Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
49 : Let The Hunt Begin!


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


"ARGH! HATI-HATI DENGAN TUBUHKU, SIALAN!" jerit Tyas Reddish dengan penuh penekanan. Dia sangat kesakitan saat itu. Tidak bisa dibayangkan olehnya betapa kejamnya Haz hingga bisa ... meretakkan tulang punggungnya seperti itu.


Saat itu Tyas Reddish langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Memar tercetak jelas di punggungnya. Tak bisa dikatakan bagaimana sakit yang dialaminya sekarang.


"Bertahanlah kamu, bajingann!" seru Whisk sambil berusaha menahan Tyas yang meronta-ronta tak ingin diobati karena sakit yang teramat.


"Salahmu sendiri menggoda iblis. Seharusnya kamu tak menggoda wanita itu!" Whisk menahan Tyas agar posisinya tetao terlungkup di atas hospital bed sementara dokter dan suster hanya bisa diam mendengarkan sambil membalut luka di tubuhnya.


"MANA KUTAHU DIA ITU IBLIS!"


"Hei! Hei! Salahmu sendiri berlagak seperti itu. Kamu kira aku ingin melempar orang seperti itu? Tadi itu sangat darurat tahu?" Haz tidak ingin mengakui kesalahannya karena memang Tyas lah yang memulai semuanya dulu.


"AKU MENGAKU SALAH. TOLONG BERHENTI. SAKIT SEKALI! SIALAN!"


Sesaat sebelumnya ....


Whisky Woods bersumpah bisa mendengar tulang yang patah dari Tyas Reddish yang dibanting ke lantai oleh Hazelia Lify.


"ARGH!" Tyas berteriak sangat kencang.


Nicholas Qet Farnaz dan Liulaika Jelkesya yang mendengar teriakan Tyas segera datang untuk melihat apa yang telah terjadi.


"Apa-apaan kalian?" tanya Nich. Dia menatap tajam ke arah Haz dan Whisk yang tidak mengatakan apa-apa. Dan juga beralih kepada Tyas yang berada di atas punggung Whisk.


"Aku akan menjelaskannya nanti," jawab Haz ketika mendengar suara ambulan dari kejauhan. "Sekarang, kita hanya perlu membawa orang ini ke rumah sakit."


Mobil ambulan berhenti tepat di parkiran apartemen. Dua awaknya dengan wajah datar segera turun membawa tandu. Satu lagi menurunkan hospital bed. Mereka tampaknya sudah terlatih melakukan hal itu.


Ketiga orang tersebut melihat ke arah Haz yang melambaikan tangannya. Lalu, beralih ke Tyas yang masih berada di atas punggung Whisk. Mereka segera tahu harus melakukan apa.


"Terlungkupkan dia!" perintah Haz saat Whisk dan ketiga awak rumah sakit ingin menelentangkan Tyas di atas hospital bed.


"ARGH! PELAN-PELAN SIAL!" Tyas berseru keras ketika salah satu awak menyentuh punggungnya yang masih berharga.


"Astaga Hazelia Lify, apa yang sudah kamu lakukan terhadap orang tersebut?" tanya Jel ketika Haz masuk ke dalam kursi penumpang mobil. Sedangkan Whisk mengendarai mobil sendiri.


"Aku membantingnya ke atas jalan beraspal," jawab Haz jujur. Dia menatap Jel yang memasang tampang shock di wajahnya.


"Bukan salahku," lanjut Haz. Dia menempatkan dirinya di posisi senyaman mungkin setelah mengenakan sabuk pengaman. "Dia yang duluan memulainya. Maksudku ... dia menodongkan pistolnya ke arahku. Aku tak punya strategi lain selain yang satu itu. Aku tidak tahu dia hanya menggodaku. Jadi, aku tak bisa dikatakan bersalah, kan?"


"Aku bukan bermaksud ingin menodongmu memakai pistol, Nona! Kamu lihat itu pistol apa!" seru Tyas sambil mengadu kesakitan.


Whisk mengambil pistol yang ditodongkan Tyas kepada Haz tadinya. Dan dia menemukan bahwa pistol itu adalah sebuah pistol mainan yang dibuat semirip mungkin dengan aslinya. "Dia benar," katanya. "Ini adalah sebuah pistol mainan yang dibuat semirip mungkin dengan aslinya."


