
Kapal besar milik angkatan laut Istanbul itu sudah berlabuh dengan kibaran bendera di atas anjungan tiang kapal itu berkibar menghempas bersama dengan tiupan angin laut.
Mobil ambulans sudah turun dari kapal itu untuk membawa seorang agen rahasia yang dijaga ketat oleh pihak keamanan otoritas setempat yang terlatih. Walaupun mereka tidak tahu identitas Bunga sebenarnya, hanya saja mereka diminta untuk mengawal Bunga dengan mobil dan motor mereka selama perjalanan menuju rumah sakit internasional terbaik di kota itu.
Bunga memang belum melewati masa kritisnya, namun doa dari suami dan kedua orangtuanya terus menerus mengalir untuk kesembuhan Bunga. Sementara Bunga ditangani di tim medis saat memasuki tubuh jenjang nan indah itu ke dalam tabung MMR untuk mengetahui bagian tubuh mana yang mengalami pendarahan dalam dan memastikan lagi organ vitalnya agar bisa ditangani lebih cepat.
Amran mengajak Daffa dan Segaf untuk menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah di masjid karena sebentar lagi akan memasuki waktu subuh. Walaupun waktu subuh disana tidak sama dengan Indonesia karena waktu subuh mereka pukul 5. 30 sudah hampir menjelang pagi. Namun udara dingin di Istambul yang mendominasi membuat mereka tetap merasakan syahdunya sholat subuh yang menjanjikan umatnya akan menjadi kaya raya yaitu dunia dan seisinya jika mau menunaikan sholat sunnah 2 rakaat sebelum sholat subuh. Sementara Nabilla tidak sholat karena saat ini sedang haid.
Saat itu ketiganya mendengarkan suara adzan yang mengalun merdu menyentuh jiwa raga. Amran dan Daffa yang masih berada dalam suasana duka, terlihat hanyut mendengar panggilan Allah melalui suara yang indah dari Muazin mesjid yang tidak jauh dari rumah sakit.
Amran mengenang lagi usia Bunga yang saat itu berusia lima tahun selalu mendatanginya dan duduk dipangkuan sang ayah dan sering bertanya ini itu padanya tentang kebesaran Allah.
Alhasil Amran bisa menjawabnya karena dirinya merupakan jebolan Gontor.
"Daddy. Apakah Allah akan selalu mengampuni dosa hambaNya walaupun dosa mereka memenuhi bumi ini?" tanya Bunga dengan melontarkan pertanyaan yang sangat kritis diusianya yang masih terlalu dini.
"Allah selalu mengampuni dosa hambaNya sebanyak apapun dosa yang dilakukannya sebelum nyawanya belum mencapai kerongkongannya," sahut Amran sambil memeluk tubuh mungil putrinya.
"Walaupun orang itu sudah melakukan dosa yang sangat besar?" tanya Bunga lagi.
"Allah tidak melihat jenis dosa seseorang sayang, tapi yang Allah lihat kesungguhannya meminta ampun kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi," imbuh Amran.
"Bagaimana kalau dia mengulanginya lagi dan bertobat lagi? apakah Allah masih mau mengampuninya?" tanya Bunga lagi.
"Allah tidak akan pernah bosan menerima tobat hambaNya yang selalu bermain-main dengan tobatnya asalkan masih mau bertobat Allah akan mengampuninya tanpa syarat karena Rahmat Allah meliputi langit dan bumi makanya jangan pernah putus asa dengan Rahmat Allah jika melakukan dosa besar berulang kali tapi jangan juga meremehkan dengan dosa karena takutnya Allah tidak akan mengampuni kita karena saat kita melakukannya lagi tahu-tahu Allah sudah mencabut nyawanya dan dia tidak sempat bertobat lagi bukankah itu sangat mengerikan, hmm?" ucap Amran.
"Semoga kita dijauhkan dari segala jenis dosa kecil maupun berat agar kita di masukkan Allah di surgaNya. Daddy apakah seorang anak perempuan itu sebelum menikah dosanya ditanggung ayahnya?" tanya Bunga.
"Iya sayang. Seorang ayah menanggung dosa anak perempuannya kecuali dia sudah menikah," jawab Amran.
"Insya Allah. Bunga tidak akan membebani daddy dengan dosaku. Karena Bunga mencintai Daddy seluas langit dan bumi. Ya Allah ampuni dosa-dosa daddyku sebelum Engkau memanggilnya suatu saat nanti.
Tapi jangan cepat-cepat ya, karena Bunga tidak sanggup lihat Daddy pergi dari Bunga. Biar Bunga yang mati lebih dulu supaya tidak begitu sedih saat Engkau menjemput Daddyku...aaminn," doa tulus Bunga terekam jelas dibenak Amran.
