Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
128 : Kembali ke Cafe yang Pernah Dikunjungi


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


20 menit setelahnya ....


"Akhirnya sampai juga di Cafe ini," kata Whisk. Sedari tadi dia mengeluh tentang perjalanan panjang dan ketidakfokusannya dalam menyetir. Pria itu menghela napas lega karena sudah sampai dengan selamat di tujuan.


Haz sendiri hanya bisa menggelengkan kepala dan terkekeh kecil sebagai balasan atas perkataan Whisk. Dia juga lega karena pria bersurai kemerahan bisa menahan rasa kantuk yang terasa amat sangat.


Haz dan Whisk masuk ke dalam Cafe dan langsung disambut oleh Si Gadis Jawa, Ratih.


"Eh, ada Nona Hazelia sama pacar bulenya. Sini Non, kayak biasa," kata Ratih, mempersilahkan Haz dan Whisk duduk di meja yang pertama kali mereka gunakan saat ke Cafe itu. Kebetulan meja itu kosong.


"Makasih, Ratih. Oh ya, stok kopi hitam masih banyak kan?" tanya Haz.


"Banyak dong, Non. Mau pesan kah?" Ratih menjawab dengan semangat, juga dia bertanya kepada Haz apakah ingin memesannya.


"Iya. Pesan satu ya, untuk Bapak yang satu ini. Tuh dia nguap," kata Haz sambil menunjuk ke arah Whisk. Dia malah ikutan menguap lebar.


Hal itu wajar. Jika melihat seseorang menguap, secara tidak langsung orang yang memperhatikannya pun ikut menguap. Bahkan Ratih juga sama.


"Kok Ratih jadi ikutan?" Ratih tertawa, lumayan keras hingga membuat beberapa pelanggan di sekitar melihat ke meja mereka.


Haz terkekeh geli. Sementara itu, Whisk terlihat sangat lemas dengan mata yang hanya tersisa beberapa watt saja.


"Mau makan?" tanya Haz. Dia menyentuh lembut kulit lengan Whisk, membuat pria itu kaget dan langsung menoleh ke arahnya.


"Maaf, bisa kamu ulangi?" Whisk benar-benar sudah tidak fokus.


"Apakah kamu ingin makan?" Haz bertanya sekali lagi.


"Samakan saja dengan punyamu, Haz," jawab Whisk.


"Aku pesan mi instan spesial, yang kuah. Rasa Tom Yam ya, Ratih. Minumnya susu putih hangat saja," kata Haz setelah mendapatkan jawaban dari Whisk.


"Siap, Non! Saya siapkan dulu kopi hitamnya. Kasihan pacar bulenya ngantuk begitu," kekeh Ratih. Dia pun segera melangkah menjauh dari meja dua sejoli itu.


Haz memandangi wajah Whisk yang terus-terusan menguap. Terkadang, dia juga ikut menguap karenanya. Entah kenapa semakin diperhatikan, wanita berambut panjang gelombang semakin merasa familiar dengan wajah Whisk. Seperti ... dia pernah melihat wajah itu sebelumnya.


Whisk yang merasa ada yang memandanginya pun berbalik memandang ke arah Haz. Mereka berdua saling bertukar pandang dalam diam. Mereka berusaha memahami jalan pikiran satu sama lain.


"Maaf menginterupsi momen kalian, ini pesanannya," kata seorang yang berpakaian seperti pelayan pria.


Haz mengenali pelayan pria itu. Dia adalah anak dari pemilik Cafe ini. "Leo? Tumben sekali bantu-bantu di sini," kata wanita berambut panjang gelombang sambil mengambil cangkir dan meletakkannya di depan Whisk. "Makasih."


"Ga ada kerjaan, kak. Makanya mau bantu-bantu." Leo menyengir lebar. Dia mengalihkan perhatiannya ke arah Whisk. "Ini pacar kakak?"


"Oh ... ya udah, aku balik ke belakang dulu, kak. Cuma penasaran aja. Soalnya kak Ratih bilang ada kakak di sini," kata Leo.


"Penasaran kah? Atau, memang mau disuruh sama Ratih?" Haz bertanya, menggoda Leo yang ternyata menyukai Ratih.


