Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
151 : Romantisme (Bagian 3)


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Tengah malam pun tiba, tapi Haz dan Whisk masih saja setia dengan berkas-berkas yang bertumpuk. Terkadang Whisk harus memikirkan dan membayangkan segala resiko yang ditanggung dari Rencana A sampai Rencana Z yang telah dibuatnya. Haz sendiri terkadang harus menggali informasi dari teman imajiner-nya.


Haz dan Whisk memiliki kesibukan mereka sendiri. Dari saat makan malam usai, mereka tidak berusaha untuk memecahkan keheningan di ruang kerja pria bersurai kemerahan. Mereka butuh ruang untuk fokus dalam Misi Penyelamatan Cyan dan Zenneth.


Whisk mengerti kalau dia harus bisa menjalankan rencana yang baik agar Haz tidak lagi menyalahkan dirinya sendiri. Dia rela melakukan pekerjaan berat jika itu bisa meringankan beban pikiran wanita yang dicintainya.


Whisk melirik ke arah Haz. Sesekali wanita berambut panjang gelombang memijat dan memukul pelan area leher dan pundaknya, menghela napas panjang dan setia dengan berkas-berkas yang dibacanya. Terkadang Sang Wanita juga menguap lebar.


Dia pasti kelelahan. Begitu yang dipikirkan oleh Whisk. Pria itu juga tahu jika dia mengusulkan Haz untuk berhenti sebentar, dia hanya akan mendapatkan penolakan atas usulannya.


Haz itu kepala batu. Jika dia tidak ingin berhenti, maka arwah dari Ayah dan Ibu Sang Wanita pun tidak bisa memperingatkannya.


Whisk hanya tidak ingin Haz terlalu lelah. Mereka masih punya banyak hal untuk dikerjakan. Beristirahat sebentar tidak akan membuat Cyan dan Zenneth mengalami bahaya. Haz harus mengerti dan harus bisa mengendalikan emosi serta ego-nya sendiri.


Tidak sepenuhnya semua kejadian buruk yang terjadi adalah salah Haz. Pikirkan saja siapa yang tidak memercayai Haz dan membawa Zenneth keluar dari Rumah Sakit hingga masuk ke perangkap Keluarga Hassan. Bahkan jika Haz ada di sana pun dia tak bisa menahan Cyan untuk tidak membawa Zenneth pergi kemana pun. Meski hal itu bisa mencegah fakta kalau kedua orang tersebut akan berani diculik.


Whisk mengembuskan napas perlahan. Dia tidak tega melihat Haz memaksakan diri untuk terus bekerja. Pria bersurai kemerahan ingat perkataan Jel: Bahwa Haz sudah tidak mampu begadang, apalagi jika sambil bekerja lagi.


Aku harus mencoba meyakinkan Hazelia bahwa di subuh atau pagi hari nanti kami masih memiliki banyak waktu untuk bekerja, batin Whisk, membulatkan tekad untuk mengusulkan kepada Haz kalau dia harus berhenti.


"Haz." Whisk memanggil Haz dengan lembut. Walau terdengar ada sedikit keraguan di sana, tapi baginya usulan untuk beristirahat adalah yang terbaik untuk wanita itu.


Haz menatap ke arah sumber suara, ke arah Whisk. Dia menaikkan sebelah alisnya, wajahnya penuh tanda tanya. Dia menatap langsung ke dalam netra coklat yang juga berbalik menatap ke dalam netra legam malam-nya.


Haz mengalihkan perhatiannya. Namun dia tidak benar-benar mengabaikan perkataan Whisk. Teman-teman imajiner-nya pun pasti sudah lelah karena bekerja semenjak dia dan Whisk masuk ke dalam ruang kerja di apartemen. Dia merasa bahwa usulan pria bersurai kemerahan ada bagusnya juga.


Haz menaruh berkas-berkas di atas meja dan menyandarkan kepalanya senyaman mungkin di lengan sofa.


Benar, aku harus mengambil waktu untuk tidur. Lagipula, semua yang terjadi di sini karena Cyan Vilmasyah tidak mau mendengar perkataanku. Untuk apa aku menganggap kalau ini semua adalah salahku? pikir Haz.


