
Dua hari setelah bergabungnya keempat anak asuhnya sekarang ini Arashi telah mendapatkan kedamaiannya.
Iapun menghabiskan hari tenangnya dengan rebahan dibawah batang pohon yang letaknya ditepi jalan.
"Hah... inilah sesuatu yang telah lama hilang dariku..." ucap pelan Arashi dengan menghembuskan nafas lega dan iapun memejamkan kedua matanya.
Arashi terlihat menikmati hembusan angin pelan yang menerpa dahan pohon sehingga suasana terasa sangat sejuk, "Hmm... aku sedikit khawatir pada mereka..." iapun mulai membayangkan hal-hal berbahaya terjadi pada keempat anak itu.
"Ahh... masa bodoh!! meskipun mereka dalam medan perang sekalipun ku yakin mereka akan baik-baik saja..." ucap Arashi yang terlihat tak peduli dan iapun melanjutkan kesehariannya lagi yaitu bermalas-malasan.
Rindangnya dahan pohon menciptakan suasana yang sejuk dan hal itu membuat Arashi enggan beranjak dari tempatnya.
"Tap... tap... tap..." terdengar langkah kali dipermukaan tanah.
Arashi yang memiliki insting tajam mampu merasakan keberadaan tiga orang mendekat padanya akan tetapi karena kemalasannya iapun memilih mengabaikannya.
Ketiga orang itu adalah anggota Red Eagle juga dan mereka adalah Kurogane Rikie si pemilik lengan naga emas, Kuroha Hinowa si gadis yang bertarung dengan pedang dan Goto seorang pria dengan peti mati dipunggungnya.
Ketiganya itu berdiri tegak disamping Arashi dengan tatapan mata terheran-heran.
"Tak ku sangka kita bisa bertemu dengan Arashi-senpai ditempat seperti ini, memangnya apa yang sedang ia lakukan, ya?" Ucap Rikie.
Hinowa menjadi agak kesal, "Jadi rumor itu benar!!"
"Rumor apa?"
"Rumor bahwa Arashi-senpai itu sangat pemalas dan seperti yang kita lihat sekarang ia sedang tiduran..." ucap Hinowa dengan tatapan jijik, ia menganggap Arashi sebagai pengangguran, beban negara, beban keluarga dan tentu saja menganggap Arashi sebagai lelaki tak berguna.
"Oh..." Rikie mespon datar dan terlihat tak peduli.
Goto juga merasa risih dengan sikap Arashi, "Hari baru pukul 10.00 tapi dia sudah tidur aja!!"
"Yap, kalau begitu kita bangunkan saja dia..." ucap Rikie.
"Biar aku saja yang melakukannya..." sahut Hinowa yang terlihat bersemangat, iapun tersenyum menyeringai lalu mengarahkan pantatnya pada wajah Arashi dan kentut, "TUUTT...!!!"
"Uuuwweek...!!!" Secara spontan Arashi terbangun dan wajahnya bahkan secara tak sengaja menyentuh pantat Hinowa, "KYYAA...!!!" jeritnya yang jatuh tersungkur.
"Apa yang mereka berdua lakukan?" Pikir Rikie dan Goto dalam hati yang merasa keduanya melakukan hal bodoh.
Arashi dan Hinowa bertengkar hebat.
"Dasar kunyuk!! Mengapa kau mengarahkan pantatmu ke wajahku!! Kentutmu bau sekali!!!!"
"Apa!!! Kau harus minta maaf, senpai!!! Kau cari-cari kesepatan!! Wajahmu menyundul pantatku...!!"
"Hah?? Aku tak mengerti apa yang kau katakan? Kau yang salah tapi mengapa aku yang harus minta maaf?"
"Pokoknya minta maaf saja...!!!" Hinowa bersikeras.
"Tidak mau!!!" Teriak Arashi, "Pantatmu itu tiada seksinya sama sekali...!!!"
"Apa katamu...!!!" Teriak Hinowa.
Rikie dan Goto akhirnya melerai.
"Sudahlah, berhenti bertengkar!! Anggap saja kejadian tadi tak pernah terjadi saja..." ucap Rikie.
"Benar, dengan bertengkar kalian terlihat seperti anak kecil saja..." sahut Goto.
"Hmph...!!!" Keduanya malah saling memalingkan muka dan terlihat masih kesal.
"Dasar, mereka sama saja..." gumam Rikie dan Goto dalam hati saat melihat tingkah keduanya.
Rikie berfikir dan mencari cara untuk mendamaikan keduanya, "Hmm... perutku sudah lapar jadi bagaimana kalau kita pergi ke warung makan terdekat saja??"
"Aku setuju!!" Jawab Goto.
