
Meski bertarung dua orang tapi Leona dan Litha tetap saja tak mampu mengalahkan Venom akan tetapi disaat keduanya terdesak Arashi tiba.
"Aku datang kembali kemari untuk mengalahkanmu!!!!" Ucap Arashi dengan lantang penuh kepercayaan diri.
Venom menjadi geram, "Memangnya siapa dirimu??!!!" Iapun langsung saja mengepalkan tangan, memusatkan energi pada satu titik, memukul dan melemparkan energi yang terkumpul sekaligus, "Jbbllast!!"
Arashi yang memiliki insting tajam mampu menghindar dengan melompat ke belakang, "Khehehe...!! Sepertinya dalam hal insting aku jauh lebih unggul darimu..."
"Ku akui itu!! Tetapi percuma saja bila kau tak mampu melukaiku..." ucap Venom dengan menghentakan kaki kanan, "DYYEESS...!!"
Tulang-tulang berukuran 3 meter muncul dari dalam tanah melesat ke arah Arashi.
"Tap... tap... tap..." Leona dan Litha segera berdiri dihadapan Arashi.
Leona mengepalkan tangan yang berbalutkan api, "Jbbllast!!" Sekali pukulan saja tulang-tulang dari dalam tanah itupun hancur.
"Kau muncul begitu saja dan berkata dengan enteng bahwa akan mengalahkannya, memangnya kau punya strategi?" Tanya Litha.
"Benar sekali!! Kalau hanya kata-kata saja itu tak cukup untuk mengalahkannya..." sahut Leona.
"Percayalah padaku!!!" Ucap Arashi dengan tegas.
"Cih, merepotkan sekali!! Ya, kami percaya padamu karena kami juga tak punya rencana..." ucap Leona.
"Lalu apa yang harus kami lakukan?" Tanya Litha.
"Kalian hanya perlu diam dan mempersiapkan serangan terbaik kalian sementara aku akan menghadapinya seorang diri sampai celah kelemahannya terbuka, kalian paham?"
"Hahahahaha..." keduanya tertawa lepas saat mendengar rencana simpel itu, "Ya, tentu saja aku paham!!" Jawab keduanya serentak.
*
Dilain sisi, Venom meningkatkan energi dan mengangkat keempat tangannya ke atas, "HIIAA...!!!" Secara perlahan energi kuat terkumpul dan bola energi hitam yaitu Cero mulai terbentuk.
Ukuran cero itupun semakin membesar dan memberas berubah menjadi raksasa.
"Ugh!!" Venom yang menjadi penopangnya sampai harus menekuk satu kakinya.
"Tap... tap... tap..." meskipun begitu Arashi mendekat dengan langkah perlahan dan terlihat tenang, "Wah, wah, wah... cero yang kau ciptakan besar sekali!! Jika meledak pasti daerah dengan jangkauan 50 km pasti hancur..."
Venom tersenyum menyeringai, "Kau tak mungkin menghentikan ini!! Bila cero ini meledak maka sudah dipastikan semuanya akan hancur..."
"Hmm..." Arashi terdiam.
"Mengapa kau tak lari saja, bocah?" Venom sedikit jengkel pada Arashi.
"Hey, bukankah jika meledak kau juga akan terkena dampaknya?"
Venom menyeringai, "Aku memiliki kulit keras jadi meski terkena ledakan super besar hal itu tak masalah!! Aku tak akan terluka..." ucapnya dengan terus memperbesar cero itu.
Arashi terlihat tenang, "Yap, maaf membuatmu kecewa tapi kau harus ku hentikan..." iapun melompat ke punggung lawan dan mengarahkan tangan kanannya ke atas menyentuh cero itu.
"Hey, apa yang akan kau lakukan?"
"Sudah ku bilang, aku akan menghentikanmu..." ucap Arashi yang perlahan memusatkan energi pada telapak tangannya dan secara perlahan cero berukuran raksasa itupun membeku menjadi gumpalan es raksasa.
"Tidak mungkin!!!" Venom terkejut karena tekniknya membeku dan iapun tertimpa bola es raksasa itu.
"Khehehe..." Arashi tersenyum lebar penuh kebanggaan.
"Krak!!!" Bola es raksasa yang sebelumnya adalah cero itupun retak lalu hancur karena ulah Venom, "Bagaimana mungkin kau bisa menghentikannya??"
"Mudah saja!! Pada dasarnya cero adalah bola api yang sangat padat jadi membekukannya dengan Es Dewa jauh lebih mudah dari pada membekukan kobaran api biasa..."
"Khihihi... aku makluk campuran tak jelas tapi biar ku katakan padamu!! Aku adalah 'si pengacau'!!!" Ejek Arashi.
