
Setelah menyerahkan jasad Aldios 'sang naga lava' ke pada pihak dewa, ketiganya lalu pergi meninggalkan ruangan para dewa tanpa meninggalkan sepatah katapun.
Mereka buru-buru keluar bangunan yang merupakan pusat pemerintahan di Aera itu.
"Cih, para dewa itu membuatku kesal!! Bagaimana tidak? Mereka membangkitkan seseorang yang telah mati hanya untuk diintrogerasi..." ucap Utsugi Reina, "Mereka sama halnya menghina kematian orang lain saja..."
Tuan Kai muda nampak tenang akan tetapi ia merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Reina, "Meskipun cara mereka tak benar tapi mereka melakukan hal itu demi kedamaian Aera..."
"Kita tak boleh menyalahkan mereka!! Kita para iblis juga melakukan hal yang sama buruknya dengan mereka untuk menjaga kelompok kita..." ucap Tuan Kai muda.
'Si akhir' terdiam dan hal itu tak wajar sehingga Tuan Kai muda dan Reina merasa janggal.
"Kakak, mengapa kau diam saja? Apa ada hal yang mengganjal dipikiranmu, kak?"
"Benar, biasanya kau orang yang emosian jadi melihatmu diam seperti itu membuatku tak enak saja!! Kau seperti jadi orang lain saja..." sahut Reina.
'Si akhir' yang terdiam menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, "Hah..." iapun mengutarakan apa yang ada didalam isi kepalanya saat ini, "Aku hanya berfikir, para dewa ataupun kita para iblis melakukan hal yang buruk untuk menjaga kedamaian..."
"Lalu meskipun itu hal yang buruk tapi kita tak bisa menentang sistem yang telah ada sehingga kita terpaksa menjalankan kedamaian diatas penderitaan orang lain..."
"Ya, suatu saat saja aku ingin melihat ke-enam ras berjalan berdampingan tanpa memandang rendah satu sama lainnya..."
Reina tersenyum tipis dan berkata, "Pemikiranmu kekanak-kanakan akan tetapi aku suka!! Ya, ku harap cita-cita mu itu terwujud..."
"Hey, jangan mentertawakanku..." ucap 'si akhir' dengan wajah tersipu malu.
"Kau memang kekanak-kanakan, kak!! Ya, jika kakak mampu melampaui Ksatria Emas Legendaris ku yakin kakak bisa mewujudkan mimpi itu..." ucap Tuan Kai muda.
"Cih..." 'si akhir' semakin semangat melihat dukungan dari keduanya dan iapun berkata dengan semangat, "Yosh!!! Mari pulang ke rumah, istirahat, makan-makan lalu berpetualang lagi!!"
"Ya...!!!" Jawab keduanya serentak dengan mengangkat tangan kanannya masing-masing.
Perjalanan pulang dimulai.
Lalu meski membutuhkan waktu beberapa hari tapi akhirnya mereka sampai dikampung halaman para iblis.m
Kampung halaman para iblis sendiri berada disebuah pulau yang letaknya ditengah samudra.
Pulau itu cukup besar karena mampu menampung 10.000 iblis didalamnya.
Lalu disalah satu tempat dipulau itu sebuah kejadian tengah terjadi.
"Tap... tap... tap..." malam hari, dengan langkah perlahan Utsugi Reina berjalan menuju tepian sebuah sungai.
"Hmm... aku tak tau apa yang ia inginkan tapi mengapa ya Kai mengajakku ke tempat ini malam-malam?" Gumamnya dalam hati.
Iapun terus berjalan hingga kemudian sampai ditempat yang dijanjikan.
Ya, ditempat yang telah dijanjikan Tuan Kai muda telah menunggunya.
"Anu, kenapa kau menyuruhku ke tempat ini?"
Tuan Kai muda tersenyum tipis, "Aku sudah menunggumu dan butuh waktu lama untuk memberanikannya..."
"Hah?" Reina tak mengerti.
"Ayo, ada hal yang ingin ku tunjukan padamu!!" Ucap Tuan Kai muda yang kemudian naik ke sebuah perahu.
"Kita mau ke mana?"
"Naik saja..."
Meski ragu pada akhirnya Reina menuruti apa yang diinginkan oleh Tuan Kai muda.
Lalu setelah Reina berada diatas perahu tersebut Tuan Kai muda mulai mendayungnya.
"Tunggulah sejenak dan tempat ini akan berubah menjadi tempat terindah dipulau ini..." ucap Tuan Kai muda saat berada ditengah-tengah aliran sungai.
"Apa!!" Reina tak mengerti.
"Lihatlah ke atas!!"
