Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
232. Bingung


Keduanya terdiam sesaat seakan pikiran mereka sedang mengembara entah ke mana. Sesekali tarikan nafas sesak itu berhembus terdengar mendesah yang meringankan beban yang menggunung di dada.


Perasaan mereka sama, tapi sulit untuk memulai karena terlalu menjaga gengsi atau harga diri. Tanpa terasa, roda mobil itu sudah memasuki kawasan istana megah milik princess yang menyambut mereka oleh para pengawal yang berpostur tubuh tinggi tegap dengan tampang sangar seakan wajah itu tidak pernah tersenyum seumur hidup mereka.


Hal itu tidak menganggu El sedikitpun karena tampangnya sendiri datar karena pria tampan ini hanya tersenyum manis pada princess nya saja.


"Lho...! Kok kita sudah sampai di istana saja? Apakah aku tadi meminta kamu mengantarkan aku pulang ke istana?" omel princess Tamara yang merasa hidupnya kembali terbelenggu dengan tembok kokoh berbentuk bujur sangkar itu.


"Tidak baik terlalu lama bersama pria yang bukan muhrimmu. Jika kamu ingin merdeka di luar sana, pastikan princess tetap menjaga norma agama.


Ingat hukum cambuk yang berlaku di negara ini. Hukum cambuk tidak mengenal status walaupun kamu sendiri seorang princess. Turunlah...! Besok kita bisa jalan-jalan lagi. Aku akan meminta ijin pada ayahmu," bohong El agar Tamara tidak curiga kepadanya.


"Kau ini menyebalkan sekali. Aku tidak bisa bertukar pikiran dengan seseorang tentang hidupku jika sudah berada di balik tembok kokoh itu," gerutu Tamara lalu menurunkan kakinya dengan wajah cemberut.


"Aku akan menghubungimu. Pastikan ponselmu tetap aktif!" ucap El begitu Tamara sudah turun hendak menutup pintu mobilnya.


"Tidak perlu..!" acuh Tamara berjalan cepat menuju ruang istana yang disambut para dayang-dayang istana.


El-Rummi menarik sudut bibirnya melihat sifat kekanak-kanakan Elmira. Mungkin kurangnya kebebasan membuat dirinya menjadi gadis pembangkang. Tidak terlalu jaim dan tetap menunjukkan kelasnya sebagai seorang bangsawan. Itulah yang El suka dari Tamara.


Tamara masuk ke kamarnya diikuti asistennya yang sedari tadi menunggu kepulangannya.


"Princess dari mana saja?" tanya Ghena seraya menyodorkan baju ganti untuk putrinya.


"Bukan urusanmu," ketus Tamara yang tidak ingin di ganggu.


"Tadi siapa princess? dia terlihat sangat tampan," goda Ghena.


"Jangan coba-coba mengisi kepalamu dengan bayangannya! Dia milikku," tegas Tamara.


"Tapi princess, mana mungkin anda menyukai pria itu, bukankah anda tidak diperbolehkan berjodoh dengan pria lain yang bukan dari golongan pangeran?" bantah Ghena.


"Bukankah jodoh itu di tangan Tuhan? Jadi siapa kau hingga mendikte aku?" sarkas Tamara menatap tajam wajah Ghena yang selalu mengaturnya.


"Maafkan saya princess. Saya hanya mengingatkan princess saja untuk berhati-hati dalam memilih teman lelaki. Bisa saja dia sedang memanfaatkan princess untuk...-"


'"Keluar...!" usir Tamara dengan satu kata membuat Ghena langsung ngeloyor pergi.


"Dia sudah lebih dari ibuku. Apa mau cari mati dia. Awas saja kalau dia berani naksir El," omel Tamara yang sudah mengenakan dress santai hingga memperlihatkan wajah imutnya yang terlihat sangat segar tanpa mengenakan hijab.


Gadis cantik ini tersenyum sendiri sambil berkhayal bisa berduaan dengan El-Rummi sebagai kekasihnya. Sementara El sendiri saat ini merasa sangat kacau saat mengetahui Tamara menyimpan perasaan pada pria lain.


"Siapa pria yang telah mencuri hati Tamara? Aku harus mencaritahu pria itu sebelum dia berusaha membawa kabur Tamara. Apa jangan-jangan Tamara kabur hanya untuk menemuinya?" tebak El.


Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Tamara saat gadis ini hendak tidur siang.


Dreeeetttt....


Tamara menggapai ponselnya dengan mata yang terasa mengantuk berat. Tanpa melihat nomor yang tertera di ponselnya, Tamara hanya menjawab dengan menggumam tak jelas.


"Siapa..? Mau apa ....?" tanya Tamara.


"Apakah kamu sedang tidur siang, princess?" tanya El membuat mata indah itu sontak melebar.


