
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Sudah jam delapan lewat tiga puluh menit," kata Whisk kepada Haz yang sedang melamun sambil melihat ke arah jam yang melingkari pergelangan tangannya. Dia kemudian mengalihkan pandangannya kepada wanita berambut panjang gelombang.
Belum ada reaksi dari Haz, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Whisk pun dengan sabar menunggu Haz berbicara. Barangkali Haz akan membatalkan rencana untuk pergi ke sewer dan ingin menetap lebih lama sampai Zenneth memberi kabar untuk mereka berdua.
Haz mengedip-ngedipkan matanya, kembali ke akal sehatnya setelah melamun selama beberapa saat. Dia menatap Whisk yang juga sedang menatap ke arahnya. Menunggu.
"Maafkan aku. Ayo kita pergi sekarang," kata Haz. Dia langsung bangkit dari duduknya dan menuju ke meja kasir.
Whisk mengulurkan sebuah kartu kredit sebelum Haz sempat mengeluarkan dompetnya.
"Terima kasih. Semoga Anda datang kembali."
"Terima kasih." Haz membalas perkataan orang yang berjaga di meja kasir.
"Sampai jumpa, Ratih. Semangat." Haz memberikan semangat kepada Ratih.
Ratih melambaikan tangannya dan berkata, "Sampai jumpa lagi, Nona Hazel. Semoga harimu menyenangkan."
"Kamu juga."
***
Meskipun sedang berada di tengah-tengah pandemi, mobil-mobil yang berlalu-lalang di jalan raya juga cukup banyak sehingga menimbulkan kemacetan lalu lintas.
Beruntung sekali Haz sudah tahu seluk-beluk ibukota negara, sehingga tidak sulit baginya untuk mengarahkan Whisk untuk melalui beberapa jalan pintas yang akan membawa mereka menuju sewer.
Haz dan Whisk sampai di sewer pukul delapan lewat lima puluh menit. Sepuluh menit sebelum Zenneth memberikan informasi.
Whisk memarkirkan mobilnya cukup jauh dari sewer. Bahaya jika sinyal yang diterima oleh Zenneth adalah sinyal bom.
"Apakah kamu yakin tidak ingin menunggu Zenneth memberikan informasi saja?" tanya Whisk. Dia ingin memastikan seberapa besar keyakinan Haz untuk tidak menunggu kabar dari Zenneth.
"Ya, aku yakin sekali. Jika kamu tidak ingin ikut, kamu bisa berjaga di luar saja," jawab Haz.
"Tidak, aku akan ikut bersamamu ke dalam sana. Kamu itu ceroboh, Hazelia. Zenneth benar. Aku khawatir," kata Whisk. Dia memakai sarung tangan karet, seperti yang dilakukan oleh Haz.
"Apakah aku terlihat ceroboh?" tanya Haz.
"Sangat terlihat." Whisk berkata jujur, kecerobohan Haz sangat terlihat. "Sudahlah. Aku tidak ingin berdebat denganmu. Aku tahu aku tidak akan pernah menang."
"Menyebalkan ...." Haz bergumam pelan. Dia membongkar isi tas ransel mini yang disediakan Zenneth untuknya.
"Sudah kukatakan dengan sangat jelas, Hazelia. Kamu itu sangat ceroboh ... coba lihat apa yang telah kamu keluarkan di hadapan seorang pria sepertiku." Whisk langsung berpaling ke arah lain ketika melihat sesuatu yang disebut sebagai 'benda yang tidak diindahkan untuk diperlihatkan kepada para lelaki' tidak sengaja ikut terbongkar keluar oleh Haz.
"Oh astaga!" seru Haz. Dia langsung memasukkan kembali benda itu ke dalam ransel. Dia menatap Whisk tajam, wajahnya merona. Malu.
"Sudah sadar bahwa kamu sudah mengakui bahwa kamu itu sangat ceroboh?" tanya Whisk. Dia terkekeh pelan ketika menemukan Haz sedang menatap tajam ke arahnya.
"M e n y e b a l k a n." Haz memenggal satu per satu huruf dan diucapkannya dengan penuh penekanan. Dia pun sadar bahwa dirinya sangat ceroboh. Namun yang tidak sengaja keluar dari tas ransel mini itu bukanlah salahnya. Dia kan tidak tahu bahwa ada benda seperti itu di dalam sana.
