
Sebelum membaca karya ini author minta tolong untuk pada kalian untuk 'like' ataupun 'vote' agar meningkatkan ringking cerita ini.
Ya, selamat membaca karya ini dan author ucapkan terima kasih pada pembaca setia 'Kosuke Arashi'
Hanya itu pesan dari author sekian dan terima kasih.
Selamat membaca!!
*****
Peristiwa ini berawal dari 7 tahun yang lalu tepatnya 3 tahun setelah Cahaya Surga ditembakan ke pulau yang merupakan tempat tinggal para naga, Ohara
Senjata pemusnah masal yang ditembakan itu berdampak sangat besar bagi keseimbangan dunia salah satunya mampu merubah iklim.
Pada saat itu ditempat yang sangat jauh terdapat sebuah kerajaan kecil yang sedang mengalami perang saudara.
Perang yang tak menunjukan akhir lalu perubahan iklim yang terjadi membuat keadaan bagi kerajaan itu bertambah buruk baik dari segi politik maupun ekonomi.
Para penduduknya mengalami kelaparan yang luar biasa karena perubahan total yang mempengarui sumber daya alam.
Beberapa penduduk bahkan memutuskan untuk mengungsi atau pergi dari tempat itu dan berharap mendapatkan tempat yang lebih layak untuk hidup.
Lalu salah satu pilihan cara mereka untuk pergi adalah melalui jalur laut dan kala itu sebuah dipelabuhan para pengungsi saling berdesak-desakan untuk memasuki sebuah kapal besar penampungan
Tak hanya sesak, untuk keluar dari kerajaan itu mereka harus berjuang mati-matian dan saling bersaing dengan pengungsi lainnya.
Dalam kapal besar itu terdapat sebuah tempat yang sangat luas dimana seluruh pengungsi dikumpulkan, mereka ditempat itu berbagi tempat tidur, makan dan memperoleh kebutuhan yang lainnya.
Salah satu dari pengungsi itu adalah Ryusuke, adiknya dan ibunya.
Dalam kamp penampungan meski mengalami kesusahan yang luar biasa tapi Ryusuke kecil dan adik perempuannya tetap tersenyum ceria.
"Hey kakak, lihatlah aku bisa berhitung 1 sampai 10..."
"Benarkah?"
"Emm... tentu saja!!" Ucap adik Ryusuke yang mulai berhitung dan ia benar-benar membuktikannya.
"WAH..." Ryusuke jadi kagum pada kemampuan adik kecilnya dan iapun segera memberi taukan hal itu pada ibunya, "Ibu, kau tau? Sekarang ini Airi sudah sangat hebat!! Ia bisa berhitung 1 sampai 10..."
"Wah, kalau begitu bagus..." ucap sang ibu dengan tersenyum, "Ku yakin suatu saat kalian berdua bisa jadi pejabat atau orang besar ditempat baru kita nanti..."
"Emm..." Ryusuke menjawab dengan tersenyum lebar.
"Baiklah, ibu telah mengambil jatah makan kita jadi mari makan bersama..." ucapnya dengan membawa tiga porsi makanan
"Siap...!!!" Jawab keduanya gembira.
Meski 3 porsi makanan tapi jatah kedua anaknya jauh lebih banyak ketimbang milik sang ibu.
"Ibu tak makan?" Tanya Ryusuke.
"Aku masih lumayan kenyang..." jawabnya dengan tersenyum.
"Kalau begitu jatah ibu untukku saja..." ucap adik kecil Ryusuke.
"Boleh..." sang ibu memberikan jatah makanannya pada anak perempuannya meski ia membohongi gadis kecil itu, ia belum makan sama sekali.
"Apa ibu tak masalah?" Tanya Ryusuke kecil.
"Tentu saja!! Kalian anak kecil dalam masa pertumbuhan jadi kalian harus mendapat nutrisi sementara ibu adalah orang tua dan tak akan tumbuh meski makan banyak..."
"Emm... kalau begitu aku akan makan banyak dan tumbuh besar..." ucap Ryusuke kecil dengan ceria dan iapun ikut memakan jatah ibu mereka.
Ibu mereka membesarkan dua anak sendirian sebab sang ayah sudah lama mati dalam perang saudara dikerajaan.
Meski dalam kesulitan anak-anak kecil kurang memahami keadaan sementara itu orang tua mereka tetap berusaha menenangkan anak-anak mereka agar tetap ceria.
Dalam pengungsian selalu saja ada kisah duka tetapi tak jarang terdapat kisah penuh kasih dari orang tua untuk anaknya.
*
Kala itu roda takdir perlahan bergerak.
Ditengah samudra yang luas lalu malam yang gulita, kapal yang sesak penumpang itu mendapatkan musibah buruk.
