Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
170. Lawan Yang Salah


Cintami mendesah geram. Sedikitpun ia tidak gentar dengan gertakan receh dari lawan amatir dan menganggapnya remeh. Karena suasana malam yang terlihat sepi walaupun masih begitu dini saat ini. Pukul 9 malam di jalanan yang cukup sepi untuk dilalui oleh pengendara lain di mana mobil Cintami melintas.


"Dasar bodoh...! remeh Cintami yang sudah mengetahui gelagat penjahat yang memang sedang mengincarnya.


"Apa yang kamu tunggu, nona? aku bilang masuk ke dalam mobilmu atau pinggangmu akan ditembus dengan peluru ini?" ancam sang penjahat.


Cintami membuka pintu mobilnya. Cintami masuk dengan perlahan di dalam mobilnya. Sebelum tubuhnya benar-benar masuk, secepat kilat, Cintami menarik tangan sang penjahat lalu menutup pintu mobil itu dengan kencang hingga tangan sang penjahat terjepit dan membuat pistol yang di pegangnya jatuh.


Teman sang penjahat yang hendak mengambil pistol yang jatuh itu, namun Cinta sudah lebih dulu menendang pistol itu masuk ke kolong mobil. Pukulan dan tendangan terus menerus di layangkan oleh Cinta pada dua orang penjahat lainnya yang baru turun dari mobil hendak menikam Cinta dengan pisau.


Cinta berlari meninggalkan mobilnya menjauhi para penjahat itu. Saat lima orang penjahat yang ikut turun menangani Cinta untuk mengejar gadis itu, Cinta tiba-tiba membalikkan tubuhnya lagi sambil berlari cepat ke arah 5 orang penjahat itu seraya melompat ke atas udara menghadiahi wajah para penjahat itu dengan memutar tubuhnya sambil menendang hingga tubuh para penjahat itu terhuyung ke belakang dengan darah segar keluar dari sudut bibir mereka.


Wajah lebam dan bengkak tidak membuat para penjahat itu kapok. Mereka justru memposisikan lagi tubuh mereka dengan berdiri tegak siap menyerang lagi Cintami.


Saat tendangan mereka hendak dilayangkan ke tubuh gadis itu, namun Cintami sudah membungkukkan badannya terlebih dahulu menghindari tendangan para penjahat itu. Seakan tidak ingin gadis itu menegakkan tubuhnya, satu orang penjahat berhasil menendang paha Cintami dari samping. Karena kehilangan keseimbangan tubuhnya, Cintami jatuh tersungkur ke aspal itu.


Sementara penjahat lain hendak menginjak dan menendang tubuh Cintami, ibu hamil ini berguling beberapa kali menghindari serangan itu untuk melindungi tubuhnya. Di saat yang sama ia meraih pistol yang ada di bawah kolong mobil. Secepat kilat Cintami mengarahkan pistol itu sambil menarik kokang dan menembaki lima orang penjahat itu tepat di bahu dalam milik para penjahat itu dengan posisi tubuh gadis itu telentang.


Setelah melumpuhkan lawannya, Cintami buru-buru masuk ke dalam mobilnya untuk meninggalkan para penjahat itu yang merasakan sangat kesakitan pada lengan mereka seakan mati rasa karena sulit di gerakkan.


"Kalian memilih lawan yang salah," ucap Cintami menghidupkan mobilnya lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan stabil.


Dari kejauhan, seorang pria tampan terlihat syok dengan apa yang ia saksikan saat ini." Bagaimana mungkin dia bisa melumpuhkan anak buahku hanya seorang diri?" desis pria tampan itu yang tidak lain adalah Kino yang ternyata sangat menyukai Cintami selain Chiko.


Pria ini tidak ingin Chiko yang terlebih dahulu menikmati tubuh Cintami sebelum dirinya. Namun ia juga murka pada anak buahnya yang tadi ingin menyakiti wanita yang diincarnya.


"Dasar anak buah tidak becus! Menghadapi satu wanita saja mereka harus mengerahkan tenaga dan ingin menembak wanitaku. Kalian akan mati semua setelah ini," maki Kino yang tidak mengetahui siapa Cintami sebenarnya.


Pria ini merasa Cintami gadis lugu dan berasal dari keluarga sederhana karena penampilan Cintami yang tidak terlihat mewah saat ia melihat gadis itu.


Cintami memang tidak terlalu memperlihatkan sisi kemewahan dalam dirinya dengan mengenakan berbagai atribut perhiasan di tubuhnya karena gadis ini berhijab. Sesimpel apapun yang dikenakan Cintami tentu saja harganya selangit. Stelan baju, sepatu dan tas semuanya branded. Hanya pembawaannya yang terkesan lugu yang membuat lawan jenis salah persepsi pada kepribadiannya.


