Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
97. Siap Beraksi


Tiba di Villa dekat Danau Halstat, yang menawarkan panorama bak surga dunia memanjakan mata mereka yang baru pertama kali menapakkan kaki mereka di sini. Walaupun sebagian dari mereka seperti para sultan itu dan Nadine sering wara-wiri ke Austria saat masih usia belia, namun belum pernah mendatangi tempat itu.


Satu persatu dari mereka turun dari mobil, berjalan menuju villa. Lea merengek ingin melihat danau terlebih dahulu namun dicegah oleh Amran.


"Lea. Jangan sekarang. Ada yang harus kita bahas," ujar Amran dan Lea mengangguk sambil menatap wajah suaminya yang belum paham Amran melarangnya menghampiri danau.


"Sepertinya ada yang penting yang ingin disampaikan kakakmu, sayang. Ayo kita masuk dulu!" pinta Devan merengkuh pinggang istrinya posesif.


Mereka menempatkan barang bawaan mereka di kamar masing-masing. Sementara bahan makanan mereka di simpan di dapur. Nabilla yang lebih terampil memasukkan bahan-bahan itu di dalam kulkas. Gadis ini tidak pernah kenal tempat karena diotaknya selalu saja ingin masak. Jadilah sang suami ikut membantu.


Sementara gadis lainnya menyiapkan makanan cemilan dan kue-kue yang mereka sempat beli di jalan menuju ke tempat itu. Mereka butuh waktu untuk membahas langkah selanjutnya. Semuanya mengambil posisi duduk mereka sesuai pasangan masing-masing. Kali ini Amran yang membuka diskusi.


"Sekarang tolong simak baik-baik apa yang aku sampaikan ini! Baru saja Nabilla melihat pergerakan visual Dito walaupun hanya infra tubuhnya saja yang terlihat di layar ponselnya yang saat ini berada di wilayah tidak jauh dari tempat kita.


Rencana awal yang fokus pada sekolah tersebut, namun kini harus berubah. Sebagian dari kita akan membantu wanita-wanita ini dan yang lainnya menyerang markas persembunyian komplotan mafia yang mungkin diprakarsai oleh Dito atau ada pimpinan lainnya," jelas Amran.


"Apa yang harus ayah dan kakek lakukan untuk membantumu, Amran?" tanya tuan Rusli mengingat di sini ahli IT hanya Nabilla dan dirinya yang mampu meretas pergerakan visual kedua tempat itu.


"Di markas itu tidak memiliki CCTV. Semuanya mengandalkan kekuatan personil mereka yang sudah terlatih. Pergerakan Dito bisa terbaca karena chips yang ditanam ditubuhnya oleh Nabilla. Jadi, memudahkan kita untuk menyerang mereka," jelas Amran.


"Berarti kakek dan ayah tetap mengawasi istri-istri kami," ucap Devan.


"Termasuk kamu Devan. Jadi Devan, Wira dan kakek serta ayah Rusli yang mendampingi anggota wanita dan anak buah kita ikut mengamankan sekolah itu. Sementara Amran, Reno, Arland yang akan akan menyerang mereka," tutur Nabilla.


"Dengan kata lain, kami akan menyerang mereka bersama mbak Nabilla?" tanya Nadin.


"Benar Nadin. Kita menyerang mereka dalam waktu bersamaan. Dengan begitu mereka tidak lagi memikirkan untuk menyelamatkan sekolah karena mereka tidak memegang ponsel untuk keamanan markas itu kecuali ada anggota mereka yang tersebar keluar yang menggunakan ponsel. Untuk di dalam wilayah markas itu, setiap anggota tidak diperkenankan menggunakan alat penghubung apapun kecuali dengan cara manual yaitu surat menyurat dan pengeras suara melalui interkom jika mereka sedang berkomunikasi jarak jauh," jelas Nadin.


"Berarti saat menyerang di markas kalian akan tetap membawa ponsel bukan?" tanya Lira.


"Iya. Setiap kita mengenakan penghubung untuk saling mendengarkan komunikasi serentak. Jadi, siapa yang bicara akan mendengarkan semua. Jauhkan komunikasi secara pribadi untuk menyampaikan hal yang sangat fulgar untuk pasangannya kecuali kata cinta dan rindu. Setiap orang menyebutkan kode rahasia mereka secara umum saat berkomunikasi. Tapi saat dalam keadaan tertangkap kode kita adalah sebutan nama Rosulullah, berarti ada yang saat itu sudah tertangkap dan yang lain harus cepat bertindak. Apakah sudah paham dengan tugas kalian masing-masing?" jelas Amran.


"Insya Allah, jelas dan paham," ujar mereka bergantian.


"Sekarang yang perempuan boleh melakukan hal lainnya. Dan laki-laki, ikut dengan saya untuk membahas dengan anggota kita yang akan membantu melancarkan misi ini!" Seru Amran yang sudah menghubungi anggotanya yang sedang mengadakan kemping tidak jauh dari villa mereka.


Para wanita beranjak ke dapur karena harus memasak untuk makan siang sekaligus makan malam.


...----------------...


Sebelum melakukan penyerangan, mereka menjalankan rencana satu untuk melancarkan urusan penyerangan. Pertama yang masuk ke dalam sekolah itu adalah Wira dan Lira selanjutnya pasangan yang lain melakukan tugas mereka masing-masing.


Sementara tuan Rusli dan kakek Abdullah meneliti setiap pergerakan mereka untuk mencari putranya Tiar di dalam sekolah itu. Memang mereka sengaja datang di saat jam istirahat agar bisa mengetahui keberadaan putranya mbak Tiar.