"Lanjutkan tidurmu. ..! Maaf kalau aku mengganggumu..!" ujar El tak enak hati.


"Aku hanya istirahat sebentar. Aku tidak biasa tidur siang. Hari ini cukup panas. Jadi, saat kena AC aku tidak kuat menahan rasa ngantuk," jujur Tamara membuat El tersenyum dan tahu kalau Tamara sedang membohonginya.


"Begini. Besok pulang kuliah, aku akan mengajak kamu ke Mall. Apakah kamu mau?" tanya El.


"Itu tidak mungkin. Lupakan saja..! Kita tidak akan mendapatkan ijin untuk pergi bersama. Walaupun diperbolehkan oleh ayahku, pasti bodyguard aku akan mengawal kita dan aku tidak suka itu," tolak Tamara.


"Tenang saja...! Aku yang akan meminta ijin langsung pada ayahmu untuk mengajak kamu ke mall tanpa bodyguard mu itu," jelas El.


"Bagaimana kalau ayahku menolakmu? Apakah kamu berani menghadap beliau untuk membawaku jalan-jalan? Dan apakah kamu ...-"


"Aku bisa melindungi dirimu. Aku ahli bela diri dan mengusai semua jenis senjata. Aku bisa menghadapi sepuluh penjahat seorang diri," angkuh El untuk menjawab keraguan Tamara padanya.


"Benarkah? Dan untuk ijin ayahku...?"


"Kita ini teman kuliah dan ayahmu pasti percaya padaku karena data diriku pasti sudah masuk di daftar kerajaan," jelas El.


"Sejak kapan ayahku percaya begitu saja pada orang baru seperti El?" batin Tamara penuh curiga.


"Baiklah El. Sampai jumpa besok di kampus. Kita bisa bahas apa saja nanti saat berkunjung ke Mall," girang Tamara.


"Ok. Sebaiknya kamu rehat lagi. Mimpikan aku," ucap El sekedarnya. Lalu menutup telepon mereka dengan salam.


Deggggg....


"Apa maksudnya El bicara begitu padaku? Apakah dia menyukaiku? Tapi, ponsel aku ini di sadap sama kerajaan, bagaimana kalau ketahuan sama kerajaan kalau aku sedang berzina dengan suara?" cemas Tamara yang tidak tahu kalau El ahli IT.


Malam harinya, saatnya Tamara bersiap untuk makan malam bersama keluarganya. Raja Farouk dilayani istrinya ratu Anora Hanifah. Saat di meja makan, kelurga ini memiliki aturan untuk tidak membahas apapun di meja makan hingga acara makan selesai.


Ketiganya menikmati makan malam mereka penuh dengan rasa syukur kepada Allah yang memberi nikmat malam itu. Usai makan malam, raja Farouk memberitahukan kepada putrinya tentang kedatangan kelurga besar bangsawan Arab Saudi pada putrinya.


"Tamara. Minggu depan kita akan kedatangan tamu dari Saudi Arabia. Bersiaplah untuk menyambut tamu istimewa kita!" pinta raja Farouk.


"Ayah. Apakah tidak ada pria lajang untuk dinikahkan denganku? Hatiku tidak sanggup untuk menjadi wanita ketiga dalam keluarga kerajaan Saudi. Aku mohon ayah...! Jangan pangeran Ammar...!" pinta Tamara.


"Kalau kamu ingin menikah dengan pangeran lajang, berarti kamu menikah saja dengan pangeran Jaffar dari Yaman," ucap raja Farouk makin membuat Tamara syok.


"Hitam jelek begitu? Apakah ayah tega menjodohkan aku dengannya? Apakah ayah mau keturunan ayah seperti....-"


"Kalau begitu menikah saja dengan tuan Ammar...! Karena dia yang paling tampan dan mau menerima kamu," ucap raja Farouk.


"Apakah aku bisa memilih Pangeranku di luar bangsa Arab? Indonesia misalnya?" tanya Tamara dengan nekat menyampaikan perasaannya pada sang raja yang juga ayah kandungnya.


Duarr...


"Kamu ini seorang wanita arab sudah tradisi Arab seorang wanita arab tidak boleh menikah dengan pria lain walaupun dia juga seorang pangeran. Itu aturannya," ucap raja Farouk.


"Aturan Allah tidak tertulis dalam Al-Qur'an tentang perjodohan bangsa Arab. Justru Allah menyuruh kita untuk saling mengenal satu sama lain dari bangsa satu ke bangsa lainnya agar saling mengenal satu sama lain untuk menikah.


Jadi, ayah sudah melanggar perintah Allah dalam surat Al-hujarat 13. Allah hanya memerintah hambaNya untuk memilih pasangan yang bertakwa, bukan yang sebangsa," ucap Tamara mengeluarkan dalilnya.