Cintami yang merasa kram pada perutnya segera ke rumah sakit. Keringat dingin mulai menjalar di sekujur tubuhnya menahan sakit dibagian bawah perutnya. Itu diakibatkan karena dirinya tadi berlari dan melompat menyerang penjahat. Di tambah lagi dia juga sempat jatuh tersungkur ke aspal hingga bokongnya yang mendarat lebih dulu ke aspal. Mungkin benturan yang cukup keras membuat Cintami tidak merasa akan berdampak pada calon janinnya yang saat ini hampir memasuki usia empat bulan.


"Maafkan bunda sayang karena tidak bisa menjagamu dengan baik. Tolong jangan tinggalkan bunda seperti ini!" pinta Cintami sambil mengelus-elus perutnya menahan sakit yang luar biasa pada perutnya. Cintami mendatangi rumah sakit terdekat dengannya saat ini karena rumah sakit milik neneknya Dokter Mariska berlawanan arah dengan mobilnya. Dan jaraknya lumayan jauh dari tempatnya saat ini.


Ada cairan kental dan hangat sudah merembes di bagian intinya bahkan terasa lembab di bokongnya. Cintami makin mengigit sudut bibirnya karena pinggangnya seakan dipelintir kuat membuat ia ingin mengejan.


Di ruang bersalin, dokter sedang menolong Cintami setelah melihat keadaan kandungnya. Cintami yang tidak kuat lagi menahan sakit terlihat sangat lemah karena pendarahan yang dialaminya saat ini. Sementara dokter spesialis menangani kandungan Cinta, sedangkan dokter yang lainnya menghubungi keluarga Cintami yaitu suaminya Cintami, Arsen.


"Apakah benar ini wali dari nona Cintami?" tanya dokter Niar.


"Benar. Saya suaminya Cintami," ucap Arsen memperkenalkan diri.


"Kami dari rumah sakit Harapan Bunda mengabarkan saat ini istri anda mengalami pendarahan hebat. Sepertinya kandungannya tidak bisa dipertahankan, tuan. Kami minta ijin untuk melakukan tindakan kuret," ucap dokter Niar membuat Arsen hampir ambruk di tempatnya berdiri karena saat ini ia sedang berada di kamar hotel.


"Bagaimana mungkin Cintami tiba-tiba keguguran? apa yang sedang istriku itu lakukan?" lirih Arsen tanpa menanggapi ucapan dokter Niar.


"Hallo tuan! apakah anda masih mendengarkan aku?" tanya dokter Niar.


"Baiklah. Lakukan yang terbaik untuk istriku," ucap Arsen dengan berat hati.


"Baik Tuan. Pembicaraan kita sudah direkam sebagai bukti untuk tindakan medis pada pasien Cintami," ucap dokter Niar mengakhiri pembicaraannya dengan Arsen.


Arsen menghubungi salah satu mertuanya yang saat ini fokus menatap televisi hingga tidak mendengar panggilan masuk karena ponsel mereka ada di kamar.


"Semuanya pada ke mana? kenapa tidak ada yang mengangkat panggilan dariku?" gerutu Arsen menahan kesal.


Arsen akhirnya menghubungi ibu sambungnya Lira dan setelah itu baru nenek dari istrinya yaitu dokter Mariska untuk melihat keadaan istrinya di Rumah sakit harapan bunda.


Keluarganya sangat syok mendengar musibah yang menimpa Cinta saat ini. Wira dan istrinya segera ke rumah sakit menjenguk menantu mereka. Reno dan Celia ikut keduanya. Nathan putra dari Reno dan Celia ke rumah Amran untuk mengabari keadaan Cinta. Sementara Athan putra dari Nadin dan Arland mengikuti Nathan.


Di tempat yang berbeda Ghaishan akhirnya bisa membawa masuk temannya Ben ke dalam pesawat bertepatan dengan menipisnya tabung oksigen yang ada dalam baju astronotnya.


Ben segera ditangani oleh dokter yang ada di pesawat itu dengan alat kejut jantung sederhana. Ghaishan juga ikut mati lemas hingga dokter juga menolong pahlawan tangguh ini.


Ketegangan tampak terlihat dari wajah teman-temannya Ghaishan melihat kedua pemuda ini tak bergerak karena tubuh mereka tidak bisa merespon alat medis yang terpasang di bagian tubuh mereka.


"Apakah mereka akan mati?" tanya Andrew yang menyaksikan kedua sahabatnya di balik pintu kaca kabin pesawat.


......................


Vote dan likenya cinta please!