Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
102. Tertembak


Nabilla dan Amran bergabung lagi dengan yang lainnya. Seperti biasa para Srikandi ini memasak makan siang dan mempersiapkan makan malam mereka untuk kembali ke Indonesia.


Makan siang hari ini adalah ayam panggang dan ikan bakar. Kakek Abdullah sempat mendatangi peternakan ayam warga lokal untuk membeli sepuluh ekor ayam untuk disembelih sendiri. Mereka harus hati-hati membeli daging ayam maupun daging sapi karena terlihat halal tapi belum tentu pengolahannya benar.


Entah itu cara penyembelihan hewan yang tidak dibaca atas nama Allah atau di masak dengan kuali yang tidak bisa dijamin tidak bercampur dengan daging yang haram di masak dengan wadah yang sama. Belum lagi bumbu yang digunakan apakah halal untuk dikonsumsi mereka atau tidak, itulah mengapa Nabilla sangat teliti dengan apa yang mereka akan makan.


Prinsip Nabilla, jika dari makanan saja tidak dijaga sumber halal dan haramnya, maka diotak manusia akan bekerja tidak sesuai dengan ketetapan aturan Allah. Terlepas manusia itu akan bermaksiat kepada Allah, setidaknya apa yang dimakan mereka harus diperhatikan kehalalannya sesuai dengan keyakinan mereka sebagai muslim.


"Kak Nabilla. Nanti kita berenang di danau ya habis masak," pinta Lira.


"Mau makan dulu atau mau berenang dulu?" tanya Nadin pada kakak iparnya itu.


"Maunya bagaimana?" tanya Celia.


Keempatnya menatap wajah Nabilla yang sedang menghidangkan makanan. Walaupun tangannya bergerak dengan lincah menghidangkan ayam bakar, ikan bakar dan tumisan sayur-sayuran segar di atas piring, namun pikiran Nabilla sedang tidak berada di situ.


Nadin menyentuh pundak Nabilla karena Nadin sudah hafal dengan pringai keseharian Nabilla jika punya masalah selalu saja tidak mendengar orang bicara.


"Mbak Nabilla. Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Nadin membuat Nabilla tersentak.


"Eh.. iya. Ada apa?" tanya Nabilla membuat keempat gadis itu paham Nabilla sedang melamun.


"Kakak mau berenang nggak? mau makan siang dulu atau berenang dulu? sekalian hiburin Alif kak," imbuh Lea.


"Baiklah. Ajak suami kita. Kita berenang dulu baru makan siang. Setelah itu kita istirahat dan kembali ke kota menuju bandara. Kita pulang ke tanah air malam ini," ucap Nabilla.


"Wehh... Asyik kita berenang," sorak keempat gadis itu dan langsung menghampiri suami mereka.


Nabilla harus menerbangkan drone untuk memastikan tidak ada yang mengintai mereka saat ini. Setelah diyakinkan aman, ia segera bergabung dengan yang lainnya.


"Alif. Ayo nak kita berenang!" ajak Nabilla.


"Aku tidak punya baju ganti," sahut Alif.


"Aku sudah menyiapkan baju untukmu. Ayolah. Kita bersenang-senang sebelum kembali ke Indonesia!" ucap Nabilla.


"Aku ingin bertemu dengan ayahku. Bisakah Tante menghubungi ayahku sebelum kita kembali ke tanah air?" tanya Alif.


"Ayahmu menunggu kita di Indonesia. Ia tidak bisa menghubungi kamu karena ada pekerjaan penting yang harus ia selesaikan. Apakah kamu paham Alif?" tanya Nabilla.


"Baiklah. Kalau begitu aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mama. Aku kangen sama mama," ucap Alif.


"Iya nak. Kita akan bertemu dengan ibumu," janji Nabilla.


Keduanya mulai masuk ke dalam danau. Amran menjaga keduanya karena pasangan lain sibuk menikmati kebersamaan mereka. Nabilla tetap berenang dengan jilbabnya.


Puas berenang, mereka kembali merapikan diri dan siap menyantap makan siang." Apakah kamu sudah hubungi co-pilot Arland untuk kepulangan kita malam ini?" tanya kakek Abdullah.


"Sudah kakek. Aku juga sudah menghubungi menara ATC untuk keberangkatan kita nanti malam," ucap Arland.


"Terimakasih Arland!" ucap kakek.


"Dengan senang hati kakek," balas Arland.


Jika kelurga besarnya merayakan kemenangan mereka dalam misi ini, namun tidak dengan Nabilla. Hatinya masih diliputi dengan rasa cemas yang mendalam. Bukan Nabilla namanya kalau tidak bisa menyembunyikan kegundahannya depan semua orang.


...----------------...


Malam tiba, keluarga ini sudah tiba di bandara. Karena menunggu antrian di landasan pacu, pesawat terpaksa menunda keberangkatan mereka. Semua koper mereka sudah lebih dulu di antar ke bandara oleh asisten Reno dan tuan Rusli, jadi mereka hanya membawa diri saja ke bandara.


Tidak lama kemudian, Arland meminta rombongan itu menunggu di area bandara dengan cara berjalan menyusuri konter makanan atau suvenir yang ingin dibeli para gadis itu.


Nabilla memperhatikan sekitarnya. Ada beberapa orang pria yang sedari tadi memperhatikan mereka.


Tidak ingin membuat semuanya kuatir, Nabilla beranjak dari tempat duduknya. Ia hanya minta ijin pada suaminya mau ke toilet.


