
Sebelum membaca karya ini author minta tolong untuk pada kalian untuk 'like' ataupun 'vote' agar meningkatkan ringking cerita ini.
Ya, selamat membaca karya ini dan author ucapkan terima kasih pada pembaca setia 'Kosuke Arashi'
Hanya itu pesan dari author sekian dan terima kasih.
Selamat membaca!!
*****
Kapal super besar dengan penuh muatan pengungsi itupun dihantam oleh gelombang ombak super besar yang membuatnya kehilangan keseimbangan, miring, lalu terbalik dan perlahan tenggelam.
Kejadian mendadak itupun membuat semua penumpang dalam kepanikan karena berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing.
"Ibu!!!!!!" Teriak Ryusuke dan adik kecilnya dalam pelukan sang ibu.
Sang ibu yang juga dalam kepanikan segera membawa kedua anaknya keluar, "Jangan khawatir dan jangan panik!! Semuanya akan baik-baik saja!!" Ucapnya dengan melompat ke laut bersama dengan kedua anaknya sebelum kapal tersebut benar-benar tenggelam.
"Bllup... Bllup..." gelombang laut membuat ketiganya terombang-ambing tak karuan.
"Toollong!!!"
"Kita akan mati!!"
"Selamatkan kami!!" Teriak kedua bocah itu yang histeris.
Tetapi dalam kepanikan yang tak jelas selamat atau tidak itu, ibu Ryusuke memeluk erat kedua anaknya dengan meneteskan air mata penuh kesedihan, "Kalian pasti selamat!! Dengan nyawaku kalian akan ku selamatkan!!"
"Ku mohon tuhan!! Beri keselamatan pada kedua anakku!!!!!" Teriaknya penuh kedukaan dengan berdoa.
Kedua anak kecil itupun seketika terdiam karena untuk pertama kalinya mereka berdua melihat ibu mereka menangis dalam kesedihan.
Sebagai anak kecil Ryusuke mulai memahami keadaan yang ada, "Kami kehilangan ayah tapi ibu tak menangis, kami kehilangan rumah ibu tak bersedih, ia kelaparan tapi masih tersenyum..."
"Ini pertama kalinya aku melihat ibu menangis..." gumam Ryusuke kecil dalam hati, iapun teringat kenangan pahit yang selalu menimpa ibu mereka lalu secara perlahan kedewasaannya muncul.
Situasi belum berubah mereka masih terjebak dalam badai yang luar biasa hebat.
Petir mengglegar, hujan lebat lalu gelombang ombak tinggi menjulang membuat mereka terombang-ambing dilautan dalam kondisi tak karuan.
Namun sang ibu berjuang mati-matian dalam musibah itu dan kedua anaknya dalam kondisi pasrah saat melihat perjuangan ibu mereka.
*****
Waktupun terus berjalan dan roda takdir perlahan menunjukan arahnya.
Sang surya perlahan menyinari lautan yang tenang lalu nampaklah sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang letaknya ditengah samudra.
Ya, ketiganya terdampar dipulau tersebut.
Sang ibu masih memeluk kedua anaknya tetapi Ryusuke perlahan sadar, "Ugh!!!" Ia yang membuka matanya menatap ke langit biru.
"Dimana aku?" Ucapnya saat melihat hijaunya pulau dan iapun mencoba mengingat-ingat kejadian mengerikan semalam, "Benar, sekali!! Kapal terbalik lalu tenggelam!!!"
Iapun melepaskan diri dari dekapan sang ibu yang belum tersadar, sifat kekanak-kanakannya muncul dan iapun segera berlari ke pulau, "Yeah!!! Kita selamat!! Kita berhasil hidup!!! Kita sampai ditempat yang sangat indah!!" Teriak Ryusuke kecil yang kegirangan.
"Hey, ibu!!! Airi!!!! Lihatlah kita sudah sampai dipulau!! Dan akupun ingin tau apakah ada kehidupan ditempat ini!!!" Teriaknya pada ibu dan adiknya yang masih ada ditepian pantai.
Teriakannya itu tak dijawab lalu iapun segera kembali ke tepi pantai lagi.
Disana Ryusuke langsung mengalami shock berat ketika adik kecilnya menangis dengan suara keras dalam kesedihan.
"Hiks... ibu kita sudah sampai!! Tapi mengapa kau tak bangun juga..." ucap gadis kecil itu dengan berlinang air mata.
Sang ibu tak menjawab, tubuhnya terbujur kaku, kulitnya berubah warna menjadi pucat dan ia tak bergerak atau bahkan tak bernafas.
Ryusuke kecil paham betul bahwa sang ibu telah tiada, "Tiiidddaaak....!!!!! Kenapa!! Kenapa!!! Kenapa ibu harus pergi!!!!!" Teriaknya sekeras mungkin yang tak mempercayai keadaan yang terjadi.
