Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
255. Mau Cari Mati..?


Kelima pria tampan itu turun dari tangga dengan cepat membuat keluarga mereka sedikit bingung.


"Ada apa...?" tanya Nabilla.


"Ada penyusup mommy," ujar Adam segera mengambil pistol yang ada di laci dekat dengan ruang tamu yang selalu dalam posisi terkunci. Laci itu bisa dibuka dengan sidik jari keluarga inti Amran.


Nabilla menyalakan televisi yang terhubung dengan CCTV. Di depan gerbangnya, sudah ada beberapa orang yang hendak menghampiri penjaga rumahnya. Nabilla menyalakan interkom agar bisa bicara dengan satpam rumahnya.


"Jangan layani mereka ...! Itu penjahat..!" cegah Nabilla.


"Baik nyonya." Satpam itu menyiapkan pistolnya jika diperlukan untuk menembak penjahat karena satpam rumahnya Nabilla, bukan satpam asal jaga rumahnya.


Nabilla mengambil beberapa lebah buatannya lalu melempar ke udara untuk menyengat musuh. Sementara Adam dan saudara iparnya sudah membuka pintu pagar itu sambil mengarahkan pistolnya mereka ke arah penjahat yang langsung ngacir menuju mobil mereka.


Namun sebelumnya itu ban mobil mereka sudah ditembaki lebih dulu oleh Adam, namun mereka tetap berusaha kabur dengan satu ban yang kempes.


Amran yang baru menyusul anak menantunya mencegah mereka untuk tidak melumpuhkan musuh di dalam komplek karena massa akan segera berhamburan keluar rumah.


"Biarkan mereka kabur. Ini komplek. Masih suasana Ramadhan. Tahan amarah kalian. Jika mereka berbuat jahat pada kita di bulan Ramadhan ini, mereka akan kualat," umpat Amran menahan dirinya agar tidak terpancing emosi.


"Baik daddy."


Semuanya kembali ke dalam mansion untuk menunaikan sholat subuh berjamaah di musholla kelurga. Penjahat yang merasa bebas dari pengejaran para jagoannya Amran tertawa terbahak-bahak.


"Mereka tidak bisa mengejar kita," ucap sang penjahat sambil membuka jendela mobilnya.


Kumbang buatan Nabilla masuk ke dalam mobil itu dan langsung menyerang empat kawanan penjahat yang seketika menjerit kesakitan. Dan sialnya, di depan pintu gerbang komplek, sudah ada tiga mobil polisi yang menghadang mereka.


"Sial...!" pekik sang sopir yang langsung menginjak rem secara mendadak saat polisi melepaskan tembakan ke arah mereka sebagai bentuk peringatan.


Serangga milik Nabilla langsung keluar lagi setelah menyengat para penjahat dengan menyuntikkan bius pada tubuh mereka. Dengan cara ini, penjahat tidak akan kabur dari sergapan polisi.


Karena merasa mengantuk mereka tidak bisa bergerak, namun sayang ketika polisi mendekati mobil penjahat untuk meminta keempat penjahat itu turun, mobil itu tiba-tiba saja meledak membuat dua orang polisi terpental.


Rupanya Alif begitu pintar. Ia tidak ingin anak buahnya tertangkap oleh polisi dan namanya akan disebut oleh anak buahnya jika mereka berani buka mulut pada polisi. Bunyi ledakan mobil penjahat itu mengagetkan warga komplek perumahan elite yang masih bertahan di rumah mereka masing-masing karena tidak semuanya pada mudik lebaran.


Begitu juga dengan kelurga Amran yang sedang menunaikan sholat subuh. Walaupun begitu, mereka tetap khusu dan tidak ingin terganggu dengan suara ledakan yang cukup dahsyat itu.


Usai sholat subuh, Amran dan Nabilla sudah tahu jika nyawa penjahat itu sudah melayang. Amran nampak berzikir yang diikuti oleh keluarganya. Hanya cucu-cucunya yang langsung rebahan di mushola karena mulai mengantuk lagi.


...----------------...


Sekitar jam sembilan pagi, keluarga itu berkumpul karena tidak ada aktivitas lagi di luar rumah karena sudah memasuki libur panjang. Saat ini mereka sedang membahas tentang senjata kimia di dalam ruang perpustakaan Amran.


"Kalian sudah tahu ini koper berisi apa, bukan?" tanya Amran.


"Sudah daddy."


Kesepuluh orang itu menatap kagum tabung senjata kimia itu.