Haz menggeliat di sofa tempatnya tidur. Meskipun Whisk sudah mematikan lampu ruangan dan hanya menyalakan sebuah lampu meja yang amat redup dan suasana tengah malam itu sangat hening, suasana yang amat menenangkan, tapi wanita berambut panjang gelombang tidak bisa tidur.


Selama dua puluh menit terakhir setelah Haz memejamkan matanya, yang bisa dirasakannya hanyalah kepalanya yang penuh dengan hal-hal yang memusingkan, berlari-larian layaknya ada sebuah gempa bumi yang mengguncang di dalamnya. Belum lagi mengingat kalau kecemasan bergejolak layaknya angin topan. Ini sudah kesekian kalinya dia merasa sedemikian tidak enak. Beruntungnya, dia selalu bisa mengatasinya.


Whisk yang menyadari kalau Haz tidak bisa beristirahat sama sekali pun mendekatinya. Dia menarik sebuah bangku kecil yang memiliki sandaran, duduk di dekat Haz, mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan wanita berambut panjang gelombang. "Aku tahu kalau pikiranmu sedang berpacu dan kacau Haz," kata pria itu.


Haz membalas genggaman tangan Whisk dengan erat. "Aku tidak yakin kalau kita bisa menemukan Cyan dan Zenneth dalam keadaan baik-baik saja, Whisk." Wanita berambut panjang gelombang terdengar putus asa. Kemudian, dia melanjutkan, "Bagaimana kalau mereka terluka? Bagaimana kalau kita sama sekali tidak bisa menemukan mereka? Bagaimana kalau kita menemukan mereka dalam 'kemungkinan yang terburuk', atau aku akan mulai menyerah dan menangis, lalu menerima nasib yang akan menimpa mereka?" Genggaman wanita itu memang terasa erat dan menyakiti tangan Whisk, tapi tidak melebihi pertanyaan yang terdengar memilukan di telinga Sang Pria yang tidak bisa dijawab sama sekali.


Whisk tentu tahu apa yang dimaksud Haz dengan 'kemungkinan yang terburuk'. Dia juga sudah pernah memikirkannya, tapi dia memilih untuk tidak memikirkan hal itu sama sekali.


Whisk menepuk-nepuk tangan Haz, berusaha untuk menenangkan pikiran buruk yang berpacu dalam kepala wanita itu. "Dengar, Haz. Kamu juga merupakan seseorang yang bisa diandalkan. Kamu bisa memikul tanggung jawab yang amat besar di pundakmu sendiri—bahkan dari dulu pun kamu bisa melakukan hal demikian. Kini, kau dihadapkan dengannya lagi. Kamu sudah menunjukkan kemampuanmu yang luar biasa sejauh aku mengenalmu, walau yang perlu dirubah hanyalah temperamen yang buruk. Sekarang, waktunya kamu menunjukkan bahwa kamu bisa melakukannya, kamu bisa menghadapinya. Dari masalah yang datang hingga temperamen yang buruk. Aku akan ada di sisimu sepanjang waktu. Aku berasal dari Keluarga Rosewoods, keluarga Shadow Economy terkaya yang tidak pernah mengekpos diri mereka dari sisi manapun. Keluarga yang membuang sisi kemanusiaan mereka demi kekayaan dan kamu tahu selebihnya. Tapi, aku memilih untuk keluar dari sana dan mencurahkan segalanya untuk masyarakat. Aku menjadi seorang detektif, seseorang yang memerangi kejahatan dan berpihak pada orang-orang baik dan tidak bersalah. Jadi, bayangkan sehebat apa jika kita bersama-sama. Kita bisa memecahkan kasus ini, lebih bisa menyelamatkan sahabat-sahabatmu. Kamu harus percaya," hiburnya panjang lebar.


Setelah mendengar perkataan Whisk, Haz baru menyadari kalau selama ini dia sudah terlalu memaksakan dirinya. Melemparkan semua kesalahan yang sebenarnya tidak dia perbuat untuk dirinya. Pikirannya yang sedari tadi berlarian akhirnya melambat dan hilang sama sekali. Begitu juga dengan gejolak kecemasan yang ada.


Masih menggenggam erat jemari Whisk, Haz pun tertidur.