Reina menatap ke atas dan melihat sang rembulan yang tengah menampakan diri dengan ukuran sangat besar, "Indah sekali!!" Ucapnya ketika bulan tersebut bersinar menerangi gelapnya malam.
"Ditempat ini ada kunang-kunang?" Ucap Reina terheran-heran.
"Benar sekali!! Cahaya terang bulan, suasana heningnya malam, tenangnya air sungai lalu kunang-kunang menjadikan tempat ini sebagai tempat terindah dipulau ini..."
"Emm...!!" Ucap Reina dengan mengangguk setuju, iapun masih tak percaya akan keindahan tempat itu, "Anu... kenapa kau membawaku ke tempat ini?"
"Itu karena aku menyukaimu..." ucap Tuan Kai muda secara spontan, "Aku telah lama memendam perasaan ini dan baru sekarang aku memberanikan diri untuk mengungkapkannya..."
"Lalu untuk mengungkapkan isi hatiku, aku harus memilih saat yang tepat dan setelah diperhitungkan ku rasa tempat ini cocok untuk mengungkapkan perasaanku..."
"Ya, aku sudah merencanakannya jauh-jauh hari..."
Reina terdiam membisu.
"Jadi apa jawabanmu?" Ucap Tuan Kai muda dengan penuh harap.
Reina masih membisu dan kebingungan untuk menjawab, "A-aku..." ia terbata-bata, "Ada seseorang yang telah mengisi hatiku..."
"Jadi aku tak bis..."
"Bercanda!!!!" Ucap Tuan Kai muda secara mendadak setelah mendengar jawaban dari Reina.
"Heeeehh??" Reina terkejut dan merasa dipermainkan, "Apa maksudmu?"
"Ku bilang bercanda!!!" Tuan Kai muda mengulangi ucapannya agar Reina percaya, "Kita itu sudah menjadi rekan sejak lama dan aku hanya ingin mengujimu saja..." ucapnya yang ingin menyembunyikan isi hatinya yang tertolak.
"Eeeehh...!!! Begitu rupanya!! Kau benar-benar membuatku terkejut saja..."
"Emm... ngomong-ngomong siapa orang yang beruntung telah mengisi hatimu itu?" Meski telah dilanda kesedihan karena tertolak tapi Tuan Kai muda memberanikan diri untuk bertanya.
Reina tersipu malu, ia yang polos bahkan telah lupa pada topik pembicaraan yang sebelumnya, "Hahaha... karena kau yang bercanda itu aku jadi keceplosan..." ucapnya dengan tersenyum lebar.
"Ayolah, katakan rahasia itu padaku!! Bukankah kita itu rekan jadi sudah sewajarnya berbagi kebahagiaan?"
"Hahahaha..." Reina malah tertawa dan semakin malu-malu, "Cepat atau lambat, kau juga nanti tau sendiri!!"
"Begitu, ya?" Tuan Kai muda menundukan wajah dan jadi murung.
"Eeehh? Kenapa?"
"Tidak ada apa-apa!!" Mendadak Tuan Kai muda merubah ekspresi wajahnya jadi ceria agar Reina tak curiga pada kesedihannya, "Semoga kau bahagia..." ucapnya dengan tersenyum meski hal itu dibuat-buat.
"Emm..." Reina mengangguk dan tersenyum.
Hembusan angin malam menerpa wajah
Reina yang tersenyum lalu cahaya rembulan menerangi mereka dan hal itu semakin meninggalkan luka kesedihan dihati Tuan Kai muda.
Tuan Kai muda lengah dan hal itu membuat perahu yang keduanya naiki kehilangan keseimbangan lalu terbalik, "Bluurr...!!!" Mereka berdua jatuh ke sungai.
Keduanya kemudian berenang ke tepian sungai.
"Hachu, dingin sekali..." gerutu Reina.
Tuan Kai muda keluar dari sungai, ia terdiam seakan tak merasakan apapun, "Reina, kau pulanglah dulu!! Ada hal yang ingin ku lakukan sebelum pulang..."
"Kau yakin tak kedinginan?"
"Ya, aku ini iblis api..."
"Hmm... baiklah..." ucap Reina yang percaya begitu saja dan iapun bergegas pulang lebih dahulu.
Tuan Kai muda yang tertolak berdiri sendirian ditepian sungai, cahaya rembulan meneranginya, kunang-kunang berterbangan disekitarnya, angin malam berhembus pelan menambah kesunyian.
Ia yang basah kuyup nampak sangat sedih, "Sialan!!!!" Jeritnya dalam hati ditengah kesunyian malam.
Sang iblis api terkuat merasakan patah hati...!!!!
Bersambung Ke Kosuke Arashi Chapter 1150 : Kebencianku II