"Nada. Lakukan tugasmu untuk mengetahui jenis senyawa kimia apa saja yang terkandung di dalamnya. Syakira, mommy mohon kamu tinggalkan tempat ini karena saat ini kamu sedang hamil dan takut terpapar radiasi," pinta Nabilla lembut.


"Baik mommy." Syakira menuruti permintaan Nabilla demi kebaikan dirinya dan juga bayinya.


Nada menempelkan ponselnya ke kaca cairan kimia berbahaya itu. Dalam satu menit, data dari nama senyawa kimia itu langsung muncul. Sekitar 50 jenis senyawa kimia itu yang membentuk molekul untuk membentuk senyawa lain yang menyebabkan kekuatan dahsyat daya ledakan itu.


"Sudah mommy. Nada sudah mendapatkan senyawa susunan kimianya. Nada minta waktu untuk mengurai senyawa kimia yang sudah membentuk molekul untuk mendapatkan formula sebagai penawarnya," ucap Nada.


"Baiklah. Kita akan belajar bersama-sama untuk menemukan formulanya," timpal Ghaishan karena unsur kimia tidak asing baginya karena dirinya adalah seorang astronot yang bersentuhan dengan benda-benda tersebut di atas langit sana.


Amran merasa bersyukur karena Nada dan Ghaishan memang pasangan serasi yang memiliki kejeniusan yang sama.


"Baiklah. Kalian semua boleh kembali ke tempat kalian masing-masing. Daddy ingin bicara dengan mommy kalian..!" titah Amran.


"Baik daddy. Terimakasih banyak...!" Semuanya kompak keluar dengan menggandeng tangan pasangan mereka masing-masing kecuali Adam.


"Sayang. Sepertinya Dito masih hidup. Dan putranya Alif menjadi kaki tangannya. Yang menginginkan senjata kimia ini hanya dia karena dia tahu senjata kimia ini sedang di incar oleh mafia di berbagai negara untuk tujuan bisnis mereka," ucap Amran yang sudah menyelidiki kasus ini.


"Iya. Aku tahu sayang. Sepertinya Dito bisa hidup karena seseorang telah membantunya untuk mencabut chips yang aku tanam dalam tubuhnya. Dia menjatuhkan tubuhnya sebelum mobil yang dia bawa dulu itu meledak. Kita sudah ceroboh saat itu karena menganggap dia sudah mati," ucap Nabilla.


"Sepertinya, oknum polisi di negara itu terlibat begitu juga dokter forensik di kepolisian itu," timpal Amran.


"Baiklah. Kita lupakan sejenak kasus ini dengan senjata kimia ini. Besok sore, semua besan kita tiba bersamaan di Jakarta," ucap Nabilla.


"Kita harus ingat kalau besan kita dari kedua orangtuanya Daffa yang berbeda keyakinan dengan kita. Kita harus lebih prioritaskan keduanya karena mereka tidak puasa dan lebaran. Mereka hanya ingin berlibur saja sekalian menengok cucu kembar mereka saja," ucap Amran.


"Iya sayang. Walaupun kita berbeda keyakinan dengan kedua orangtuanya Daffa, namun kita tetap menyayangi mereka sebagai bagian dari keluarga ini," ucap Nabilla.


"Ayo kita istirahat sayang. Aku sangat lelah sekali," ucap Amran lalu menggendong tubuh istrinya lalu masuk ke kamar mereka melalui pintu rahasia yang ada di dalam perpustakaan itu.


Sementara di kamarnya Nada, si kembar sedang tidak ingin tidur. Keduanya asyik bermain bersama di dalam tempat tidur mereka yang masih berupa kotak kayu untuk menghalangi mereka agar keduanya tidak bisa turun dari tempat tidur.


Karena tempat tidur mereka di dekat dengan balkon kamar yang sedang terbuka, membuat keduanya kompak menatap langit di mana ada drone pengintai.


Baby Ghazali yang melihat drone itu mengajak adik kembarnya untuk ikut melihat drone yang mengarah ke arah mereka.


Keduanya saling menatap satu sama lain dengan memberi isyarat untuk melakukan sesuatu pada drone itu. Dengan sekuat tenaga mereka mendorong drone itu melalui tatapan mata mereka agar drone itu mencari pemiliknya.


"Lho... lho...lho....! Kenapa drone milikku balik lagi ke sini? Apakah aku salah tekan remote tapi mengapa malah menukik tajam ke arahku..?" ucap sang penjahat yang tidak dapat menghindari drone miliknya yang langsung menghantam keningnya hingga berdarah.


"Aduhhh ...aduh ..aduh ..!" pekik penjahat itu sambil memegang keningnya yang berdarah.