Venom yang geram langsung saja mengangkat satu tangannya ke atas, mengepalkan tangan, memusatkan energi pada satu titik, memukul dan melemparkan energi itu sekaligus, "Enyahlah dariku, makluk aneh!!!!"
Arashi segera mempertajamkan insting dan iapun melompat ke belakang, "Jbbllast!!" Pukulan tersebut mengenai tanah dan membuat tempat berpijak Arashi terbang ke udara.
"Khehehe..." Arashi tersenyum lebar nampak baik-baik saja, "Aku menyadari satu hal tentang dirimu!! Kau memiliki ketahanan fisik yang luar biasa dan insting yang tajam serta serangan yang mematikan tapi sayangnya pergerakanmu lambat..."
"Tutup mulutmu, bocah!!" Venom menghentakan kaki dan duri-duri tulang muncul dari tanah melesat ke arah Arashi.
Arashi memasang kuda-kuda dan dengan cepat meningkatkan energi, "Mode : God" iapun menggunakan wujud dewa es dan langsung menghentakan kaki sehingga bongkahan-bongkahan es melesat.
"DYYEESS!!!!" Duri-duri tulang beradu dengan bongkahan es dan terlihat sama kuatnya.
Arashi tersenyum lebar sementara itu Venom semakin geram.
"Jangan senang dulu, bocah!!!" Teriak Venom berlari secepat mungkin menerjang segala yang ada dihadapannya.
Arashi dengan senyum lebarnya berlari maju juga dan tanpa rasa takut menghadapi 'si iblis'
Venom melesatkan sebuah pukulan dengan segenap kemampuan dan seluruh kekuatannya, "DYYEESS!!!" Arashi berhasil menghindar dan pukulan itu hanya mengenakan permukaan tanah, ia melompat tinggi lalu menyentuh punggung lawan dan perlahan membekukannya.
"Tidak akan berhasil!!!!" Venom segera berbalik menghancurkan lapisan es yang membekukan dirinya, iapun menggila dengan serangan bertubi-tubi pada Arashi.
Arashi tetap tenang dan terus mempertajamkan insting untuk menghindari serangan mematikan itu, "Sekali terkena serangannya maka aku akan berakhir..." gumamnya dalam hati sambil menghindar.
Sesekali Arashi melesatkan serangan balik dengan membekukan lawannya akan tetapi dengan kekuatannya Venom dapat melepaskan diri dari pembekuan.
"Hahahahaha!!! Kau tak akan pernah bisa mengalahkanku dengan serangan lemah seperti ini dan juga berhentilah menghindar, sialan!!!!" Teriak Venom dengan terus menghindar.
Arashi menyeringai dan melompat mundur agak jauh, "Sayangnya bukan aku yang akan mengalahkanmu..."
"Apa maksudmu?" Venom yang tak mengerti berhenti sejenak.
"Bukan aku yang mengalahkanmu tapi kamilah yang akan mengalahkanmu!!!!!" Teriak Arashi dengan meletakan dua telapak tangannya ke permukaan tanah sehingga gelombang es yang sangat besar melesat.
"DYYEESS...!!!" Venom terhantam gelombang es raksasa itu dan sebagaian tubuhnya membeku, "Sial..." ia mencoba membebaskan diri.
"Hahahahaha...!!!!" Leona berlari secepat mungkin dengan kobaran api diseluruh tubuhnya, "Jbbllast!! Jbbllast!!" Iapun memukuli lawan dengan tinju api.
"Kau memang memiliki kulit keras tapi apa jadinya jika tubuhmu didinginkan lalu dipanaskan secara mendadak..." teriak Leona dengan terus memukul dengan tinju api.
"Krak!!!" Secara perlahan kulit keras Venom retak, "Apa!!!!" Iapun terkejut dan segera memulihkan diri dengan kemampuan regenerasi.
"Tidak akan ku biarkan kau pulih!!!" Teriak Arashi yang berlari mendekat lalu juga melesatkan tinju beku.
Venom terkena serangan beku dan panas sehingga tubuhnya yang keras perlahan retak-retak, "Sialan!!!" Iapun menghempaskan keduanya dengan hantaman siku.
Keduanya terhempas akan tetapi disaat bersamaan Litha muncul dengan wujud manusia serigala, "Biar ku hancurkan dia!!!!" Teriaknya dengan melesatkan cakaran-cakaran angin pemotong.
Ya, tubuh beku Venom terpotong-potong akan tetapi ia berusaha tetap memulihkan diri.
Leona segera mengangkat tubuh Arashi dan melemparkannya, "Majulah 'si pengacau'!!!!"
Arashi melesat cepat dan menembus tubuh keras lawan, "Kita menang!!!" Ucapnya yang telah menggenggam jantung Venom.
"Ugh!!!" Venom terjatuh ke tanah bersimbah darah.
Bersambung Ke Kosuke Arashi Chapter 965 : Satu Lembar