Kosuke Arashi 2

Kosuke Arashi 2
Chapter 1150 : Kebencianku II


Setelah ditolak secara tak langsung oleh Reina, Tuan Kai muda bergegas pulang kembali ke rumah dalam kondisi pakaian basah kuyup.


Ia berjalan pelan melewati pepohonan hutan, suasana malam dan angin berhembus pelan tak membuatnya kedinginan karena ia merupakan iblis tipe api.


Ya, dengan semangat yang telah hilang Tuan Kai muda bergumam dengan suara pelan, "Ekspresi seperti apakah yang harus ku tunjukan padanya besok?"


"Ya, dia menganggapku hanya bercanda dan seolah-olah tak ada yang terjadi..."


"Aku bisa menunjukan raut wajah seperti biasa bila bertemu Reina lagi besok..." ucapnya yang dalam keadaan bingung.


Tuan Kai muda terus berjalan digelapnya malam dengan bantuan cahaya rembulan.


Lalu tak butuh waktu lama iapun sampai didepan pintu rumah akan tetapi Tuan Kai muda terdiam mematung meski sudah berada didepan pintu rumah.


Dari jendela ia melihat sang kakak sedang duduk semeja membicarakan suatu hal penting, "Jarang sekali ayah pulang!! Apa ada hal yang ayah ingin bicarakan dengan kakak?" Pikirnya yang kemudian memilih menguping pembicaraan mereka dulu dari pada masuk ke dalam rumah.


*


Didalam rumah.


'Si akhir' duduk semeja dengan ayahnya yang merupakan salah satu dari Enam Pendiri.


Ya, ayah Tuan Kai muda merupakan pendiri ras iblis.


"Tumben banget ayah pulang?" Ucap 'si akhir' dengan santainya sambil menengguk minuman kopi yang ada diatas meja tepat dihadapannya.


"Memang kenapa kalau aku pulang? Bukankah rumah ini milik ku?"


"Ya, tak apa sih!! Hanya kejadian langka saja, ayah yang biasanya sibuk pekerjaan yang jarang pulang tiba-tiba ada dirumah..."


"Lalu rumah ini memang milik ayah tapi ayah jarang pulang dan kamilah yang mengurus rumah ini..." ucap 'si akhir' dengan entengnya.


Sang ayah sedikit jengkel, "Jangan terus menerus mengusik keburukanku..."


"Ya, ya, maaf deh..." 'si akhir' dengan entengnya tanpa rasa bersalah, "Jadi ada urusan apa yang membawa ayah pulang ke rumah?"


Sang ayah mendadak memasang ekspresi serius, "Saat ini sistem pemerintahan dan kekuasaan bangsa iblis sedang tak baik-baik saja..."


"Mereka kurang suka pada caraku memerintah dan banyak dari kalangan bangsawan iblis yang menolak pandangan politik ku bergabung dan tunduk dibawah Kekaisaran Dewa..."


'Si akhir' merespon datar, "Yap, para dewa selalu memandang rendah bangsa lain terutama bangsa iblis jadi aku tak bisa menyalahkan bangsawan iblis yang tak suka pada cara ayah memerintah..."


"Hmm... tapi kenapa ayah membicarakan hal itu padaku?"


"Pemimpin ras iblis dipilih dari iblis yang terkuat lalu banyak bangsawan iblis menganggap ayah tak layak menjadi pemimpin..."


"Anggapan mereka bahwa ayah ini lemah dan mereka beranggapan bahwa alasan ayah bisa menjadi pemimpin karena dibelakang ayah berdiri petarung-petarung kuat seperti Naga Emas dan Dewa Kematian..."


"Yang intinya para bangsawan ingin menggulingkan kepemimpinan ayah..."


"Mereka ingin mencari pemimpin yang memiliki kekuatan individu yang kuat tanpa ada orang-orang yang berdiri dibelakang menyokongnya..."


'Si akhir' terdiam dan paham, "Kalau begitu bukankah itu hal simpel? Ayah tinggal kalahkan saja setiap penantang yang ingin mengambil posisi ayah?"


"Anakku, politik itu tak sesimpel itu..."


'Si akhir' mendengarkan dengan seksama.


"Aku bisa saja mengalahkan semua penantang yang ada akan tetapi perebutan kekuasaan antar ras iblis hanya akan membuat persatuan kita retak..."


"Lagi pula pertarungan memperebutkan kekuasaan sama halnya menunjukan pada dunia kekuatan ras iblis dan hal itu harus sangat dihindari..."


"Kenapa?" Tanya 'si akhir' tak mengerti.


"Kekaisaran Dewa menganggap bangsa iblis bagaikan saingan saja jadi apa kau pikir mereka akan diam saja setelah mengetahui kekuatan bangsa iblis yang telah berkembang?"


