
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Jadi, apakah kamu sudah memiliki titik terang tentang siapa yang menjadi pelaku atas proyeksi visual yang kamu lihat dengan mata kepalamu sendiri belum?" tanya Cyan. Dia penasaran sekali. Sedari tadi dia terus memikirkan hal itu hingga pikirannya menjadi buntu.
"Belum." Haz menjawab singkat, jelas, dan padat. Karena terlalu terlarut dalam kesedihan dan menyalahkan dirinya sendiri, dia jadi mengesampingkan semua hal yang seharusnya telah dipikirkan dan ditemukan jawabannya olehnya. Dia jadi merasa bersalah terhadap dirinya sendiri. "Tapi, sesuai dengan pembicaraan kita beberapa jam yang lalu, aku mencurigai beberapa orang yang telah kita sebutkan."
"Entah kenapa lebih meyakinkan bahwa yang melakukan proyeksi visual itu adalah pihak ketiga. Kamu coba lihat dengan baik tinggi orang yang ada di kegelapan itu. Meskipun dia berada di tempat gelap dan cukup jauh, aku yakin sekali dia adalah seorang laki-laki." Whisk menjelaskan secara detail. Penjelasannya sedikit membantu otak Haz untuk bekerja. "Ingat bahwa saat itu baru saja hujan? Pasti ada jejak kaki yang tercetak di semak-semak itu."
"Itu dia!" seru Haz. Dia menatap Whisk dan tersenyum riang. Suasana hatinya cepat sekali berubah. "Terima kasih, Whisky Woods. Kamu membuatku memiliki pekerjaan baru!"
"Kita akan coba ke tempat itu lagi. Karena pihak ketiga ini juga tahu sewer yang dimaksud oleh Tyas Reddish, kita harus menanyakan kepada orangnya sendiri. Habiskan dulu makananmu Haz!" bentak Whisk saat melihat Haz buru-buru sekali ingin pergi dari sana. "Jangan bermacam-macam!"
Haz menatap Whisk dengan tatapan memelas. Dia pun dengan patuh mengikuti perintah Whisk. "Ya, ya, ya. Aku akan mematuhi perintah mu, Tuan Woods. Aku akan menghabiskan makananku dulu, kita akan bersama-sama pergi ke sana. Jangan lagi kamu memarahiku. Aku tidak ingin mendengar ocehan apa pun. Sudah cukup." Dia menutup telinganya, tanda dia sama sekali tidak ingin mendengarkan apa pun.
"Baiklah. Aku tidak akan menasehati atau memarahi dirimu lagi. Tapi, jangan bandel ataupun berbuat sesuatu yang bodoh dan dapat menyakiti dirimu sendiri. Kamu sangat sulit ketika berhubungan dengan kedua hal itu; hal bodoh dan hal yang dapat menyakiti dirimu sendiri. Kamu harus ingat itu atau tidak aku akan membuat telingamu panas," kata Whisk. Dia terdengar sedang tidak bercanda dengan perkataannya.
"Ya, aku tahu. Kamu tidak perlu mengatakannya kepadaku berkali-kali. Aku bosan. Ak-"
"Kamu apa? Jangan berasalan, Haz ... kamu tidak begitu pandai dalam melakukannya. Kamu itu orang yang jujur," potong Zenneth. Dia mendukung Whisk.
Dengan baik, Haz menjadi pendiam dan memakan mi instan yang dibuatkan Whisk untuknya dengan patuh, seperti anak kucing yang sedang ngambek terhadap majikannya.
Whisk mengacak-acak rambut Haz dan tersenyum pada wanita itu. "Tidak ada salahnya menjadi penurut selama hal itu baik untukmu, Haz. Aku tahu kamu adalah orang baik yang kesepian dan membutuhkan perhatian lebih. Juga, jika kamu marah, kamu boleh melampiaskannya kepadaku. Aku siap menjadi tempat pelampiasan marah mu. Tapi, jangan terlalu kasar. Aku tidak yakin akan sanggup."
"Tidak hanya Whisky Woods, aku pun berharap kamu bisa membagi ceritamu denganku. Kita sudah kenal berapa lama? Kamu selalu saja menghindar ketika ada masalah dan selalu saja memendam semuanya sendiri. Aku harap kamu bisa terbuka dan menceritakan tentangmu," kata Zenneth. Dia memberikan tatapan hangat kepada Haz. Dia juga sangat peduli dengan wanita itu.
