
Setelah Arashi mengumumkan tantangan bertarungnya iapun dikepung oleh 8 raja iblis lalu ditempat Senju Rain, Tsuruna dan Saburo sedang melawan 8 raja iblis juga.
Kemudian ditempat lain sebuah kejadian yang mengerikan akan terjadi.
Salah satu kelompok yang sebelumnya bertarung melawan Lindouw 'sang raja iblis kematian' sedang berlari melewati puing-puing bangunan gedung yang hancur.
Ya, kelompok tersebut terdiri dari Yui, Rikie, Hinowa dan Goto.
"Cih, kota yang dulunya indah sekarang ini jadi hancur lebur..." ucap Rikie yang kesal ketika melihat daerah sekitar.
"Kota yang hancur bisa dibangun ulang lagi jadi prioritas kita sekarang ini merebut kota ini dulu dengan mengalahkan para iblis..." sahut Goto yang menggendong peti mati dipunggungnya.
"Akupun juga tau hal itu..." jawab Rikie.
Hinowa yang berlari didepan keduanya mengabaikan pembicaraan mereka, iapun bertanya pada Yui yang berada dibagian paling depan, "Yui-senpai, kita berlarian tanpa arah dan hal itu buang-buang energi jadi ku pikir kita harus menentukan tujuan kita..."
Yui terdiam sejenak lalu mendadak terhenti dan hal itupun membuat ketiganya juga menghentikan langkah kakinya.
"Apa apa?" Tanya Rikie.
"Ada musuhkah?" Tanya Goto juga.
Yui yang terdiam mulai berkata, "Kurasa benar lari tanpa arah dan mencari setiap musuh yang kita temui hanya akan buang-buang energi saja..."
"Coba pikirkan saja, dari tadi kita tak menemukan musuh dan kita hanya mendapat kelelahan yang percuma..."
Ketiganya terdiam lalu Hinowa bertanya, "Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan, senpai?"
"Hmm..." Yui terdiam sejenak lalu memperhatikan kelompok yang sedang bersamaanya itu, "Setelah dipikir-pikir kita ini bukanlah kelompok tipe petarung..."
"Maksudku kita tak akan mampu jika berhadapan secara langsung dengan musuh kuat selevel 'raja iblis'..."
Ketiganya terdiam tanda setuju, "Lalu apa yang sekarang ini harus kita lakukan, senpai? Bukankah kita juga tak boleh hanya berdiam diri saja?" Tanya Hinowa.
"Aku telah memikirkannya!!" Ucap Yui, "Bagaimana kalau kita keluar dari tempat ini lalu menuju perang digarda depan?"
"Hah?" Ketiganya tak mengerti akan jalan pikiran Yui.
Yui pun menjelaskan, "Jika kita digarda depan maka kita bisa merawat mereka yang terluka dan juga musuh disana tak terlalu kuat jadi kurasa dengan kemampuan kita saat ini kita bisa berguna..."
Ketiganya nampak tak setuju akan tetapi mereka berfikir lalu memutuskan.
"Menyebalkan karena harus mundur akan tetapi kurasa itu pilihan tepat..." ucap Rikie.
Goto pun setuju, "Mempertimbangkan pertarungan sebelumnya melawan 'sang raja iblis kematian' dan kita tak bisa berbuat banyak jadi kurasa mundur adalah sebuah keputusan bijak..."
"Hmm... aku setuju menyerahkan musuh disini pada Arashi-senpai dan teman-temannya..." ucap Hinowa yang merasa dirinya lemah dan tak mampu bila menghadapi lawan sekelas 'raja iblis'
Yui tersenyum senang karena usulannya diterima, "Baiklah, mari kita keluar gerbang kota..."
"Ya..." jawab ketiganya setuju.
Mereka bergegas keluar kota akan tetapi setelah beberapa saat berjalan, Goto merasa ada yang aneh pada peti mati yang ada dipunggungnya itu.
"Ugh!!"
"Ada apa?" Tanya Rikie dengan menoleh ke belakang pada rekannya itu.
"Aku tak tau tapi entah mengapa peti mati yang ku bawa terasa lebih berat..." ucap Goto dengan meletakan peti mati itu ke tanah.
Yui dan Hinowa juga berhenti sejenak.
