
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Kamu pantas," kata Cyan. Dia juga berusaha menenangkan Haz. Dia juga sangat mengenal Haz, bagaimana jika wanita itu marah. Dia hanya akan berakhir menyalahkan dirinya sendiri. Maka dari itu, dia dan Zenneth tidak suka jika Haz sudah marah.
"Aku baru tahu kamu memiliki hubungan yang tidak begitu baik dengan Senior Alkaf dan Jelly. Jika tahu begitu, lebih baik aku tidak mengatakan apa pun tentangmu," kata Whisk dengan nada menyesal. Hatinya terasa dirobek-robek ketika melihat air mata jatuh dari pelupuk mata Haz. Dia sangat menyesal telah memberikan ponselnya kepada Haz.
"Itulah sebabnya kalian tidak perlu menahan ku untuk merebut ponsel Whisk dari tangan Haz tadi!" bentak Zenneth kepada Cyan dan Whisk. "Kamu juga, Cyan. Kamu paling tahu kalau Haz selalu begini. Kenapa kamu menahan ku? Kenapa?"
"Maafkan aku, Zen. Aku benar-benar tidak tahu bahwa Haz akan marah seperti ini. Jika aku tahu, aku tidak akan pernah menahan dirimu, sungguh," jawab Cyan. Dia menatap nanar ke arah lantai. Dia merasa Zenneth ada benarnya. Jika saja dirinya dan Whisk tidak menahan Zenneth mengambil ponsel Whisk dari tangan Haz, wanita berambut panjang gelombang tidak akan menangis seperti itu.
"Sudahlah. Aku tidak apa-apa." Haz menepis tangan Zenneth dari pundaknya dan pergi meninggalkan mereka bertiga. Mood-nya hancur berantakan. Pikirannya tak lagi berada di dalam kepalanya. Dia sangat marah dan juga sangat sedih. "Jangan ikuti aku! Aku hanya ingin tidur."
Haz masuk ke dalam kamar yang ada di ruangan itu dan membanting pintunya. Dia benar-benar sangat marah saat itu. Apa pun yang dikatakan oleh Cyan, Whisk, maupun Zenneth, tidak akan berpengaruh apa-apa, tidak akan membuatnya merasa lebih baik. Dia butuh waktu untuk menyendiri.
"Drama ini sudah terjadi selama bertahun-tahun. Hazelia hanya bisa menahan amarahnya ketika dimarahi oleh Alkaf karena masalah yang berhubungan dengan Jelkesya. Yang pertama dan kedua memang merupakan salah Hazelia. Tapi, dia melakukannya secara tidak sengaja. Dia tetap bertahan. Dia tetap berteman baik dengan Jelkesya. Aku sudah memperingatkan dirinya untuk menjauh dari Jelkesya. Seperti yang kalian tahu, Hazelia adalah orang yang sangat keras kepala. Dia masih tetap bertahan dan bertahan. Hari ini dia meledak seperti itu ... aku ... aku tidak tahu lagi." Zenneth bercerita. Terselip kesedihan yang mendalam ketika dia menceritakan tentang Haz kepada Cyan dan Whisk.
"Benar-benar keterlaluan. Hanya karena tidak mengangkat telepon saja harus dibuat menjadi sebuah drama. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Apanya yang seorang sahabat? Dia jelas-jelas tahu cerita Hazelia yang sangat kelam—aku tidak perlu menyebutkannya karena kalian tahu apa yang ku maksudkan tentu saja. Biadabb!" seru Cyan, geram mendengar cerita Zenneth.
Whisk hanya bisa menghela napas panjang. Alkaf adalah seniornya sendiri, dan Haz adalah orang yang dicintainya. Dia tidak perlu membela siapa-siapa, dia tahu itu. Pria itu hanya ingin membangun hubungan pertemanan yang baik dengan setiap orang, sehingga dia hanya diam ketika Cyan dan Zenneth mengumpat kepada Alkaf dan Jel. Dia yakin Haz pasti juga tidak suka orang-orang terdekatnya dicaci-maki seperti itu—meskipun tidak langsung di hadapan mereka.
Whisk pun beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan. Dia juga tidak lagi memiliki mood. Pria itu berdiri tepat di depan pintu kamar yang tadinya dibanting oleh Haz akibat ingin melampiaskan kemarahannya. Pria itu membuka pintu kamar. Tidak dikunci. Dia mengintip ke dalam ruangan dan terlihatlah gundukan di balik selimut yang dia kenali sebagai Haz. Dia pun masuk dan menutup pintu kamar kembali.
