
Sebelum membaca karya ini author minta tolong untuk pada kalian untuk 'like' ataupun 'vote' agar meningkatkan ringking cerita ini.
Ya, selamat membaca karya ini dan author ucapkan terima kasih pada pembaca setia 'Kosuke Arashi'
Hanya itu pesan dari author sekian dan terima kasih.
Selamat membaca!!
*****
Waktupun terus berjalan, sang surya perlahan tenggelam lalu hari berganti dengan senja kemudian selanjutnya malampun tiba.
Angin dingin berhembus dari arah laut.
Ditepian sebuah hutan seorang gadis kecil sedang duduk disamping hangatnya api unggun.
Ya, gadis kecil dengan rambut perak itu adalah adik Ryusuke yang bernama Airi.
Airi terlihat senang dan gembira meski kehilangan tempat tinggal, tak punya orang tua lalu terdampar dipulau kecil tanpa penghuni yang letaknya ditengah samudra.
Ia merasa sangat senang karena hidup dengan kakaknya yang sangat dicintainya.
"Emm... kakak kok lama sekali, ya?" Ia mulai jenuh menunggu.
"Ku harap ia benar-benar membawakan ku sepotong daging..." ucapnya dengan penuh harap sambil mengarahkan kedua telapak tangannya pada hangatnya api unggun, "Ya, aku tak peduli daging apakah itu tapi asalkan sebuah daging akupun tak akan protes..."
Cuacah saat itu sedang bersahabat karena sang bulan bersinar terang lalu bintang-bintang bertaburan digelapnya langit malam.
Lalu dari balik gelapnya bayangan sebuah semak-semak terdengar sebuah suara, "Eehh...!!!" Gadis kecil itupun terkejut dan agak takut dan iapun menatap ke arah sumber suara.
"Aku kembali!!!" Ucap Ryusuke yang ternyata menjadi sumber suara tersebut.
"Kakak..." teriak Airi kecil dengan berlari lalu memeluk sang kakak dari arah depan, iapun bertanya dengan ekspresi senang, "Apa kakak mendapatkan apa yang ku minta?"
Ryusuke menjawab dengan tersenyum, "Tentu saja sesuai dengan janjiku, aku membawakan daging untukmu..." ucap Ryusuke yang menunjukan beberapa potong daging yang dibawanya dengan tangan kanan.
"WAH...!!!!" gadis kecil itupun jadi berseri-seri, "Kakak, cepat!! Ayo kita bakar diapi unggun!!"
"Ya..." jawab Ryusuke yang terasa agak pucat.
Daging yang dibawa oleh Ryusuke dipanggang di api unggun lalu dimakan dengan lahap meski diolah seadanya.
Tergambar keceriaan di wajah gadis kecil itu setelah mendapatkan apa yang diinginkannya dan hal itupun membuat Ryusuke senang karena bisa melihat senyum bahagia dari si adik.
*****
Beberapa saat yang lalu...
Haripun mulai gelap akan tetapi Ryusuke belum menemukan cara untuk mendapatkan sepotong daging.
Ryusuke berjalan ditepi pantai, iapun terlihat bingung dalam menghadapi permintaan adiknya.
"Dimana aku bisa mendapatkan daging ditempat tak berpenghuni seperti ini?" Ucapnya yang bingung, "Jika aku kembali dengan tangan kosong Airi pasti akan kecewa dan ia pasti akan sedih..." iapun memutar otak mencari cara untuk mendapatkan daging.
"Bagai mana caraku menepati janjiku pada Airi? Padahal hanya makanan tapi seperti aku tak bisa mewujudkannya..." gumam Ryusuke yang sekarang ini duduk termenung pada sebuah karang penuh dengan kesedihan.
Ia mengalami jalan buntu tetapi secara tiba-tiba sebuah ide gila muncul dalam benak kepalanya.
Ryusuke segera pergi ke hutan mengambil serat pohon untuk dijadikan tali lalu kembali lagi ke tepi pantai, iapun mencari-cari batu karang yang paling tajam, "Aku sudah memutuskannya!!! Aku akan menjadi pengganti ibu bagi Airi!!!!" Dengan batu karang yang tajam iapun memotong lengan kirinya
"ARRRGGGH...!!!" Iapun berteriak kesakitan.
"Tak ku sangka rasa sakitnya akan seperti ini tetapi ini belum seberapa jika dibandingkan dengan Airi yang bersedih..."
Setelahnya darah Ryusuke tak henti mengalir tetapi dengan tali yang terbuat dari serat kayu iapun mengikatnya erat-erat agar darah tersebut berhenti mengalir.
Ryusuke menutup lengannya yang buntung dengan lengan bajunya yang panjang sehingga nantinya tak terlihat oleh Airi.