"Nak, saat itu Daddy tidak mau mengamini doamu yang terakhir. Karena Daddy ingin kamu yang akan menangisi kematian Daddy bukan Dady yang menangisi kematianmu," desis Amran saat ini.
Sementara Daffa menangisi kisah cintanya dengan Bunga yang selalu mendapatkan ujian dari Allah dan sekarang ia mendapatkan hadiah terbesar dari Allah namun harus menunggu kesembuhan istrinya.
Hingga azan berakhir, Daffa memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh diantara azan dan Iqamah yang merupakan waktu mustajabnya doa. Lalu ia bangun berdiri menunaikan sholat sunnah dan dilanjutkan sholat subuh berjamaah.
...----------------...
Tiga hari berada di ruang ICU, akhirnya Bunga bergumam kecil memanggil nama suaminya.
"Daffa .. Daffa... Daffa...!" lirih Bunga di dengar oleh suster yang langsung memberitahukan dokter.
"Dokter. Pasien Bunga sudah siuman," ucap suster.
Dokter menemui Bunga dan memeriksa keadaan Bunga yang masih bergumam nama Daffa. Ia keluar menemui keluarga Bunga.
"Siapa diantara keluarga Bunga yang bernama Daffa?" tanya dokter Zainab di ruang tunggu keluarga pasien.
Daffa beranjak dari duduknya." Saya dokter!" ucap Daffa menghampiri dokter.
"Anda siapnya pasien?" tanya dokter Zainab yang mengikuti aturan rumah sakit itu jika bukan muhrim tidak diperkenankan untuk berhalwat atau berduaan saja di kamar inap atau ICU sesuai ajaran Islam.
"Suaminya dokter," ujar Daffa.
"Silahkan ikut denganku karena istrimu memanggilmu," ucap dokter Zainab.
"Apakah istriku sudah siuman, dokter?" girang Daffa.
"Saat ini hanya alam bawah sadarnya yang bekerja bukan kesadarannya yang sesungguhnya. Mungkin dengan anda mendekatinya, ia akan sadar secepatnya," ucap dokter Zainab.
"Terimakasih dokter!" langkah Daffa lebih cepat memasuki ruang ICU itu.
"Baby ...!" Daffa mendekati Bunga dan mencium pipi istrinya sambil berbisik," aku di sini sayang. Aku didekatmu, hmm." Daffa menggenggam tangan Bunga dan Bunga tersenyum lalu kembali tenang.
"Kenapa tidur lagi? emang nggak rindu sama aku? kita ini sudah jadi suami istri. Pengantin baru lagi. Masa ditinggal tidur terus. Kapan bercintanya, beb?" gerutu Daffa manja.
Sementara di ruang tunggu, Amran dan Nabilla menarik nafas lega karena mereka melakukan hal yang tepat yaitu mengajak Daffa ikut bersama mereka dan segera menikahkan Daffa dan Bunga secepatnya walaupun dalam keadaan genting.
Kali ini missi Bunga di Turki walaupun melewatinya begitu dramatis namun banyak hikmah yang Allah berikan kepada mereka. Dari pertemuan kakek Salim dan cucunya Nabilla dan sekarang mereka menghalalkan Daffa dan Bunga menjadi suami istri yang sah secara hukum negara dan agama.
"Sayang. Walaupun kita melewati banyak kesedihan dalam misi Bunga kali ini, tapi aku tetap bersyukur kepada Allah karena Allah mempertemukan aku dengan ayah dari ibuku," ucap Nabilla sambil menangis.
"Sesungguhnya kebahagiaan itu sangat mahal untuk ditebus sayang. Jadi kalau kebahagiaan itu terlalu mudah untuk didapatkan, maka tidak akan berlangsung lama.
Seperti para nabi dan Rasul Allah diuji dengan sangat berat, yang tidak bisa diikuti umat mereka, namun kemuliaan yang mereka dapatkan sebanding dengan ujian yang Allah berikan kepada mereka. Nabi saja di uji, lalu kita manusia yang dosanya begitu banyak tidak mau di uji, lalu siapa kita, hmm?" ucap Amran bijak.
"Alhamdulillah. Kita masih di uji dengan ujian yang berat rasanya menjadi lebih nikmat. Ibarat masakan jika tidak ditakar dengan bumbu yang pas rasanya hambar. Berlebihan nggak enak kurang juga nggak nikmat. Dan porsi ujian kita sangat pas untuk dinikmati lezatnya tak akan terlupakan sampai saat ini.
