Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
59. Berusaha Menerima


Usai berbincang dengan ibu mertuanya, hati Nabilla mulai sedikit lega. Ia ingin mengikis kepedihan hidupnya demi menerima sang ayah. Menjadi seorang anak yang tidak mengetahui persis kisah cinta orangtuanya, membuat Nabilla harus bersikap bijak dan berpikiran dewasa.


Kadangkala cinta penuh dramatis membuat kita lebih banyak menelaah bahwa cinta itu butuh pengorbanan. Walaupun keberuntungan tidak berpihak pada setiap pengorbanan namun kemampuan untuk melawan ketidakadilan di saat masih muda dengan kekuasaan orangtuanya yang mengukung kebebasannya untuk tidak bisa bersatu dengan belahan jiwanya. Jika nekat, bukan tidak mungkin ibunya Nabilla yang saat itu sedang mengandung Nabilla akan terancam.


Nabilla belum banyak tahu kisah cinta kedua orangtuanya. Bagaimanapun juga ia ingin mengetahuinya apa yang sebenarnya terjadi agar tidak akan menanamkan kebenciannya kepada sang ayah.


Hari itu, kediaman Tuan Abdullah kembali ramai karena ada acara aqiqahan ketiga cicitnya. Nabilla mengenakkan gamis warna coklat susu dan kini sedang memasang jilbabnya.


"Sayang. Jangan ditutupi dulu! aku ingin melihat kecantikanmu," pinta Amran yang sudah memeluk pinggang istrinya yang terlihat kembali ramping walaupun bagian dada lebih besar karena menyimpan makanan untuk ketiga bayi mereka.


"Jangan menyentuh bagian dadanya karena nanti bajunya akan basah," cegah Nabilla karena tangan Amran sudah siap menggenggam melon import miliknya.


"Iya sayang lupa. Kirain masih gadis. Habis, makin seksi saja," goda Amran.


"Kalau gadis banyak mas, tapi belum tentu perawan," sindir Nabilla yang masih ingat dengan pelakor yang bernama Fina.


Amran sudah tahu arah pembicaraan istrinya menuju ke mana. Ia beralih untuk membicarakan mertuanya yang sudah ada di bawah sana.


"Sayang. Aku harap kamu mau menerima ayah Rusli dan dokter Mariska sebagai bagian dari hidupmu dan hidupku juga," ucap Amran.


"Insya Allah, mas. Aku sudah melepaskan semua beban di hatiku agar menerima ayah yang menjadikan alasan aku hidup. Tanpa dia aku tidak mungkin menjadi istri seorang Mohammad Amran Abdullah Al-Ghifari," tutur Nabilla lalu membalikkan tubuhnya. Keduanya berciuman mesra sesaat untuk saling memberikan kekuatan.


Sementara di kediaman Tuan Recky, istrinya nyonya Arumi sedang mengamuk pada suaminya karena dia juga ingin hadir di acara aqiqah cucu tirinya.


"Mama tidak usah ikut ke sana!" cegah tuan Recky.


"Kenapa aku tidak boleh ikut? bukankah kedua orangtuamu telah menerimamu kembali? ayolah papa, aku juga ingin merasakan hidup di lingkungan kalangan elit yang memamerkan kekayaan mereka dari segi penampilan. Kamu punya semuanya di sana, kenapa tidak ambil bagianmu yang juga sudah menjadi hakmu?" protes Arumi..


"Apakah kamu lupa istriku? kalau aku sudah dicoret dari keluarga sebagai penerima warisan saat aku berani menceraikan Ambar dan nekat menikahimu?" tanya tuan Recky.


"Itu hanya bagian masalalu dan sekarang mereka sudah memaafkanmu dan juga kedua anakmu itu, dengan begitu otomatis keputusan ayahmu yang gegabah itu sudah tidak berlaku lagi saat ini. Ayolah, suamiku! umurku semakin tua dan aku sama sekali tidak pernah menikmati kekayaan keluargamu selain gajimu yang kecil itu yang tidak pernah memuaskan ambisiku untuk menjadi nyonya Racky yang kaya raya bukan nyonya Racky yang kere," tutur Arimbi yang sedang memperlihatkan taringnya.