"Skenario terburuk bila ayah mengalahkan semua penantang maka akan muncul kerenggangan hubungan antara kita dan Kekaisaran Dewa jadi untuk itu ayah ingin memberantas benih-benih perselisihan sebelum hal itu terjadi..."


'Si akhir' mengangguk, "Aku paham..." dan ia pun bertanya, "Tapi untuk apa membicarakan hal semacam politik rumit seperti itu padaku?"


"Aku dan 6 pendiri telah menyepakati satu hal yaitu kami ingin kau menjadi pemimpin bangsa iblis yang baru..."


"Apa!!" Sontak 'si akhir' dan Tuan Kai muda yang menguping terkejut.


"Tidak..."


"Tapi kenapa aku? Jika pemilihan pemimpin didasari oleh kekuatan maka bukankah Kai lebih cocok dari pada aku?" 'Si akhir' agak keberatan.


"Kai memang kuat akan tetapi ia tak lebih kuat dari pada dirimu..."


"Meski kau sembrono tapi bangsa iblis mengakui betapa kuatnya dirimu..." jelas sang ayah.


"Aku sering bermasalah dengan para dewa jadi bukankah hal itu akan jadi masalah politik yang lebih besar nanti?"


"Dirimu yang sekarang berbeda dengan dirimu yang nantinya akan jadi pemimpin bangsa iblis!! Kau bisa mulai membuat hubungan yang baik dengan para dewa nanti bila jadi pemimpin nanti..."


"Hmm..."


"Baiklah, apakah kau mau jadi pemimpin bangsa iblis selanjutnya?"


"Aku menolak!! Menjadi pemimpin tak sesuai dengan gayaku..."


"Ini bukan masalah keinginanmu atau bukan tapi ini demi kedamaian dunia jadi coba pikirkan dahulu..."


"Hmm..." 'si akhir' terdiam dan berfikir, "Beri waktu aku untuk berfikir, sehari atau dua hari aku akan membuat keputusan..."


"Baiklah kalau begitu..."


*****


Lalu diluar rumah.


Tuan Kai muda malah berlari menjauhi rumahnya sendiri.


"Sialan!!! Padahal aku sudah berjuang sangat keras agar nantinya suatu saat terpilih menjadi penerus ayah...!!"


"Tapi mengapa malah kakak yang terpilih?"


"Mengapa? Mengapa? Mengapa?"


"Mengapa dia yang pemalas dan tak serius malah mendapatkan peran yang seharusnya jadi milikku...!!"


"Dunia ini tak adil!!!" Gumamnya dalam hati yang berlari tanpa arah tujuan.


Tuan Kai muda putus asa karena apa yang diinginkannya tak sesuai harapan.


*****


Beberapa hari berlalu...


Untuk menenangkan diri Tuan Kai muda tak pulang ke rumah.


Sore hari, ia tengah berada ditepian pantai menatap gulungan ombak dilaut lepas.


"Hah..." Tuan Kai muda menghela nafas panjang dan setelah mendapatkan ketenangan iapun memutuskan, "Ya, apa boleh buat!! Demi kedamaian dunia ini bila kakak ku harus jadi pemimpin bangsa iblis maka aku harus mendukungnya..."


"Kakak ku itu ceroboh jadi aku akan selalu berdiri disampingnya dan jadi penasehat didalam ia memimpin..." ucapnya dengan menatap matahari yang tenggelam.


"Aku harus segera pulang karena ku yakin semuanya khawatir padaku..." Tuan Kai muda bergegas pulang.


Lalu meski butuh waktu agak lama iapun sampai kembali pada rumahnya sendiri.


"Hah..." Tuan Kai muda yang berdiri didepan pintu menghela nafas panjang untuk menyiapkan mental, "Aku pulang!!" Ucapnya dengan mengetuk pintu akan tetapi ia menyadari sesuatu, "Eehh?? Sepertinya ada tamu??" Ucapnya ketika mendengar sesuatu.


Tuan Kai muda melihat ke arah jendela siapakah tamu mereka, "Tidak mungkin!!!" Matanya seketika terbelalak dan seakan ia tak ingin mempercayai apa yang tengah terjadi.


Ya, hal yang sangat tak diinginkan Tuan Kai ada didepan matanya.


Ia melihat sang kakak dan wanita yang sangat dicintainya sedang bermesra-mesraan, berpelukan dan bercumbu diruang tamu rumah.


"Ini mustahil!!!!" Gumam Tuan Kai muda yang hatinya hancur.


Awal masalah akan segera tiba...!!!!


Bersambung Ke Kosuke Arashi Chapter 1151 : Kebencianku III