity wants to bring me down—Dan gravitasi ingin menjatuhkan diriku
Oh, I'll never known what makes this man—Oh, aku tidak akan pernah mengetahui apa yang membuat pria ini
With all the love that his heart can stand—Dengan segala cinta yang bisa bertahan hatinya
Dream of ways to throw it all away—Bermimpi tentang cara membuang semuanya
Di lantai 5, Haz bisa melihat kafe-kafe dan beberapa restoran siap saji berjejer. Dari sudut kiri hingga sudut kanan.
Dari pada tempat ini, aku lebih memilih Starbucks atau J.co di B1, pikir Haz.
Whoa, gravity is working against me—Whoa, gravitasi bekerja melawanku
And gravity wants to bring me down—Dan gravity ingin menjatuhkan diriku
Oh, twice as much ain't twice as good—Oh, dua kali lebih banyak tidak dua kali lebih baik
And can't sustain like one half could—Dan tidak bisa bertahan seperti setengahnya
It's wanting more that's gonna send me to my knees—Itu menginginkan lebih yang akan membuatku berlutut
Saat sedang berjalan santai, tubuh Haz dengan seorang wanita tidak sengaja bertubrukan. Entah dia yang salah atau wanita itu yang salah, dia tidak ingin tahu.
Keseimbangan wanita itu oleng dan dia pun terjatuhnya. Untung saja dia tidak membawa benda-benda seperti ponsel ataupun minuman.
"Maafkan aku, apakah kamu baik-baik saja Nona?"