Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
123 : You Know How To Make Me Feel Better, Whisky Woods!


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


"Tapi ... tap-"


Whisk mengecup lembut kening Haz, menyebabkan perkataan wanita berambut panjang gelombang terhenti.


Wajah Haz merona merah, menahan sensasi malu yang ditimbulkan. Dia hanya bisa terdiam mematung, tidak mendorong ataupun menolak Whisk.


Baru kali ini, Haz merasakan perasaan yang amat kuat. Meskipun bukan miliknya, tapi hal itu cukup untuk membuatnya sadar bahwa dia tidak sendiri untuk menghadapi masalah yang sudah terjadi di sana. Whisk ada untuknya, pria itu siap membantunya. Namun dia lah yang selama ini menutup matanya, tidak melihat keberadaan pria bersurai kemerahan di sana.


Haz menunduk malu. Whisk berani sekali mengecup keningnya di depan umum. Apa urat malu pria itu sudah putus? Wanita berambut panjang gelombang menahan napasnya, berharap tidak ada orang yang melihat kegilaan yang mereka lakukan.


Memang tidak ada salahnya sih memanjakan satu sama lain, tapi Haz belum terbiasa melakukannya. Alasan lainnya adalah karena dia pernah mengalami hal tidak mengenakkan semasa berjalannya hubungannya dengan Ric. Maka dari itu, dia masih memiliki trauma.


Whisk menarik Haz sampai menuju parkiran mobil. Dia lalu melepaskan genggaman tangannya dari Haz dan mempersilahkan wanita itu untuk masuk ke dalam mobil.


"Aku bisa melakukannya sendiri." Haz tersipu. Namun dia tetap menerima kebaikan yang disuguhkan oleh Whisk. Mereka terlihat manis jika akur seperti itu.


"Apakah Nicholas Qet Farnaz sudah bisa dihubungi?" tanya Whisk. Tumben sekali dia tidak mempermasalahkan saingan cintanya terhadap Haz yang satu itu. Memang jika dibutuhkan, orang akan cenderung bersikap berkebalikan.


"Aku akan mencobanya." Haz mengerutkan keningnya, tidak mengerti terhadap perubahan sikap Whisk. "Tapi, bukannya kamu tidak menyukai Nicholas? Kenapa bertanya tentangnya?"


"Aku hanya berpikiran untuk menggunakannya dan menerobos polisi-polisi. Terlihat sekali bahwa dia memiliki jabatan dan cukup disegani," jawab Whisk.


Haz meninju keras bahu Whisk. Aku bahkan tidak sampai berpikiran seperti itu terhadap Nicholas, batinnya, sedikit kesal.


"Kenapa kamu memukul diriku? Apa salahku?" tanya Whisk sambil mengelus-elus bahunya yang kesakitan akibat tinju yang dilepaskan Haz untuknya. Pria itu hanya bercanda. Sebenarnya, dia tidak merasa kesakitan sama sekali.


"Salahmu sangat banyak, Mr. Woods," jawab Haz sembari melipat kedua tangan di depan dada dan menggembungkan pipinya.


Dan, Haz terlihat sangat lucu di mata Whisk. Wanita berambut panjang gelombang terlihat seperti anak kecil. Sangat menggemaskan.


"Oh ... oh. Ya sudah, jangan lupa mengecek kabar dari Nicholas Qet Farnaz. Kita akan sangat membutuhkannya. Jika dia masih tidak bisa dihubungi, kita terpaksa harus menerobos TKP kecelakaan mobil yang kamu yakini milik Cyan Vilmasyah itu," kata Whisk, menjelaskan.


"Aku menjadi curiga kepada Polisi Nicholas," ujar Haz sembari mencari ponselnya. Ketika dia sudah menemukannya, dia langsung menyambungkan telepon ke nomor Nich dan mengaktifkan speaker ponselnya.


"Tut ... tut ...." Masih dalam proses penyambungan.


Whisk pun bertanya kepada Haz, "Kenapa kamu menjadi curiga kepada Nicholas?"


"Tut ... tut ...." Mode berdering pun terlihat dari layar ponsel Haz.


"Karena dia sempat hilang beberapa saat." Haz menjawab ketika melihat layar ponselnya menunjukkan kata 'berdering'.


"Apakah itu bisa dijadikan sebuah jawaban?" tanya Whisk.