"Astaga!" Haz menepuk pelan jidatnya sendiri. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja menimpanya—bahwa Tyas menggodanya dengan menggunakan pistol mainan dan dia, tanpa memikirkan semua kemungkinan, malah membanting Tyas ke jalan beraspal yang keras. "Makanya jangan menggodaku! Aku adalah wanita sentimental dan temperamental. Mana kutahu itu pistol mainan. Aku akan segera menelepon ambulan."


Ya, begitulah kejadian naas yang menimpa Tyas Reddish. Hanya karena menggoda Hazelia Lify, dia dibanting hingga mendapatkan memar dan rasa sakit luar biasa di punggungnya.


"Sudah selesai. Jangan banyak bergerak," kata dokter. Dokter mengikat perban sekuat tenaga hingga Tyas menjerit.


"Tolong!" lolong Tyas yang hampir mengeluarkan air mata.


"Nah. Jagalah dia agar tidak sembarang bergerak." Dokter dan susternya pun berlalu melewati Haz, keluar dari jamar kamar pasien yang satu itu.


"Astaga kurasa ini adalah hari sialku," kata Tyas dengan nada memelas. Dia benar-benar tidak berdaya saat itu.


"Aku tak ingin tahu ini hari sialmu atau bukan, Tyas Reddish," kata Whisk sambil menatap tajam ke arah Tyas seolah-olah dia pria yang berbahaya, "aku hanya ingin tahu mengapa kamu ada di sana—maksud Whisky Woods adalah rumah Hazelia Lify."


"Tepat setelah kejadian menimpa Tuan Muda Vinzeliuka yang malang itu," kata Tyas dengan nada sedikit tersendat dan dramatis, "aku akhirnya menemukan bahwa Hazelia Lify, orang yang ingin diculik olehnya ternyata diserang oleh Thomas Bara. Setelah itu, aku mencoba datang ke rumah Nona Iblis ini. Aku menemukan beberapa hal janggal di sana. Bungkus permen menthol itu adalah milikku, jangan salah paham dul—"


Tyas menghentikan penjelasannya lantaran disela oleh Haz. "Maksudnya kamu yang sengaja membiarkan bungkus permen menthol itu?" tanyanya.


"Ya semacam itu," jawab Tyas.


"Baiklah aku sudah mengerti. Berarti kamu adalah orang pertama yang masuk ke dalam apartemenku setelah kejadian itu. Dan, Thomas Bara beserta backup-nya masuk beberapa jam setelahnya. Aku sudah mengerti," kata Haz.


"Aku tak bisa berlama-lama di tempat ini," lanjut Haz. Dia menatap ke arah Whisk dan Tyas. "Dengan kondisinya yang seperti ini, Tyas tidak akan bermacam-macam. Dan, Whisk, aku butuh bantuanmu untuk kembali lagi ke apartemenku. Ada satu hal yang kamu lewatkan di sana. Kamar mandi. Di sana ada satu petunjuk lagi. Lagipula kamu belum ada pekerjaan selama kamu di sini. Selain itu, entah aku benar ataupun salah, ada kamera pengawas tersembunyi di ruang apartemenku. Backup yang ku maksud, dia memiliki skill komputer yang hebat. Satu babon besar, satu pengintai, satu badut, dan dua rubah sedang menjalankan aksinya dengan mulus."


"Kecuali," ucap Whisk, "kecuali jika pengintai dan badut adalah orang yang sama, maka kita sudah boleh harus berhati-hati terhadap dia."


"Sebelum itu," kata Tyas terbata, "di dalam saluran sewer —aku yakin Nona Iblis pasti tahu maksudku—aku menempatkan sebuah kamera pengawas tersembunyi juga. Aku tak tahu apakah mereka menemukannya atau tidak karena sudah dua harian ini aku membiarkannya dan berjalan-jalan santai di ibukota negara."


"Aku paham," ujar Haz sambil melirik ke arah Whisk. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan terkekeh pelan. "Apakah kamu keberatan?"


"Tidak sama sekali," jawab Whisk. Dia tersenyum lembut pada Haz. "Akan kulakukan, Nyonya Woods."


"Hei! Hei!" seru Haz tidak terima dirinya dipanggil Nyonya Woods.


"Aku hanya bercanda. Ayo kita mulai perburuan yang sebenarnya!"