"Aku juga. Harapanku adalah semoga kamu, penyelamatku, bahagia selalu," ujar Cyan. Dia masih saja mengingat bagaimana saat dia diselamatkan oleh Haz. Dia berhutang nyawa pada wanita berambut panjang gelombang.
"Terima kasih, kalian." Haz menundukkan kepalanya, tidak menyangka akan ada banyak orang yang menyayanginya. Dia sudah terlalu lama terjerat di dalam kesepian dan kesendirian. Mungkin, sekarang adalah saat yang tepat untuk beralih dari kesepian dan kesendirian yang diciptakan oleh dirinya sendiri.
"Aku akan ikut bersama kalian. Aku sudah lama tidak berjalan-jalan dan mencari udara segar. Aku hidup seperti manusia goa akhir-akhir ini," kata Zenneth.
"Aku juga. Pekerjaan akhir-akhir ini sangat senggang. Sebagai pemilik tempat ini, waktu yang terbuang juga banyak. Aku akan ikut dengan kalian. Hitung-hitung aku ingin mencari pengalaman sebagai seorang detektif." Cyan juga memutuskan untuk ikut dengan mereka. Alasan utamanya adalah karena pekerjaan yang membosankan. Alasan sampingannya adalah karena Zenneth, orang yang disukainya, ingin ikut.
"Ya sudah, kita akan pergi ke rumah sakit terlebih dulu. Zenneth boleh menyiapkan hal-hal yang diperlukan di rumahnya," kata Haz membagi peran.
"Serahkan saja yang harus dipersiapkan kepadaku." Zenneth menyeringai manis. Dia paling hebat dalam hal itu, karena sudah lama bersama dengan Haz tentu saja. Jika tidak, dia sendiri juga tidak tahu bakatnya yang dapat menghasilkan jutaan rupiah per pesanan client.
"Aku tahu aku bisa bergantung kepadamu, Zenneth. Jangan lupa perkakas yang baru saja ku beli sekitar seminggu yang lalu. Kita akan membentuk sebuah tim detektif kecil dan menangani kasus yang terjadi. Polisi juga akan segera menutup kasus ini, tapi kita tidak. Aku harus tahu dalang di balik kejadian-kejadian aneh ini." Haz sangat ingin tahu siapa yang menjadi dalang di balik kasus aneh ini. Kasus ini harus diakuinya sangat profesional, banyak pihak yang terlibat, tetapi tidak menunjukkan taring mereka sama sekali. Itu membuatnya tertantang dan pusing di saat yang bersamaan.
"Aku terkadang lupa bahwa kamu bukanlah seorang penulis, melainkan Ratu Mafia, Haz," kata Zenneth. Dia mengambil tas ransel yang diberikannya kepada Haz dan Whisk kemarin sore.
"Kalau menurutmu aku adalah Ratu Mafia, anggap saja seperti itu," balas Haz. Dia akhirnya membuka ponselnya yang diberikan oleh Zenneth dari dalam tas ransel mini. Ada 4 panggilan tidak terjawab dari Jel dan banyak pesan.
Haz ragu untuk membuka pesan dari Jel. Namun dia tidak bisa menghindar seperti itu terus-menerus.
Barangkali ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Jel kepadaku. Aku setidaknya harus membalas pesannya, bukan? tanya Haz di dalam hati. Dia menghela napas panjang kemudian membuka pesan dari Jel.
~
Jel: Haz
Jel: Haz?
Jel: Haz, tolong baca dan jawab pesanku.
Jel: Ada yang ingin ku bicarakan denganmu.
Jel: Aku merasa aku harus memberitahukan kepadamu hal ini.
Jel: P
Jel: P
Jel: P
Jel: Hei
Jel: Tayo
Jel: Hei
Jel: Tayo
Jel: Dia
Jel: Bis
Jel: Kecil
Jel: Ramah
Jel: Melaju
Jel: Melambat
Jel: Tayo
Jel: Selalu
Jel: Senang
Jel: Ah ... baiklah, mungkin kamu sibuk.
Jel: Aku hanya ingin berkata kepada kamu, Alkaf ingin melamar ku sehingga aku harus pulang ke Pematangsiantar. Aku juga tidak yakin bisa kembali lagi ke ibukota negara.
Jel: Aku minta maaf.
Jel: Aku berharap kamu bisa mengerti.
Jel: Dan, aku berharap kamu bisa datang.
~
Ternyata dia ingin mengatakan ini kepadaku.