Kosuke Arashi 2

Kosuke Arashi 2
Chapter 1001 : Perang Besar


Sebelum membaca karya ini author minta tolong untuk pada kalian untuk 'like' ataupun 'vote' agar meningkatkan ringking cerita ini.


Ya, selamat membaca karya ini dan author ucapkan terima kasih pada pembaca setia 'Kosuke Arashi'


Hanya itu pesan dari author sekian dan terima kasih.


Selamat membaca!!


*****


Disaat situasi berubah menjadi kritis, Naga Emas Legendaris menampakan diri.


Dengan cakar dikedua kakinya ia menghantam pohon raksasa itu lalu menariknya ke atas hingga tercabut sampai ke akarnya.


Kemudian ia melemparkannya ke atas lagi lalu berakhir dengan merobek-robek pohon raksasa itu menggunakan taring-taringnya yang tajam.


"WOOAARRGGH...!!!!" Sang Naga Emas meraung lagi dan mengibaskan sayap keemasan yang menyilaukan.


"Apa yang terjadi??!!!" Arashi yang melihatnya hanya bisa terdiam, terbelalak penuh dengan kekaguman.


"Itu adalah pemimpin pertama Pasukan Bayangan, Sang Naga Emas Legendaris..." ucap Tuan Kai.


"Dia besar sekali!!"


"Ya, dia merupakan legenda dan juga sisa-sisa terakhir dari era purba..." ucap Tuan Kai dengan penuh rasa bangga.


"Ras purba?" Arashi teringat pada ukuran tubuh ayah angkatnya Asamaru yang merupakan siluman anjing tapi ukurannya sangat besar dan sangat kuat sampai bisa mengalahkan 5 'raja iblis' sekaligus.


Arashi bergumam dalam hati, "Aku tak bisa membayangkan betapa mengerikan era purba itu..."


*****


Naga Emas dan pohon raksasa yang hancur menjadi beberapa bagian itu secara perlahan menyusut kembali ke ukuran normal.


"Ugh!!" Va'al dalam kondisi mengenaskan dimana tubuh, kaki, tangan dan kepalanya terpisah.


Tetapi meski hanya kepala ia malah tertawa lepas, "Hahahaha...!! Aku kalah!!! Wajar saja lawanku sang legenda!!!!"


Naga Emas berjalan ke arah Va'al yang tubuhnya terpisah-pisah itu, "Kau yang merupakan pewaris kekuatan hutan tak akan mati dengan mudah!! Luka-luka yang kau derita seperti ini tiada apa-apanya..."


Va'al menatap tajam ke arah Naga Emas, "Tuan Naga Emas yang legendaris suatu kebanggaan bisa bertarung denganmu..."


Naga Emas berkata dengan tegas, "Sudah cukup basa-basinya!! Ku peringatkan pada kalian untuk berhenti mengusik kami...!!!!"


"Hahahahaha...!!" Va'al tertawa lepas seolah tak peduli.


"Katakan pada bocah iblis yang dijuluki 'si akhir' itu untuk berhati-hati karena ia sedang berhadapan denganku..." ucap Naga Emas dengan tegas.


Va'al masih tertawa dan berkata dengan entengnya, "Kalianlah yang seharusnya berhati-hati!! Meski kau sekalipun menghalangi kami tetap saja kau akan hancur..."


"Ramalan mengatakan barang siapa yang menentang badai perubahan dari selatan pasti akan hancur!!! Berhati-hatilah Naga


Emas karena kamilah badai dari selatan itu!!!"


"Kami telah menguasai daerah selatan dan kami akan memulai perang besar!!!"


"Omong kosong!!!!" Naga Emas menjadi geram, ia menginjak kepala Va'al sampai hancur, "Selama aku masih ada kalian tak mungkin menang!!!" Ucapnya dengan sorot mata tajam.


Sang Naga Emas kemudian berjalan ke arah pasukan yang dipimpin oleh Masamune Hibiki, "Semuanya!!! Segera bereskan kekacauan ini!!"


"Baik!!!" Jawab mereka serentak.


Sang Legenda itu pun berjalan ke arah Arashi dengan sorot mata tajam lalu melewatinya begitu saja.


Sementara itu Arashi yang menatap sorot matanya hanya terdiam mematung, berkeringat dingin tak mengatakan apapun, ia bergumam dalam hati, "Dengan insting naga milik ku aku bisa merasakannya!! Dia sangat kuat dan tekanan energinya sangat dingin!!"


"Meski sama-sama ras purba seperti ayahku Asamaru dan setara dengan 'sang penguasa hutan' tapi jelas-jelas Naga Emas ini berbeda..."


"Sebenarnya apa yang ku takutkan darinya?" Gumam Arashi dalam hati yang merinding dengan keberadaan sang legenda itu.


Puing-puing berserakan disegala tempat dan markas Pasukan Bayangan itu benar- benar hancur.