"Ah ... kakak!" Leo tersipu malu. Wajahnya merona merah. "Po- pokoknya, aku mau ke belakang dulu. Silahkan nikmati kopinya." Dia langsung beranjak dari hadapan dua sejoli.


"Ei! Sekalian bilang ke Ratih buat nambahin kentang sama nugget goreng, eh sama French Toast Cinnamon juga di bill," kata Haz setengah berteriak karena jarak antara mereka cukup jauh. Anehnya, tidak ada yang tersinggung karena perlakuan Haz.


Pelanggan-pelanggan di sana adalah pelanggan tetap. Sudah mengenal Haz dan Jel dalam jangka waktu yang terbilang cukup lama. Mereka sudah terbiasa dengan keributan yang diciptakan oleh pelayan-pelayan bersama dengan Haz dan Jel. Jadi, tidak heran jika mereka tidak tersinggung. Bahkan terkadang mereka juga melakukan hal yang sama. Tidak terkecuali, pemilik Cafe tersebut.


"Oke!" Leo menghilang dari pandangan setelahnya.


Whisk mengaduk-aduk kopi hitamnya setelah menambahkan gula. Hal pertama yang membuatnya kaget adalah kopi hitam itu ternyata sangat wangi.


"Kenapa? Apakah karena baunya sangat tajam?" tanya Haz, memperhatikan setiap gerak-gerik Whisk.


Whisk menganggukkan kepalanya, terlalu malas untuk sekedar menjawab. Dia rasa Haz dapat mengerti keadaannya saat itu. Dia sangat lemas. Bahkan untuk mengangkat cangkir, dia merasa tidak mampu melakukannya.


"Itu bukan kopi sachet. Itu kopi yang dibeli dari Aceh, Kopi Gayo. Produk original tentu saja."


Whisk mengangguk, sebagai jawaban bahwa dia mengerti. Mungkin dia akan pergi ke Aceh untuk sekedar membelinya. Dia suka wanginya. Kopi yang wangi pasti memiliki rasa yang enak.


Whisk meneguk kopi dari dalam cangkir. Sesuai dugaannya, kopi itu terasa pas di lidahnya. Dia menyukainya.


"Jika kamu ingin membelinya, kamu tidak perlu susah-susah singgah ke Aceh. Cafe ini menjual produknya. Per bungkusnya agak mahal. Tapi, kurasa itu bukan masalah bagimu. Bukankah begitu, Whisky Woods?"


Whisk tersenyum dan meletakkan cangkirnya. Dia menatap Haz, lagi. Kali ini lebih intens. Dia ingin tahu apa yang bisa didapatkan Haz dari sikapnya yang hanya diam seperti itu.


"Dalam film Tekken 2 : Kazuya's Revenge, dikatakan bahwa 'Orang pertama yang akan dilahap oleh api dan belerang panas adalah para pengecut'. Maaf jika pembahasannya sangat random. Tapi, pikiranmu sekarang pasti sangat bercabang-cabang. Hal pertama yang kamu pikirkan adalah berapa banyak video game yang sudah kamu mainkan."


Whisk mengangkat sebelah alisnya. Dia tidak menyangka Haz bisa menebak isi pikirannya saat itu. Dia memang sedang memikirkan berapa banyak video game yang sudah dimainkannya. Lebih mengejutkannya lagi, dia sedang membatinkan kata 'Tekken' di dalam kepalanya.


"Aku hanya asal mengatakannya. Salah satu video game yang dibuat menjadi film selain Resident Evil adalah Tekken. Ada juga Game of Thrones. Tiba-tiba saja terlintas di dalam pikiranku tentang prolog film Tekken 2."


Whisk menjadi semakin penasaran dengan apa yang bisa ditemukan oleh Haz.


"Maaf mengecewakan dirimu, Tuan Woods. Tapi, pesanan kita sudah datang." Haz menunjuk ke arah Leo yang kembali membawa pesanan ke meja mereka.


Whisk mengangkat bahunya. Dia merasa lebih baik dari sebelumnya. Dia sudah tidak begitu mengantuk. Mungkin efek dari kopi? Atau, dia tertarik dengan Haz? Dia tidak tahu.


Leo meletakkan pesanan Haz di atas meja. Haz yang merapikannya.


"Oh ya, kak, kentang gorengnya habis. Mau diganti apa?"