
Pertarungan antara Arashi dan 'penyihir hutan' yang merupakan legenda berakhir dengan kalahnya Arashi.
"Ugh!!" Arashi tersadar setelah sebelumnya pingsan, "Aduh, kepalaku sakit sekali!!" Ucapnya dengan memegangi kepala.
Arashi mencoba berdiri tegak akan tetapi mendadak sebuah tomat raksasa jatuh tepat menimpa kepalanya, "Aduh, ini sakit sekali!!! Dan sepertinya aku sedang sial..." ucapnya yang terkapar lagi ditanah.
"Eeehh...!!??" Arashipun terkejut ketika disekelilingnya sudah berkumpul anak-anak kecil siluman Pohon Abad, "Kenapa kalian ada disini? Apa yang kalian inginkan dariku?"
"Kak Arashi hebat!!"
"Benar, sangat keren sekali!!"
"Kami sangat mengagumi Kak Arashi!!" Ucap mereka yang sepertinya terkesan pada kemampuan Arashi.
"Yah, kalian sepertinya mengagumiku akan tetapi aku mengecewakan kalian!! Aku kalah!!" Ucap Arashi yang perlahan duduk.
"Itu tak masalah!!"
"Kak Arashi jauh lebih muda!!"
"Penyihir agung berumur 2.000 tahun jadi jelas saja kak Arashi kalah dalam pengalaman..." meskipun kalah tapi anak-anak itu tetap mengagumi Arashi.
Arashi kemudian berdiri tegak dan bertanya, "Jadi apakah kalian adalah fansku?"
"Tentu saja!!!" Jawab anak-anak itu serentak.
"Khihihi..." Arashipun tertawa dan ia menyadari bahwa hari sudah malam lalu para penduduk tengah berkumpul mengadakan pesta meriah, "Yang benar saja!! Ada apa ini?" Ucap Arashi yang terkejut.
"Tentu saja kami mengadakan sebuah pesta penyambutan untuk kalian!! Kalian orang kuat dan diakui oleh 'sang penyihir hutan yang agung' jadi sudah sepantasnya kami merayakan keberadaan kalian ditempat ini..." jelas Morgan, siluman kera yang tiba-tiba muncul dari atas.
Arashi tak mengerti dan agak kebinggungan dengan sikap siluman yang ada disana, iapun merasa heran mereka tetap memperlakukan dirinya dengan baik setelah perlakuan buruk yang telah dilakukannya, "Apa kalian tak marah padaku?"
"Ya, jujur saja kami para siluman marah tapi apa boleh buat kalian diakui oleh 'sang penyihir hutan agung' jadi tak ada alasan kami membenci kalian..." jelas Morgan lagi.
Arashi menatap ke arah pesta dimana para penduduk bersenang-senang dengan menari-nari memutari api unggun lalu disana ada Misaki yang dikagumi oleh para pria.
Dilain sisi ada 'si jenius' Senju Rain yang sedang duduk bersama dengan 'penyihir hutan'
Arashi kemudian ikut merasa senang dan berteriak pada anak-anak yang ada disampingnya, "Semuanya mari berpesta...!!!!"
"Yeah!!!" Jawab anak-anak itu dengan semangat.
Ya, merekapun bersuka ria dalam kemegahan pesta yang diadakan setelah pertarungan hebat antara Arashi dan pencipta Pohon Abad.
Pesta itu sangatlah melimpah ruah dalam hal makanan terutama buah-buahan karena sepanjang malam buah apa saja dapat dihasilkan oleh Pohon Abad.
Lalu tak terasa waktupun dengan cepat berlalu, malampun berganti dengan pagi.
'Penyihir Hutan' berkata, "Setelah waktu berjalan selama 2.000 tahun baru tadi malam aku merasakan kebahagiaan..."
"Para siluman dipulau ini merupakan korban pelarian dari perang atau diskriminasi yang lainnya dan ku tampung disini..."
Senju Rain yang duduk disebelahnya merespon dengan datar, "Perbuatanmu mulia sekali akan tetapi aku tak peduli!! Ya, yang ku pedulikan hanya diriku sendiri..."
"Ngomong-ngomong aku punya pertanyaan peting padamu dan hanya kau yang bisa menjawabnya..."
"Memangnya apa pertanyaanmu itu?" Tanya 'penyihir hutan'
Senju Rain berkata dengan serius, "Kau telah hidup selama 2.000 tahun dan sekarang memilih diriku sebagai pewaris kekuatanmu jadi yang ingin ku tanyakan padamu adalah apakah ada pewaris lain selain diriku?"