Pertarungan melawan tiga raja iblis telah usai dan sekarang tinggal membereskan semua kerusakan yang ada.


*****


Yui, Airi dan Aihara yang merupakan ahli medis sangat kerepotan didalam merawat korban terluka yang jumlahnya banyak.


Meskipun begitu mereka bertiga nampak bersemangat dan sama sekali tak mengeluh didalam melaksanakan tugasnya.


Sementara itu Ryusuke yang terbaring disalah satu tempat tidur terlihat sangat sedih ketika melihat perjuangan rekan-rekannya, "Menyebalkan sekali!! Disaat rekan-rekan dan adik ku berjuang dengan keras aku hanya bisa duduk dan menonton mereka..."


"Aku bahkan tak melakukan apapun pada musuh yang datang!! Tanpa kedua lengan ku sekarang ini aku jadi beban yang tak berguna..." gumamnya dalam hati.


Arashi yang terbaring disamping tempat tidur Ryusuke meliriknya dan ia tau betul akan apa yang dirasakan oleh rekannya itu, "Kau pasti merasa tak berguna?"


"Jangan berkata seolah kau bisa membaca pikiran ku, sialan!!" Ryusuke yang mendengar apa yang dikatakan Arashi merasa diejeknya.


"Hah... aku tak mau merendahkan orang yang telah kehilangan dua lengannya dan yang ingin ku katakan adalah musuh sangat kuat dan bisa menyerang kapan saja jadi dengan kekuatan ku yang sekarang aku ragu bisa melindungi orang yang ku sayangi..."


"Jika kau merasa tak berguna maka hal itu bisa dimaklumi karena kau tak bisa bertarung lagi akan tetapi jika aku yang memiliki dua lengan dan tanpa memiliki cacat sedikitpun lalu tak dapat melindungi mereka yang lemah maka diriku pantas disebut sebagai orang tak berguna..."


"Ya, aku memang orang yang tak berguna!! Lihatlah, sekarang banyak orang yang menjadi korban dan hal itu terjadi karena kesalahan ku!! Aku yang lemah membuat mereka terluka..." ucap Arashi.


Ryusuke tersenyum dan menyadari sesuatu, "Berhenti menghiburku, sialan!!!!"


"Hahahaha...!! Aku tak menghiburmu!! Aku hanya mengatakan kenyataannya saja..." ucap Arashi dengan suara keras.


"Arashi, jangan berisik!!" Ucap Yui yang memperingatkan.


"Ups... maaf..." jawab Arashi dengan menutup mulutnya.


Ryusuke menjadi sedikit lega setelah mendengar apa yang Arashi katakan, ia kemudian duduk dan beranjak dari tempat tidurnya.


"Kau mau kemana?"


"Melakukan apa yang seharusnya dilakukan..."


"Maksudmu pergi ke toilet?" Tanya Arashi.


"Tidak, kau tak perlu tau dan jika aku beruntung mungkin aku bisa menghajarmu nanti..." jawab Ryusuke dengan tatapan tajam.


Arashi malah tersenyum lebar, "Khehehe... Kalau begitu selamat berjuang dan semoga beruntung..."


Ryusuke berjalan keluar dari tempat perawatan itu dan dengan langkah perlahan lalu badan masih sempoyongan ia bergerak menuju tujuannya dengan semangat.


Beberapa saat kemudian Airi yang sibuk merawat mereka yang terluka menyadari bahwa kakaknya telah tiada ditempat tidurnya, "Eehh...!!!" Ia sedikit terkejut.


Airi mendekati Arashi, "Hey, si pengacau, dimana kakak ku?"


"Hah? Aku tak tau!!"


"Jangan bohong!! Kau berada disampingnya jadi mana mungkin kau tak tau!!!" Airi curiga pada Arashi.


Arashi tersenyum lebar, "Jujur saja aku tak tau dia mau kemana akan tetapi firasatku mengatakan dia akan melakukan sesuatu yang sangat hebat..."


Airi menjadi khawatir setelah melihat senyuman licik Arashi, "Dia itu sedang terluka jadi seharusnya kakak ku itu istirahat..."


"Hahahaha...!!! Dasar bodoh, dia itu kakak mu dan bukan adikmu jadi berhentilah mengkhawatirkannya...!!!!" Ucap Arashi dengan suara lantang sehingga semua perhatian tertuju padanya.


Bersambung Ke Kosuke Arashi Chapter 1002 : Darah Sang Pendiri.


******


Pesan Author : kalau gak mau Vote gak papa sih tapi tolong like atau setidaknya komen meski hanya "lanjut" "next" "bagus" atau "up" yang penting bisa support karya ini


Yang intinya komenlah meski satu huruf dan bisa buat autor semangat.


Bukan niatnya maksa tapi author ingin tau aja siapa yang berkontribusi


Trima kasih atas perhatiannya.


*****