"Diantara anak-anak ini tidak ditemukan putranya Tiar," ujar tuan Rusli yang melihat foto putranya Tiar.


"Apakah dia sedang sakit dan berada di asrama?" tanya kakek Abdullah cemas.


"Bisa jadi kakek," jawab tuan Rusli.


"Baiklah. Suruh mereka kembali ke mobil. Kita akan melakukan rencana yang ke dua," ucap kakek Abdullah.


Semuanya kembali ke mobil mereka secara bertahap dan satu sama lain tidak saling kenal. Para gadis itu harus mengenakan rambut palsu kecuali Nadin yang belum mengenakan jilbab. Nabilla mengenakan skraf menutupi rambut palsunya yang diikat dibawah dagu.


Sementara Lira mengenakan turban sementara Celia dan Lea mengenakan topi. Semuanya tampil dengan style penyamaran mereka masing-masing. Yang paling menonjol diantara mereka adalah Nabilla yang sangat cantik hingga membuat staff pendidik menjadi tidak fokus menikmati kecantikan istrinya Amran. Setelah melakukan negosiasi penawaran saham yang masih dipertimbangkan oleh kepala sekolah yang harus bicara dulu dengan yayasan sekolah itu sebelum mengambil keputusannya menerima tawaran Amran.


"Ayolah sayang kita pulang. Aku tidak ingin mereka menikmati kecantikanmu seakan ingin menelan dirimu," ucap Amran dalam bahasa Indonesia.


Nabilla segera pamit kepada kepala sekolah dan tiga orang staffnya. Keduanya keluar menuju mobil mereka.


"Mas. Kita sudah sepakat untuk tidak melibatkan perasaan. Kenapa mas tidak sabaran?" omel Nabilla.


"Mereka tidak mendengarkan penawaranmu tapi menikmati kecantikanmu dengan penuh syahwat. Aku melihat dibalik celana mereka bird mereka sudah membengkak," jelas Amran yang memperhatikan pria yang berani melihat istrinya penuh naf*su.


"Ok. Maafkan aku," Nabilla mengenakan lagi jilbab segi empatnya.


"Kita akan kembali ke sini malam hari," ujar Nabilla.


"Kalian yang ke sini sesuai pembagian tugas kita masing-masing untuk menyerang mereka secara bersamaan," timpal Amran.


"Iya sayang. Sekarang kita pulang," ujar Nabilla. Mobil itu melintasi asrama. Nabilla menurunkan kaca melepaskan kunang-kunang itu yang langsung terbang menuju taman depan kamar anak-anak dan mengendap di antara semak-semak.


Kunang-kunang itu tidak terlihat karena wujudnya berupa gelembung air embun yang tidak terlihat oleh yang lain saat siang hari. Wujudnya akan berubah jika menjelang malam hari sesuai timer yang sudah diatur Nabilla saat anak-anak itu berkumpul untuk makan malam.


*


*


Malampun tiba, Mobil Nabilla membawa rombongan itu menuju sekolah tapi di parkir di dekat pertokoan yang sudah ditutup oleh pemiliknya karena area itu sudah tampak sepi dari transaksi jual beli. Sesuai kesepakatan, rombongan itu dibagi dua kubu.


Kubu Amran dan kubu Nabilla yang dipimpin oleh suami istri ini. Sebelum keluar dari villa, mereka sudah menunaikan sholat isya dan sholat kiyamul lail di tutup 3 rakaat witir karena malam ini mereka mungkin tidak akan tidur dan sudah siap jika mereka mati insya Allah dalam keadaan syahid.


Penyerangan akan dilakukan jika Nabilla sudah bergerak terlebih dahulu. Saat ini masih dalam pengamatan Nabilla untuk menguji alat teknologi yang diciptakannya. Rencananya Nabilla akan menghindari lawannya jangan sampai terbunuh. Tapi, jika lawan menyerang mereka, terpaksa harus melumpuhkan lawan dengan membunuh. Masing-masing mereka membuka laptop. Nabilla memperhatikan wajah polos anak-anak itu yang baru saja menyelesaikan makan malam mereka. Ada yang kembali ke kamar dan tidak sedikit yang masih berkeliaran di sekitar taman di depan asrama itu.


Nabilla mengaktifkan kunang-kunang itu beterbangan untuk menarik perhatian anak-anak." Hei..! lihatlah ada kunang-kunang di taman!" ujar diantara mereka.


"Ayo kita tangkap...!" ujar salah satu dari mereka.


Saat anak-anak itu melihat kunang-kunang itu membentuk formasi melingkari mereka berdiri, kunang-kunang itu mulai membaca wajah mereka dan juga DNA yang cocok dengan putranya mbak Tiar.


Nabilla tersenyum melihat alat ciptaannya itu berfungsi dengan baik. Sementara yang lainnya menatap kagum bagaimana alat itu membaca identitas anak-anak itu saat wajah mereka tertangkap kamera yang menyala di tubuh kunang-kunang itu yang mengeluarkan cahayanya yang sedang merekam pergerakan mereka juga.


"Yes. Aku itu dia putranya mbak Tiar. Namanya Alif," ujar Nabilla kegirangan.


"Alhamdullilah," seru mereka bersamaan di dalam mobil Van itu.


"Masya Allah kak Nabilla. Keren banget alat canggih buatan kak Nabilla!" puji Lira tampak kagum pada kakak iparnya itu. Wira apa lagi. Hanya ia tidak memperlihatkan ekspresinya berlebihan untuk menjaga perasaan istrinya.


"Persiapkan diri kalian karena kita akan menjemput anak itu di depan gerbang!" titah Nabilla.


Vote dan like nya cinta please!