"Kenapa kau sangat ingin tau?"
"Oh, begitu ya? Alasan yang bijak..." sang penyihir hutan itu merasa lega, "Dewa Hutan yang merupakan salah satu Dewa Penguasa Aera memang merupakan pewarisku dan ada satu lagi seorang lagi pewarisku, dia adalah iblis..."
"Jadi iblis, ya?" Ucap Senju Rain dengan suara pelan.
"Jika kau bertemu dengannya dimedan perang sebagai musuh maka berhati-hatilah karena dia sangatlah kuat..." ucap 'penyihir hutan' dengan ekspresi serius.
"Khi..." Senju Rain tersenyum menyeringai dan berkata dengan rasa percaya diri, "Terima kasih karena telah memperingatkanku akan tetapi aku tak akan kalah darinya..."
Meskipun ragu dan agak khawatir tapi tiada pilihan lain bagi 'penyihir hutan' itu selain percaya pada Senju Rain, iapun menaruh harapan tinggi padanya demi kedamaian dunia.
Ya, waktupun terus berjalan dan tak terasa matahari terbit lalu sinar cahayanya mulai menerangi daratan Pulau Abad.
Senju Rain bersama dengan 'penyihir hutan' berjalan ke arah Misaki dan Arashi yang masih saja tertidur dibawah batang sebuah pohon.
"Cih, bangun sialan!!! Matahari sudah sangat tinggi...!!" Bentak Senju Rain pada kedua rekannya itu.
"Huuaamms..." keduanya bangun secara bersamaan dan sama-sama menguap dengan mulut terbuka lebar, "Sudah siang, ya? Hmm... tak bisakah aku tidur lagi? Aku masih ngantuk karena pesta semalam..." ucap Arashi dengan malasnya.
"Memangnya ada apa, Rain?" Tanya Misaki juga yang masih mengantuk.
"Kita akan segera pergi dari tempat ini..."
"Eeehh??!!" Misaki terkejut, "Kenapa terburu-buru sekali?"
"Yah, karena tujuan kita disini sudah tercapai..." sahut Arashi yang terlihat sama sekali tak terkejut, "Hmm... ngomong-ngomong setelah aku bertarung denganmu maka berapa persen kemungkinan aku menang jika bertarung dengan 'si akhir'?"
"5 persen kemungkinanmu menang..." jawab 'penyihir hutan' singkat.
Arashi terlihat tak terkejut dan bersikap biasa saja, "Yah, selama masih ada kemungkinan menang maka tak masalah buatku..."
"Khi..." Penyihir Hutan itupun tersenyum menyeringai, "Berani melawan petarung legenda sepertiku sudah merupakan hal langka 'si pengacau'..."
"Kau kuat dan aku mengakuinya tapi ada beberapa jaringan energimu yang rusak sehingga kemampuanmu tak bisa maksimal..."
Arashi tak mengerti akan apa yang dikatakannya, "Apa maksudmu?"
"Jangan-jangan kau tak menyadarinya?"
"Apa maksudmu, sih?" Arashi semakin tak mengerti.
'Penyihir Hutan' tak menjelaskan akan tetapi dengan telapak tangan kanannya iapun mengalirkan energi, "Sudah!! Aku sudah memperbaiki jaringan energi yang rusak dalam tubuhmu..."
Arashi masih tak mengerti dan Misaki yang penasaran bertanya, "Apa yang telah anda lakukan?"
"Kau akan tau nanti..." ucap 'penyihir hutan' tanpa menjelaskan, "Yang jelas kalian harus bersiap untuk era perubahan ini..."
Pagipun telah datang dan ketiganya segera bergegas pergi meninggalkan Pulau Abad dengan diiringi sorak-sorak gembira dari penduduk siluman tempat itu.
Ketiganya menaiki sebuah kapal, "Yosh!! Setelah ini kita mau kemana?" Teriak Arashi yang semangat.
"Tentu saja mengembalikan kapal ini dulu..." sahut Misaki.
"Benar, kita menyewanya bukan membeli jadi harus dikembalikan..." jelas Senju Rain.
Ya, merekapun kembali menuju ke tempat semula akan tetapi ditempat mereka menyewa kapal sebuah tragedi terjadi.
Kota itu dikuasai oleh salah satu 'raja iblis' dan ia telah membantai para penduduk, "Hahahahaha...!! Era para dewa telah berakhir dan saat ini waktunya para iblis menunjukan taringnya...!!!"
Bersambung Ke Kosuke Arashi Chapter 919 : Sang Duri