Dua anak kecil yang selalu dalam dekapan kasih sayang seorang ibu itu mengalami kedukaan yang sangat luar biasa.
Ya, mereka telah kehilangan hal berharga untuk selama-lamanya tetapi hal itupun baru permulaan karena kerasnya dunia baru akan dirasakan oleh kedua bocah itu.
Tragedi yang baru segera dirasa setelah keduanya menyadari bahwa mereka terdampar dipulau tak berpenghuni.
Keduanya memakamkan ibu mereka dipulau tak berpenghuni itu lalu sambil menunggu bantuan datang mereka berdua mencari makanan dihutan yang letaknya ditengah-tengah pulau.
"Kita tak boleh terus larut dalam kesedihan meski ibu kita telah tiada tapi kita harus tetap melanjutkan hidup..."
"Tapi... aku tetap tak bisa hidup tanpa ibu..." ucap gadis kecil itu yang tampaknya belum bisa melepaskan kepergian ibunya.
"Hmm..." Ryusuke sebagai seorang kakak mencoba mencari cara untuk menghibur adiknya, "Tenang saja!! Meski itu menyedihkan tapi kita harus melepaskan kepergian ibu!!! Dia akan sedih jika kita juga sedih..."
"Hiks..." gadis kecil itupun malah menangis dan meneteskan air mata.
Ryusuke malah menjadi kebingungan, iapun mengusap air mata adiknya, "Jangan menangis!! Kalau kau menangis maka aku akan ikut menangis dan bila hal itu terjadi maka siapa yang akan tertawa..." ucapnya dengan berlinang air mata.
"Tapi..."
"Apa kau tau, Airi? Hidup ibu kita sangatlah berat tapi ia selalu tersenyum dan pada akhirnya akupun menyadari bahwa ia tersenyum untuk kita bukan untuk dirinya sendiri..."
"Ia akan sangat sedih jika mengetahui kita tak tersenyum jadi ku harap kau bisa tersenyum lagi demi ibu dan demi diriku..."
Gadis kecil itupun perlahan paham dan iapun mengusap air mata kakaknya, "Maafkan aku, kakak!! Mulai sekarang aku akan berusaha tak menangis lagi dan aku akan tetap tersenyum meski hal buruk seperti apapun terjadi..."
"Emm..." ucap Ryusuke dengan mengangguk dan tersenyum.
Sejak saat itu Ryusuke merasa harus menggantikan peran ibu demi adiknya Airi.
Meski pulau itu tak berpenghuni tapi mereka berdua dapat hidup dengan memakan buah-buahan yang ada dihutan sambil menunggu bantuan penyelamat datang.
Hari-hari berlalu dan tak terasa sudah 3 bulan lamanya mereka berdua bertahan dipulau tak berpenghuni itu.
Suatu ketika sifat manja si adik kembali muncul, saat itu hari mulai senja, "Kakak, aku bosan makan buah dan umbi-umbian melulu sesekali aku ingin makan daging..."
"Hmm... bagaimana dengan ikan?"
"Aku juga bosan dengan ikan!!!! Pokoknya aku mau daging!!!!!" Teriak si adik merengek.
"Tapi disini tidak ada daging..."
"Pokoknya!! Aku tak mau tau!!"
Ryusuke kebingungan pada sikap adiknya akan tetapi ia tak ingin adiknya bersedih, "Baiklah, nanti malam kita akan makan daging dan entah bagaimana caranya aku akan mencari daging..."
"Janji?"
"Tentu saja aku berjanji!!!!" Ucap Ryusuke yang bahkan tak tau bagaimana caranya ia menepatinya.
Kemudian Ryusuke pergi sementara si adik menunggu dipondokan yang mereka bangun.
Haripun mulai gelap akan tetapi Ryusuke belum menemukan cara untuk mendapatkan sepotong daging.
"Dimana aku bisa mendapatkan daging ditempat tak berpenghuni seperti ini?" Ucapnya yang bingung, "Jika aku kembali dengan tangan kosong Airi pasti akan kecewa dan ia pasti akan sedih..." iapun memutar otak mencari cara untuk mendapatkan daging.
Bersambung Ke Kosuke Arashi Chapter 987 : Alasanku
******
Pesan Author : kalau gak mau Vote gak papa sih tapi tolong like atau setidaknya komen meski hanya "lanjut" "next" "bagus" atau "up" yang penting bisa support karya ini
Yang intinya komenlah meski satu huruf dan bisa buat autor semangat.
Bukan niatnya maksa tapi author ingin tau aja siapa yang berkontribusi
Trima kasih atas perhatiannya.
*****