"Tut!" Telepon dari Haz ditolak oleh Nich.


"Beraninya dia menutup telepon seorang Hazelia Lify!"


Sepertinya sebentar lagi Haz murka. Sebelum itu terjadi, Whisk harus segera menenangkannya. Kalau tidak, dia pasti juga akan terkena imbasnya.


Jika seorang Hazelia Lify kesal atau marah, akan sulit sekali berkomunikasi dengannya. Whisk tahu itu, tapi terkadang dia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi, harus dicegah sebelum semuanya terlambat.


"Tenang, Hazelia Lify. Mungkin dia sedang ada kegiatan. Atau, mungkin saja dia sudah berapa di TKP. Kita akan memastikannya setelah ke sana, bagaimana menurutmu?" tanya Whisk.


Dan, Haz tidak menjawab pertanyaan dari Whisk.


Oh astaga, jangan lagi ... aku bahkan tidak begitu suka ketika dia mengacangi diriku di chat. Apalagi ketika dia mengacangi diriku sekarang! seru Whisk di dalam hati, frustasi. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya agar suasana hati Haz membaik.


Oh, aku tahu ... sepertinya aku harus berhenti di depan minimarket dan membelikan dia sekotak kecil susu vanila serta sebatang coklat, batin Whisk. Dia langsung menyalakan mesin mobil dan melaju dari parkiran Rumah Sakit.


Whisk ingat, tak jauh dari sana ada sebuah minimarket. Dia bisa berhenti selama lima menit untuk membelikan Haz beberapa camilan yang dipikirkannya. Makan bisa meningkatkan hormon kebahagiaan. Namun berbeda dengan makan berlebihan, itu sangat tidak dianjurkan oleh Ahli.


Whisk memberhentikan mobil yang dikemudikannya tepat di depan minimarket, membuat Haz bertanya-tanya.


"Oh ... oh! Lihat itu! Whisky Woods sangat perhatian terhadap Hazelia Lify. Dia pasti akan memberikan sebatang coklat dan sekotak susu untukmu," goda Ziesya.


"Apa yang kamu katakan, Ziesya?" tanya Haz sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Saat itu juga, Whisk mengetuk jendela kaca di sebelah Haz. Dia menggambarkan sesuatu untuk Haz dari luar. Ternyata pria bersurai kemerahan bisa menggunakan bahasa isyarat! Dia berkata, "Aku akan membelikan sesuatu untukmu. Tunggu aku, tidak perlu ikut."


"Aw ... so sweet sekali Pangeran yang satu itu." Ziesya kembali menggoda Haz.


Karena tidak tahan dengan godaan yang dilontarkan oleh Ziesya, Haz langsung menepis kepribadian itu jauh-jauh. Wajahnya sudah sangat merah, seperti tomat matang. Dia penasaran dengan apa yang akan dibelikan oleh Whisk untuknya.


Mungkin Whisky Woods akan membelikan sebatang coklat dan sekotak susu untukku seperti yang dikatakan oleh Ziesya? tanya Haz di dalam hati, yang membuatnya makin penasaran. Dia juga berharap kalau dia bisa mencicipi sesuatu yang manis.


Seraya menunggu Whisk yang masih berada di dalam minimarket, Haz membuka ponselnya dan mengecek ada chat yang masuk dari Nich. Dia merasa sangat jengkel dengan pria itu. Namun di saat yang bersamaan, dia juga tidak boleh mengabaikannya. Jadi, wanita berambut panjang gelombang memutuskan untuk membaca chat dari Nich.


Nicholas Qet Farnaz : Maaf menolak telepon darimu, Nona Hazelia. Aku memiliki urusan penting tentang kecelakaan yang baru saja terjadi di Jalan XXX.


Padahal aku juga memiliki kepentingan tentang hal itu. Dasar pria! Sama sekali tidak ada peka-pekanya! seru Haz di dalam hati, sebal.


Haz langsung membalas pesan dari Nich.


Hazelia Lify : Padahal aku juga memiliki kepentingan karena hal itu. Tapi, ya sudahlah, selamat bekerja, Tuan Nicholas.


Setelah membalas pesan Nich, Haz melihat Whisk kembali dengan sekantong plastik berukuran sedang di tangannya. Entah kenapa, senyuman merekah di wajah wanita itu.