"Silahkan sayang. Apakah mau diantar?" tawar Amran.


"Jangan tebar pesona di depan toilet wanita!" larang Nabilla.


"It's ok." Amran menaikkan kedua bahunya mengijinkan Nabilla pergi.


Entah mengapa, Reno menangkap ada yang tidak beres dengan Nabilla. Ia menunggu sampai Nabilla tak terlihat dan ingin mengikuti kakak iparnya itu.


Benar saja apa yang dicurigai Nabila. Tiga orang pria yang sedang mengincarnya saat ini sedang membuntutinya. Nabila masuk ke lift mencari tempat yang aman untuk menyergap ketiga pemuda itu.


Nabilla mendapati ruang kosong yang tidak terpakai oleh bandara. Memperhatikan CCTV yang ternyata tidak berfungsi. Sementara ketiga penjahat itu benar-benar mengikutinya.


"Ternyata instingmu masih bekerja agen Q," ucap salah satu pria itu membuat Nabilla sangat syok.


Masalahnya yang mengetahui dia adalah agen Q hanya orang-orang di CIA." Apakah Dito bekerjasama dengan mantan CIA dan dia mengetahui aku adalah bagian dari agen FBI??" batin Nabilla bertanya dalam hatinya.


"Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Nabilla sinis.


"Lepaskan anak itu!" pinta pria itu yang juga merupakan Agen.


"Anak yang mana? aku tidak mengerti," sahut Nabilla pura-pura tidak tahu.


"Hanya anak itu yang tahu dimana ayahnya berada. Lepaskan anak itu dan kami akan membiarkan kamu kembali ke negara kalian," pinta pria tampan itu.


"Maaf. Aku tidak punya urusan dengan kalian," ucap Nabilla sambil berlalu membuat pria itu hendak menarik jilbab Nabilla dan menyerangnya.


Sebelum tangan pria itu menyentuh jilbabnya, Nabilla lebih dulu memutar tubuhnya dan langsung menangkap tangan pria itu. Perkelahian tidak terelakkan. Nabilla menghadapi tiga pria sekaligus. Nabilla yang mengusai kedua ilmu bela diri sekaligus yaitu wushu dan kungfu langsung menyerang ketiganya dengan tendangan dan pukulan secara brutal.


Setiap tendangan dan pukulan ketiga pria itu dihadapinya dengan tangkisan yang begitu elegan. Liukan tubuhnya saat melompat ke udara dengan menendang kedua wajah pria yang berada di kiri kanannya secara bersamaan dengan tendangan menyamping.


Pertempuran sengit di dalam sana dengan debaman dan juga suara benda yang ada di dalam ruangan itu jatuh dan pecah hingga terdengar oleh Reno. Pria ini langsung menghampiri pintu itu untuk menolong Nabilla namun sayang terkunci. Ia pun memutarkan kenop pintu itu berkali-kali namun tidak bisa dibuka. Di tambah pintu itu bukan pintu kayu, melainkan pintu besi.


"Nabilla... Nabila...!" teriak Reno panik. Ia segera menghubungi Amran untuk membantu.


"Tolong ke atas Amran! istri lo di serang oleh penjahat dan pintunya tidak bisa di buka. Jangan sampai ketahuan yang lain!" ucap Reno langsung menutup teleponnya sebelum Amran bertanya.


"Sial....! kenapa Nabilla tidak pernah mendengarkan aku!" gerutu Amran yang minta ijin pada ayah mertuanya untuk ke toilet. Amran mengikuti GPS ponselnya Reno karena milik Nabilla di non aktifkan.


Salah satu pria itu mengarahkan senjatanya ke arah Nabilla, istrinya Amran ini mengarahkan pistolnya pria itu ke atas hingga tembakan itu hanya mengenai langit-langit di ruangan itu. Dengan kecepatan tangan lembutnya itu, Nabilla menotok lehernya pria itu dan berhasil merebut pistolnya cowok itu.


Nabilla segera melepaskan tembakan ke arah pria satunya saat dirinya hendak di tembak oleh pria itu.


"Dasar perempuan bodoh! Aku tidak akan mati karena aku memakai jaket anti peluru. Bagaimana denganmu, sayang? jika aku yang menembakmu, tapi untuk itu aku ingin melihat kecantikanmu di balik cadar itu.


Nabilla berpikir sejenak untuk melumpuhkan pria itu. Ia akhirnya menuruti permintaan pria itu dengan membuka cadarnya dan sontak saja pria itu tercengang melihat kedua pria itu tercengang dengan kecantikannya. Di saat yang sama, Nabila menembak lengan kedua pria itu secara bersamaan.


Duarrrr....


Nabilla tersenyum puas dan memasang lagi cadarnya.


"Aku memang tidak bisa menembak tubuh kalian kerena memakai rompi anti peluru namun sayang lengan kalian tidak ada dibalut kain anti peluru," ucap Nabilla.


Nabilla segera berlari membuka pintu besi itu yang sengaja dikunci oleh penjahat tadi untuk membunuhnya.


Baru saja pintu itu dibukanya, penjahat itu menembak punggung Nabilla tepat Amran sedang memeluk istrinya. Reno reflek menembak kedua kepalanya kedua pria itu. Nabila lupa masih ada lengan yang lain yang digunakan pria itu untuk menembaknya.


"Nabillaaaa....!" pekik Amran melihat punggung istrinya berdarah.


........


Vote and likenya cinta please!