"Bukankah yang ada didalam peti mati itu kakaknya Goto?" Tanya Yui.
"Yap..." jawab Hinowa.
Mendadak tekanan energi kuat terasa dan keempatnya langsung saja memperhatikan dengan seksama peti mati yang berada diatas tanah itu.
"Ya...!!" Jawab Rikie dan Hinowa.
Dihadapan peti mati itu, Goto terlihat tertunduk penuh dengan rasa khawatir, "Kakak, kita sudah mengirim iblis yang telah membuatmu seperti ini ke neraka akan tetapi mengapa kau tak kembali seperti sedia kala?" Pikirnya.
Setelah meluapkan energi kuat, mendadak kakak Goto yang berada didalam peti mati tersebut meronta-ronta berusaha keluar.
"Apa!!!" Goto terkejut.
Rikie cepat-cepat mengangkat kaki kanannya dan menginjak pintu masuk peti dengan telapak kakinya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Hinowa dengan berteriak.
"Firasatku mengatakan hal yang sangat buruk akan terjadi bila kita membiarkan kakak Goto keluar..." ucap Rikie dengan tatapan serius.
"Aku pun juga merasa seperti itu!!!" Sahut Yui.
Kotak peti mati itu bergetar hebat dan Rikie menekan pintu masuk peti dengan lebih kuat menggunakan kakinya, "Bantu aku!! Aku seorang diri tak mampu menahannya..."
Tanpa menjawab ketiganya lalu dengan cepat menindih peti mati itu menggunakan tubuh mereka agar tak terbuka, "Ugh!!!" Mereka menekan sekuat tenaga.
Tetapi meski telah berusaha sekuat tenaga, ketiganya tetap saja gagal karena mendadak peti mati itu meledakan energi kuat.
"Ugh!! Sakit..." ucap Hinowa yang jatuh tersungkur.
"Kalian tak apa?" Tanya Rikie.
"Ya, kami baik-baik saja..." jawab Yui dengan menatap keadaan Hinowa dan Goto.
Kakak Goto secara perlahan keluar dari peti mati itu dengan terbang perlahan ke udara dan hal itu membuat keempatnya waspada.
"Apa yang tak beres dengan kakak ku..." ucap Goto
"ARRGGHH...!!!" Kakak Goto meluapkan energi kuat dan berteriak kesakitan dengan dua telapak tangannya memegang kepalanya.
"Aku tak mengerti tapi sepertinya ia sedang kesakitan..." ucap Hinowa.
"Akan ku coba menenangkannya..." ucap Yui dengan menarik sebilah pedang yang ada dipunggungnya.
Pedang tersebut bersinar terang dan iapun mengembangkan sepasang sayap putih milik naga suci.
Dengan sekali pijakan dan kepakan sayapnya Yui terbang melesat ke arah kakak Goto, "HIIAA...!!!!"
"Jlleebb...!!!!" Pedang elemen cahaya itupun menusuk tubuh kakak Goto.
Pedang milik Yui itu sama sekali tak melukai kakak Goto bahkan malah membuatnya lebih baik, iapun jadi lebih tenang.
Ya, setelah tenang keduanya secara perlahan turun ke permukaan tanah.
"Hah..." Hinowa, Rikie dan Goto menghela nafas panjang dan merasa tenang setelah melihat hal itu, merekapun beranggapan semua telah beres.
Yui secara perlahan menarik sebilah pedangnya lalu dari bekas tusukannya keluar kegelapan pekat, "Apa!!!!" Yui terkejut dan langsung menjaga jarak dengan melompat ke belakang.
"Senpai, apa yang tengah terjadi?" Tanya Goto.
"Entahlah, aku juga tak tau..."
Kegelapan itu terus saja keluar dari tubuh kakak Goto lalu setelah beberapa saat kemudian kegelapan yang bagaikan asap itu berhenti keluar.
"Kakak..." teriak Goto begitu melihat tubuh kakaknya terjatuh begitu saja ke tanah.
Ya, asap kegelapan itupun secara perlahan memadat lalu membentuk sesosok kegelapan dengan aura kematian yang sangat kuat.
"Hahahaha... akhirnya aku bisa kembali juga!!"
Bersambung Ke Kosuke Arashi Chapter 1118 : Si Pengacau Melawan Delapan Raja Iblis