Whisk menyalakan lampu tidur dan duduk di tepi ranjang. Dia menepuk-nepuk pelan tubuh Haz yang berada di bawah selimut. Dia menghela napas panjang dan memanggil Haz, "Hazelia Lify? Hazelia Lify? Haz, apakah kamu tidur?"
"Hm." Haz hanya bergumam pelan, menjawab pertanyaan Whisk. Dia tidak tidur. Dia masih terjaga dan bersedih. Wanita itu mengeratkan pelukannya terhadap selimut yang menyelimuti dirinya.
"Haz, apakah kamu sangat sedih?" tanya Whisk. Itu pertanyaan yang sangat bodoh, dia sendiri juga tahu. Namun dia tidak memiliki topik untuk dibicarakan bersama Haz yang sedang kecewa dan bersedih. Dia ingin sekali menghibur Haz.
Tidak ada jawaban dari Haz, yang ada hanya desis kecil. Wanita itu benar-benar tidak ingin diganggu.
Whisk pun akhirnya tidak bertanya lebih lanjut kepada Haz. Dia tetap berada di sana, menemani Haz. Pria itu menepuk-nepuk pelan badan Haz dan memejamkan mata. Dia tertidur bersama Haz di ruangan itu.
Whisk terbangun dari tidurnya. Lampu tidur masih menyala, ruangan tampak berwarna keoranyean. Dia menemukan Haz masih terjaga, matanya masih terbuka. Kelihatannya Haz sedang melamun.
"Haz?" Whisk memanggil Haz dengan lembut sambil menepuk pelan kepalanya.
Haz terkejut dan langsung memandang ke arah Whisk. Matanya masih berkaca-kaca, hanya saja raut wajahnya terlihat lebih baik dari sebelumnya. Hidungnya memerah. Mungkin dia baru saja berhenti bersedih belasan menit yang lalu. "Hm?" Dia bergumam pelan, menjawab panggilan Whisk.
"Apakah kamu masih bersedih?" tanya Whisk.
Haz mengangguk pelan sebagai tanda dia masih sedih. Dia hanya tidak menyangka bahwa kejadian dulu akan terulang lagi.
"Apakah kamu lapar? Mau aku buatkan mi instan telur ceplok?" tanya Whisk. Dia sebenarnya lapar dan ingin memakan sesuatu. Dia sempat melihat di dapur ada mi instan dan beberapa butir telur.
Dan, sekali lagi Haz mengangguk. Dia ternyata juga lapar. Menangis hanya menguras tenaganya. Dengan makan, mungkin mood-nya akan membaik.
"Ingin ikut denganku atau berada di sini saja?" Whisk banyak bertanya, tapi itu tidak membuat Haz tersinggung sama sekali. Pria itu turun dari atas kasur dan menunggu jawaban dari Haz dengan sabar.
"Ikut," jawab Haz singkat. Suaranya terdengar sangat serak. Tapi, akhirnya dia ingin berbicara juga. Itu adalah hal yang bagus menurut Whisk.
"Baiklah. Ayo ikut aku ke depan. Kamu menunggu saja di sofa atau tidak bergabung bersama Cyan dan Zenneth jika mereka berdua masih terjaga. Aku juga akan bertanya kepada mereka, jika saja mereka masih terjaga dan ingin memakan sesuatu juga. Oke?" Whisk menepuk kepala Haz lagi. Hanya itu satu-satunya cara yang terbesit di dalam pikirannya untuk menghibur Haz. Dia pernah membaca sebuah artikel bahwa seorang wanita sangat suka diperlakukan manis seperti itu.
Saat Haz dan Whisk keluar dari kamar, langsung tampak Cyan dan Zenneth yang sedang memasak sambil bercanda di dapur.
"Wah ... wah ...." goda Whisk. "Seharusnya kalian memanggilku jika ingin memasak. Aku jago loh."
"Bagaimana bisa aku dan dia memanggil kalian yang sedang bermesraan di dalam kamar?" tanya Zenneth sewot. Dia memutar bola matanya dengan malas.
"Ralat, Whisky Woods yang sedang menghibur Hazelia Lify di dalam kamar. Bermesraan tidak enak didengar." Whisk membenahi perkataan Zenneth.
"Jadi, bagaimana keadaanmu? Apakah kamu sudah merasa lebih baik, Hazelia?"