"Oh, rupanya selama ini, istriku ini tergila-gila padaku karena aku putra dari seorang konglomerat? itulah sebabnya kamu terus menerus ingin bersaing dengan teman sosialita mu itu demi sebuah gengsi, hmm? aku benar-benar kecewa padamu. Kamu tidak lebih dari serigala berbulu domba," ucap tuan Racky yang langsung mengambil kunci mobilnya Berangkat ke acara aqiqahan cucu kembar tiganya yang belum ia temui.


"Sialll...! kenapa jadi berantakan seperti ini? pingin jadi istri konglomerat malah jadi istri melarat, akkkkk....!" teriak Arumi histeris sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah ia sanggul rapi.


Awalnya ingin menjatuhkan nyonya Ambar yang notabene mantan istrinya tuan Racky. Ia ingin memamerkan tubuhnya yang masih langsing dan kulitnya yang masih sekal dan segar karena rajin merawat diri. Tidak tahunya, suaminya tidak mengijinkannya sama sekali untuk tebar pesona di acara yang sangat sakral itu.


...----------------...


Di luar juga dipasang tenda jika tamu lain yang tiba-tiba datang membeludak. Tentu saja diantara mereka yang hadir harus melalui pemeriksaan yang cukup ketat karena keluarga Amran sedang diincar oleh musuh. Karena tuan Abdullah adalah orang terpandang di negara ini, tentu saja ia juga meminta polisi ikut mengamankan acara.


Namun mereka tidak tahu bahwa presiden sendiri yang meminta polisi-polisi terlatih untuk mengawasi acara karena Nabilla yang merupakan aset negara yang sedang dilindungi oleh negara.


Yang menjadi MC acara saat itu adalah Nadin. Yang membaca Alqur'an adalah Arsen, putra angkatnya Nabilla. Dan penerjemahnya adalah Celia. Penampilan dua gadis cantik ini menjadi tontonan yang memabukkan dari dua pemuda tampan yaitu Arland dan Reno.


Setelah memastikan keadaan sudah kondusif, Nadin mengawali acara itu dengan mengucapkan salam dan doa pembuka. " Masya Allah. Gadisku terlihat makin cantik dari hari ke hari. Apa lagi memakai jilbab seperti itu. Jadi pingin cepat jadikan istri," batin Arland yang tidak lepas menatap wajahnya Nadin.


Begitu pula Reno yang ingin menjaili Celia yang saat ini mengenakan abaya putih. Reno harus menarik nafas berat berkali-kali karena Celia memakai makeup lembut dengan maskara pada mata indahnya itu ingin di kecup oleh Reno.


Rupanya Celia juga sedang mencari keberadaan Reno diantara para tamu undangan.


"Di mana ya dia..? apakah dia tidak hadir?" tanya Celia terlihat gelisah.


"Apakah kamu sedang mencariku, baby? lagi kangen ya?" tanya Reno yang sudah berdiri di balik punggung Celia menyapa gadis itu sambil berbisik.


Celia tersentak sambil memegang dadanya yang spontan kembang kempis dan langsung melangkah pergi dan tidak ingin menoleh melihat Reno karena sedang menutupi malunya. Celia ke meja makan untuk mengambil kue.


"Assalamualaikum, baby!" sapa Reno pada Celia yang sedang makan kue bolu.


"Waalaikumuslam. Mau apa kamu ke sini?" tanya Celia yang pura-pura marah padahal kebalikan dengan hatinya saat ini yang sangat merindukan kejahilan pria tampan yang ada di hadapannya ini.


"Baby. Setelah acara ini selesai. Bersiap lah karena aku akan melamarmu," ucap Reno penuh percaya diri membuat Celia tersedak sambil memukul dadanya karena kue yang dimakannya kelolodan.


Reno buru-buru mengambil minum untuk Celia sambil menahan tawa melihat wajah Celia yang salah tingkah sendiri dan itu sangat menggemaskan.


"Dasar laki nggak punya adab! becanda yang kira-kira dong," semprot Celia dengan tubuhnya terasa panas dingin saat ini.


"Serius baby. Demi Allah. Aku sudah bawa cincinnya buat melamar kamu, sayang," ucap Reno sambil mengeluarkan kotak cincin dari balik jasnya.


Glekkkk...


Celia yang melihat keseriusan Reno padanya saat ini, ingin segera menghilang saat ini juga.


"Ya Allah..ya Allah. Tolong sembunyikan aku di mana saja," batin Celia yang sedang tercengang di hadapan Reno.