Angin berhembus sangat kencang dan ombak-ombak menjulang tinggi menghantam kapal tersebut, badaipun datang.
"Kapten, kita dalam masalah!! Kita tak mungkin bisa menembus badai ini..." ucap salah pembantu nahkoda yang memberikan laporan.
Sang kapten yang mengemudikan kapal tersebut malah tertawa lepas dan berkata dengan sombongnya, "Hahahaha... kau pikir berapa lama aku menjadi kapten dikapal ini? 10 tahun lamanya jadi badai seperti ini bukan masalah bagiku..."
"Tenang saja!! Badai ini tak ada apa-apanya bagiku karena aku sudah sangat berpengalaman melawan badai..." ucap sang kapten malah menyombongkan pengalamannya.
"Tapi..." bawahan kapten tersebut masih terlihat khawatir.
Namun secara tiba-tiba alat penghubung informasi milik kapten berdering, "Ya, disini kapten kapal, ada masalah apa kau menghubungiku?"
"Kapten, kita dalam masalah ada kebocoran pada lambung kapal bagian kanan yang membuat air masuk tak terkendali dan hal itupun membuat sebagaian mesin mati..."
"Apa!!!!" Kapten kapal itu shock berat sampai-sampai menjatuhkan alat penghubung itu.
"Halo, kapten!! Apa kau masih disana? Berikan kami perintah!!" Terdengar suara dari alat informasi itu.
Pembantu nahkoda kapal yang berada disamping Kapten nampak khawatir, "Bagaimana ini kapten?"
"Bodoh!!!! Tentu saja semua terkendali!!!!!!" Bentaknya dengan emosi meski terlihat jelas ia sangat panik dengan air keringat membasahi pipi.
Secara tiba-tiba gelombang tinggi menerjang kapal penuh muatan itu dan membuatnya miring, "Kita akan tenggelam!!!! Kita akan mati...!!!!!" Teriak sang kapten yang sekarang tak dapat menyembunyikan kepanikannya.
*****
Sementara itu.
Ryusuke, adiknya dan ibunya tertidur pulas saling berpelukan meski beralaskan tikar pada lantai kapal yang dingin itu.
Ditengah-tengan suasana yang tenangan itu itu secara mendadak goncangan hebat terasa dan menimbulkan kepanikan luar biasa pada para pengungsi dan hal itupun diperburuk dengan listrik yang mati.
"Ibu..." seketika Ryusuke kecil terbangun dari tidurnya tetapi adiknya masih tertidur pulas.
"Tenang semua akan baik-baik saja..." ucap sang ibu dengan memeluk erat kedua anaknya meski ia sendiri juga khawatir.
Secara mendadak listrik hidup kembali dan membuat lampu kembali menyala lalu kamp pengungsi kembali terang.
Setelah semua dirasa normal kembali terdengar pemberitahuan dari pengeras suara, "Mohon maaf atas gangguannya, ini kapten kapal..."
"Saat ini kita sedang menghadapi badai laut jadi akan banyak mengalami guncangan tapi kalian jangan khawatir, semuanya terkendali dan ku pastikan kalian sampai tempat tujuan dengan selamat..."
Kata-kata pemberitahuan dari sang kapten itupun membuat semua pengungsi tenang.
Tetapi ditempat lain sang kapten sedang berdebat hebat dengan pembantu nahkoda kapal yang ada didekatnya.
"Apa yang kau lakukan kapten? Kau membohongi mereka semua dan kau akan membunuh mereka semua!!!!"
"Tau apa kau anak muda!!! Lebih baik membohongi mereka daripada membuat mereka panik!! Lebih baik membunuh mereka dalam ketenangan dari pada merenggut nyawa mereka dalam kegelisahan!!!!"
"Kau benar-benar biadap, kapten....!!!!!!" Teriak pemuda itu yang geram.
Mereka bertengkar hebat bahkan saling mencaci tetapi disaat yang tak terduga gelombang yang menggunung sangat tinggi datang dan langsung saja menghantam kapal penuh muatan itu.
"DYYEESS...!!!!!!!" Dalam sekejap saja kapal itupun menjadi miring, terbalik dan perlahan tenggelam.
Kejadian yang sangat buruk akan terus terjadi pada Ryusuke dan keluarga kecilnya
Bersambung Ke Kosuke Arashi Chapter 986 : Tragedi Masa Lalu II
******
Pesan Author : kalau gak mau Vote gak papa sih tapi tolong like atau setidaknya komen meski hanya "lanjut" "next" "bagus" atau "up" yang penting bisa support karya ini
Yang intinya komenlah meski satu huruf dan bisa buat autor semangat.
Bukan niatnya maksa tapi author ingin tau aja siapa yang berkontribusi
Trima kasih atas perhatiannya.
*****