Zenneth ... kenapa kamu masukkan hal seperti itu ke dalam tas? tanya Haz dalam hati, frustasi. Kamu tahu tidak, kamu hampir membunuhku karena perasaan malu yang sangat berlebihan?
Suasana lembab dan bau busuk yang menyengat memenuhi indera penciuman Haz dan Whisk. Padahal mereka sudah memakai masker untuk mengurangi bau tersebut.
"Busuk sekali," keluh Whisk. Dia mengira sewer di sana akan sebersih sewer di luar negeri.
"Diam dan fokus!" bentak Haz. "Jika kamu tidak ingin masuk, masih ada waktu untuk keluar sebelum mencapai bagian dalam."
Whisk terdiam mendengar perkataan Haz. Kenapa ada wanita segalak ini? pikirnya. Baiklah, ini bukan saat berpikir yang tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah memastikan Hazelia tidak berbuat ceroboh dan memicu hal yang tidak diinginkan.
"Pzt!"
Sebuah suara terdengar dari walkie talkie yang dibawa oleh Haz.
"Pzt! Hazelia, masuk?"
Ternyata Zenneth.
Haz dan Zenneth memang lebih suka berkomunikasi menggunakan walkie talkie jika sedang menjalankan sebuah misi.
"Masuk. Ganti." Haz menjawab.
"Aku belum bisa mendapatkan sinyal apa itu. Jika perkiraan ku benar, seharusnya itu bukanlah sinyal komputer atau perangkat elektronik lainnya. Aku berharap kamu lebih berhati-hati dalam setiap langkahmu, Hazelia. Ganti," kata Zenneth, menjelaskan.
"Ya, tentu. Berapa lama lagi waktu yang kamu perlukan untuk mendapatkan hasilnya? Ganti," tanya Haz.
"Sekitar lima belas sampai dua puluh menit. Kode-kode nya sangat sulit untuk dipecahkan. Aku tahu kamu sudah ada di sana. Jangan ceroboh ya! Aku akan mengabari secepatnya. Ganti," jawab Zenneth.
"Tentu saja. Kamu amat bawel. Aku tidak akan bertindak ceroboh dan lebih berhati-hati. Ganti," kata Haz dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. Wanita itu senang diperhatikan oleh Zenneth.
Tidak ada balasan lagi dari Zenneth. Haz pun memutuskan untuk melanjutkan dan menyusul Whisk yang sudah berada di depan sana—pria bersurai kemerahan sedang berusaha memahami pola sewer di ibukota negara yang sangat rumit dan berantakan.
Haz menepuk pundak Whisk dan menatap pria itu.
"Bagaimana? Apa kabar dari Zenneth?" tanya Whisk. Tatapan matanya masih tidak lepas dari pola sewer dan hal itu membuat Haz merasa sedikit jengkel.
"Dia belum dapat memastikan sinyal dari benda macam apa. Aku yakin sekarang dia pasti sudah berpindah ke gedung kasino di dekat tempat ini. Tapi, Zenneth bisa memastikan bahwa sinyal itu bukan sinyal perangkat elektronik," jawab Haz.
"Hanya ada satu jawaban. Sinyal itu adalah sinyal bom." Whisk dengan cepat menarik kesimpulan. Dia sudah lama berkutat di dunia seperti itu, sehingga jika bukan sinyal dari perangkat elektronik hanya ada satu jawaban, yaitu: sinyal bom.
"Bagaimana dengan sinyal senjata?" tanya Haz.
"Kemungkinan itu sangat kecil. Meskipun senjata juga memiliki sinyal, tapi itu sangat jarang ditemui. Hanya ada beberapa kasus seperti itu di dunia yang masih bisa dihitung dengan jari. Kemungkinan terbesar adalah yang ada di tempat busuk ini adalah sinyal bom. Tidak ada yang lain," jawab Whisk menjelaskan.
"Radio dan satelit juga bukan termasuk perangkat elektronik. Bisa jadi itu adalah sinyal radio atau satelit dengan frekuensi yang sangat rendah," kata Haz menebak.
Whisk menyentil kening Haz dan menggelengkan kepalanya, lalu berkata, "Terkadang kamu sangat pandai, Hazelia. Untuk beberapa kasus kamu sangat ceroboh dan—maaf aku harus mengatakan ini—kamu bodoh."
Wajah Haz langsung masam ketika Whisk mengatakan hal tersebut. Tapi, memang dia tidak bisa memungkiri bahwa terkadang dia memang bodoh dan ceroboh.
"Aku tidak akan menghindar dari pernyataan mu itu."