Duka dan kesepian selama bertahun-tahun yang aku lewati tergantikan dengan hadirnya mas dalam hidupku ditambah kelima anak kita dan sekarang aku bukan hanya dipertemukan dengan ayah kandungku saja tapi juga kakekku," ucap Nabilla sambil berurai air mata penuh rasa syukur.
"Yah baby! andai saja manusia tidak mengeluh dengan Setiap ujian yang Allah kasih pada akhirnya mendapatkan banyak hikmah, mungkin manusia tidak akan mengeluh kepada Allah dengan ujian yang mereka lewati. Padahal Allah hanya meminta kita sabar dan terus menunaikan sholat agar Dia akan memberikan hadiah besar untuk hambaNya," ucap Amran.
"Benar katamu sayang. Saking tidak sabarnya manusia menerima ujian dari Allah, akhirnya mereka mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalahnya dengan menjadi penjahat, pelacur, terlibat hutang riba dengan bank maupun rentenir dan pembunuhan. Dan yang lebih parahnya lagi bunuh diri mengakhiri masalah mereka," timpal Nabilla.
"Hanya orang-orang yang berpikir atau Allah menyebutkan orang beriman itu dengan kalimat yang indah dalam Al-Qur'an yaitu Ulul Al-Bab yang artinya manusia yang berpikir yang bisa melalui ujian Allah dan insya Allah kita termasuk didalamnya... aamiin," ucap Amran.
Keduanya tersenyum lalu berpelukan mesra. Sementara di dalam kamar ICU, Daffa memagut bibir istrinya saat di minta dokter untuk meninggalkan lagi kamar ICU itu.
Merasakan bibirnya sedang dilum*at seseorang merangsang kesadaran Bunga yang spontan melayangkan bogem mentah di rahang kokoh Daffa yang seketika terpental.
"Dasar bodoh! berani sekali kau mencium bibirku yang masih perawan, hah!" pekik Bunga garang di depan Daffa hingga memancing beberapa orang dokter mendekati keduanya.
"Ada apa ini? mengapa anda mengamuk pada suami anda nona?" tanya dokter Zainab menggunakan bahasa Inggris.
"Apaaa? suami? kapan aku nikah sama dia? apakah kamu mengaku kepada mereka aku sebagai istrimu, hah?" bentak Bunga menggelegar dan dokter baru ingat melihat darah bunga yang mengucur deras ketika jarum infus ditangannya itu terlepas karena saking kuatnya Bunga menonjok rahang Daffa.
Antara geli dan panik saat melihat keadaan Bunga yang langsung ditangani oleh dokter dan suster.
"Nona. Berhentilah mengamuk! Kami harus memasang jarum infus di tanganmu lagi," ucap dokter Zainab.
"Usir dia dari hadapanku dokter! dan aku tidak akan memaafkan perbuatanmu yang memalukan ini Daffa! kamu memanfaatkan kondisiku yang sedang sakit. Kalau aku sembuh aku akan membunuhmu!" ancam Bunga membuat Daffa ingin ngakak tapi juga prihatin.
"Sebelum kamu membunuhku, aku akan memperkosamu saat kamu kembali terlelap, baby," ucap Daffa iseng mengerjai istrinya sambil mengerlingkan mata nakalnya ke arah Bunga yang menatap horor wajahnya.
"Kau...!"
"Sayang. Aku makin terangsang saat melihat kamu marah seperti itu. Kamu makin menggemaskan baby," goda Daffa makin membuat Bunga muak.
"Keluarrr...! atau aku akan mengejarmu!" bentak Bunga.
"Kejar daku kau ku tangkap. Aku akan pastikan kamu dalam kekuasaanku di ranjang nanti," goda Daffa sambil memonyongkan bibirnya.
Muuaacchh....
"Cih... dasar mesum! aku tidak menyangka bisa-bisanya dia mesum padaku saat aku tidak berdaya. Tunggu saja pembalasanku nanti," gerutu Bunga menahan geram lalu memegang bibirnya yang terasa bengkak.
Daffa terkekeh geli lalu keluar dari ruang ICU itu saat melihat jarum infus sudah terpasang lagi di punggung tangan istrinya.
"Ternyata sakit juga tonjokan Bunga. Beginilah nasib menjadi suami seorang agen rahasia. Ternyata sangat buas bro. Apakah dia sama buasnya ketika berada di ranjangku? aku akan membalasmu, sayang! aku akan membuatmu tidak berdaya di ranjangku nanti," seringai puas terlihat jelas di wajah Daffa dengan imaginasi liarnya saat ini.
.....
Vote dan likenya cinta, please!