
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Apa yang ingin kukatakan ya?" Haz bertanya balik kepada Whisk. Dia memang senang sekali membuat lawan bicaranya merasa bingung, penasaran. Namun itu dikarenakan dia merasa bahwa ada argumen yang bisa mereka sampaikan ketika berada di dalam sebuah situasi yang menegangkan. Wanita berambut panjang gelombang tidak selalu melakukannya.
Misalkan saja, berbicara dengan Liulaika Jelkesya. Dia tidak akan mengatakan hal-hal yang membuat Jel kebingungan. Lagipula, dia juga tahu bahwa Jel tidak suka dengan pertanyaan jebakan. Dia paham bahwa Jel adalah tipe orang yang ingin langsung to the point. Jika dia menyampaikan pertanyaan jebakan ke Jelkesya, yang ada dia akan dimarahi oleh wanita itu, atau dimarahi oleh Alkaf. Dia tidak ingin mencari masalah dengan sahabatnya maupun pacar sahabatnya itu. Membuat sakit kepala saja.
"Biarkan aku memikirkan kata-kata yang enak untuk membicarakan masalah ini denganmu," kata Haz pada akhirnya.
"Aku tidak memerlukan kata-kata enak. Aku memerlukan jawabanmu. Apa yang membuatmu menemui diriku lagi, Hazelia Lify?" tanya Whisk, menatap Haz dengan tatapan serius. Dia tidak ingin Haz memikirkan kata-kata hanya untuk menjaga perasaannya. "Aku tahu kamu ingin mengatakan sesuatu yang tidak akan menyakitiku. Dan ... aku tidak memerlukan itu."
Bohong sekali jika Whisk mengatakan bahwa dirinya tidak ingin mendengarkan kata-kata manis dari Haz. Pria itu tentu saja sangat menginginkannya.
"Kamu tidak pandai berbohong," kata Haz.
"Aku tidak sedang berbohong," sangkal Whisk.
"Wajahmu mengatakan semuanya kepadaku," kata Haz. Dia menghela napas panjang dan menatap ke arah Whisk dengan lembut.
"Apakah di wajahku ada sesuatu?"
"Tidak ada."
"Lalu, untuk apa kamu menatapku seperti itu?"
"Aku hanya merasa bersalah."
"Karena telah menyakitimu."
"Aku tidak apa-apa," kata Whisk sambil menghela napas panjang. Perasaan sedihnya berubah menjadi perasaan bersalah terhadap Haz. Dia sendiri pun tidak tahu kenapa dirinya menangis.
Sedih? Bahkan ketika Senior Milla menikah dengan James, dia tidak pernah merasa sedih.
"Kamu belum benar-benar tahu apa itu cinta, Whisk ...," kata Haz. Dia menatap ke arah langit-langit yang dicat biru pudar.
Kata orang warna biru pudar seperti ini akan membuat pikiran tenang dan akan membuat anak-anak lebih mudah tidur. Itu benar adanya, batin Haz.
"Aku tidak tahu apa itu cinta?" tanya Whisk.
Terkadang Whisk begitu penasaran dengan jalan pikiran seorang Hazelia Lify. Bagaimana tidak? Kata wanita berambut panjang gelombang, pria itu tidak tahu apa itu cinta. Lalu, perasaan apa yang sedang dirasakannya terhadap Haz saat itu jika bukan cinta?
"Benar. Kamu masih belum paham apa itu cinta. Aku juga tidak berani mengatakan aku benar-benar pernah jatuh cinta. Aku juga sama sepertimu, belum mengenal cinta dengan baik," jawab Haz.
Haz menjeda perkataannya sejenak, lalu dia melanjutkan, "Aku mendengar dari seseorang bahwa cinta itu adalah tentang perasaan mendalam yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Jika saja kamu mengatakan 'aku cinta kamu', itu sama sekali bukan cinta. Cinta bukan tentang permainan kata. Ia adalah permainan rasa."
Whisk diam, mendengar penjelasan dari Haz. Daripada seorang detektif, Haz lebih cocok menjadi seorang sastrawan. Kata-katanya sangat bagus.
"Bicara soal rasa. Wajahmu menunjukkan rasa kecewa sekaligus penasaran yang amat tinggi, mengapa tidak kamu coba menebak apa yang ingin kukatakan kepadamu?"