Dipantai itupun Ryusuke menguliti lengannya sendiri lalu memotongnya dengan batu karang yang tajam sehingga tak ketahuan bahwa itu daging dari tubuhnya sendiri.
Dan begitulah cara Ryusuke mendapatkan daging.
*****
Selama 3 bulan Airi hanya memakan buah-buahan seadanya dari hutan dan saat ini ia tengah menikmati makanan terlezat yang pernah dibawakan oleh kakaknya.
"Kakak, ini enak!!"
"Ya, kau bisa menghabiskannya..." ucap Ryusuke yang wajahnya mulai pucat
"Emm... tentu!! Aku akan menghabiskannya!! Aku tak akan pernah menyia-nyiakan makanan terenak ini!!!" Ucap gadis kecil itu yang tanpa tau kenyataan yang terjadi.
Ryusuke menjawab dengan senyuman tetapi beberapa saat kemudian iapun tumbang karena merasakan rasa sakit yang luar biasa, "ARRGGH...!!!"
"Kakak!!!!" Teriak Airi yang panik ketika melihat kakaknya mendadak pingsan.
Gadis kecil itupun segera membawa tubuh sang kakak kembali ke gubuk rumah yang telah mereka buat.
Ia merawat sang kakak yang tubuhnya sekarang ini melemah, Airi melakukan sebisa mungkin dan setelah empat hari berlangsung keadaan Ryusuku bukannya membaik tapi malah bertambah buruk.
"Kakak, ku mohon bangunlah!!" Ucapnya pada si kakak yang hanya bisa menutup mata.
Sang kakak masih tersadar tetapi kondisinya yang kritis membuatnya lemah sampai-sampai tak bisa membuka mata, iapun masih tersenyum, "Tidak apa-apa!! Aku akan segera sembuh jadi kau tak perlu khawatir!! Tetaplah tersenyum karena hal itu merupakan obat bagiku..."
Kata-kata itupun semakin membuat Airi khawatir pasalnya suhu badan Ryusuke mendadak menjadi panas sekali.
"Aku akan mengambilkan air untuk dijadikan kompres..." ucapnya dengan buru-buru lalu saat ia kembali Airi sangat terkejut saat mengetahui ikatan pada lengan kiri Ryusuke pada akhirnya terbuka.
"KYYYAAA...!!!!!!" Iapun menjerit sekeras-kerasnya, "Apa yang terjadi pada lengan kakak!!!!" Iapun sangat shock.
"Kakak, kemana lengan kirimu?" Tanya gadis itu tapi Ryusuke yang tak sadarkan diri tak mampu menjawab.
Gadis itupun teringat kejadian empat hari yang lalu dimana ia memakan daging yang lezat lalu kakaknya berakhir dengan pingsan.
"Jangan-jangan, waktu itu..." iapun mencoba menghubungkan berbagai hal dan mulai mengira-ira tentang berbagai hal, "Tidak mungkin!! Itu tidak mungkin..." ucap Airi yang tersadar dan hal itupun semakin membuatnya terpukul.
"Kenapa sampai segitunya kakak berbuat hal itu untukku?? Kenapa kakak sangat ingin aku terus bersedih?" Ucap Airi kecil yang saat ini menangis terisak.
Ryusuke tak menjawab dan kondisinya makin parah karena tak mendapatkan perawatan medis, "Hah... hah... hah..." nafasnya tak beraturan.
Hal itupun membuat Airi trauma berat, iapun teringat beberapa kenangan pahit dimasa lalu seperti kehilangan sesosok ayah dan meninggalnya sang ibu.
"TIIIDDDAAK...!!!!!"
"Kakak, jangan tinggalkan aku!!!!!" Teriaknya dengan suara sangat keras.
Teriakan atas kesedihan Airi itupun tanpa disadarinya mengaktifkan kemampuan sihir unik miliknya.
Secara mengejutkan langit mendadak menjadi retak dan jarak antar dimensi mendadak menghilang karena kemampuannya.
Lalu disuatu tempat yang jauh dua iblis api kelas atas yang saling beradu kekuatan menghentikan pertarungannya, mereka merasakan energi tersebut dan sangat terkejut, "Tekanan apa ini???" Mereka menatap ke langit dan tak percaya akan apa yang mereka lihat.
Roda takdir sekali lagi bergerak dan inilah awal Ryusuke membenci iblis!!!!
Bersambung Ke Kosuke Arashi Chapter 988 : Pengorbanan Sang Iblis
******
Pesan Author : kalau gak mau Vote gak papa sih tapi tolong like atau setidaknya komen meski hanya "lanjut" "next" "bagus" atau "up" yang penting bisa support karya ini
Yang intinya komenlah meski satu huruf dan bisa buat autor semangat.
Bukan niatnya maksa tapi author ingin tau aja siapa yang berkontribusi
Trima kasih atas perhatiannya.
*****