Keduanya masih memalingkan wajahnya akan tetapi secara mendadak perut Arashi maupun Hinowa mendadak berbunyi keras lalu secara spontan keduanya berteriak, "Aku setuju!!!"
"Eeehh...!!! Jangan meniruku!!!" Bentak keduanya ketika berteriak serentak.
Ya, keduanya berdebat lagi akan tetapi karena mereka berempat telah setuju maka mereka tetap menuju ke kedai makan terdekat.
Letak kedai makan yang mereka tuju berada ditengah kota dan mereka yang tengah lapar segera saja duduk, memesan makanan dan tinggal menunggu pesanan tiba.
"Hmm... tumben banget aku bisa melihat kalian bertiga, memangnya kalian darimana?"
"Tentu saja, kami dari menjalankan misi!! Kami cari uang tak seperti senpai yang pemalas dan hobi menganggur..." ucap Hinowa dengan agak menyindir.
"Hadeh..." Arashi tak peduli dengan apa yang ia katakan, "Yah, karena kalian baru saja menjalankan misi dan tentu saja punya uang maka sekarang traktir aku..."
"Heehh...!!?? Enak saja, kenapa kami harus melakukan hal itu?" Protes Hinowa.
"Ya, karena aku nganggur yang tentu saja tak punya uang..."
"Orang nganggur memang selalu saja begitu!! Mereka menjadi beban keluarga bahkan menjadi beban kelurga dan enaknya dibuang ke laut aja...!!!"
"Woiy, jaga ucapanmu!!" Arashi mulai jengkel dengan ucapan Hinowa.
"Lagi-lagi berdebat..." pikir Rikie dan Goto dalam hati.
Rikie berkata, "Sudahlah, berhenti berdebat!! Kalian mulai membuatku kesal!!"
"Hmph...!!" Keduanya malah saling memalingkan wajahnya.
"Kita mau makan jadi lebih baik kalian tenang dan soal bayaran Arashi-senpai tak perlu khawatir karena akulah yang akan membayarnya..." ucap Goto.
"Siipp...!! Terima kasih!!" Jawab Arashi dengan tersenyum lebar sementara itu Hinowa agak cemberut.
Pesananpun sampai dimeja mereka dan kemudian mereka memakannya dengan lahap.
Sambil makan Rikie bertanya, "Arashi-senpai, terakhir kali kita bertemu saat Festival Para Dewa berakhir lalu terjadi perang melawan dewa, jadi apa yang kau lakukan setelahnya? Mengapa baru sekarang kau muncul?"
"Hmm... setelah keluar dari Arkstrem aku disidang oleh pihak kerajaan dan setelahnya terjadi perang besar..."
"Perang berakhir dan akibat dari tindakanku itu akupun dikeluarkan dari Red Eagle akan tetapi baru kemarin aku diterima kembali di Red Eagle..." jelas Arashi.
"Pantas saja baru muncul..." gumam Goto dan Rikie yang mengangguk paham sementara itu Hinowa terus makan dan mengabaikan.
Kedai makan itu semakin ramai dengan pengunjung yanp semakin banyak saja.
Ya, beberapa pemuda bertubuh besar kekar dan terlihat asing memasuki tempat itu.
"Khahahaha..." seorang pria tertawa lepas dan menatap ke sekeliling tempat, "Jadi ini tempat makan terbaik di kota Kronoz, ya? Hmm... tempat ini jelek sekali!!"
"Tutup mulutmu!! Jangan berisik kita disini untuk makan, Goro!!" Ucap teman pria besar itu.
"Ya, ya, aku tau!!" Pria yang bernama Goro itupun tersenyum menyeringai, "Aku tak akan cari masalah ditempat ini!!"
*
Rikie, Goto dan Hinowa tampak memperhatikan orang-orang asing yang datang itu.
"Mereka dari White Tiger..." ucap Goto.
"Aku tau!!" Sahut Hinowa.
"Jadi sudah dimulai, ya?" Ucap Rikie.
"Apanya yang dimulai?" Arashi terlihat tak mengerti, iapun sibuk makan.
Rikie menjadi heran, "Apa benar kau sama sekali tak tau, senpai?"
"Yap..." jawab Arashi singkat sambil menyeruput minumannya.
Rikie hendak menjelaskan akan tetapi pria dari White Tiger yang bernama Goro mendadak muncul dibelakang Arashi, iapun langsung saja mencengkram kepala Arashi dari belakang dan membantingnya ke meja, "Jbbuuak...!!!"
Semuanya hancur berantakan, "Khehehe... aku mengenalmu!! Kosuke Arashi 'si pengacau'!!" Ucap pria yang bernama Goro itu dengan tersenyum menyeringai.
Bersambung Ke Kosuke Arashi Chapter 942 : Dua Wanita Buas II